Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 First Kiss?
Ketegangan di udara apartemen merayap semakin pekat. Jarak di antara mereka begitu tipis, hingga Nami bisa merasakan getaran dada Max saat pria itu berbisik. Aroma parfum maskulin Max seolah mengunci seluruh pasokan oksigen di paru-paru Nami.
Melihat Nami yang hanya bisa mencicit ketakutan dengan wajah yang kini sewarna kepiting rebus, sudut bibir Max berkedut samar. Tatapan elangnya turun, perlahan tapi pasti, terpaku pada bibir Nami yang sedikit terbuka dan napasnya yang memburu.
Max menundukkan kepalanya lagi. Satu senti. Dua senti. Sensasi panas yang menjalar di permukaan kulit mereka membuat Nami panik setengah mati.
Dia mau menciumku?!
Tepat saat jarak wajah mereka tersisa seujung kuku, insting bertahan hidup Nami mengambil alih.
Brak!
Nami mengumpulkan seluruh tenaganya dan mendorong dada bidang Max dengan kasar.
Max yang tidak siap dengan serangan mendadak itu terpaksa mundur dua langkah, memberi ruang bagi Nami untuk lolos dari kukungan marmer konter dapur.
"Max! Jaga batasanmu!" sentak Nami, napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun menahan amarah bercampur salah tingkah yang luar biasa.
"Kita belum menikah! Jangan berani-berani berpikir bisa melakukan itu padaku!"
Max berdiri tegak, merapikan kemejanya yang sedikit kusut akibat dorongan Nami. Bukannya marah karena dilabrak, pria itu justru memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ekspresi bekunya mencair, digantikan oleh senyuman tipis—sangat tipis, namun sarat akan kepuasan setelah berhasil mengerjai dokter residen di hadapannya.
"Aku hanya ingin bertanya apakah kau terganggu dengan makian Nadia," sahut Max datar, seolah-olah ketegangan intim beberapa detik lalu hanyalah halusinasi Nami semata.
"Kau sendiri yang berpikiran terlalu jauh."
"Kau—!" Nami mengepalkan tangan, menatap Max dengan mata membelalak.
Sialan. Pria ini tahu persis bagaimana cara mengacak-acak kewarasannya.
"Istirahatlah," potong Max dingin, berbalik menuju kamarnya sendiri tanpa beban. "Simpan energimu untuk hari Jumat."
***
Hari Jumat tiba.
Bunyi sirene ambulans membelah kesunyian aspal menuju gerbang besi menjulang milik kediaman utama Tanuwijaya. Proses pemindahan Nyonya Sofia dari Lotus Medical Center berjalan tanpa hambatan.
Sangat cepat. Uang milik Max mampu membeli semua efisiensi itu, termasuk membawa separuh fasilitas ruang ICU ke kamar lantai bawah rumahnya.
Nami berdiri di sudut ruangan, memperhatikan tim medis yang sibuk memasang kembali monitor penunjuk detak jantung dan tabung oksigen di sisi ranjang besar.
Rumah ini megah. Terlalu megah. Tapi seperti pemiliknya, atmosfer di setiap sudut koridornya terasa sunyi dan dingin.
Di atas ranjang, Nyonya Sofia berbaring lemah. Wajahnya pucat, dikepung oleh selang-selang tipis yang menopang sisa kekuatannya.
Namun, sepasang matanya yang sayu malam ini berpendar berbeda. Ada senyum tipis yang tulus di bibirnya yang kering saat menatap Nami.
"Terima kasih, Namira," bisik Nyonya Sofia, suaranya parau, nyaris tenggelam di antara bunyi bip teratur dari mesin elektrokardiogram.
Nami mendekat, memeriksa aliran infus secara refleks sebelum menggenggam jemari wanita tua itu. "Ibu harus istirahat. Hari ini melelahkan untuk Ibu."
Sofia menggeleng pelan. "Ibu tidak lelah. Ibu tidak boleh lelah sebelum melihat anak tunggal Ibu berhenti hidup sendirian."
Nami terdiam. Kalimat itu menghantam ulu hatinya, memicu rasa iba yang dalam.
Di luar sana, ia tahu ia melakukan ini demi tumpukan lembaran uang murni untuk melunasi utang dan menyambung hidup.
Tapi di dalam kamar ini, tatapan penuh harap Nyonya Sofia membuat Nami merasa seperti seorang penjahat yang sedang menjual sepotong ketulusan palsu.
