Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Hancurnya harapan
Gedebuk...
Begitu punggung para preman itu menghilang di balik tikungan jalan desa, ketahanan fisik Wanru akhirnya runtuh total. Kakinya lemas seketika, dan ia kembali jatuh berlutut di atas genangan lumpur kotor.
Lin Bao berlari histeris menghampiri kakaknya, lalu memeluk tubuh Wanru erat-erat sambil menangis sesenggukan. "Kakak... Ya Tuhan, darah... Kakak terluka! Hiks... hiks..."
Wanru tidak mendengarkan tangisan adiknya sejenak. Pandangannya kosong, terpaku lurus ke depan, ke arah genangan lumpur tempat akar ginseng liar bernilai astronomis itu tergeletak.
Batangnya patah menjadi dua. Daun-daun penyertanya hancur tak berbentuk terinjak-injak sepatu bot. Jamur-jamur segar hancur berkeping-keping, bercampur aduk dengan kotoran tanah dan air comberan.
Semua kerja kerasnya seharian penuh... seluruh tetesan keringatnya di hutan... strategi bisnis penyelamatan hidup keluarganya... hancur rata dengan tanah dalam waktu kurang dari lima menit akibat kedengkian bodoh Nyonya Liu dan tangan-tangan kotor preman bayaran.
Dengan tangan yang bergetar hebat dan berlumuran darah serta lumpur, Wanru merangkak maju. Ia mengulurkan jemarinya yang kurus, dan dengan hati-hati memunguti serpihan akar ginseng yang patah itu satu per satu.
Air mata hangat yang tidak pernah ia tumpahkan sejak transmigrasi ke dunia kejam ini akhirnya tumpah begitu saja, menetes deras membasahi pipinya yang lebam, bercampur dengan noda darah di sudut bibirnya.
"Tidak... Tidak..." bisik Wanru dengan suara serak yang tercekat di tenggorokan, air matanya menetes tiada henti di atas pecahan akar ginseng tersebut. "Ini... ini satu-satunya cara untuk membayar utang... Ini satu-satunya cara agar Ibu tidak ketakutan... Kenapa...? Kenapa dunia ini begitu tidak adil...?"
"Tidak!..." teriak Wanru merutuki takdir, suaranya pecah menggema di antara dinding-dinding lorong yang sunyi, memecah kesunyian senja yang semakin kelam.
Lin Bao memeluk leher kakaknya erat-erat, ia ikut menangis histeris menyaksikan kehancuran yang menimpa keluarga mereka.
Di tengah dinginnya angin malam yang mulai turun, di atas reruntuhan harta karun yang hancur berkeping-keping, keluarga Lin kembali dihempaskan ke dasar jurang penderitaan yang paling gelap.
Setelah beberapa saat...
Malam pun turun dengan cepat, menyelimuti Desa Hutan Batu dalam kegelapan pekat tanpa bintang. Di dalam gubuk reyot yang bocor, pencahayaan hanya bergantung pada sebatang pelita minyak kecil yang apinya berkedip-kedip lemah tertiup angin celah dinding.
Nyonya Lin menangis histeris sambil membersihkan luka lebam di pipi putrinya menggunakan air hangat dan sehelai kain usang yang sudah dicuci bersih.
Hati wanita paruh baya itu hancur berkeping-keping melihat kondisi Wanru yang babak belur, ditambah mendengar cerita tentang hancurnya seluruh hasil hutan dan ginseng berharga mereka di tangan preman suruhan Nyonya Liu.
"Nyonya Liu... perempuan iblis itu... dia benar-benar ingin membunuh kita..." racau Nyonya Lin di sela-sela isak tangisnya yang tak berujung, sambil memeluk kepala Wanru dengan penuh kepedihan. "Besok adalah hari terakhir batas waktu pelunasan utang... Tanpa uang, tanpa ginseng... Pamanmu akan menyeretmu pergi... Kita mau hidup bagaimana lagi, Wan-er...?"
Adapun Lin Bao, ia duduk di sudut ruangan, meringkuk sambil memeluk lututnya, hingga tertidur dalam sisa-sisa isak tangisnya yang melelahkan.
Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, Lin Wanru duduk bersandar di tepi ranjang kayu. Wajahnya pucat pasi dengan lebam keunguan di pipi kiri, sudut bibirnya robek, dan sekujur tubuhnya terasa remuk redam.
Ia tidak mengeluarkan suara isak tangis lagi. Air matanya telah mengering, meninggalkan jejak garis merah di pipinya.
Ia menatap pelita minyak yang apinya terus berkedip-kedip di atas meja. Di dalam mata gadis remaja itu, pantulan api kecil tersebut perlahan-lahan berubah menjadi nyala api yang besar, dingin, tajam, dan mematikan.
Selama ini, ia bersikap lunak. Selama ini, ia berpikir bahwa dengan mengandalkan ilmu pengetahuan dan strategi ekonomi murni, ia bisa keluar dari kemiskinan secara damai tanpa harus berurusan dengan kekerasan kotor dunia feodal.
Namun, kejadian sore ini telah membuka matanya secara telak, bahwa di dunia rimba kekaisaran yang dikuasai oleh orang-orang biadab, kebaikan dan strategi intelektual saja tidak cukup jika kau tidak memiliki taring untuk menggigit balik.
Malam semakin larut di Desa Hutan Batu. Suara jangkrik di luar gubuk terdengar bersahutan, berpadu dengan deru angin malam yang mendesau melewati celah-celah dinding kayu yang lapuk.
Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh sebatang pelita minyak berukuran kecil, suasana terasa jauh lebih dingin daripada biasanya, bukan sekadar karena cuaca, melainkan karena kebekuan keputusasaan yang menyelimuti seluruh ruangan.
Di atas sudut meja kayu yang reot, kantong kain usang yang tadinya membawa harapan besar kini tergeletak lemas. Isinya benar-benar berantakan.
Jamur tiram yang tadinya segar dan putih bersih kini hancur menjadi serpihan berlumur lumpur dan debu jalanan. Batang tanaman pegagan dan akar manis patah-patah, tercampur dengan kotoran tanah.
Dan di antara itu, serpihan akar ginseng liar yang patah tampak mengenaskan, menyisakan noda kecokelatan yang menjadi saksi bisu atas kebiadaban preman suruhan Nyonya Liu sore tadi.
Lin Wanru duduk di tepi ranjang seraya menundukkan kepalanya. Luka lebam keunguan di pipi kirinya tampak kontras dengan kulit pucatnya, dan sudut bibirnya yang robek masih meninggalkan jejak darah kering.
Namun, rasa sakit fisik di sekujur tubuhnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak dan kemarahan dingin yang bergemuruh di dalam dadanya.
"Besok adalah hari ketiga," batin Wanru mengulang-ulang angka kematian itu di dalam kepalanya. "Hari di mana Paman Lin Dehai akan datang membawa algojo pasar untuk menyeretku secara paksa. Dan malam ini, kami tidak punya apa-apa lagi."
Tidak ada uang tunai. Tidak ada harta karun ginseng liar. Tidak ada lagi hasil hutan yang bisa dijual. Pintu jalan keluar yang selama ini ia rancang dengan cermat menggunakan logika dan strategi modern telah ditutup rapat-rapat oleh kedengkian manusia feodal.
"Hiks... Hiks...hiks..."
Bersambung...
😄😄😄😄😄🤣😄😄