(Buku ini sedang direvisi penulis untuk pengalaman membaca lebih baik)
*****
Shena yang baru ditinggal menikah oleh pacarnya pergi ke Afrika Selatan untuk bersafari menghibur diri. Dalam perjalanan, Shena satu pesawat dengan seorang dokter bedah tampan yang akan melamar pacarnya yang juga seorang dokter dan bekerja di Afrika.
Malangnya, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan dan mendarat darurat di hutan belantara sesaat sebelum mereka tiba di Johannesburg.
Firza, sang dokter bedah berhasil membawa Shena keluar dari pesawat.
Dan di tengah kekacauan dan kesulitan mereka untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan, ternyata ada sosok makhluk yang mengintai mereka.
Akankah para penumpang yang selamat berhasil bertahan hidup?
Mampukah Shena bertahan dari makhluk hutan dan pesona Firza yang telah memiliki pacar?
Originally Story by juskelapa
Insta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Potongan Lain
Firza dan Shena masih memejamkan mata. Ciuman mereka terputus saat Firza menarik Shena masuk ke dalam pelukannya. Perempuan itu membenamkan wajahnya di dada Firza, berusaha menenangkan napas yang sejak tadi tak beraturan.
Langkah kaki itu … semakin dekat.
Lalu, tiba-tiba—seekor babi hutan menerobos keluar dari balik semak, hanya beberapa langkah dari tempat mereka bersembunyi.
Makhluk-makhluk itu terkejut. Suara mereka pecah dalam gumaman kasar dan asing, terdengar seperti orang berkumur setelah menyikat gigi. Salah satu dari mereka bergerak cepat. Senjatanya menancap tanpa ragu ke tubuh babi itu.
Teriakan hewan itu terpotong. Digantikan tawa.
Tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.
Mereka lalu berjalan menjauh, membawa hasil buruan mereka, perlahan menghilang di antara pepohonan.
Beberapa detik berlalu sebelum Shena berani mengangkat wajahnya. Firza masih mengintip dari balik batang pohon, memastikan arah mereka benar-benar menjauh.
Saat ia menoleh, pandangan mereka bertemu.
Mata Firza terlihat sayu, dalam seperti menyimpan sesuatu yang tak sempat diucapkan. Shena menyadari kemeja pria itu basah oleh air matanya.
Mereka saling menatap, diam, terlalu lama untuk sekadar kebetulan.
Tanpa kata, Firza kembali memeluknya. Dagu pria itu bertumpu di atas kepala Shena.
“Maaf …,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, sebelum mencium puncak kepala Shena.
Shena tak menyadari sentuhan itu. Ia masih terlalu sibuk menenangkan dirinya atau mungkin, terlalu lelah untuk memikirkan hal lain.
Merasa baru saja lolos dari maut, mereka kembali ke kelompok dengan langkah hati-hati, hampir tanpa suara. Kaki Shena masih nyeri, tapi kali ini ia memaksakan diri berjalan lebih cepat. Aneh … dalam kondisi terdesak, tubuhnya seperti menolak untuk lemah.
Segala sesuatu yang dipaksa … ternyata bisa dilakukan.
Kalau saja ini bukan di tengah hutan seperti sekarang, mungkin ia sudah duduk di kursi roda. Dan Ramon akan … Shena berdecak kesal. Lagi-lagi Ramon.
Shena menggeleng cepat, menepis pikiran itu sebelum sempat berkembang.
Hari kedua di hutan.
Para penumpang mulai membentuk lingkaran kecil mereka masing-masing. Mereka yang berasal dari latar belakang serupa tampak lebih cepat akrab.
Chen—suami dari pasangan bulan madu itu—ternyata cukup humoris. Meski Shena tak memahami percakapannya dalam bahasa Mandarin, ia bisa melihat bagaimana pria itu berusaha membuat istrinya tertawa. Dan setiap kali Chen menyadari Shena memperhatikan, ia akan ikut tersenyum ke arahnya, seolah mengajak berbagi sedikit kehangatan di tengah situasi yang mencekam ini.
Nama pria itu ia ketahui dari Chris. Setiap kali berbicara, keduanya terdengar akrab, menggunakan bahasa yang sama dengan intonasi yang serupa.
Firza dan Shena kembali ke tempat mereka. Belum sempat benar-benar duduk nyaman, Hilmi sudah menghampiri, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun langkahnya terhenti. Alisnya berkerut melihat wajah Firza.
