Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makian Nyonya Mirelin
Panji yang sudah pulang selarut ini, melihat istrinya masih sibuk dengan ponselnya.
Dia memperhatikan sambil meletakkan jas dan tasnya. Sejak ketahuan selingkuh, istrinya mengabaikannya. Padahal sudah tak terhitung berulang kali dia meminta maaf bahkan sampai bersujud. Tapi Mirelin tidak mempedulikannya.
Istrinya juga jarang di rumah, lebih suka menghabiskan waktu di rumah orang tuanya, berkumpul bersama teman temannya bahkan keluar negeri. Orang tua mereka sudah tau perbuatannya. Tentu saja menyalahkan kekhilafannya.
Tapi kedua orang tua mereka menolak keinginan Mirelin untuk.bercerai.
"Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu."
Mirelin pura pura tidak mendengar. Melirik suaminya juga tidak dia lakukan. Baginya layar ponselnya lebih menarik dari pada wajah suaminya yang pengkhianat.
Panji menghela nafas berat. Entah sampai berapa lama lagi dia akan dimaafkan. Dia hanya selingkuh dengan satu perempuan saja, Dana. Selama.ini dia menjaga reputasinya. Sekali itu saja dia tersungkur.
"Tadi aku bertemu Dewa yang putranya musuh bebuyutan anak kita," jelas Panji setelah duduk di kursi yang ada di sana.
Tangan Mirelin yang sedang menscroll layar ponselnya terhenti sejenak.
Sedikit respon yang tertangkap matanya tadi sudah membuat hatinya senang.
"Dewa mau merekrut Wanda atas permintaan Kian."
Mirelin tersenyum miring.
"Kian dan Tama berkelahi juga karena Wanda, kan," sambungnya lagi.
"Anak itu pintar menggaet laki.laki anak orang kaya rupanya. Sama seperti mamanya," dengus Mirelin mengejek. Tepatnya menyindir Panji.
Panji mengambil nafas dalam ketika istrinya mengungkit lagi kesalahannya yang sudah sangat lama dia lakukan.
"Mirelin, menurutmu bagaimana? Kalo aku lebih baik kita lepaskan saja Wanda untuk Kian," ujar Panji dengan mencoba merelakan sindiran yang terus menerus harus dia dengar.
"Segampang itu?" Suara Mirelin naek satiu oktaf.
Panji terdiam. Ini yang dia takutkan. Istrinya ngga mau melepaskan Wanda demi membalas dendam padanya dan Dana. Dia akan terus mempertahankan Wanda demi bisa mengasarinya.
"Kita bisa memulai lagi hubungan kita. Tanpa Wanda di sini akan lebih baik. Tama juga bisa lebih konsentrasi di sekolah. Tidak seperti ini. Selain itu....." Panji menggantungkan ucapannya, dia menatap istrinya dengan tatapan yang dipenuhi rasa bersalah.
"Agar Tama tidak tau siapa Wanda."
Mirelin hampir saja menyemburkan tawa getirnya.
"Kenapa? Kamu takut kalo putramu mengetahui borokmu?" ejek Mirelin.
Panji mengangguk. Tentu saja dia takut.
"Ya." Dia ngga bisa membayangkan sehancur apa nanti putra tunggalnya.
Mirelin tersenyum meremehkan.
"Kamu yakin Dewa dan keluarga besarnya ngga akan tau tentang siapa Wanda?"
Panji tercekat.
"Kamu ngga takut kalo Dewa tau anak h@ram itu darah dagingmu?" ketus Mirelin lagi makin geram.
Dasar suami bo-doh. Kalo sudah masuk ke ranah Dewa, rahasia ini akan terbongkar dengan mudah.
Panji terdiam. Dia baru terpikir hal itu.
"Mereka mungkin sedang atau sudah menyelidiki siapa Wanda."
Jantung Panji berdebar kencang.
Apa begitu? Permintaan ini karena mereka tau sesuatu?
Panji merasa dirinya terlalu berpikiran positif karena tidak menduga ke arah itu.
Bisa saja begitu, batinnya was was. Dia teringat wajah tenang Dewa.
