Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
"Ya sekamar lah, Nu. Namanya juga pura-pura honeymoon di depan keluarga. Tapi tenang aja, pembagian wilayah aman kok. Kasur empuk ini full milik gue, Arga tidur di sofa."
Danu menghembuskan napas lega. "Baguslah, gue masih ngerasa aneh, sahabat gue ternyata sekarang udah nikah. Entah kenapa gue jadi ngerasa kehilangan lu, Nan."
"Santai aja kali, Nu. Gue masih sama kok kayak Kinan yang dulu," kekeh Kinan. "Tapi jujur sih... sekarang gue ngerasa lebih bebas dan bisa nikmatin hidup. Ya... lu tahu sendiri nyokap gue kayak apa? Bahkan dia nggak percaya kalau anaknya bisa ngehasilin uang dari rumah."
Danu ikut terkekeh di layar ponselnya. "Gue tahu banget perjuangan lu, Nan. Pokoknya mesin kopi ini fix jadi kado simbolis kebebasan lu."
"Eh, ngomong-ngomong lu nginep di hotel mana di Singapura?" tanya Danu kemudian.
"Di Raffles Hotel," jawab Kinan santai.
Seketika terdengar suara Danu berdecak kagum dan terkekeh dari seberang telepon. "Wah... Nan, kalau di sana sih lu jangan cuma mager-mageran doang di kamar hotel! Di deket Raffles itu ada National Gallery Singapore. Lu cuma perlu jalan kaki lima menitan ke sana."
Mata Kinan seketika membelalak lebar. "Serius lu, Nu?"
"Seriuslah! Bahkan di sana ada lukisan asli ukuran yang lumayan besar karyanya Raden Saleh, dan pelukis negara Asia Tenggara lainnya yang sering lu jadiin referensi. Lu yakin nggak mau lihat langsung?" pancing Danu jahil.
Binar antusiasme di mata Kinan seketika menyala. Rasa pegal di kakinya seolah menghilang begitu saja.
"Demi apa lu?! Aaahh... Makasih ya infonya, Danu sayang! Lu emang sahabat terbaik gue!" seru Kinan girang tanpa sadar.
Di seberang layar sana Danu menelan ludahnya susah payah, mendengar sebutan hangat itu. Ia mendadak tertunduk, menyembunyikan senyum tipisnya yang mengembang.
"Iya, sama-sama. Ya udah, gue mau bayar mesin kopi ini dulu ya. Jangan lupa foto-foto kalau lu ke sana!"
"Siap! Bye, Danu!"
Panggilan video itu pun terputus. Kinan melemparkan ponselnya begitu saja ke atas kasur. Wajahnya yang bersentuhan dengan empuknya bantal mendatangkan rasa kantuk yang tidak bisa ia kompromikan.
"Nanti... sebentar lagi deh cuci muka dan ganti bajunya..." gumam Kinan tidak jelas, suaranya makin memelan.
Kinan meluruskan kakinya, memeluk bantal dengan nyaman, dan dalam hitungan detik sudah terlelap sangat pulas.
Waktu bergulir cepat hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul 23.45.
Suara pintu yang terbuka terdengar berbunyi pelan. Arga melangkah masuk ke dalam kamar dengan raut wajah yang terlihat sangat lelah usai merampungkan rapat maraton yang cukup alot bersama tim investor Singapura dan Evan di lounge bawah. Pria itu melonggarkan ikatan dasinya, melepas kancing teratas kemejanya, lalu berniat mengecek keadaan kamar.
Namun, begitu pandangannya tertuju pada tempat tidur, langkah Arga mendadak terhenti.
Kedua alisnya bertaut. Pria itu mendekat perlahan ke sisi ranjang, mengamati sosok wanita yang kini tertidur sangat lelap di sana.
Betapa terkejutnya Arga saat menyadari Kinan tertidur masih mengunakan pakaian yang persis sama seperti saat ia tinggalkan rapat beberapa jam lalu. Bahkan riasan di wajahnya belum di hapus.
Arga berdiri mematung di samping ranjang, bersedekap dada sembari memandangi Kinan.
"Astaga, Kinan..." gumam Arga pelan, menggeleng-gelengkan kepala. "Wanita ini benar-benar... anomali yang nyata."
Arga mendengus pelan. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu berganti pakaian dengan kaos yang lebih nyaman dan celana piyama panjang.
Setelah merasa tubuhnya segar dan siap beristirahat, Arga akhirnya berjalan mendekati sisi tempat tidur yang masih kosong.