“Kamu demam, bro?” tanya Hilmi heran. “Wajah kamu merah sekali.
Shena berpura-pura tidak mendengar. Ia membuka tasnya, mengaduk-aduk isinya tanpa tujuan. Bukan karena penasaran tapi justru sebaliknya. Ia tahu persis kenapa wajah Firza memerah.
Apa yang baru saja mereka alami … dan apa yang terjadi di balik pohon itu sudah lebih dari cukup untuk membuat pria di sampingnya kehilangan kendali atas ekspresinya.
Untungnya, perhatian Hilmi hanya tertuju pada Firza. Padahal, kalau diperhatikan lebih saksama, wajah Shena mungkin jauh lebih kacau.
“Aku nggak apa-apa cuma kepanasan,” ujar Firza sambil terkekeh kecil.
Hilmi tersenyum tipis, seperti menangkap sesuatu, tapi memilih tidak membahasnya.
“Saya mahu cakap sesuatu,” katanya kemudian, suaranya diturunkan. “Dua lelaki asing berkulit gelap itu… macam tahu sesuatu. Mereka asyik berbisik sambil memandang kita semua. Seorang lagi sudah pergi, belum kembali. Mungkin ke tandas.”
Firza melirik ke arah Mike yang duduk sendirian, kepalanya tertunduk, tangannya terus mengusap rambutnya sendiri seperti orang yang kehilangan arah.
Ada dorongan dalam diri Firza untuk mengatakan semuanya—tentang apa yang baru saja ia dan Shena lihat. Tapi ia menahan diri. Terlalu banyak yang belum pasti. Dan ia tak ingin membuat garis pemisah di antara mereka dengan yang lain.
Ia mendekat sedikit ke arah Hilmi, menurunkan suara.
“Tadi, sebelum balik ke sini, aku sama Shena ketemu tiga makhluk aneh,” bisiknya. “Awalnya Shena kira itu Hana, karena salah satu dari mereka pakai bajunya. Tapi bukan.”
Ia berhenti sejenak, memastikan tak ada yang mendengar. “Entah apa yang terjadi sama Hana tapi … mereka bawa potongan tubuh manusia.”
Mata Hilmi langsung membelalak.
Firza memberi isyarat cepat agar tetap tenang, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah lagi, nyaris tak terdengar.
“Kemungkinan besar mereka yang ambil semua mayat dari pesawat. Dan kalau dugaanku benar… tempat mereka nggak jauh dari sini.” Rahangnya mengeras. “Aku sama Shena tadi hampir ketahuan.”
Hilmi menelan ludah.
“Kamu kasih tahu teman-temanmu. Juga pasangan itu,” lanjut Firza pelan. “Kita nggak aman kalau terus di satu tempat."
Hilmi mengangguk cepat. Tanpa banyak bicara, ia segera kembali ke kelompoknya, wajahnya masih menyimpan sisa keterkejutan yang belum sempat hilang.
Shena mengeluarkan syalnya dari dalam tas. Kain itu sederhana, tapi entah bagaimana selalu berhasil memberinya rasa aman seolah membawa pulang aroma bantal dan tempat tidurnya yang hangat. Ia tidak memakainya. Hanya menggenggam sebentar, menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, lalu melipatnya rapi dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia tak ingin benda itu kotor … atau hilang.
Di sampingnya, Firza meneguk air mineral yang tinggal setengah botol. Ia lalu mengulurkannya. Shena menerimanya tanpa banyak kata, meneguk perlahan.
Saat air itu melewati tenggorokannya, bayangan tadi muncul lagi; ciuman mereka. Panas. Mendebarkan. Terlalu dekat dengan rasa takut yang nyaris merenggut napas.
Shena menahan napas sejenak.
Apa pun alasannya … ia tidak ingin mengulangnya dalam kondisi seperti itu.
Ia tahu Firza melakukannya untuk mengalihkan dirinya dari kepanikan. Dan entah kenapa, pikiran lain yang jauh lebih ringan justru menyelinap masuk—mereka belum menyikat gigi sejak terdampar di hutan ini. Shena tersenyum tipis, geli sendiri.
Aneh.
Meski begitu … rasa dan aroma Firza tetap terasa bersih di ingatannya. Segar. Hampir bisa dipastikan kalau pria itu bukan perokok.
Shena buru-buru mengalihkan pikirannya sebelum melangkah terlalu jauh.
Firza lebih dulu membuka suara.