Jangan jangan dia sudah tau. Atau sedang menyelidikinya? Nafasnya mulai ngga teratur.
"Anak itu memiliki kemiripan denganmu." Kalo orang orang teliti mengamati wajah Wanda, mereka akan menemukan kemiripan pada bentuk hitung dan bibirnya. Karena itu Mirelin sangat membencinya.
"Kalo mereka sudah tau dan mengatakannya pada Tama, anakku bisa hancur," geram Mirelin.
"Lebih baik dia tetap bersama kita. Walaupun aku tidak pernah suka." Mirelin lebih mementingkan agar rahasia mereka tidak sampai bocor. Dia juga bisa malu di kalangan teman temannya jika mereka tau suaminya punya anak dari perempuan lain. Selingkuh darinya.
"Tapi kamu tau bagaimana Dewa dan keluarganya, kan? Kalo mereka menginginkan sesuatu, mereka harus mendapatkannya." Panji merasa terjebak sekarang.
"Biar saja. Ini demi masa depan Tama. Jangan sampai rahasiamu membuat anakku jadi hancur."
"Anak kita, Mirelin," ralat Panji yang hanya direspon demgan dengusan.
Panji terdiam. Wajah istrinya tampak masam. Panji pun masih belum siap aibnya diketahui putra tunggalnya.
"Hubungan kita bagaimana? Sampai kapan kamu akan terus membenciku seperti ini?"
Mirelin mengacuhkan tatapan memohon suaminya. Walaupun dia masih cinta, tapi dia tetap saja masih belum bisa menerima Panji, apalagi berhubungan baik lagi seperti dulu.
"Aku mau tidur." Dia jenuh mengobrol lama dengan Panji. Apalagi topiknya tentang Wanda-anak dan ibunya yang sangat dia benci.
*
*
*
Pagi ini Wanda merasa nyamannya sudah ngga ada lagi. Tas berat Aditama yang ada di punggung dan tas jinjing di tangannya.
Dia sudah menyelesaikan sarapannya dan sekarang sedang menunggu tuan mudanya di teras bersama Pak Supri-supir yang akan mengantar mereka ke sekolah.
"Tugas kamu di sekolah melayani kebutuhan Aditama, bukan merayu tuan muda lainnya di sana."
Wanda yang sedang melamun agak terkejut mendengarnya. Sedangkan pak supirnya sepertinya sudah tau kedatangan nyonyanya dan tanpa disadari Wanda, pak supir sudah mundur teratur.
Wanda menggelengkan kepalanya. Dia tidak merasa melakukan hal yang barusan dikatakan nyonyanya.
"Dasar! Kamu sama saja tidak tau malunya dengan ibu kamu. Suka merayu laki laki kaya. Ibumu bahkan lebih parah. Merayu suami orang yang istrinya sudah menolongnya." Amarah Mirelin kembali meletup.letup bila menyinggung hal itu.
Wajah Wanda makin pias. Selama ini dia hanya dimaki tidak tau diri, tidak tau diuntung, kurang ajar dan makian kasar lainnya. Tidak pernah menyinggung tentang mamanya. Tapi hari ini nyonyanya mengatakan segala hal buruk tentang mamanya. Wanda tentu saja shock. Jantungnya seperti ditarik dengan keras. Rasanya sangat sakit.
"Jangan sampai Kian terkena bujuk rayumu. Tuan muda seperti dia tidak pantas buat kamu!" hina Mirelin lagi.
"Maksudnya apa, ma?' Aditama sudah berada di belakang tubuh mamanya.
"Mama hanya kasih pembantumu ini peringatan agar tidak menggoda teman teman kamu." Setelah menepuk lembut pundak putranya, Mirelin melangkah meninggalkan putranya yang masih mematung menatapnya.
Karena sudah diabaikan, dia kemudian menatap tajam pada wajah Wanda yang masih pias.
"Mau jalan kaki lo!" sergah Aditama yang sudah berjalan lebih dulu dan tidak mendengar suara langkah Wanda. Rupanya anak artnya masih berdiri mematung di sana.