NovelToon NovelToon
Halal Tapi Asing

Halal Tapi Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Tanpa Alas di Atas Tanah Keramat

Deru napas Humaira terdengar satu-satu, berkejaran dengan angin perbukitan yang berembus di daerah Imogiri, Yogyakarta. Setelah menempuh perjalanan darat yang cukup panjang dari Jombang bersama Zulfa, di sinilah ia sekarang. Berdiri di undakan pertama anak tangga batu yang berlumut, menatap lurus ke atas, ke arah kompleks pemakaman raja-raja Mataram yang melegenda.

Yogyakarta selalu punya cara sendiri untuk menawarkan ketenangan, dan bagi Humaira, ziarah ke makam para wali dan leluhur adalah obat terbaik saat jiwanya berada di titik nadir.

"Ra, beneran kamu ndak mau pakai alas kaki?" tanya Zulfa, menatap cemas ke arah sepasang kaki sahabatnya yang putih bersih, kini bersentuhan langsung dengan permukaan batu yang kasar dan dingin.

Humaira tersenyum tipis, menggeleng pelan sembari membenarkan letak khimar instan cokelat tuanya. "Ndak apa-apa, Zul. Ini bentuk takzim, sekalian melatih rasa pasrah. Setiap jengkal rasa sakit di telapak kaki ini, semoga bisa menggugurkan dosa-dosa dan meringankan sesak di dada."

Zulfa hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia tahu betul, di balik ketenangan wajah sahabatnya, ada beban seberat gunung yang sedang dipikul sejak kedatangan wanita dari London itu ke pesantren. Tanpa banyak bicara lagi, Zulfa melepas sandal selopnya, memilih untuk menemani sahabatnya melangkah tanpa alas.

Satu per satu, anak tangga batu yang berjumlah ratusan itu mereka daki. Rasa kasar, tajamnya kerikil kecil, dan dinginnya batu mulai menusuk telapak kaki Humaira. Namun, anehnya, rasa sakit fisik itu justru membawa ketenangan tersendiri. Setiap langkah naik seolah menjauhkannya dari hiruk-pikuk sandiwara di Al-Anwar. Di tangga yang ke-seratus, bayangan tatapan rindu Gus Arsalan pada Evelyn di ruang tamu melintas. Di tangga yang ke-dua ratus, bentakan suaminya yang melarangnya menyebut nama Evelyn kembali terngiang.

Humaira terus melangkah, mengabaikan rasa perih di kakinya, membiarkan peluh menetes di pelipisnya hingga akhirnya mereka tiba di puncak kompleks makam yang sunyi dan sakral. aroma wewangian bunga mawar dan kemenyan tipis menyeruak di udara.

Setelah berganti pakaian dengan kain batik panjang yang disewakan di pintu gerbang luar sebagai syarat masuk, Humaira dan Zulfa dituntun oleh abdi dalem menuju pelataran makam yang dikeramatkan. Suasana di dalam begitu hening, hanya terdengar lirik rapalan doa dari beberapa peziarah lain.

Humaira bersila di atas lantai batu, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan pusara. Ia mengangkat kedua tangannya di depan dada. Air mata yang sejak di Jombang ia bendung dengan begitu rapat, di tempat suci ini akhirnya tumpah tanpa bisa dicegah. Bahunya bergetar hebat di balik balutan kain jarik.

"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim..." batin Humaira menjerit di dalam doanya, suaranya tercekat di tenggorokan. "Engkau Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Hamba datang membawa sekeping hati yang hancur berantakan. Jika pernikahan hamba dengan Gus Arsalan adalah garis takdir yang harus hamba jalani hingga akhir hayat, maka hamba memohon... kuatkanlah rahim hati hamba untuk menampung segala bentuk penolakannya."

Humaira memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya membasahi telapak tangannya. *"Namun ya Allah... jika hamba hanya menjadi batu sandungan bagi kebahagiaan suaminya, jika hamba hanya menjadi penjahat yang memisahkan dua hati yang saling mencintai, maka tunjukkanlah jalan keluar yang paling baik tanpa harus merusak rida kedua orang tua kami. Hamba lelah hidup dalam dusta, ya Allah. Hamba lelah tersenyum di atas luka..."*

Doa yang sarat akan kepasrahan itu dipanjatkan Humaira dalam waktu yang lama. Zulfa yang duduk di sampingnya hanya bisa mengusap punggung Humaira dengan penuh empati, ikut merasakan kepedihan mendalam dari rumah tangga sahabatnya yang baru seumur jagung.

Usai menuntaskan ritual ziarah dan turun kembali ke bawah, matahari sudah bergeser tepat di atas kepala, memancarkan terik yang cukup menyengat. Perut yang keroncongan dan tubuh yang lelah membawa langkah kaki Humaira dan Zulfa ke salah satu warung makan bernuansa joglo tradisional di daerah pinggiran Yogyakarta, tak jauh dari akses jalan utama.

