NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sorot Mata di Balik Kemewahan

Malam itu, Jakarta seolah menumpahkan seluruh gemerlapnya ke dalam aula utama Hotel Grand Luminary. Lampu gantung kristal berukuran raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan, menerangi setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan obrolan basa-basi kaum elit.

Di balik dinding-dinding marmer yang megah ini, sebuah perayaan besar sedang berlangsung: peluncuran Adiguna City, proyek megah bernilai triliunan rupiah yang digadang-gadang akan menjadi mahkota baru di dunia properti tanah air.

Di luar hotel, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam membelah malam dengan keanggunan yang tenang. Gerimis tipis yang membasahi jalanan ibu kota membuat bodi mobil itu berkilau di bawah lampu jalanan. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana begitu hening, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan tercipta.

Elena Van Doren,nama yang kini melekat pada tubuh dan jiwa Alana,duduk tegak di kursi belakang. Ia menatap keluar jendela, menyaksikan kilatan lampu kota yang buram oleh titik-titik air.

Gaun hitam backless berbahan sutra premium yang dikenakannya terasa dingin menyentuh kulit punggungnya. Gaun itu tidak memiliki banyak payet, namun potongannya yang tegas dan berani memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan misterius sekaligus intimidatif.

Rambut hitam legamnya yang kini dipotong gaya bob tajam membingkai wajahnya dengan sempurna. Riasan wajahnya malam itu adalah sebuah mahakarya profesional; tebal di bagian mata untuk menyiratkan ketegasan yang sedingin es, namun cukup natural di bagian rahang untuk menyembunyikan bekas luka rekonstruksi pasca-benturan karang sebulan lalu.

Di sampingnya, duduk Arka. Pria itu mengenakan setelan jas tiga potong berwarna hitam yang dijahit khusus, memancarkan aura otoritas yang tenang namun mutlak. Arka tidak banyak bicara sejak mereka meninggalkan kediamannya, namun sepasang matanya yang tajam sesekali melirik ke arah Elena, menilai kesiapan wanita di sebelahnya.

"Kau gemetar," ucap Arka datar, memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet di tangannya.

Elena menurunkan pandangannya ke arah jemarinya yang terbungkus sarung tangan renda hitam. Arka benar. Ada getaran halus di sana. Namun, itu bukan getaran ketakutan.

"Ini bukan karena takut, Arka," bisik Elena, suaranya parau namun terdengar sangat fokus. "Ini adalah detak antisipasi. Singa betina tidak gemetar karena takut pada serigala; ia bergetar karena menahan hasrat untuk mengoyak leher mangsanya."

Arka meletakkan tabletnya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Elena. Untuk sesaat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hampir tak terlihat.

"Bagus. Pertahankan kemarahan itu, tapi kunci di dalam kepalamu. Jangan biarkan emosimu mengambil alih kendali malam ini. Ingat, di dalam sana, kau bukan lagi Alana Adiguna yang malang. Kau adalah Elena Van Doren. Wanita yang memiliki uang cukup banyak untuk membeli harga diri mereka."

Mobil perlahan melambat dan akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama hotel yang dijaga ketat. Puluhan fotografer dan wartawan bisnis telah berbaris di balik pembatas merah, kamera mereka siap membidik siapa saja yang turun dari kendaraan mewah malam itu.

Budi, asisten pribadi Arka yang selalu bergerak cepat, membukakan pintu mobil dari luar. Arka turun terlebih dahulu.

Kehadirannya langsung memicu kasak-kusuk di antara para jurnalis senior. Meskipun Arka selalu menggunakan Budi sebagai tameng publik untuk kerajaan bisnisnya, beberapa pengamat ekonomi kelas atas tahu bahwa pria yang baru turun dari Rolls-Royce itu adalah hiu raksasa yang bergerak di bawah radar bursa saham.

Kemudian, Arka berbalik dan mengulurkan tangannya ke dalam mobil. Elena menyambut uluran tangan itu.

Ketika kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi berwarna senada menyentuh lantai marmer lobi, kilatan lampu kamera (blitz) langsung menyambar bertubi-tubi seperti badai petir. Cahayanya begitu menyilaukan, namun Elena bahkan tidak mengerjapkan matanya. Ia menegakkan punggungnya, mengangkat dagunya, dan melangkah berdampingan dengan Arka memasuki aula pesta.

Setiap langkahnya di atas karpet merah terasa seperti dentang lonceng kematian yang berbunyi untuk mereka yang telah mengkhianatinya.

Begitu pintu ganda aula besar itu dibuka oleh pelayan berjas, semua perhatian mendadak teralih. Kehadiran pasangan baru ini membawa aura yang begitu kuat hingga musik orkestra yang sedang mengalun seolah terdengar meredup. Bisik-bisik mulai menjalar di antara para tamu undangan.

"Siapa wanita itu? Sangat anggun, tapi tatapannya mengerikan."

"Bukankah itu pak Arka? Mengapa dia menggandeng wanita asing?"

"Kudengar dia adalah pewaris Van Doren Group dari Eropa. Mereka sedang mencari mitra lokal."

Elena mengabaikan semua tatapan dan bisikan itu. Matanya menyapu ruangan yang luas, mencari satu sosok yang menjadi alasan utamanya tetap bernapas hingga detik ini. Dan tidak butuh waktu lama untuk menemukannya.

