NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Dafa 13.

Langkah kaki Dafa yang mendekat terdengar seperti ketukan vonis mati di telinga Lilis.

Gadis itu semakin merapatkan tas ke lututnya, berpura-pura sibuk merapikan tali sepatu kiri yang sebenarnya sama sekali tidak lepas.

"Ngapain masih di sini? Sekolah udah kayak kuburan," suara Dafa memecah keheningan, berat dan agak serak karena habis latihan fisik.

Dafa berhenti tepat di depan Lilis. Aroma keringat yang bercampur parfum maskulin murah khas cowok SMA langsung menyeruak, entah kenapa tidak terasa mengganggu. Cowok itu melempar handuk kecilnya ke pundak, lalu matanya langsung turun, tertuju pada tas sekolah Lilis yang posisinya sangat tidak natural.

"Minggirin tas lu."

"Enggak mau. Lagian bukan urusan lu," sahut Lilis ketus, matanya menantang lurus ke depan, berusaha menutupi detak jantungnya yang mendadak tidak karuan.

Dafa tidak mendengarkan. Tanpa permisi, dia berlutut dengan satu kaki di atas semen lapangan yang dingin, lalu menarik tas Lilis dengan satu sentakan pelan.

Begitu tas itu bergeser, pertahanan Lilis runtuh. Di sana, pergelangan kaki kanannya sudah membengkak, memerah, dan tampak kontras dengan kulitnya yang putih.

Dafa menghela napas panjang, terdengar frustrasi tapi ada nada khawatir yang terselip di sana. "Lu tuh ya... bener-bener bego atau gimana sih, Lis?"

"Heh, jaga mulut lu ya!"

"Gua liat lu tadi pas latihan cheerleader," Dafa mendongak, menatap Lilis dengan dahi berkerut sebal. "Gaya lu udah kayak mau terbang ke bulan pas dilempar ke atas. Udah tau tumpuannya nggak pas, masih aja dipaksain mendarat pakai satu kaki. Lu pikir lu kucing yang punya nyawa sembilan?"

Sambil mengomel panjang pendek, Dafa membuka ritsleting tas olahraga miliknya yang tergeletak tak jauh dari sana. Dia mengeluarkan sebotol semprotan pereda nyeri dan sebuah salep otot. Tampaknya perlengkapan tempur itu selalu siap sedia di tas anak basket.

"Gua cuma salah posisi dikit!" bela Lilis, wajahnya memanas karena gengsi.

"Dikit matamu. Ini kalau didiemin sampai besok subuh, lu bakal jalan kayak pinguin hamil selama satu minggu," omel Dafa lagi.

Tanpa aba-aba, tangan Dafa yang besar dan hangat meraih punggung kaki Lilis. Lilis sempat tersentak, berniat menarik kakinya kembali karena takut akan rasa sakit yang luar biasa. Namun, gerakan Dafa selanjutnya membuat Lilis membeku.

Tangan Dafa ternyata sangat lembut.

Cowok yang biasanya kasar saat mendribble bola atau berteriak di lapangan itu kini menggerakkan jari-jarinya dengan sangat hati-hati.

Dafa menyemprotkan cairan dingin ke area yang bengkak, lalu mengoleskan salep dengan gerakan memutar yang super pelan. Ibu jarinya menekan titik-titik di sekitar pergelangan kaki Lilis dengan ritme yang konstan, seolah dia tahu persis di mana rasa sakit itu berpusat tanpa harus membuat Lilis berteriak.

"Sakit nggak? Bilang kalau kekencengan," gumam Dafa. Suaranya melunak, tidak segarang omelannya tadi. Matanya fokus penuh pada kaki Lilis, dahinya sedikit berkerut karena konsentrasi.

Lilis menelan ludah. Rasa perih dan nyut-nyutan di kakinya perlahan tergantikan oleh rasa hangat menjalar yang aneh. "Eng-enggak. Pas kok."

"Makanya, lain kali kalau latihan tuh otak dipake, jangan melamun lihat kegantengan gue," Dafa kembali mengomel, tapi tangannya tetap memijat dengan kelembutan yang kontradiktif. "Lu tuh kapten, kalau lu cedera begini, yang repot satu tim. Gua juga yang repot harus jadi tukang urut dadakan di sekolah kosong."

