Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 TRIPLE MATCH
BOOM! DUAAGH!
Suara benturan keras kembali bergema di lapangan tengah SMK PGRI Cikampek. Friza melesat cepat ke tengah bentrokan, membantu membantai sisa-sisa kroco musuh luar yang mencoba mendekat. Dengan gerakan yang presisi dan bertenaga, setiap pukulan dan tendangan Friza langsung menumbangkan dua hingga tiga orang sekaligus.
Friza mendarat tepat di posisi tengah, berdiri sejajar di antara Ryuka dan Zela.
Zela yang baru saja menyapu darah tipis di bibirnya sempat terkaget melihat kehadiran mantan ketua RAVENS itu. "Friza? Ngapain lu di sini?"
Friza tidak langsung menjawab pertanyaan Zela. Matanya yang tajam justru tertuju lurus pada sosok Ryuka di sampingnya. Dalam hatinya, Friza membatin: 'Jadi... anak pindahan ini orangnya? Orang yang memancarkan hawa kegelapan yang dirasakan gua tadi?'
Friza kemudian melirik Zela di sisi satunya. 'Di sisi lain... Zela juga sangat kuat. Gua tau betul, Zela punya tipe yang sama kayak gua... tipe petarung yang gak akan pernah berhenti dan terus melampaui batas dirinya sendiri.'
Pertarungan melawan kroco-kroco di sekitar mereka mendadak bersih. Kini, garis depan musuh hanya menyisakan tiga orang elit pemuncak di tengah lapangan.
Ryuka membuka percakapan, memecah keheningan dengan nada menantang. "Jadi... siapa yang bakal ngadapi orang besar yang di tengah itu dari kita bertiga? Apa lu takut, Zel?"
"Hah?! Yang bener aja lu!" tanggap Zela cepat, alisnya bertaut kesal.
Ryuka langsung memotong ucapan Zela dengan cengiran arogannya. "Biar gua aja yang—"
Belum sempat Ryuka menyelesaikan kata 'kalahin', Friza dan Zela mendadak memotong ucapan Ryuka berbarengan bilang "kalahin".
"Woy, Friza! Gua yang kalahin dia, jangan ganggu mangsa gua!" seru Zela menunjuk Friza.
Ryuka yang dipotong ucapannya langsung memelototi Zela penuh emosi. "Hah?! Mangsa lu?! Si gendut itu mangsa gua, bodoh!"
"Apa lu bilang?! Coba ulang sekali lagi!" gertak Zela tak terima, melangkah maju mendekati muka Ryuka.
Ryuka meledek Zela dengan muka mengejek yang sangat menyebalkan. "Gua bilang... si gendut itu mangsa gua, sialan!"
Melihat dua anak kelas 2 ini malah sibuk adu mulut konyol di tengah medan perang, urat di dahi Friza mendadak menegang. Friza memarahi mereka berdua dengan suara melengking. "WOY! BRISIK ANJING!"
Ajaibnya, Ryuka dan Zela yang tadinya saling tuduh mendadak kompak menoleh ke arah Friza dan berteriak bersamaan:
"LU YANG BRISIK, TAI!!"
Ketiganya seketika terlibat perdebatan cekcok yang makin tidak jelas. Saling dorong, saling maki, dan saling tuduh siapa yang berhak menghajar pimpinan musuh di depan mereka.
Sementara itu, orang bertubuh bongsor raksasa yang berdiri di tengah barisan musuh luar... wajahnya sudah memerah padam. Urat-urat di leher dan dahinya menonjol keluar akibat menahan amarah yang membara. Dia dipanggil 'si gendut' berkali-kali di depan ratusan anak buahnya sendiri!
"GUA BAKAL BUNUH LU SEMUA!!" raung pria bongsor itu dengan suara menggelegar hingga debu di tanah berhamburan.
Di balkon lorong lantai 3 gedung sekolah...
Ken dan Argantara yang menyaksikan tingkah konyol bertiga dari atas hanya bisa melongo kebingungan. Argantara memegangi pelipisnya yang masih agak pusing, menghembuskan napas heran.
"Sebenernya... mereka bertiga lagi ngapain sih?" gumam Argantara heran.
Ken yang bersandar di bahu Argantara mendadak tertawa lepas. "HAHAHA! Lihat lah... mereka berhasil bikin orang besar itu marah banget."
Ken menghentikan tawa pelannya, lalu tersenyum menatap lurus ke arah tiga sosok di bawah sana dengan pandangan yang lebih dalam. "Arga... lu mungkin gak bisa melihatnya secara utuh, tapi menurut gua... mereka bertiga punya satu kesamaan yang sangat jelas. Zela, Friza... dan siswa baru itu, siapa sih namanya?"
"Ryuka," sela Argantara cepat.
"Oh iya, Ryuka," angguk Ken. "Mereka bertiga punya kesamaan yang sangat langka. Mereka adalah tipe orang yang bakal terus berkembang tanpa batas... Tidak seperti kita. Kita... mungkin cuma bakal terus berada di level seperti ini saja."
Argantara menoleh melirik Ken. "Kenapa lu bisa mikir gitu?"
Ken menyunggingkan senyum tipis. "Gua gak tahu kenapa gua bisa mikir gitu... Mungkin cuma perasaan gua aja."
Kembali ke lapangan bawah.
Ryuka, Zela, dan Friza mendadak menghentikan perdebatan konyol mereka. Ketiganya menoleh dan mulai fokus menatap ke depan.
Begitu pandangan mereka tertuju ke garis depan musuh, mereka mendapati aura pembunuh dari pria bongsor itu sudah memuncak ke level gila. Wajahnya benar-benar mengerikan bagaikan iblis yang siap mencabik-cabik siapa saja.
