Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Pura pura Baik
Hari itu suasana rumah keluarga Argas terasa berbeda. Tidak ada suara mobil keluar sejak pagi, tidak ada langkah terburu-buru menuju kantor.
Hari libur membuat rumah besar itu terasa lebih santai dibanding biasanya.
Cahaya matahari pagi masuk hangat melalui jendela besar ruang tamu. Tirai putih bergerak pelan terkena angin dari pendingin ruangan.
Di ruang tamu utama, Bagaskara duduk sambil membaca berita di tablet. Indah duduk di sofa sebelahnya dengan secangkir teh hangat.
Sementara Arvano duduk agak jauh di kursi tunggal dekat jendela.
Meski sedang libur, ekspresinya tetap datar seperti biasa. Namun sebenarnya pikirannya sedang kacau sejak semalam. Karena satu orang yaitu Aurel.
Arvano mengusap pelipisnya dengan pelan, mencoba menghilangkan bayangan wajah gadis itu dari kepalanya.
Tok tok tok. Pintu rumah diketuk.
Feni yang sedang lewat buru-buru membuka pintu.
Erika masuk dengan senyum manis di wajahnya. “Mama Indah.”
Indah tersenyum tipis. “Erika.”
Erika berjalan masuk. Matanya langsung mencari Arvano. Dan begitu menemukannya.
Senyumnya makin manis. “Van…”
Namun reaksi Arvano justru dingin, hanya melirik sekilas. “Hm.”
Erika tetap mendekat. Ingin duduk di sofa dekat Arvano. Namun baru saja Erika hampir duduk, Arvano berdiri lebih dulu.
“Gue ada urusan.” Arvano nada suaranya datar, lalu mengambil ponselnya. “Pa, Ma… aku angkat telepon dulu.”
Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Arvano langsung berjalan keluar menuju halaman depan rumah.
Erika membeku sesaat. Wajahnya masih tersenyum, namun jelas terlihat Erika menahan kesal. Bagaskara pura-pura tidak sadar. Sementara Indah hanya menghela napas kecil.
Tak lama kemudian, Aurel keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman.
ia memakai baju sederhana warna krem dengan celemek kecil di pinggang. Rambutnya diikat asal.
Namun entah kenapa, tatapan Erika langsung berubah dingin saat melihatnya.
Aurel tetap berjalan mendekat dengan sopan. “Permisi…” Ia mulai menaruh gelas satu per satu di meja.
Indah tersenyum kecil. “Terima kasih, Aurel.”
“Iya, Bu.” Sahut Aurel dengan balas senyumannya.
Namun saat Aurel hendak memberikan gelas terakhir.
Erika tiba-tiba berdiri. “Aku ke toilet sebentar ya.”
“Iya,” jawab Indah.
Erika berjalan pelan, tepat saat melewati Aurel.
Brak!
Tubuh mereka bertabrakan.
“Ah!”
Nampan di tangan Aurel langsung goyah. Gelas jatuh ke lantai.
Pranggg!
Suara pecahan kaca langsung memenuhi ruang tamu. Minuman tumpah ke lantai, dan Aurel ikut terduduk kaget. Semua orang langsung menoleh.
“Aurel!” Indah berdiri cepat.
Sementara Erika mundur sedikit dengan wajah pura-pura kaget. “Astaga… maaf, aku nggak sengaja.” Namun tatapan matanya sama sekali tidak terlihat menyesal.
Aurel buru-buru bangun. “Maaf, Bu! Maaf…” Tangannya langsung gemetar membereskan pecahan kaca.
Namun karena terlalu panik, “Ah!”
Pecahan kaca melukai jarinya. Darah langsung keluar tipis.
Langkah cepat terdengar dari arah halaman. Arvano masuk, tatapannya langsung mencari sumber keributan. Dan begitu melihat Aurel jongkok di lantai dengan tangan berdarah.
Ekspresinya langsung berubah. “Aurel!”
Semua orang sedikit terkejut mendengar nada suara itu, karena terdengar sangat panik.
Arvano berjalan cepat mendekat, tanpa peduli siapa pun. Langsung jongkok di depan Aurel. “Mana tangannya?”
Aurel kaget. “E-eh, nggak apa-apa.”
Namun Arvano sudah memegang tangannya lebih dulu. Tatapannya tajam melihat luka kecil itu. “Kena kaca?”
Aurel gugup total. “Iya… tapi kecil kok.”