Suasana warung cukup teduh dengan gemercik air kolam ikan di bagian tengah. Mereka memilih meja di sudut yang agak privat, memesan dua porsi mangut lele dan es beras kencur untuk melepaskan dahaga.

"Gimana? Sudah agak plong?" tanya Zulfa setelah meminum es tehnya hingga tandas setengah.

"Alhamdulillah, Zul. Rasanya beban di pundak agak berkurang setelah nangis di atas tadi," jawab Humaira jujur, wajahnya sudah tampak lebih segar meski gurat kelelahan batin belum sepenuhnya sirna.

Saat pesanan makanan mereka datang dan Humaira baru saja hendak menyendok nasinya, perhatian mereka teralih oleh suara langkah kaki seseorang yang mendekati meja mereka.

"Assalamualaikum. Ini... Ning Humaira dari Jombang, bukan?"

Suara bariton yang terdengar sangat familiar, berat, namun sekaligus hangat itu membuat gerakan tangan Humaira terhenti seketika. Ia mendongak, menatap sosok pria yang kini berdiri di samping meja mereka.

*Deg.*

Jantung Humaira berdegup dengan ritme yang sama sekali berbeda dari biasanya. Pria itu bertubuh jangkung, mengenakan kemeja koko kasual berwarna navy dengan lengan yang digulung rapi, serta celana kain cokelat. Wajahnya bersih dengan janggut tipis yang dirawat rapi, memancarkan aura seorang ustaz muda yang teduh dan karismatik.

Pria itu adalah **Gus Reyhan**. Anak dari sahabat karib Abah Humaira yang mengasuh salah satu pesantren besar di daerah Sleman. Pria yang selama masa remaja Humaira, sebelum perjodohan dengan Arsalan ada, selalu menjadi nama teratas yang ia sebut dalam doa rahasianya. Cinta pertama Humaira yang teramat suci, yang tak pernah sekali pun berani ia ungkapkan karena terhalang oleh rasa malu dan batas kesopanan seorang Ning.

"Waalaikumussalam... Gus Reyhan?" ucap Humaira, suaranya sedikit terbata, matanya membulat tak percaya.

"Alhamdulillah, ternyata benar tidak salah orang," Reyhan tersenyum sangat tulus, sebuah senyuman yang dulu selalu berhasil membuat hari-hari Humaira di pondok terasa lebih cerah. "Saya tadi kebetulan habis ada urusan di dekat sini, lalu mampir makan siang. Ndak menyangka malah ketemu Ning Humaira di Jogja."

Zulfa yang duduk di depan Humaira hampir saja tersedak es tehnya. Matanya berbinar nakal. Sebagai sahabat sejak kecil, Zulfa adalah satu-satunya manusia di muka bumi ini yang tahu rahasia terbesar Humaira mengenai perasaannya pada Gus Reyhan.

"Eh, ada Gus Reyhan! Ayo Gus, silakan duduk bareng di sini, mumpung mejanya luas," cetus Zulfa dengan cepat, menendang pelan kaki Humaira di bawah meja sebagai isyarat godaan.

Reyhan sempat ragu sesaat, namun melihat keramahan Zulfa dan anggukan sopan dari Humaira, ia akhirnya menarik kursi dan duduk di sisi meja yang kosong. "Terima kasih, Mbak Zulfa. Bagaimana kabarnya Jombang?"

"Alhamdulillah sehat, Gus. Tapi ya gitu, sekarang agak sepi karena Ning Humaira-nya sudah diboyong ke ndalem Al-Anwar," jawab Zulfa dengan nada setengah menyindir yang membuat Humaira langsung melotot ke arah sahabatnya itu.

Reyhan terdiam sejenak, sorot mata teduhnya menatap Humaira dengan tatapan yang sulit diartikan—ada binar kerinduan namun juga kepasrahan yang mendalam di sana. "Iya, saya sudah mendengar kabar pernikahan Ning Humaira beberapa waktu lalu. Maaf ya, Ning, waktu itu saya ndak bisa hadir ke Jombang karena sedang mendampingi Abah berobat di Jakarta."

"Enggeh, Gus. Mboten menopo, doa terbaiknya saja sampun cekap," sahut Humaira seadanya, berusaha menjaga hatinya agar tetap kokoh. Menatap wajah Reyhan justru membuatnya teringat akan takdir asmaranya yang begitu malang: ia mencintai pria di depannya ini, namun harus menikah dengan pria lain yang hatinya milik wanita di London.

Suasana makan siang itu berlanjut dengan obrolan ringan seputar perkembangan pesantren masing-masing. Reyhan berbicara dengan sangat santun dan penuh perhatian, sesekali melontarkan humor cerdas yang membuat atmosfer meja menjadi hangat—kehangatan nyata yang tidak pernah Humaira dapatkan dari suaminya sendiri.