“Menurutku kita harus sering pindah tempat,” katanya pelan, matanya tertunduk. Ujung ranting di tangannya menggambar lingkaran di tanah berulang, tanpa sadar. “Nggak aman kalau kita terlalu lama di satu titik. Kita juga belum tahu apa yang sebenarnya mereka takutin.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan mereka jelas makan manusia,” lanjutnya, suaranya merendah. “Kayaknya … penghuni hutan ini. Semacam kanibal.” Rahangnya mengeras. “Aneh aja. Harusnya kalau mereka benar-benar ada, pasti udah pernah tercatat. Tapi aku nggak pernah baca apa-apa soal ini. Di jurnal mana pun.”
Shena menatapnya beberapa detik, lalu menepuk punggung pria itu pelan. “Kamu ke mana, aku ikut,” ucapnya lirih. “Jangan tinggalin aku sendirian di sini.”
Ia menarik napas, lalu mencoba mengubah suasana.
“Di sini rasanya … nggak enak banget,” katanya pelan. “Aku boleh nyanyi nggak? Pelan aja, kok. Aku juga kasihan sama telinga kamu.” Ada senyum tipis yang dipaksakan Shena di ujung kalimatnya.
Firza menoleh. Tatapannya melembut. Ia mengangguk.
Di dalam hati, Firza tahu ini bukan sekadar ingin bernyanyi. Ada sesuatu yang lebih dalam. Cara Shena bertahan. Cara ia menjaga dirinya … dan mungkin, menjaga Firza juga.
Tak lama, suara Shena terdengar.
Pelan. Hampir seperti bisikan yang dititipkan pada angin. Suaranya mungkin tak sempurna. Bahkan biasa saja. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat semua orang terdiam. Seolah setiap nada membawa pulang sepotong rasa yang sama: takut, lelah … dan keinginan sederhana untuk tetap hidup.
Untuk sesaat, hutan itu tidak terasa semenakutkan sebelumnya.
Hanya untuk sesaat.
"Ku berandai kau disini mengobati rindu ruai
Dalam sunyi ku sendiri meratapi
Perasaan yang tak jua di dengar
Tak kan apa bila rasa ini tumbuh sendirinya
Tak berdaya diri bila di antara
Walau itu hanya bayang - bayangmu
Senyumanmu yang indah bagaikan candu
Ingin trus ku lihat walau dari jauh
Skarang aku pun sadari semua hanya mimpiku
Yang berkhayal akan bisa bersamamu."
Shena berhenti sejenak, menarik napas, lalu melirik Firza di sampingnya. Pria itu nyengir tipis, bahunya terangkat santai.
“Hmm … lagu buat mantan, ya?” gumamnya pelan.
Shena langsung meninju ringan lengannya. “Enak aja,” balasnya, bibirnya memonyong manja.
Ia sendiri tak benar-benar tahu untuk siapa lagu itu ia nyanyikan. Bukan untuk Ramon … atau setidaknya, bukan sepenuhnya. Lebih seperti perasaan yang mungkin akan ia rasakan nanti. Saat harus berpisah dengan Firza.
Pikiran itu datang begitu saja, tanpa diundang.
Seandainya ini hanya perjalanan camping biasa dari kampus seperti kemah Sabtu sampai Minggu, tenda-tenda berjejer rapi, api unggun yang hangat, mungkin semuanya akan terasa jauh lebih ringan. Mungkin ia akan menyanyikan lagu yang ceria. Dan Firza…mungkin hanya akan menjadi seseorang yang diam-diam ia perhatikan dari kejauhan. Sebuah kemungkinan kecil yang manis.
Tapi ini bukan itu.
Dan apa pun yang terjadi di antara mereka sekarang … terasa terlalu nyata untuk disebut kebetulan.
Suasana hangat itu baru saja mulai terbentuk. Rapuh, tapi cukup untuk membuat napas terasa lebih ringan—ketika tiba-tiba suara keras memecah segalanya.
Mike berdiri, wajahnya tegang.
“Tolong! Freddie…pasti terjadi sesuatu padanya. Sudah lebih dari satu jam dia belum kembali. Dia bilang hanya pergi sebentar untuk buang air kecil.”
Semua orang terdiam.
Baru saat itu mereka menyadari kalau … satu orang hilang.
Freddie.
Pria asing yang beberapa kali mencoba menggoda Shena itu sudah lebih dari satu jam tidak kembali.
