NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Grand Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta malam itu diselimuti kemewahan yang menyilaukan mata. Chandelier kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan pendar cahaya keemasan ke atas lantai marmer hitam berpelitur tebal.

Ratusan petinggi industri, investor asing, elit pengusaha, hingga jurnalis papan atas berkumpul dalam busana terbaik mereka untuk menghadiri Annual Gala Dinner & Business Award Samudra Group.

Musik klasik melantun lembut dari sudut ruangan, berusaha menyembunyikan riak ambisi dan persaingan ketat di antara para tamu undangan. Namun, keheningan elegan pesta itu seketika pecah ketika pintu ganda berbahan kayu jati berukir di ujung karpet merah terbuka lebar.

Alvan Samudra melangkah masuk.

Pria itu tampak teramat gagah dalam balutan setelan tuxedo hitam kustom potongan italian cut, lengkap dengan dasi kupu-kupu yang presisi.

Langkah kakinya mantap, memancarkan aura dominasi yang tak tertandingi sebagai pemimpin tertinggi Samudra Group. Namun, malam ini, perhatian ratusan pasang mata tidak sepenuhnya tertuju pada Alvan.

Di sampingnya, berjalan seorang wanita yang mengenakan gaun malam berwarna biru navy polos berbahan satin sederhana.

Gaun itu tidak dihiasi permata mahal, bordiran emas, ataupun renda berlebihan, sangat kontras dengan gaun-gaun desainer kelas atas yang dikenakan oleh para wanita elit di ruangan tersebut. Ramos gaun itu terpotong rapi dengan kerah tinggi yang menutup lehernya rapat-rapat, membalut tubuh rampingnya dengan sangat anggun.

Itu adalah Andira.

Rambut hitamnya disanggul halus ke atas, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah pucat namun berfitur tegas dan menawan. Tidak ada perhiasan mewah melingkar di leher atau pergelangan tangannya, terutama tangan kanannya yang tertutup rapi di balik kain lengan gaun yang agak longgar.

Seketika, gemerisik bisikan beracun menjalar cepat bagaikan api menyambar jerami kering.

"Tunggu... bukankah itu wanita yang ditangkap polisi beberapa bulan lalu?"

"Ya Tuhan! Itu Andira! Wanita yang dituduh membunuh Roy Samudra!"

"Bagaimana mungkin Alvan membawanya ke sini? Apa dia sudah gila?"

"Lihat pakaiannya... sangat tidak berkelas. Dia tampak seperti pelayan yang dipaksa memakai baju pesta!"

Kilatan lampu kilat dari kamera para jurnalis mulai menyambar-nyambar secara agresif ke arah Andira. Setiap kilatan cahaya terasa bagaikan taring yang siap mengoyak kehidupannya.

Andira merasakan dadanya sesak berat. Rasa terisolasi yang ekstrem merayapi seluruh dinding dadanya. Di tengah ratusan orang bergaun dan berjas mahal yang menatapnya dengan tatapan jijik, curiga, dan benci, ia merasa seperti seorang terdakwa yang dilempar telanjang ke dalam kandang singa.

Andira meneguk ludahnya pelan, mencoba menahan getaran di lututnya. Namun, bukannya menundukkan kepala, wanita itu menyentak bahunya ke belakang, menegakkan dagunya, dan menatap lurus ke depan. Matanya yang jernih memancarkan martabat yang tak sudi ditundukkan oleh bisikan-bisikan hina tersebut.

Alvan yang berada di sampingnya menyadari perubahan sikap Andira. Sudut mata pria itu melirik tajam ke arah Andira, menangkap keheningan berani di wajah wanita itu di tengah badai celaan. Ada desakan aneh di dada Alvan, campuran antara kekaguman yang samar dan rasa bersalah yang terus menggerogoti nuraninya.

~

Di sudut panggung utama, Elena berdiri anggun memegang gelas champagne berkilau. Ia mengenakan gaun merah menyala yang dirancang khusus untuk mencuri perhatian. Melihat Andira berhasil menjadi pusat cemoohan publik, senyuman puas yang sarat kepuasan jahat merekah lebar di bibirnya.

Sempurna, batin Elena dengan kejam. Skenario ini berjalan jauh lebih indah dari yang kubayangkan.

