Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kalah Tanpa Suara
Faris melepas tangan si botak itu pelan, terus dia bergerak. Gerakannya tenang, luwes, enak diliat, pas banget, nggak pernah ketemu senjata sama sekali. Nggak ada hentakan keras, nggak ada pukulan kencang, cuma sentuhan halus, dorongan pelan, sangkutan dikit aja.
Dia belok dikit, ngelonyot dikit, mundur selangkah, maju selangkah, tangan kiri sama kanannya bergerak pelan kayak lagi nari.
Nyentuh bahu... plak
Nyentuh lengan... puk
Nyentuh pinggang... tuk
Nyentuh kaki... cekit
Setiap kali tangan atau kaki Faris nyentuh satu orang, orang itu langsung menegang, matanya membelalak nahan rasa sakit yang luar biasa, terus jatuh atau terlempar pelan ke samping, bergelimpangan di tanah tanpa suara, mulutnya terbuka tapi nggak ada teriakan yang keluar, cuma rintihan halus tertahan aja.
Yang nyerang dari depan dia belok, terus tangannya dorong pelan ke arah temannya di belakang... duk. jadi saling serang sendiri, saling banting sendiri diam-diam.
Yang nyerang dari samping dia tangkis pelan... tak!, terus kakinya sangkut pelan ke kaki orang itu... cekit!, jatuh deh pelan-pelan... bruk!
Suasana yang tadinya hening banget, sekarang berubah jadi penuh bunyi tubuh jatoh... bruk... bruk... bruk...
Bunyi senjata jatoh... klang... kling... klang...
Sama napas berat orang-orang yang kesakitan... ngik... ngah...
Lima puluh orang lebih itu berantakan semuanya, jatuh bergelimpangan di tanah, saling tindih, senjata mereka berserakan di mana-mana, nggak ada satu pun yang berdiri tegak lagi. Cuma Faris sendirian yang masih berdiri tegak di tengah-tengah mereka, baju jasnya masih rapi, nggak ada kotor dikit pun, napasnya masih teratur banget, tangannya dimasukin ke saku celana lagi.
Dia jalan pelan mendekati si pemimpin botak yang sekarang udah duduk merangkak di tanah, mukanya pucat banget, keringat dingin ngucur deras di jidatnya, matanya melotot nggak percaya ngeliat anak buahnya yang kalah telak sama satu orang aja, tanpa suara, tanpa perlawanan yang berarti.
Faris jongkok pelan di depan muka orang itu, natap dia dengan pandangan tenang, senyum sengkleknya kembali muncul.
"Gimana Pak? Udah puas? Udah tau kan bedanya banyak orang sama orang yang bener? Saya bilang juga apa, mulutnya gede, dalemnya lembek banget kayak tahu. Ini baru dikit lho, kalau saya beneran marah, mungkin nggak cuma jatuh doang akibatnya," kata Faris pelan banget tapi nadanya bikin nyali si botak itu ciut sampe ke tulang sumsum.
"Saya... saya minta maaf... saya nggak tau... saya cuma disuruh..." jawab si botak itu gemetar banget, suaranya hampir nggak kedengeran, kepalanya ditundukkan dalam-dalam nggak berani natap Faris.
Faris tepuk-tepuk pipi orang itu pelan... plak... plak..., terus berdiri tegak lagi.
"Udah bagus kalau tau diri. Pulang sana, obati luka-luka kalian, terus kasih tau ke orang yang nyuruh kalian: kalau mau ngurusin apa yang bukan haknya, atau mau ganggu orang yang saya jagain, siap-siap dapet pelajaran yang jauh lebih sakit dari ini. Sekarang minggir, buka gerbangnya, jangan pernah nongol di sini lagi. Ngerti?!" kata Faris tegas banget, suaranya dingin dan berwibawa, bikin orang-orang itu langsung bangkit pelan-pelan, jalan tertatih ninggalin tempat itu, nggak berani bawa senjata mereka lagi.
Pas mereka udah hilang di tikungan jalan, Faris nengok ke arah mobil, melambaikan tangan santai ke arah Viona yang dari tadi melongo nggak kedip ngeliat semuanya. Gerbang pabrik pun perlahan terbuka dari dalem, para karyawan keluar pelan-pelan, natap Faris dengan pandangan kagum dan hormat yang luar biasa banget, semuanya diem dan takjub ngeliat apa yang baru aja terjadi.
Faris jalan santai balik ke mobil, pas dia buka pintu masuk lagi, dia langsung ngeluarin bungkus rokoknya lagi, cekrek! kebuka lagi, ambil sebatang, nyalain, sedot dalem-dalem... pluk... pluk... pluk..., mukanya puas banget kayak orang yang baru aja kelar kerjaan enteng.
"Nah... beres Bu. Masih ada lagi yang mau diurusin nggak? Kalau nggak ada, ayo kita cari makan, perut saya udah protes nih dari tadi," kata Faris santai banget seolah baru aja nyapu halaman rumah, bukan baru aja ngalahin lima puluh orang berbadan besar bawa senjata tajam sendirian, diam-diam, tenang banget kayak di TV.
Viona masih diem aja, mulutnya masih kebuka dikit nggak percaya sama apa yang baru aja dia saksikan sendiri. Dia natap Faris, natap wajah santai itu, natap gaya sengklek itu, natap keberanian dan kekuatan yang luar biasa itu. Dia makin sadar, orang di sebelahnya ini bukan sekadar pengawal biasa, dia itu harta terbesar yang pernah dia punya, dan musuh-musuhnya bakal dapet masalah besar kalau mereka masih nekat mau nyakitin dia.
Mobil pun melaju lagi ninggalin pabrik yang sekarang udah aman damai, tapi Viona tau banget... ini baru permulaan. Musuhnya nggak bakal berhenti cuma gara-gara kekalahan anak buahnya. Mereka bakal balik lagi dengan cara yang lebih licik, lebih kejam, dan lebih berbahaya. Tapi entah kenapa, ngeliat Faris yang lagi nikmatin rokoknya dengan santai itu, Viona ngerasa tenang banget, dia yakin, selama orang ini ada di sisinya, dia bakal selalu aman, apa pun yang terjadi.