Sementara di belakang mereka, Bagaskara mulai memperhatikan dengan kening berkerut. Indah juga diam-diam menatap Arvano. Dan Erika, tangannya mengepal kuat.
Aurel buru-buru mencoba menarik tangannya. “Mas, nggak apa-apa.”
Namun Arvano tetap menahan tangannya. “Diam.” Nada suaranya tegas.
Lalu Arvano mengambil beberapa pecahan kaca yang masih dekat Aurel agar tidak melukainya lagi. “Ayo berdiri.”
Aurel menurut pelan. Wajahnya merah karena malu diperhatikan semua orang.
Begitu berdiri, Aurel langsung menunduk. “Maaf… saya ceroboh.”
Bagaskara akhirnya bicara dengan nada dingin, “Kalau kerja jangan melamun.”
Aurel langsung makin panik. “Maaf, Pak.”
“Sudah sana buat minuman lagi.”
“Iya, Pak.”
Indah langsung menyela lembut, “Sudah, jangan dimarahin terus. Namanya juga kecelakaan.”
Bagaskara menghela napas kasar lalu kembali duduk. Sementara Erika hanya tersenyum tipis, namun jelas terlihat puas.
Aurel buru-buru membawa nampan kosong ke dapur, namun baru beberapa langkah.
Arvano ikut berdiri. “Aku ke belakang sebentar.”
Bagaskara langsung menoleh. “Kamu mau ngapain?”
“Ambil obat.” Jawaban singkat membuat suasana sedikit aneh.
Karena semua orang tahu, kotak obat ada di ruang tamu, bukan di dapur.
Begitu sampai dapur, Aurel langsung mencuci tangannya cepat. Lukanya memang kecil. Namun tetap terasa perih.
“Aduh…” Aurel meniup jarinya pelan.
Arvano masuk. Aurel langsung kaget. “Mas?”
Arvano tidak bicara banyak, langsung mengambil kotak P3K kecil dari lemari ruang tamu.
Aurel membulatkan mata. “Mas ngapain?”
“Duduk.”
“Eh nggak usah, saya bisa sendiri,” Nyolot Aurel.
“Duduk, Aurel.” Nada suaranya membuat Aurel langsung diam. Ia akhirnya duduk pelan di kursi dapur.
Sementara Arvano berdiri di depannya sambil membuka plester dan obat luka.
Aurel mulai salah tingkah. “Mas, nanti ketahuan.”
“Tangan Lo, berdarah.”
“Cuma sedikit.” Namun Arvano tetap membersihkan lukanya pelan, dengan gerakannya yang hati-hati.
Dan itu justru membuat jantung Aurel makin tidak tenang.
“Perih?” Tanya Arvano pelan.
Aurel menggeleng cepat. “Enggak.” Padahal sebenarnya perih, tapi entah kenapa, perhatian kecil itu membuat rasa sakitnya hampir hilang.
Sementara itu di ruang tamu, suasana menjadi lebih sunyi.
Indah melirik ke arah dapur, lalu ke Bagaskara. “Kamu sadar?”
Bagaskara menghela napas. “Hm.”
Erika pura-pura memainkan ponselnya, namun sebenarnya telinganya mendengarkan semuanya.
Indah kembali bicara pelan, “Arvano nggak pernah perhatian segitunya ke siapa pun.”
Bagaskara diam, tatapannya mulai serius. Karena juga sadar. Anaknya berubah. Dan perubahan itu, dimulai sejak Aurel datang.
Di dapur, Arvano akhirnya selesai memasang plester di jari Aurel. “Nah.”
Aurel menatap jarinya sendiri, lalu perlahan tersenyum kecil. “Makasih.”
Tatapan Arvano tertahan beberapa detik pada wajah gadis itu.
Dan untuk sesaat, suasana terasa terlalu tenang, terlalu dekat.
Namun tanpa mereka sadari, Erika berdiri di balik pintu dapur. Tatapannya dingin.
Erika melihat semuanya, cara Arvano memegang tangan Aurel, cara Arvano memperhatikan luka kecil Aurel dengan panik.
Dan di saat itu juga, Erika sadar satu hal.
Kalau dibiarkan, Arvano benar-benar akan jatuh cinta pada Aurel. Tangannya mengepal kuat, lalu perlahan senyum tipis muncul di bibirnya.
Namun kali ini senyum itu membuat suasana terasa menyeramkan. “Aurel…” bisiknya pelan. “…aku akan bikin kamu keluar dari rumah ini.”