Elena menyerahkan gelas minumannnya pada pelayan, lalu melangkah luwes memotong kerumunan tamu. Dengan akting yang teramat mulus, ia berjalan mendekati sekelompok investor asing dan dua orang tokoh senior bisnis yang merupakan rekan terdekat mendiang Roy.

"Tuan Hartawan, Tuan Pratama..." sapa Elena dengan nada suara yang penuh keprihatinan yang dibuat-buat, cukup keras untuk didengar oleh jurnalis di sekitarnya. "Apakah Anda berdua juga merasa terganggu malam ini?"

Tuan Hartawan, seorang pria paruh baya berambut perak dengan wajah penuh guratan ketegasan, salah satu investor paling berpengaruh di Samudra Group, menoleh dengan kerutan mendalam di dahinya.

"Elena," kata Tuan Hartawan berat. "Apa-apaan ini? Mengapa Alvan membawa wanita pembunuh itu ke acara kehormatan untuk mengenang mendiang Roy? Ini adalah penghinaan besar bagi kenangan almarhum!"

Elena mendesah pelan, mengusap sudut matanya berpura-pura sedih. "Tolong jangan salahkan Mas Alvan, Tuan Hartawan. Mas Alvan hanya... terlalu baik dan terlena oleh manipulasi wanita itu. Wanita itu selalu bersikap seolah-olah dia adalah korban yang teraniaya demi mendapatkan simpati."

Elena memajukan tubuhnya, menanamkan provokasi beracunnya pada jurnalis yang mendengarkan dengan penuh rasa lapar akan berita skandal.

"Kami semua tahu betapa liciknya Andira," lanjut Elena seraya menatap ke arah Andira dengan senyuman miring. "Dia masuk ke kehidupan Roy untuk uang, dan sekarang dia melekat pada Mas Alvan untuk menyelamatkan dirinya dari hukuman penjara. Hadirnya wanita itu di sini malam ini adalah tamparan bagi kita semua yang mencintai Roy."

Kata-kata Elena menyebar cepat bagaikan wabah. Dalam hitungan menit, suasana gala dinner yang tadinya hangat berubah menjadi ruang eksekusi emosional bagi Andira.

Alvan sempat dipanggil oleh beberapa direksi utama di sudut ruangan untuk membahas penandatanganan dokumen investasi penting. Untuk beberapa saat, ia terpaksa meninggalkan Andira berdiri sendirian di dekat meja jamuan minuman.

Saat itulah para serigala bergerak mendekat.

Tuan Hartawan, yang sudah tersulut emosi oleh hasutan Elena, melangkah lebar mendekati Andira. Langkah kakinya yang berat mengundang perhatian puluhan tamu di sekitarnya. Mereka serta-merta menghentikan percakapan, berkumpul membentuk lingkaran longgar untuk menyaksikan drama penghinaan tersebut.

"Wanita tidak tahu malu," sapa Tuan Hartawan dengan suara menggelegar yang memecah keheningan ruangan.

Andira membalikkan tubuhnya perlahan, berhadapan langsung dengan pria tua berwajah penuh kemurkaan itu.

"Selamat malam, Tuan," jawab Andira, suaranya tetap tenang dan terkontrol meski jantungnya berdegup kencang.

"Jangan berani-berani menyapaku dengan mulutmu yang kotor itu!" bentak Tuan Hartawan, matanya melotot tajam. "Kamu berdiri di sini, berpura-pura anggun dengan gaun murahmu, seolah-olah kamu tidak pernah menyiramkan darah Roy di tanganmu!"

Beberapa tamu wanita di sekitar mereka tertawa sinis seraya menutup mulut dengan kipas tangan mereka.

"Lihat cara dia menatap... tidak ada rasa penyesalan sedikit pun."

"Memang dasar wanita berdarah dingin. Pantas saja dia bisa merencanakan hal sekeji itu."

Cemoohan itu beruntun menghantam Andira. Namun, wanita itu berdiri sangat tegak. Tangan kirinya mengepal halus di samping gaunnya, sementara tangan kanannya memegang erat rahasia yang tersembunyi di balik lengan gaunnya.

"Tuan," kata Andira, menatap lurus ke dalam mata Tuan Hartawan tanpa rasa gentar sedikit pun. "Pengadilan belum pernah menyatakan saya bersalah secara sah atas kematian Roy Samudra. Hukum di negara ini berdiri di atas bukti, bukan atas dasar rumor dan penghakiman sepihak dari orang-orang yang merasa paling berhak."

