Arabella Elisa Jodie, gadis tomboy dengan segudang keahlian, pandai beladiri dan menyukai kebebasan. Memiliki beberapa sahabat pria yang sudah akrab dengannya sejak bertahun lamanya.
Bagaimana bila tiba-tiba Ara harus terpaksa menjadi seorang istri?
Istri dari tuan muda tampan yang sejak kecil sudah memiliki kehidupan berkelas.
"Apa dia wanita?" (Dilano Danuarta)
"Dia terlalu mulus untuk ukuran seorang pria matang." (Ara)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luar Biasa
Sepertinya mereka sengaja menabrakkan mobilnya.
Perasaan tidak enak mulai menyelimuti pikiran Arabella.
Lano ikut turun dari mobil saat melihat lima pria tak dikenal mendekati Ara.
"Apa ada masalah?" Lano melirik Ara yang nampaknya sudah bersiap-siap dengan situasi yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"Hai, Nona. Maaf Kami tidak sengaja menabrak mobil kalian." Salah satu pria menghampiri Ara dan Lano yang berdiri bersebelahan.
"Iya, tidak apa-apa. Hanya sedikit lecet." Ara berusaha tetap tenang.
"Kami punya bengkel di daerah ini, Nona. Ayo ikutlah bersama kami, kami akan mengganti kerusakan mobil kalian." Pria dengan tato di lengan itu menatap Ara dengan tatapan meneliti.
Lano yang mengerti ada sesuatu yang tidak beres pada lelaki di hadapannya spontan menutup tubuh Arabella dengan tubuh tingginya. Ia berdiri tepat di depan Ara hingga gadis itu tak terlihat. Bersembunyi di balik punggungnya.
"Tidak perlu, kami bisa menggantinya nanti," kata Lano sembari mendorong pelan tubuh Ara supaya Ara sebaiknya menunggu di dalam mobil saja.
"Anda sangat sombong sekali, Tuan." Lelaki itu memberi kode pada keempat temannya untuk segera beraksi.
Sebelum Lano dan Ara masuk ke dalam mobil, salah satu pria melayangkan pukulan ke arah perut Lano.
Lano tentu saja tak tinggal diam, meskipun dia bukan penyandang gelar sabuk hitam dalam ilmu beladiri seperti Ara, tapi Lano tak akan tinggal diam jika ada yang berusaha melukainya.
Dengan kaki jenjangnya lano menendang tubuh pria yang memukulnya lebih dulu hingga pria tadi terpental dan jatuh ke aspal.
Sedangkan Ara berusaha melawan tiga pria yang berusaha melecehkannya.
Tak cukup dengan membanting tubuh para pria itu. Dengan keahlian yang tidak perlu diragukan lagi, Ara sukses melumpuhkan tiga pria yang berani menyentuh pundak dan pinggangnya tanpa izin.
"Akan aku patahkan tangan kalian semua!" Ara berujar sembari memberi pukulan tanpa ampun pada ketiga pria itu.
Bahkan tendangan berputar ia gunakan untuk memberikan efek jera pada salah satu pria yang berani menyentuhnya. Tepat mengenai bagian wajah si pria hingga sudut bibir pria itu mengeluarkan darah.
"Gigi ku," ringis preman yang terkena tendangan maut Arabella.
"Bukan hanya gigi kalian yang hilang, nyawa kalian juga akan melayang di tanganku!" Ancam Ara berapi-api.
Saat ia sudah berhasil melumpuhkan tiga pria yang bisa ia prediksi bahwa mereka hanya preman biasa.
Ara langsung kembali fokus pada tuannya yang masih bergulat dengan dua preman lainnya.
Tanpa banyak berpikir Ara langsung membantu majikannya. Satu pukulan di perut dan tendangan di area terlarang preman itu sukses membuat pria itu tak berkutik.
Melihat semua teman-temannya sudah tak berdaya, salah satu preman hendak berlari masuk ke dalam mobil.
Namun Ara belum puas sampai di situ, sebelum pria itu masuk ke dalam mobil, Ara mencekal tangan si preman.
"Beraninya kamu melukai tuanku!"
Buugh ... pukulan bertubi-tubi di bagian perut dan wajah sukses membuat preman itu menyerah tanpa perlawanan lagi.
Lano mengerjap mata dua kali. Melihat aksi Arabella yang sungguh luar biasa baginya. "Seharusnya dia terlahir sebagai seorang pria saja." Lano bergumam pelan sembari menggeleng kepala.