Zela mendesis pelan, lalu menyikut lengan Ryuka. "Ryuka, bego! Lihat... gara-gara lu dia jadi marah banget tuh!"
Ryuka melotot kaget. "Hah?! Kok gara-gara gua?!"
Namun, sedetik kemudian Ryuka teringat kata-kata 'gendut' yang dia ucapkan berkali-kali tadi. Ryuka menyadari kesalahannya, lalu membalas menyikut Zela. "Ya... ya gua gak tahu! Lu sih mancing-mancing gua duluan!"
"Bego emang lu!" umpat Zela kesal.
Pria bongsor raksasa itu sudah tidak sanggup menahan emosinya lagi. "BRISIK, BANGSAT! GUA HABISIN KALIAN SAMPE MATI, ANJING!!"
Tiba-tiba, Ryuka dan Zela saling pandang. Dalam hitungan detik, kekompakan licik mereka berdua muncul kembali.
"Ya udah, gua serahin sama lu aja!" seru Ryuka dan Zela kompak.
SRET!
Tanpa aba-aba, Ryuka dan Zela memegang bahu Friza dari belakang, lalu menyodorkan dan mendorong tubuh Friza maju paling depan ke hadapan si pria raksasa!
Friza yang didorong kaget setengah mati. "WOY SIALAN! KENAPA JADI GUA?!"
Zela menyengir tanpa dosa dari belakang. "Kan lu tadi yang pengen banget lawan dia!"
Ryuka ikut menyuntikkan provokasi sambil bersorak dengan nada sarkas yang sangat menyebalkan. "Nah! Bener banget tuh! Lu sendiri yang bilang: 'Gua yang bakal kalahin si babi gendut itu!'"
Ucap Ryuka dengan nada meledek yang begitu nyaring, sengaja memprovokasi emosi pimpinan musuh tersebut!
Pria raksasa itu adalah Ageng Carlos—seorang ketua dan penguasa dari SMK Insan Tazaka, sekolah tetangga yang menjadi musuh bebuyutan Bayoer sejak dulu.
Diledek 'babi gendut' secara terang-terangan di depan mukanya membuat Ageng Carlos meledak total!
"BAJINGAANNN!! SERANGG!!" teriak Ageng Carlos menggelegar seraya menerjang maju dengan pukulan raksasanya!
"MAJU SEMUA!!" dua orang tangan kanan Ageng di samping kiri dan kanannya ikut melesat melompati barikade!
Di detik saat pertempuran puncak itu pecah, pembagian duel terbentuk secara alami:
Ageng Carlos melayangkan pukulan raksasanya langsung ke arah Friza yang terpaksa melayani serangannya!
Orang kepercayaan di samping kanan Ageng—seorang petarung bertubuh tinggi kekar bernama Ben Bekman—melesat menyerang Ryuka!
Sementara orang di samping kiri Ageng—seorang spesialis tendangan bernama Bayu Wahyudi—menerjang lurus mengincar Zela!
BOOMM!!
Pertarungan tiga adu duel terbesar di SMK PGRI Cikampek resmi dibuka!
BAM!
Friza menahan pukulan lurus Ageng Carlos dengan kedua lengannya yang disilangkan di depan dada. Dorongan tenaga Ageng begitu dahsyat hingga membuat sepatu Friza terseret ke belakang sejauh dua meter di atas tanah.
Friza menyapu debu di wajahnya, mata menyipit tajam. "Lumayan juga tenaga lu, Babi Gendut."
"GUA BUKAN BABI, ANJING!" amuk Ageng Carlos seraya mengayunkan hammer fist bertubi-tubi dari atas!
Di sisi lain lapangan, Ben Bekman mencoba memotong pergerakan Ryuka dengan sabetan pukulan hook kanan yang sangat cepat. Ben Bekman adalah tipe petarung yang mengandalkan kecepatan dan artikulasi tinju keras.
TAK!
Ryuka memiringkan kepalanya tipis, membuat tinju Ben hanya melewati udara kosong di samping telinganya. Ryuka menyunggingkan senyum miring.
"Gerakan lu terlalu lambat buat ukuran orang yang sok sangar," ejek Ryuka.
"Jangan sombong dulu lu!" bentak Ben Bekman seraya memutar badannya melepaskan tendangan balasan.
Sementara itu, Bayu Wahyudi melompat ke udara, melayangkan tendangan kapak (axe kick) yang mengincar tepat di tempurung kepala Zela.
SRET!
Zela menggeser posisi kakinya selangkah ke belakang dengan sangat tenang. Tumit kaki Bayu menghantam tanah hingga beton ubin pecah berhamburan. Sebelum Bayu sempat menarik kakinya kembali, Zela melayangkan pukulan jab cepat yang mendarat telak di dada Bayu!
DUAGH!
Bayu Wahyudi terdorong mundur tiga langkah, memegangi dadanya sambil meringis. "Cih... refleks yang gila!"
Zela merapikan kerah seragamnya yang kusam, menatap Bayu dengan mata dinginnya yang tajam. "Lu gak bakalan bisa nembus pertahanan gua cuma pake tendangan murahan kayak gitu."
Di tengah kepulan debu lapangan tengah SMK PGRI Cikampek, tiga poros pertarungan tingkat tinggi kini membara bersamaan. Friza bertarung menahan daya hancur raksasa Ageng Carlos, Ryuka beradu kecepatan dan teknik adu jotos melawan Ben Bekman, sementara Zela menunjukkan keunggulan refleks mutlaknya menghadapi pertarungan jarak dekat Bayu Wahyudi.
Suara benturan pukulan, raungan emosi, dan gema pecahan tanah memenuhi atmosfer sore Cikampek.