"Bukti?!" Tuan Hartawan tertawa terbahak-bahak secara meledak-ledak. "Bukti apa lagi yang kamu butuhkan?! Kamu ditemukan di TKP dengan tangan bersimbah darah! Kamu hanya seorang wanita tak berguna yang memanfaatkan kebaikan keluarga Samudra!"

Elena berdiri di barisan depan kerumunan itu, melipat tangannya di dada dengan senyuman kemenangan yang sangat mekar. Ia menikmati setiap detik penderitaan Andira.

Ini adalah kehancuran mental yang ia janjikan pada Alvan, sebuah hukuman publik yang akan membuat Andira tak punya tempat lagi untuk bersembunyi.

Tuan Hartawan semakin melangkah maju, kemurkaannya memuncak saat melihat tidak ada raut ketakutan atau tangisan memohon di wajah Andira. Keteguhan Andira justru memicu amarahnya yang paling gelap.

"Wanita seperti kamu tidak pantas menghirup udara yang sama dengan kami di tempat ini!" raung Tuan Hartawan.

Pria tua itu menyambar sebuah gelas berkaki tinggi berisi red wine pekat dari nampan pelayan yang melintas di sampingnya.

Dengan wajah yang merah padam oleh kebencian yang membutakan, Tuan Hartawan mengayunkan tangannya sekuat tenaga, berniat menyiramkan cairan merah pekat itu tepat ke wajah Andira untuk mempermalukannya secara total di depan puluhan kamera jurnalis!

Srrrt!

Andira memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menerima basahan dingin dan penghinaan fisik tersebut.

Namun... air red wine itu tidak pernah menyentuh kulit wajahnya.

GREK!

Sebuah gerakan secepat kilat menerobos kerumunan.

Sebuah lengan kekar berbalut jas tuxedo hitam meluncur presisi di udara. Jemari-jemari yang kuat dan berotot seketika mencengkeram pergelangan tangan Tuan Hartawan dengan sangat keras tepat beberapa sentimeter sebelum gelas itu menyiram wajah Andira!

Gelas wine itu bergetar hebat di udara, meneteskan beberapa titik cairan merah ke atas karpet, namun tidak satu tetes pun yang mengenai gaun biru navy Andira.

Suasana ballroom seketika berubah menjadi senyap seakan seluruh udara direnggut keluar.

Andira membuka matanya perlahan.

Di depannya, berdiri Alvan Samudra.

Pria itu berdiri bagaikan benteng baja yang tak tertembus, menutupi seluruh tubuh Andira dari jangkauan Tuan Hartawan.

Punggungnya tegap, dan saat ia memalingkan wajahnya ke samping, matanya memancarkan aura kemurkaan yang teramat pekat, sebuah intrik bahaya yang sanggup membuat siapa pun bergidik ketakutan.

Cengkeraman tangan Alvan pada pergelangan tangan Tuan Hartawan begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangan Alvan menonjol tegang.

"Pak... Pak Alvan?" terperanjat Tuan Hartawan, rasa terkejut dan rasa sakit di pergelangan tangannya membuat amarah pria tua itu melorot seketika.

Elena yang menyaksikan hal itu dari dekat membelalakkan matanya secara dramatis. Senyuman di wajahnya runtuh total, digantikan oleh rasa panik dan tak percaya. Kenapa Alvan melindunginya lagi?!

Alvan tidak melepaskan cengkeramannya. Ia memajukan langkahnya satu tindak, memaksa Tuan Hartawan mundur beberapa senti. Suara Alvan mengalun sangat dingin, berat, dan bergema pelan namun menusuk ke seluruh penjuru ruangan.

"Tuan Hartawan," desis Alvan dengan nada yang sanggup membekukan darah. "Anda berada di acara Samudra Group... dan wanita ini hadir sebagai pendamping resmiku."

Alvan memutar pergelangan tangan Tuan Hartawan secara perlahan hingga pria tua itu terpaksa menurunkan gelas wine-nya dengan gemetar.

"Penghinaan apa pun yang Anda lontarkan padanya di tempat ini..." lanjut Alvan, matanya mengunci setiap tamu yang menonton, "...adalah penghinaan langsung terhadap nama Samudra yang kupimpin."

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!