Padahal, dalam kondisi seperti ini, tak ada satu pun dari mereka yang mau pergi terlalu jauh atau terlalu lama dari kelompok kecuali … sesuatu benar-benar telah terjadi.
Mike—teman Freddie—tampak kehilangan kendali. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang licin, menendang apa pun yang berada di dekat kakinya, bahkan beberapa kali meninju udara kosong di depannya. Kecemasan itu terlalu jelas, terlalu nyata, sampai-sampai sulit diabaikan.
Firza dan tiga pemuda lainnya segera mendekat, berusaha menenangkan.
“Tenang dulu, Sir. Tarik napas,” ujar Firza sambil menepuk bahu Mike pelan. “Kami akan bantu cari teman Anda.”
“Dia ke arah mana?” tanya Adly.
Mike menunjuk ke arah belakang, ke sisi hutan yang tadi sempat mereka lewati.
Adly menoleh pada yang lain. “Kita cari sama-sama.”
Firza langsung menggeleng. “Jangan semua,” katanya tegas, tapi tetap rendah. “Harus ada yang tetap di sini. Hilmi sama Chris jaga di sini. Chen tetap sama istrinya. Saida sama Shena juga nggak bisa sendirian.”
Ia menatap Adly. “Aku ikut kamu.”
Hilmi dan Chris mengangguk setuju.
Shena yang mendengar itu langsung merasa gelisah. Ada sesuatu dalam dirinya yang menolak ditinggal Firza terutama di tempat seperti ini. Tapi ia menahan diri. Ini bukan waktunya untuk egois. Mereka semua saling bergantung sekarang.
Tak butuh waktu lama. Firza, Adly, dan Mike segera bergerak menuju arah yang ditunjukkan.
Matahari semakin tinggi, tapi kehangatannya tak cukup untuk mengusir rasa dingin yang merayap di dalam hati mereka yang tertinggal. Tak ada yang benar-benar bicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Pepohonan yang tidak terlalu rapat membuat beberapa hewan kecil sesekali terlihat melintas. Namun justru itu yang membuat Shena semakin tidak nyaman. Terlalu terbuka.
Seolah-olah mereka bisa dilihat dari mana saja.
Dari jauh. Dari balik bayangan.
Makhluk-makhluk itu … bisa saja sedang mengawasi.
Tanpa sadar, Shena bergeser mendekati area yang lebih tertutup, mencari perlindungan di antara batang-batang pohon yang lebih rapat.
Sementara itu, Firza, Adly, dan Mike sudah berjalan sekitar seratus meter dari titik awal. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan Freddie.
Hutan itu terasa terlalu sunyi.
Mike mengangkat kedua tangannya ke mulut, bersiap berteriak memanggil temannya—
Namun Firza langsung menahan lengannya.
“Jangan,” bisiknya cepat. “Suara kamu bisa narik sesuatu yang lain ke sini.”
Firza memberi isyarat pada Adly dan Mike untuk bergerak memutar searah jarum jam, menyisir area dengan lebih hati-hati. Adly sesekali mematahkan dahan rendah yang terjangkau, meninggalkan jejak agar mereka tidak tersesat.
Sementara itu, Mike berjalan paling depan—tergesa, nyaris tanpa jeda—seolah setiap detik yang terbuang bisa mengubur harapannya menemukan Freddie dalam keadaan hidup.
Belum sampai lima puluh meter, langkah Mike terhenti.
Tubuhnya ambruk begitu saja. Ia menutup wajahnya, lalu suara panik pecah dari tenggorokannya.
“Ya Tuhan … ya Tuhan! Mereka memakannya…mereka memakannya.” Suaranya bergetar, tak terkendali. “Freddie … kasihan Freddie … kau bilang mereka tidak akan memakanmu. Kau bilang kita sama … mereka tidak akan menyentuhmu. Tidak … tidak….”
Ia merangkak mundur, menjauh dari sesuatu yang tergeletak di tanah.
Firza dan Adly saling pandang sesaat, lalu mendekat.
Dan dunia seperti berhenti.
Freddie terbaring di sana.
Tubuhnya … tak lagi utuh.
Tangan dan kaki kirinya hilang. Potongan kain dari kemeja dan celananya tergeletak tak jauh dari tubuhnya, seperti sisa-sisa yang tak dianggap penting. Keningnya cekung ke dalam, darah mengering di sekitarnya—bekas hantaman keras yang merusak wajahnya hingga sulit dikenali.
Ia tidak sempat lari.
Ia melihat pelakunya.