Di sudut tengah ruangan, di bawah sorotan lampu utama, berdiri Rendy Pratama. Pria itu tampak gagah dengan setelan jas abu-abu modern. Wajahnya yang tampan memancarkan rona kemenangan. Di lengannya, bergelayut manja seorang wanita bergaun merah menyala dengan potongan dada rendah,Lisa. Wanita yang sebulan lalu tertawa puas saat Elena berjuang menghirup sisa oksigen di derasnya air sungai.

Lisa sedang memamerkan sebuah kalung berlian berkilau di lehernya, kalung yang Elena tahu betul dibeli dengan menggunakan uang muka dari klaim asuransi kematian atas nama dirinya, Alana Adiguna.

Rendy sedang tertawa bersama beberapa direktur bank pelat merah ketika mendadak tatapannya berpapasan dengan tatapan Elena. Tawa Rendy seketika membeku di udara. Gelas sampanye di tangannya sedikit terguncang, membuat cairannya hampir tumpah.

Sebuah sengatan familier yang sangat kuat mendadak menusuk dada Rendy. Jantungnya bertalu hebat, memompa darah dengan kecepatan yang membuat kepalanya mendadak pening. Postur tubuh itu, cara berjalan itu ... semuanya mengingatkannya pada Alana. Namun, ketika ia menatap wajah wanita itu dengan lebih saksama, akal sehatnya langsung menolak. Wanita di depannya memiliki rambut hitam pendek yang tajam, sangat berbeda dengan Alana yang selalu menguncir rambut cokelat panjangnya dengan sederhana. Wajah wanita ini begitu simetris, hidungnya lebih mancung, dan ada kesan dingin berdarah dingin yang tidak pernah dimiliki oleh Alana yang naif dan selalu tersenyum tulus.

"Rendy? Ada apa? Kau melamun?" tanya Lisa, menyadari perubahan drastis pada raut wajah kekasihnya. Ia mengikuti arah pandangan Rendy dan seketika sepasang matanya menyipit penuh rasa tidak suka melihat kecantikan mutlak yang dipancarkan oleh Elena.

"Tidak ... bukan apa-apa," bisik Rendy, mencoba mengatur napasnya yang mendadak memburu. Ia mengusir rasa bersalah yang tiba-tiba bangkit dari dasar benaknya. ("Alana sudah mati,") pikirnya meyakinkan diri sendiri. ("Dia sudah membusuk di dasar sungai sebulan yang lalu. Tim SAR bahkan menghentikan pencarian karena arusnya terlalu deras. Ini hanya halusinasiku saja.")

Arka yang berjalan di samping Elena bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuh wanita itu, meskipun dari luar Elena tampak begitu tenang dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki.

"Umpan sudah menyentuh air, Elena. Reaksinya persis seperti yang kita duga. Dia ketakutan hanya dengan melihat bayangan masa lalunya," bisik Arka, suaranya begitu rendah hingga hanya bisa didengar oleh Elena.

"Ini baru permulaan, Arka," jawab Elena dengan nada suara yang sedingin es di kutub utara. "Aku ingin dia meragukan matanya sendiri, meragukan pikirannya sendiri, hingga akhirnya dia meragukan kewarasannya."

Budi kemudian mendekat, membisikkan sesuatu kepada Arka bahwa beberapa kolega bisnis penting sudah menunggu di area VIP.

Arka mengangguk kecil, lalu menoleh kepada Elena. "Aku harus menemui beberapa orang di sana untuk membuka jalan bagi investasimu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan di sini?"

"Jangan khawatir, Arka. Singa tidak butuh ditemani hanya untuk menyapa domba-domba yang akan disembelih," ujar Elena mantap.

Arka berlalu bersama Budi, meninggalkan Elena yang kini berdiri sendiri di tengah aula, memegang segelas sampanye yang ia ambil dari nampan pelayan yang lewat.

Ia tidak terburu-buru menghampiri Rendy. Taktik terbaik dalam berburu adalah membiarkan mangsa menyadari kehadiran predator, membuat mereka merasa tidak nyaman, hingga akhirnya mereka sendiri yang berjalan mendekat karena rasa penasaran yang mematikan.

Elena memutar gelasnya perlahan, membiarkan gelembung-gelembung gas naik ke permukaan, sama seperti kebencian di dalam dadanya yang kini siap meledak, namun tertahan oleh dinding kendali diri yang kokoh.

Dari kejauhan, ia bisa melihat Rendy yang berbisik kepada salah satu asistennya, tampaknya memerintahkan orang tersebut untuk mencari tahu siapa wanita misterius bergaun hitam yang baru saja merusak ketenangannya malam itu.

Elena tersenyum dalam hati. ("Cari tahu sesukamu, Rendy. Kau hanya akan menemukan nama Elena Van Doren, seorang wanita yang akan membawa seluruh duniamu runtuh ke dasar neraka.")

Dengan satu gerakan anggun, Elena menyesap sampanyenya, membiarkan rasa pahit dan manis cairan itu membakar tenggorokannya, mempersiapkan dirinya untuk babak pertama dari permainan pembalasan dendam yang sesungguhnya.

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!