Di tengah-tengah obrolan, Zulfa yang dasarnya memiliki sifat ceplas-ceplos dan gemas melihat situasi di depannya, mendadak mencondongkan tubuhnya ke arah Reyhan.

"Oalah Gus, Gus... dari tadi cerita soal pondok terus. Malah saya kepo nih, sampeyan sendiri kapan menyusul naik pelaminan? Perasaan dari dulu zamannya kita masih sering ketemu di bahtsul masail, Gus Reyhan ini awet banget jomblonunya. Padahal yang antre jadi khadimah di Sleman pasti bejibun," cetus Zulfa tanpa saringan.

"Zulfa..." tegur Humaira dengan bisikan tajam, wajahnya merona malu atas kelancangan sahabatnya.

Namun, Gus Reyhan justru tidak marah. Pria itu justru terkekeh pelan, sebuah kekehan yang terdengar sedikit hambar dan sarat akan riak kekecewaan yang dipendam rapat. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap gelas es jeruk di depannya sebelum pandangannya beralih perlahan, mengunci tatapan mata bulat milik Humaira selama beberapa detik.

"Saya? Hahaha... kalau soal itu, sepertinya saya kalah cepat, Mbak Zulfa," jawab Reyhan sembari terkekeh getir, suaranya merendah. "Jodoh yang selama ini saya sebut dalam doa di sepertiga malam, ternyata sudah diambil duluan oleh orang lain. Saya telat selangkah untuk khitbah."

*Deg.*

Jantung Humaira serasa berhenti berdetak mendengar kalimat ambigu tersebut. Kalimat Reyhan barusan... apakah itu bermakna bahwa wanita yang dimaksud adalah dirinya sendiri? Apakah selama ini cinta pertamanya tidak bertepuk sebelah tangan?

Zulfa yang langsung menangkap arah kode keras dari sang ustaz muda, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Otak bar-bar Zulfa langsung bekerja, mengingat betapa menderitanya Humaira akibat kelakuan dingin Gus Arsalan di Jombang.

Dengan wajah tanpa dosa dan senyuman penuh konspirasi, Zulfa langsung menyahut dengan lantang, "Wah! Kalau gitu mah jangan menyerah dong, Gus! Zaman sekarang mah sebelum jalur kuning melengkung... eh maksudnya, meskipun sudah melengkung, kalau di tengah jalan patah kan bisa disambung baru! Salip dong, Bang! Salip di tikungan tajam, mumpung jalurnya belum ketutup semen permanen!"

"Zulfa! Cukup!" bentak Humaira setengah berbisik, wajahnya kini merah padam karena panik luar biasa sekaligus syok mendengarkan kalimat gila yang keluar dari mulut sahabatnya di depan cinta pertamanya.

Gus Reyhan sempat tertegun mendengar celetukan berani dari Zulfa, sebelum akhirnya ia kembali tertawa, kali ini tawa yang menyembunyikan sejuta arti dan teka-teki yang sengaja ia biarkan menggantung di udara perbukitan Yogyakarta siang itu. Di sudut hati Humaira, sebuah getaran lama yang hampir mati kini mendadak kembali bergolak, menciptakan retakan baru dalam komitmen pernikahan sandiwaranya dengan Gus Arsalan.

1
Nita Kurniawati
kalo unt bahasake diri sendiri lebih tepat boten purun Thor, boten kersa itu unt yg lebih tua 😊
Hatnah Batulicin
preeett,ujung ujungnya cerita nya sihumaira luluh..mau maafin suaminya..semua cerita sama aja 😏
falea sezi
😒 ngapain lu ngemis maaf bukannya cerai bagus lu bisa. kejar tuh pacar lu🤣 anak kiyai g ada adab🤣🤣🤣 sprtnya cerai aja deh Thor najis amat laki munafik jahat😓
falea sezi
lanjut buat cerai thor
falea sezi
moga aja cerai😒 dan ma Reyhan aja biar gigit jari si sialan🤣 sebel liat dia tuh istri yda minta cerai kabulin dan susul belahan hatimu di london🤣 tinggal nunggu emak lu kena serangan jantung aja
falea sezi
cerai aja ning😒 percuma suami g bs move on 😒
Anonim
AGUS AGUS AGUS AGUS
Anonim
GUS GUS ?? AGUS AWOKAWOK AGUS AWOKAWOK
Ariani Sa
Lumayan
Ariani Sa
Luar biasa
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya yah thor 🙏
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya thor 🙏🙏
Keysa_Bom
maksudnya gini ya Allah 😭😭 Gus halal di hadapan mua😭 ih gemes aku😭
Keysa_Bom
Zulfa aku padamu 🤣
Keysa_Bom
rasanya sakit 😭 Humairah semangat 💪
Keysa_Bom
Gus..Guss.. awas bucin lo😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!