Keira baru saja menyaksikan kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil.
Detik berikutnya, dia membuka mata -- dan menyadari dirinya terjebak di tubuh bayi berusia satu setengah tahun.
Ini bukan mimpi. Ini adalah kehidupan keduanya. Dan hari ini... adalah sehari sebelum Papa Jiankok dan Mami Sherly bercerai.
Di kehidupan pertamanya, perceraian itu menghancurkan segalanya. Papa kembali menjadi budak Oma Hoo -- nenek yang pernah mencubit bayi Keira sampai merah, yang menyebut cucunya sendiri "anak cewek nggak berguna," yang menggeledah kantong celana Jiankok sampai ke dalam untuk merampas uang terakhirnya. Mami Sherly berjuang sendirian sampai tubuhnya hancur. Dan pada akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan Keira selamanya.
Tapi kali ini, Keira tidak akan membiarkan itu terjadi.
Dengan otak dewasa di balik wajah bayi yang menggemaskan, Keira mulai bergerak. Langkah pertama: pastikan Papa tidak menyerahkan uang terakhirnya ke Oma. Langkah kedua: bantu Mami jualan nasi di pinggir proyek -- dari penghasilan dua puluh dua ribu per hari. Langkah ketiga: gunakan ingatan dari kehidupan sebelumnya untuk mengubah keluarga kecil ini dari nol... menjadi kerajaan bisnis bernilai miliaran.
Tapi mengubah nasib tidak semudah membalik telapak tangan.
Oma Hoo datang dengan rencana menculik Keira. Keluarga Goh menuntut Sherly jadi "ATM" untuk adik laki-lakinya. Dan ketika keluarga Hoo mulai kaya, seluruh kerabat yang dulu menginjak-injak mereka tiba-tiba datang mengetuk pintu dengan senyum manis.
Maka Keira merancang satu strategi besar: **pura-pura miskin**.
Di balik baju lusuh dan mobil butut, tersembunyi kekayaan yang tak seorang pun tahu.
Dan di antara semua kekacauan ini, ada seorang anak laki-laki pemurung bernama Yuchuan -- pewaris keluarga konglomerat Tjia -- yang tujuh tahun lalu pernah diselamatkan oleh seorang gadis kecil gemuk yang memanggilnya "teman."
Akankah Keira berhasil menyelamatkan keluarganya, menjaga rahasia kekayaannya, dan menemukan kembali cinta pertamanya... sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Pulang Kampung, Pura-Pura Miskin
"Bikin mereka... minta pisah KK."
Sherly malam itu tidak langsung menjawab. Ia hanya membawa Keira pulang, memandikannya, lalu duduk lama di meja makan bersama Jiankok. Di atas meja ada tiga tumpuk pakaian lama.
Celana Jiankok yang lututnya hampir robek.
Baju Sherly yang warnanya sudah pudar.
Gaun kecil Keira yang sengaja dipilih terlalu pendek di lengan.
Jiankok memegang celananya dengan wajah rumit. "Aku harus pakai ini?"
Sherly menatapnya. "Kamu mau pulang kampung kelihatan seperti bos ruko?"
"Tidak."
"Kalau begitu pakai."
Keira mengangkat kedua tangan. "Papa... bolong."
Jiankok menghela napas. "Anak sendiri ikut mengejek."
"Bukan mengejek," kata Sherly sambil menahan senyum. "Ini strategi."
Mereka pulang ke Semarang menjelang Imlek dengan cara paling hemat yang bisa mereka tampilkan. Bukan mobil sewaan. Bukan pesawat. Mereka naik bus malam, membawa tas kain lusuh dan oleh-oleh sederhana. Shanshan, Sisi, dan Daniel tinggal di Jakarta menjaga Warung Kei serta kios TK.
Di dalam bus, Sherly masih memberi pengarahan terakhir.
"Kalau ditanya usaha?"
Jiankok menjawab lemas, "Sepi. Hampir tutup."
"Kalau ditanya rumah?"
"Numpang tempat teman."
"Kalau ditanya uang?"
Jiankok menghela napas seperti orang paling malang. "Habis bayar utang."
Keira bertepuk pelan. "Papi pintar."
Sherly menatap suaminya dari kepala sampai kaki, lalu mengusap sedikit debu dari lantai bus ke ujung celananya yang bolong. "Kurang menyedihkan."
Jiankok memandang noda itu dengan pasrah. "Lao Po, kamu menikmati ini ya?"
"Sangat."
Begitu masuk halaman rumah Hoo, Oma Hoo yang sedang memilah jeruk langsung membelalak.
"Jiankok?"
Jiankok menunduk dengan wajah lesu yang sangat meyakinkan. "Ma, kami pulang dulu. Di Jakarta susah. Usaha tidak jalan."
Sherly menggendong Keira, wajahnya dibuat lelah. "Kalau Oma tidak keberatan, kami bantu-bantu di rumah sambil cari jalan."
Oma Hoo seperti mendapat hadiah Imlek lebih cepat. Matanya menyala.
"Nah, akhirnya tahu juga Jakarta tidak semudah itu! Masuk, masuk. Si Abang pulang!"
Ia belum lupa bertanya soal uang. Begitu mereka duduk di ruang tengah, Oma Hoo langsung mendekat.
"Jadi selama ini tidak kirim uang karena benar-benar tidak ada?"
Jiankok menunduk. "Maaf, Ma. Kalau ada, pasti aku kirim."
Oma Hoo mengamati wajahnya, lalu celana bolongnya. Keraguannya mencair menjadi kepuasan.
"Makanya jangan dengar istri terus. Kalau dari dulu pulang, tidak begini."