Lilis tidak menyahut. Omelan Dafa perlahan-lahan bertransformasi menjadi suara latar yang kabur di kepalanya. Fokus Lilis sepenuhnya terdistraksi oleh pemandangan di depannya.

Dari jarak sedekat ini, Lilis bisa melihat detail wajah Dafa yang belum pernah dia perhatikan sebelumnya. Rambut hitam cowok itu agak basah di bagian pelipisnya. Sisa-sisa keringat jatuh perlahan melewati rahangnya yang tegas. Bulu matanya ternyata cukup lebat untuk ukuran seorang cowok yang hobi berantem di lapangan. Ditambah lagi, ekspresi serius Dafa saat ini membuat auranya berkali-kali lipat lebih intens daripada biasanya.

Angin sore kembali bertiup, menerbangkan beberapa anak rambut Lilis ke wajahnya, tapi mata gadis itu tetap tidak bisa beralih dari Dafa.

Getaran aneh itu semakin mendesak di dadanya. Perasaan intim yang asing ini mendadak membuat oksigen di sekitar mereka terasa menipis.

Lilis merasa dadanya sesak, bukan karena sakit, tapi karena menyadari betapa dekatnya posisi mereka sekarang.

"Nah, ini udah mendingan. Besok jangan dipakai petakilan du—"

Dafa mendongak tiba-tiba, berniat menyelesaikan kalimatnya.

Tepat saat itu, wajah mereka berada di garis lurus yang sama. Jaraknya tidak sampai dua puluh sentimeter. Dafa yang tadinya mau mengomel lagi, langsung terdiam begitu menyadari Lilis sedang menatapnya tanpa berkedip dengan sepasang mata yang bulat jernih.

Mata mereka beradu di bawah temaram langit senja yang mulai berubah keunguan.

Dafa terpaku. Lilis juga terkunci. Keheningan yang terjadi kali ini jauh lebih mengintimidasi daripada saat mereka terpisah jarak lima puluh meter tadi. Lilis bisa merasakan embusan napas Dafa yang hangat mengenai permukaan kulit wajahnya. Cowok itu menatap bibir Lilis sekilas, sebelum kembali menatap matanya dengan intensitas yang membuat pasokan udara Lilis benar-benar habis.

'Sial, ini terlalu dekat' batin Lilis panik.

Otak Lilis mendadak mengalami error sistem akibat serangan salah tingkah yang luar biasa. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai dia takut Dafa bisa mendengarnya.

Rasa malu, panik, dan canggung bercampur menjadi satu, menciptakan dorongan refleks yang tidak masuk akal demi menyelamatkan harga dirinya yang mulai terancam.

Plak!

Sebuah tamparan—atau lebih tepatnya pukulan menggunakan telapak tangan terbuka—mendarat telak di pipi kanan Dafa.

Tidak sampai membuatnya terjungkal, tapi cukup keras untuk menimbulkan suara pantulan yang menggema di koridor lapangan.

Dafa langsung terhuyung ke belakang, duduk di atas semen sambil memegangi pipinya yang mendadak panas.

Matanya mengerjap beberapa kali, menatap Lilis dengan ekspresi luar biasa bingung, syok, dan tidak percaya.

"Lu ngapain nampar gua? Beneran psikopat lu ya anjir?!" seru Dafa, suaranya naik satu oktav karena syok yang amat sangat.

Lilis yang tangannya masih gemetar segera menarik kakinya dan memeluk lututnya sendiri, wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga. "Habisnya lu ngapain mukanya deket-deket?! Mau mesum ya lu?!"

"Hah?! Siapa yang mesum? Gua kan cuma mau ngomong, Malih!" Dafa protes keras, tangannya masih mengusap pipinya yang memerah. "Udah ditolongin malah ditampol. Sinting lu ya?!"

Dafa benar-benar tidak habis pikir, sementara Lilis hanya bisa memalingkan mukanya ke arah lain, berusaha menyembunyikan senyum aneh dan detak jantungnya yang masih balapan di dalam dada.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!