"Mau kita apakan mereka, Tuan?" Ara masih betah menggenggam baju kaos lelaki yang sudah lemas di tangannya.
"Tinggalkan saja! hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita segera pulang."
Lano berbalik badan menuju ke arah mobil.
"Kenapa tidak dibawa ke kantor polisi, Tuan? Mereka berbahaya." Ara menendang pria lemah tadi sebelum ikut masuk ke dalam mobil bersama Lano. Menghempas tubuh lelaki tadi begitu saja.
Sementara preman lainnya tampak merangkak ke arah mobil mereka.
Memegang bagian tubuh yang terasa sakit karena pukulan dari gadis muda cantik yang terlihat imut tapi mematikan.
"Mereka sudah mendapat hukuman, biarkan saja! Kita akan kemalaman di jalan." Lano sudah duduk di kursi penumpang.
"Baiklah, Tuan." Ara juga sudah kembali duduk di kursi kemudi. Bersiap-siap untuk menyalakan mesin mobil.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lano dengan wajah datar.
Ara menoleh ke belakang. "Tidak Tuan saya baik-baik saja, bagaimana dengan Anda?"
"Saya juga baik, cepatlah jalan!"
"Ini benar-benar pengalaman yang menyenangkan," ucap gadis itu terlihat senang.
Apa dia gila? Apa berkelahi dan membuat orang babak belur menyenangkan untuknya?
Dilano tak mampu lagi berkata-kata, bahkan rasa nyeri di bagian perut dan pipinya yang terkena goresan kuku preman tadi seolah tak ingin ia permasalahkan lagi sekarang.
Meringis seolah korban di depan gadis yang bahkan tertawa senang dengan kejadian menakutkan yang baru saja mereka alami? Sungguh bisa menurunkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki dewasa.
Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu membuang perlahan dengan teratur, sepertinya itu jauh lebih baik untuk menenangkan pikiran Lano yang tegang.
Benar-benar bertolak belakang dengan sang asisten yang sama sekali tidak tertekan dengan kejadian pengeroyokan tadi.
Kelima preman yang sudah mendapatkan rasa nyeri pada bagian tubuh masing-masing masuk ke dalam mobil mereka lalu segera melajukan kendaraan roda empat itu dengan cepat.
"Telepon tuan yang menyuruh kita melakukan ini! katakan kalau kita sudah berhasil." Pemimpin preman berujar sembari menahan sakit di wajah dan punggung.
"Iya, Bos. Sepertinya kita akan dapat uang banyak, bukankah tuan kaya itu bilang kita akan dapat uang sebanyak luka yang kita dapatkan. Sekarang kita sudah mendapatkan luka yang banyak 'kan?" Preman dengan rambut ikal sedikit meringis.
"Lumayan untuk membayar hutang-hutang kita pada rentenir," ucap sang pemimpin.
Melihat mobil si preman suruhan kabur melewati mobil mereka. Ara langsung mengeluarkan komentar.
"Dasar preman tidak jelas! mau merampok tapi tak membawa senjata." Ara mengumpat para preman yang sengaja mengantar nyawa.
"Saya yakin niat mereka bukan merampok?" Lano membetulkan kancing jasnya.
"Maksudnya, Tuan?"
"Menurutku mereka tak sengaja menabrak, tapi saat melihatmu keluar dari mobil mereka langsung berniat jahat."
Ara masih belum mengerti maksud arah ucapan sang bos. Namun berapa detik kemudian gadis itu memasang wajah sumringah. "Apa karena saya cantik dan terlihat kaya, Tuan?" Ara menoleh wajah Lano yang masih datar-datar saja.
"Karena kamu terlihat seperti wanita yang lemah dan mudah di lumpuhkan, tapi saat tau mereka baru sadar kalau wajah dan sikap kamu sangat kontras."
Ara tak jadi merasa di atas angin.
"Mulut Anda memang sangat berbisa, Tuan." Ara menginjak gas dengan kuat hingga mobil yang ia kendarai melesat cepat menerobos jalanan yang sepi.
Gadis ini tak bisa terkontrol.
Lano memegang dadanya. Menahan kesabaran dalam menghadapi gadis berwajah imut tetapi berkelakuan bak singa jantan yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Kurangi kecepatan, Ara. Saya belum ingin mati." Kali ini Lano berkata dengan lemah lembut.
"Baiklah, Tuan. Saya juga belum mau." Ara menahan senyum.
***
~Maaf bila adegan ini masih banyak kekurangan.
~Sikahkan tinggalkan jejak^^