Sherly menunduk sopan. "Iya, Oma. Kami memang belum pintar."
Keira menutup mulut dengan tangan kecil.
Mami kalau pura-pura patuh lebih menakutkan daripada saat marah.
Tante Cuihong keluar dari dapur, disusul Tante Yenni. Mata mereka turun dari rambut Sherly ke sandal Jiankok, lalu ke baju Keira yang jelas terlalu kecil.
Keira bisa membaca kalimat di wajah mereka.
Ko Besar bangkrut.
Bagus.
Semakin mereka percaya, semakin mudah drama dimulai.
Masalah pertama datang dalam bentuk Hoo Yuwang, anak Om Jianye yang berusia sekitar lima tahun. Anak laki-laki itu memegang kantong pasir kecil dan melemparkannya ke arah Keira begitu melihatnya.
"Anak Jakarta!" teriaknya.
Keira mundur setengah langkah. Tubuhnya kecil, tapi refleks orang dewasa di dalamnya tidak hilang. Kantong pasir itu meleset, menghantam jendela tua di belakangnya.
Prang.
Kaca pecah.
Semua orang terdiam.
Tante Cuihong berteriak, "Yuwang!"
Keira langsung memasang wajah polos dan bersembunyi di balik kaki Sherly.
Sherly menutup mulut. "Aduh, Cuihong, anak laki-laki memang aktif ya. Tidak apa-apa, kaca rumah sendiri. Yang penting Yuwang tidak terluka."
Wajah Tante Cuihong hijau.
Oma Hoo ingin membela cucu laki-lakinya, tapi tetangga sudah menoleh dari pagar. Ia hanya mengomel pelan sambil menyuruh orang menyapu pecahan kaca.
Pada malam Imlek, Sherly mengambil alih dapur dengan sangat antusias.
Ia membuka lemari makanan, menemukan ayam, ikan, telur, jamur kering, dan daging yang disimpan Tante Cuihong serta Tante Yenni untuk keluarga masing-masing. Dengan wajah tidak bersalah, Sherly memasak semuanya menjadi hidangan besar.
"Kan Imlek," katanya manis. "Keluarga harus makan enak."
Tante Yenni menatap ikan kukusnya seperti melihat tabungan dibakar.
Tante Cuihong berbisik pada suaminya, "Itu ayamku."
Om Jianye melotot ke arah Jiankok, tapi Jiankok sedang memainkan peran pria gagal yang terlalu lapar. Ia mengambil nasi banyak sekali.
"Lama tidak makan masakan rumah," katanya.
Keira hampir jatuh dari kursi karena menahan tawa.
Papi, aktingmu makin bagus.
Di meja makan, Keira memegang paha ayam paling besar. Semua orang mengira ia akan memakannya sendiri. Tapi ia justru turun dari kursi, berjalan tertatih ke arah Opa Hoo.
"Opa... makan."
Opa Hoo yang dari tadi diam terkejut. "Untuk Opa?"
Keira mengangguk. "Opa baik. Opa kuat."
Pria tua itu menerima paha ayam dengan wajah yang melembut. Selama ini, cucu laki-laki selalu berebut bagian terbaik. Baru kali ini cucu perempuan kecil menyerahkan ayam kepadanya dengan dua tangan.
Keira mengambil satu potong lagi untuk Oma Hoo.
"Oma... makan banyak."
Oma Hoo mendengus, tapi tangannya tetap mengambil. "Anak ini mulutnya manis."
Tentu saja.
Mulut manis adalah investasi.
Besok paginya, strategi benalu dimulai.
Jiankok bangun paling siang. Sherly masuk dapur dan memasak bubur dengan banyak telur. Siangnya, ia menggoreng ikan yang tersisa. Sorenya, ia membuat sup dengan daging cadangan Tante Yenni. Setiap kali ada yang bertanya bahan dari mana, Sherly menjawab, "Ada di dapur. Aku pikir untuk semua orang."
Keira makan dengan lahap, lalu tidur siang lama di ruang tengah. Jika ada yang menyuruh Sherly membantu mencuci, Sherly tersenyum lelah.
"Aduh, semalam di bus Kei rewel. Aku pusing sekali."
Jiankok lebih hebat lagi. Ia duduk menonton televisi hitam putih, mengeluh pinggang sakit, lalu berkata sedang mencari kerja setelah Imlek.
Tante Cuihong dan Tante Yenni makin lama makin tidak bisa menyembunyikan wajah mereka.
"Kalau begini terus," bisik Tante Yenni di dapur, "beras kita habis."
"Ayamku sudah habis duluan," jawab Tante Cuihong dengan gigi rapat.
Keira duduk di balik pintu, memainkan boneka kain sambil memasang telinga.
Malam itu, setelah semua orang pura-pura tidur, suara Om Jianye terdengar dari kamar sebelah.
"Tidak bisa begini. Ko Besar pulang bawa anak istri, makan di sini, tidak kerja. Kalau dia benar-benar tinggal, kita yang rugi."
Tante Cuihong langsung menjawab, "Besok bicara ke Opa. Pisah KK. Jangan sampai mereka terus jadi beban."
Dari kamar lain, suara Om Jianming lebih pelan tapi sama kesalnya. "Aku setuju. Kalau tidak dipisah, semua biaya nyangkut di kita."
Keira berbaring di antara Sherly dan Jiankok. Dalam gelap, ia membuka mata.
Sherly juga belum tidur. Jiankok pun diam, napasnya tertahan.
Keira tersenyum kecil.
Tepat sasaran.
Besok, mereka sendiri yang akan membuka pintu kandang.
jadi makin seru
Ending nya dapet banget
💪semangat thoor