Adly tersentak mundur, tubuhnya berbalik sebelum akhirnya ia muntah di balik bahu Firza.
Sementara Firza … masih berdiri di sana, menatap, mencerna.
Potongan-potongan itu.
Pola luka itu.
Dan sesuatu di kepalanya mulai terhubung.
Ia menoleh pada Adly, suaranya rendah, tapi tegas.
“Kaki yang aku lihat tadi … yang dibawa mereka,” katanya pelan. “Itu kaki Freddie.”
Adly terdiam, napasnya masih tersengal.
“Mereka sudah membunuhnya sejak kita ketemu mereka tadi,” lanjut Firza. “Dan kemungkinan besar … mereka bakal balik ke sini buat ambil sisanya.”
Ia menatap sekitar, waspada.
“Kita harus pergi. Sekarang."
Adly mengangguk cepat, lalu meraih lengan Mike yang masih terpuruk. Tapi tubuh pria itu terlalu besar, terlalu lemah oleh ketakutan. Firza ikut membantu, menariknya dengan paksa agar berdiri.
Mereka bergerak kembali, cepat, nyaris setengah berlari.
Di tengah langkah yang terburu, Firza akhirnya bertanya, suaranya tetap terkendali. “Maksud kamu apa tadi? Tentang Freddie bilang mereka nggak bakal makan kalian?”
Mike masih terisak, suaranya kacau.
“Aku … aku tidak tahu. Tapi Freddie bilang dia tidak takut. Katanya … makhluk itu sudah lama tinggal di hutan ini. Mereka hanya memangsa orang asing, bukan yang punya warna kulit sama seperti mereka.” Napasnya terputus-putus. “Tapi … mereka memakan Freddie. Mereka tetap memakannya.”
Ia menggeleng berulang kali, matanya kosong.
“Dan mereka juga akan memakanku. Ya Tuhan … aku kira selama ini itu cuma mitos. Aku kira itu tidak nyata ….” Suaranya melemah, berubah jadi bisikan putus asa. “Lebih baik aku mati saja waktu pesawat itu jatuh.”
Tangisnya pecah lagi.
Besar. Tak terbendung.
Tak sesuai dengan tubuhnya yang besar dan kokoh.
“Mereka pasti akan memotongku. Aku cuma tinggal menunggu waktunya.”
Firza dan Adly tidak menjawab.
Mereka hanya terus berjalan. Menarik Mike menjauh, sejauh mungkin dari tempat itu. Sejauh mungkin dari sesuatu yang mungkin masih mengintai di antara pepohonan.
Pikiran Firza berdesakan di kepalanya, saling bertabrakan tanpa jeda.
Berarti … selama ini dua pria asing itu tahu. Mereka tahu apa yang sebenarnya berkeliaran di hutan ini. Dan Freddie—pantas saja ia terlihat begitu santai. Ia merasa aman. Percaya diri bahwa dirinya tidak akan dijadikan mangsa.
Salah.
Semua perhitungan itu salah.
Firza menarik napas dalam, mencoba merapikan benang kusut di pikirannya. Persediaan air mereka menipis. Mereka tidak bisa bertahan lama di satu tempat. Mereka harus bergerak—lebih cepat dari apa pun yang sedang memburu mereka.
Namun ada satu hal yang membuatnya semakin gelisah.
Malam ini … mungkin mereka aman.
Bukan karena hutan itu tiba-tiba bersahabat. Tapi karena sesuatu sudah mendapatkan makanannya.
Bayangan tubuh Freddie kembali muncul—terpotong, tidak utuh. Luka-lukanya terlalu rapi untuk sekadar serangan liar. Itu bukan gigitan. Bukan cakaran.
Itu hasil kerja sesuatu yang tahu persis bagaimana memotong tubuh manusia.
Sangat tajam. Dan sangat terampil.
Rahang Firza mengeras.
“Di mana ada air, di situ ada kehidupan,” gumamnya.
Mereka butuh sumber air. Sungai. Apa pun yang bisa menjaga mereka tetap hidup dan mungkin memberi peluang untuk menemukan jalan keluar.
Keputusan itu mengendap cepat, lalu mengeras jadi tekad.
Firza mempercepat langkahnya.
Ia harus kembali ke Shena. Sekarang juga.
Mereka harus berkemas. Harus pergi sebelum gelap turun dan hutan itu kembali menjadi milik makhluk-makhluk itu sepenuhnya.
To Be Continued
baca ini sudah ke 3 kalinya 😍😍