***
Pukul tujuh malam. Tidak ada dekorasi bunga besar. Tidak ada ratusan tamu undangan mewah. Hanya sebuah meja kayu panjang yang diposisikan tepat di tengah ruang utama, beberapa langkah dari kamar rawat Nyonya Sofia agar wanita itu bisa menyaksikan dari ambang pintu yang terbuka lebar.
Suasana hening mendadak berubah khidmat saat Pendeta yang memimpin pemberkatan mulai meminta keduanya berhadapan.
Max berdiri di seberang Nami dengan setelan tuksedo hitam yang amat pas di tubuh tegapnya. Wajah pria itu tanpa ekspresi, sedingin es, namun sepasang mata elangnya menatap Nami dengan intensitas yang tinggi.
Max mengambil cincin emas polos dari kotak beludru, meraih jemari kanan Nami, lalu mengucapkan janji pernikahannya dengan suara yang begitu lantang, tegas, dan tanpa ragu.
"Di hadapan Tuhan dan para saksi, aku, Maxwell Ezra Tanuwijaya, menerima engkau, Namira Calista, sebagai istriku. Dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan melindungi."
Nami menahan napas saat cincin itu tersemat pas di jarinya. Giliran tangannya yang bergetar saat menyematkan cincin di jari Max dan mengulangi janji yang sama. Jiwanya serasa ditarik paksa dari realita.
"Berdasarkan janji suci yang telah diucapkan, saya nyatakan kalian berdua resmi sebagai suami dan istri. Apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia."
Suara ketukan monitor jantung Nyonya Sofia di dalam kamar terdengar selaras dengan helaan napas lega wanita itu.
Nami menunduk, menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Dadanya sesak. Detik ini juga, ia resmi menyandang status sebagai istri dari Maxwell Ezra Tanuwijaya.
Sandiwara terbesar dalam hidupnya baru saja dimulai.
***
Setelah Pendeta menyatakan mereka resmi dan beberapa saksi hukum mulai merapikan berkas sipil, salah satu fotografer sewaan Max memberi aba-aba kecil.
"Mohon maaf Tuan Max, bisa menghadap kamera sebentar untuk dokumentasi penyerahan cincin dan kecupan pengantin?"
Nami mendadak kaku. Jangankan berciuman, berdiri sedekat ini dengan Max dalam balutan gaun putih saja sudah membuat tangannya dingin.
Namun, belum sempat Nami menyiapkan mental, tangan kekar Max sudah merayap ke pinggangnya, menarik tubuhnya perlahan hingga terkunci dalam dekapan kokoh Max.
Nami refleks memegang dada bidang Max, berniat menahan jarak.
Mata Nami membelalak sempurna saat wajah Max merunduk tanpa peringatan.
Cup.
Bibir Max menempel sempurna di atas bibir Nami. Singkat, tanpa lumatan yang menuntut, hanya sebuah kecupan formalitas di depan lensa kamera.
Namun, sensasi hangat yang tiba-tiba itu seperti menyetrum seluruh saraf di tubuh Nami. Detik itu juga, waktu serasa berhenti, dan bunyi klik kamera seolah berdenging jauh di telinganya.
Jantung Nami berdegup begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar. Ia tahu ini semua hanya demi kontrak, demi nominal angka yang sudah melunasi seluruh utangnya, tapi reaksi tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak kompromi.
Max menjauhkan wajahnya perlahan saat kilatan lampu kamera mereda. Pria itu tidak langsung melepaskan rangkulannya di pinggang Nami, melainkan melirik puas pada manik mata Nami yang bergetar hebat karena syok dengan wajah yang sudah memerah padam.
"M-Max... kau tidak bilang kalau harus ada bagian ini!" bisik Nami dengan suara super pelan, napasnya memburu berantakan agar tidak terdengar oleh orang-orang di ruangan itu.
Max menunduk sedikit, berbisik tepat di samping telinga Nami dengan suara rendah yang serak.
"Sekarang, kita sudah resmi secara hukum. Mulai detik ini, aku bebas melakukan apa pun yang kuinginkan pada istriku."
Sebuah senyuman tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibir Max.
Max melepaskan tangannya dari pinggang Nami, meninggalkan gadis itu yang berdiri membeku dengan jantung yang berpacu ugal-ugalan di dalam kesunyian rumah megah Tanuwijaya.
"Selamat datang di duniaku, Nyonya Tanuwijaya."