Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 12
Eva menatap kedua orang tuanya, yang menikmati makan malam mereka yang seperti biasanya, walau bagi Eva itu makan malam bersama nya yang terakhir.
Sesuai dengan kesepakatan, Felix akan datang esok kerumahnya. Dan akan menjadi berita besar untuk Ilos, jika kabar pernikahannya dengan pangeran mahkota kerajaan Odelions ini terdengar.
Hatinya berdetak cepat, gugup untuk mengatakan hal sebesar itu ke ke-dua orang tua nya. Tangan yang memegang sendok sudah tidak bisa merasakan hangatnya sup karena ketakutan nya.
"eva, kamu ada yang ingin di bicarakan?" eva tersentak mendengar ucapan Izkye.
Izkye menatap Eva dengan lembut namun sedikit cemas, ada yang dia takut akan terjadi malam ini.
Sejak wabah ofelion hilang, Eva jadi lebih pendiam dari biasanya, Izkye tau karena dia mengawasi pergerakan putrinya sejak dapat mimpi itu. Dia takut kalau hubungan mimpi buruknya dan tingkat laku Eva yang aneh itu berhubungan satu sama lain.
Ella ikut mantap putrinya, membuat Eva semakin takut. Jika dia tidak memberitahu kan mereka, pasti mereka akan kecewa juga, tapi jika di beritahu kan, dia lebih takut dengan reaksi mereka.
Izkye menghela nafas perlahan, dan mengulurkan tangan. Mengelus kepala Eva dengan penuh sayang, dan tersenyum.
"katakan nak, papa janji tidak akan marah".
Eva menggigit bibirnya, jantung seperti ditusuk ribuan jarum. dia semakin takut, namun hatinya tidak tenang jika terus menyembunyikan nya.
Eva mengeluarkan token Kerajaan yang diberikan Felix padanya, meletakkannya ke meja makan.
Wajah Ella dan Izkye berubah cepat, wajah mereka cemas melihat putri mereka. Yang mulai sedikit mengerti apa yang akan di bahas Eva sampai dia sesulit itu berkata.
"pa, ma. Aku nekat ke Odelions buat ambil air tujuh mata pelangi, dan ketahuan pangeran mahkota saat mengambilnya", Eva menunduk.
"aku cemas, karena Luantys semakin parah, ditambah mama terkena wabah. Aku tidak tahan lagi, jadi nekat kesana, maaf kan aku yang ceroboh ."
Ella berdiri dan bergegas menghampiri Eva, memeluk putrinya erat. Izkye menghela nafas panjang yang berat, dugaannya selama ini benar kalau Eva nekat ke Odelions untuk air tujuh mata pelangi.
"Saat aku ketahuan pangeran mahkota, dia memberi ku dua pilihan jika mau air tujuh mata pelangi", Eva menatap Ella.
"pertama ingin Ilos mengakui jadi bagian Odelions", rahang Izkye mengeras mendengar itu. Namun yang selanjutnya membuatnya terdiam seribu bahasa.
"kedua, aku harus menikah dengannya. Dan_ aku memilih opsi kedua". Eva memeluk tubuh Ella erat. "mereka akan datang besok pa,ma".
Ella menatap Izkye dengan pandangan campur aduk, begitu pun dengan Izkye.
Izkye menatap kartu takdir yang dia pegang, kartu pedang hitam dengan awan gelap yang meneteskan air merah darah, sesuai dengan ketakutan nya.
Selesai makan malam, Ella membantu Eva untuk berkemas untuk besok. Izkye pergi untuk memberitahu kan kepada beberapa kepala yang membantu nya akan kabar itu.
Jika mereka ingin mengamuk memang benar, tapi jika di pilih opsi pertama juga mereka tidak akan menang dengan Odelions ketika Eva masih belum masuk usia dewasa. Jika Odelions dan Ilos perang juga akan banyak kerugian di dua sisi pihak, dan Ilos tidak mau hal itu.
Akhirnya mereka sepakat membiarkan Eva menikah dengan pangeran mahkota kerajaan Odelions, dihitung juga sebagai balas Budi mereka mau memberikan Air tujuh mata pelangi untuk mereka. Asal waktu kedewasaan Eva bisa kembali ke Ilos dengan berbagi alasan.
Izkye sepakat akan hal itu, karena bagaimanapun juga Eva adalah penyihir. Dan hal itu harus mereka sembunyikan dari Odelions, yang merupakan alasan para penyihir hilang di dunia itu.