Tubuhnya sudah terasa sangat lelah, namun ia sendiri justru bergerak gelisah. Memiringkan tubuhnya ke kiri, lalu berganti ke kanan, hingga terlentang kembali. Pria itu menunduk, menatap kaos yang ia kenakan sembari bergumam pelan.
"Sepertinya saya memang tidak akan bisa tidur kalau mengenakan ini," bisiknya pada kamar yang sunyi. "Kenyamanan dan kualitas tidur saya jauh lebih penting."
Tanpa ragu, Arga duduk dan menatap Kinan yang terlelap di sebelahnya.
Disusul jemarinya yang meraih bagian bawah kaosnya, lalu menariknya ke atas melewati kepala, melepas kain itu begitu saja dan membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka.
Arga memang punya kebiasaan bertelanjang dada saat tidur, sebuah kenyamanan pribadi yang sulit ia kompromikan. Bentuk tubuhnya yang atletis dengan dada tegap dan otot perut kini terlihat jelas.
Pria itu kembali merebahkan tubuhnya, menghembuskan napas lega begitu kulitnya menyentuh seprai yang terasa dingin di kulitnya.
**
Sinar matahari pagi mulai menyusup dari balik tirai kamar.
Kinan menggeliat dan perlahan membuka matanya. Nyawanya belum terkumpul penuh, tetapi pandangan pertamanya saat miring ke kanan langsung tertuju pada pemandangan yang tak biasa di sebelahnya.
Ia tersentak hingga hampir saja terjatuh dari pinggir ranjang. Refleks, ia buru-buru menunduk mengintip pakaiannya sendiri.
"Syukurlah, ternyata masih utuh," bisiknya lega.
Matanya kembali tertuju pada sosok pria di sebelahnya yang masih terlelap pulas.
"Astaga... kenapa dia tidur di sini?!"
Kinan mencoba turun dari ranjang, namun tanpa sengaja ujung selimut Arga ikut tertarik oleh gerakannya. Alhasil, tubuh bagian atas Arga yang polos kini terpampang makin jelas di hadapannya.
Mata Kinan menyipit, kepalanya memiring sedikit ke kiri, lalu berganti ke kanan. Ia bukannya terkejut, panik, ataupun terkesima.
Ia justru mengamati garis bahu Arga yang lebar, lekukan dadanya yang tegap, hingga deretan otot perut pria itu yang tertata rapi di sana.
"Hmm..." Kinan bergumam pelan. Dengan posisinya yang kini berdiri di samping ranjang, jemarinya terangkat mengudara, seakan mengukur proporsi tubuh Arga dari jarak beberapa puluh sentimeter layaknya seniman yang sedang melakukan observasi model figure drawing.
"Proporsi pectoral-nya simetris banget, sih. Garis clavicle-nya tegas," bisik Kinan pada dirinya sendiri dengan nada sangat serius. "Sayang pencahayaan matahari pagi dari samping bikin shading di area perutnya agak kurang dapet. Kalau digambar pakai gaya realism pasti butuh teknik cross-hatching yang lumayan rumit..."
"Sudah selesai membedah tubuh saya, Kinan?"
Suara berat dan dalam mendadak memotong gumaman Kinan.
Kinan tersentak, mendapati pandangan Arga sudah tertuju penuh kepadanya, menatapnya datar dengan satu alis terangkat tinggi.
Kinan berdeham santai, menarik kembali tangannya yang tadi mengudara. "Oh, Pak CEO udah bangun? Saya cuma lagi melakukan studi anatomi visual, Pak. Mumpung ada objek gratis di depan saya."
Detik berikutnya. Pria itu dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu duduk tegak dengan raut wajah berwibawa yang berusaha ia pertahankan.
"Kamu ini..." Arga mendesis. "Bukannya sadar diri, lihat pakaian dan wajah kamu itu, bahkan masih mengenakan riasan saat tidur dan masih memakai baju yang sama dari kemarin."
"Dan saat ini kamu malah sibuk menganalisis tubuh saya?"
"Lagian Kenapa Pak CEO tidur di kasur sih?!" potong Kinan tidak mau kalah, Seraya menunjuk ke arah ranjang.
"Bukankah kamu seharusnya mengalah dan tidur di sofa?!"
Arga menaikkan sebelah alisnya, merapikan rambut acak-acakannya dengan jemari. "Memangnya siapa yang bilang saya akan tidur di sofa?"