Pintu rumah terbuka dengan suara pelan, Ella yang sudah lama menunggu Izkye kembali, kini bangkit dan menghampiri sang suami. Wajah Izkye begitu cemas dan tidak tenang dengan kabar Eva akan menikah dengan pangeran mahkota Felix.
julukan tiran yang di sandang oleh felix itu berasal dari dia yang dulu berani membantai keluarga dari sanak permaisuri yang memberontak, yang sebetulnya mereka hanya memihak Flery dan berakhir mati semua.
Hal itu yang di takut kan Izkye, bagaimana kalau setelah menikah, felix tau identitas Eva yang seorang penyihir, apakah dia akan tega membunuh istrinya sendiri.
"bagaimana pa?, apa Eva akan aman disana?" cemas Ella.
Izkye menghela nafas berat, dia memeluk Ella erat untuk mencari ketenangan di setiap ketidak tenangannya tentang putri tunggal mereka.
waktu bergulir dengan cepatnya, ketika pintu rumah mereka di ketuk dengan heboh. Membuat Ella dan Izkye yang semalaman tidak bisa tidur terbangun, dan bergegas membuka pintu.
para warga menatap cemas sembari menunjuk ke arah aula desa, Izkye dan Ella paham maksud dari warga segera membangunkan Eva yang masih terlelap. Ella merias putrinya dengan hati tercabik, Izkye bergegas ke aula desa untuk bertemu dengan sosok yang seharusnya dia hindari.
Aula desa yang bagai bunga mekar di musim semi, kini seperti berada di musim dingin. Felix duduk angkuh di kudanya, dengan rombongan prajurit yang membawa banyak barang sebagai mahar.
Izkye bisa lihat, Leo dan Glen yang ditahan warga. Entah apa yang di katakan Felix hingga dua pemuda itu marah.
"salam bagi matahari kecil Odelions", Izkye memberi salam sopan pada Felix.
"dimana Evanthe?", nada yang datar, khas Felix
"sebelum anda membawa putri saya, bisakah anda menjamin keamanan putri saya". Izkye menatap tajam Felix.
felix turun dari kudanya, mendekati Izkye yang menatapnya awas. Felix jadi tau dari mana tatapan tajam Eva, dilihat sekilas Izkye memang mirip dengan Eva.
Izkye terkejut ketika Felix berlutut dihadapan nya, memberikan sikap yang hormat pada calon mertua adalah hal baik bagi Felix yang tau posisi nya sebagai musuh. Yah walau Izkye menolaknya, dia tidak akan punya pilihan lain juga selain menerimanya sebagai menantu.
"ah maaf, aku tidak tau jika anda adalah calon mertua saya. oh lebih tepatnya sekarang jadi ayah saya juga". Nada datar Felix berubah sopan, walau jujur itu membuat Izkye ingin memukul Felix.
Felix mendongak, bertepatan ketika Eva muncul dengan anggun di antar oleh Ella.
Kali ini dia tidak memakai pakaian santai, tapi gaun cantik, putih seperti kapas sangat cocok dengan kulitnya. Rambut hitam yang biasa di gerai, kini di sanggul indah dan di beri hiasan yang indah dari mutian yang berkilau.
Felix terdiam melihat keindahan itu, dibalik sosok yang menatap tajam dirinya, ada juga sisi indah Eva yang membuat nya semakin jatuh untuknya.
eva mendekat pada Izkye, wajahnya yang cantik tidak bisa menutupi wajah sedihnya, Eva sedih harus berpisah dengan kedua orang tua nya, negeri Ilos juga. Tapi demi kedamaian dua daerah, lagi pula dengan ini Odelions tidak akan menyerang Ilos.
Izkye mencium kening putrinya, sebelum akhirnya menyerahkan tangan mungil Putri ke tangan yang paling dia takutkan. Felix menggenggam tangan Eva erat, membuat eva sedikit takut.
Setelah memberikan mahar, Eva diarahkan ke kereta kuda. Sebelum naik, Eva menoleh untuk terakhir kalinya, dia tersenyum melihat Luantys,Glen dan Leo yang ada di sana. Eva menyesal belum mengatakan soal ini pada mereka.
Kereta kuda berjalan meninggalkan Ilos, Felix sebelum menyusul kereta kuda Eva. Dia memberikan sesuatu pada Izkye, benda yang membuat Izkye termenung sejenak dan menatap punggung Felix yang mulai menjauhi Ilos.
"Felix sang tiran, sebenarnya apa yang kau rencanakan?". Batin Izkye.
Felix hanya tersenyum, salah satu langkah kecil untuk menyelesaikan hal yang harus dia selesaikan sebelum naik tahta.
Felix melihat ke jendela kereta, dimana Eva masih diam didalam sana, tidak berkata apapun ketika dia melewati gerbang keluar desa kecilnya.
" yah setidaknya aku bisa memiliki dirimu, itu sudah cukup kan" Felix tersenyum miring.
...****************...