NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Siasat Boks Truk Ikan

Dinding tripleks Kamar Nomor Empat ini tipisnya keterlaluan. Sejak dua jam lalu, aku hanya bisa duduk tegang di atas tikar pandan yang anyamannya mulai lepas, mendengarkan langkah kaki galak Mak Lela yang mondar-mandir di lorong luar. Bau sisa minyak goreng jelantah dari dapur umum berbaur dengan kepulan uap dingin samar yang keluar dari balik tirai tipis tempat Kala bersembunyi.

Situasi di gang kosan sudah tidak beres.

Selebaran sayembara dari Baron Logistics dengan cetakan tinta tebal berlogo tenggiri perak sudah ditempel di setiap tiang listrik dekat pasar ikan.

Angka imbalannya naik dua kali lipat, cukup untuk membeli ruko dua pintu di tengah kota. Gara-gara uang sebesar itu, semua orang di pelabuhan mendadak punya mata mata-mata. Tetangga sebelah kosanku yang biasanya acuh tak acuh, sekarang mulai sering memasang telinga.

"Lara! Kau di dalam? Buka dulu pintu ini sebentar!"

Ketukan kasar di pintu kayu lapukku membuat jantungku serasa melompat ke tenggorokan.

Aku melirik cepat ke arah tirai dapur. Hawa dingin di dalam kamar mendadak drop, berganti dengan desisan halus yang sangat tipis—tanda kalau cowok di balik kain itu sedang bersiaga dengan insting liarnya. Aku buru-buru menepuk lengan kiriku sendiri, menenangkan denyut hangat di bekas cakaran yang mendadak ngilu, lalu memaksakan diri membuka selot pintu.

Mak Lela berdiri di sana sambil berkacak pinggang, handuk dekil tersampir di pundaknya. Hidungnya kembang kempis seperti sedang mengendus sesuatu.

"Kau piara apa di dalam, hah? Dari kemarin sore kamar kau ini baunya aneh kali. Amis lumpur busuk, baru itu dinginnya minta ampun sampai merembes ke kamar sebelah. Es batu jualan si roni sampai lambat cair gara-gara dinding kita ikutan membeku!" cerocos Mak Lela tanpa titik koma. Matanya mencoba melongok melewati celah bahuku.

Aku langsung menyandarkan tubuh di bingkai pintu, memasang senyum ringas andalanku. "Alah, Mak… jualan orang depo kemarin malam ada yang bocor. Paket ikan asin bulu ayam rontok di jok motor bebekku. Belum sempat kucuci jaketnya, makanya bau amisnya nempel ke kamar. Kalau soal dingin, ini nah, atap seng atas kamar ku kan bolong, angin malam pelabuhan langsung turun ke bawah."

Mak Lela mendengus kencang, meludah kecil ke parit gang sebelum berbalik. "Awas kau ya! Kalau bau ini nggak hilang sampai besok, kulaporkan kau ke kepling! Lagian orang-orang Baron lagi sibuk nyari buronan di sekitar dermaga, jangan bikin curiga!"

Begitu pintu kukunci kembali, aku langsung bersandar di tripleks sambil mengembuskan napas panjang. Dahiku basah oleh keringat dingin.

Aman untuk satu jam ke depan, tapi tidak untuk nanti malam. Kami harus keluar dari kosan sempit ini secepatnya. Otakku berputar cepat, menyisir ingatan tentang setiap manifes pengiriman barang, rute angkutan, dan celah-celah pengawasan di pos jaga luar pelabuhan yang sempat kupelajari saat mengantar paket ke Sektor Utara siang tadi.

Kala melangkah keluar dari balik tirai dapur. Tubuh tingginya membuat langit-langit kamarku yang rendah terasa semakin sesak. Mata emasnya yang berpupil vertikal menatapku lurus, berkilat tajam di bawah remang lampu teplok minyak yang bergoyang.

"Mereka mulai mencium keberadaanku," suara seraknya terdengar rendah, bergetar seperti gesekan batu kali. "Aku bisa pergi sendiri lewat jalur darat malam ini. Kau tidak perlu ikut terseret."

"Pergi sendiri gundulmu!" semprotku sambil melempar handuk kecil ke arah dadanya. "Kau lihat jaring kawat raksasa yang baru dipasang Baron di pantai Sektor Utara? Semuanya dialiri setrum tegangan tinggi! Begitu kau menyeberang darat, sensor biologis milik pasukan Baron bakal langsung mendeteksi hawa dingin tubuhmu. Belum sampai lima meter, kau sudah jadi naga panggang di atas aspal!"

Kala terdiam, rahangnya yang kokoh mengeras.

Dia paling tidak suka jika harga dirinya sebagai makhluk penghuni rawa direndahkan, tapi dia juga tahu akal jalanan ku ada benarnya. "Lalu apa maumu? Menunggu di dalam kotak tripleks ini sampai mereka mendobraknya?"

Aku berjalan mendekat, menurunkan volume suaraku hingga nyaris berbisik. Aku menarik sebuah kursi plastik biru yang kakinya agak pincang, lalu memberi isyarat agar dia mendengarkan.

"Kita pakai truk boks roda enam milik si Ucok. Dia distributor utama ikan tongkol untuk pasar atas," kataku dengan mata berbinar. "Nanti malam jam dua, truknya bakal muat ratusan kilo ikan tongkol segar dari tempat pelelangan. Kau bakal masuk ke dalam peti kayu besar di barisan paling belakang boks, ditimbun pakai es balok hancur."

Mendengar kata 'ikan tongkol', wajah tampan Kala

langsung berubah masam. Alisnya bertaut rapat karena jengkel. "Kau menyuruhku bersembunyi di dalam timbunan bangkai ikan? Di dalam wadah pengirim daging?"

"Pilih gengsi atau mati terpanggang, hah?" tangkisku cepat, melotot ke arah mata emasnya yang mulai menyipit kesal. "Dengar dulu logikanya. Sensor pemindai biologis milik Baron itu cuma mendeteksi dua hal: perubahan suhu drastis dan aroma aneh yang bukan bagian dari muatan standar pelabuhan. Bau amis dari ratusan kilo ikan tongkol bakal mengacaukan hidung elektronik mereka. Bau rawa dari tubuhmu bakal ketutup total sama bau anyir insang ikan. Terus, es balok hancur itu bakal menyamarkan suhu dingin alami tubuhmu. Di layar monitor mereka, boks truk itu cuma bakal kelihatan sebagai tumpukan kargo beku biasa. Bersih tanpa kecurigaan."

Kala menatap telapak tangannya yang mulai mengeluarkan urat-urat keperakan halus, sisa energi bulu purnama kemarin tampaknya masih membekas. Dia mendengus gusar, memalingkan wajah ke arah jendela yang retak. "Aroma ikan itu menjijikkan. Benar-benar merendahkan harga diri."

"Heh, dengar ya, Tuan Naga Sawah," aku berdiri, menepuk pundaknya yang kaku dan sedingin es batu itu dengan agak keras. "Di pelabuhan Tanjungbalai ini, bau amis itu artinya bertahan hidup. Orang-orang di luar sana rela saling sikut demi uang sayembara itu karena perut mereka lapar. Kalau kau mau selamat sampai ke hulu sungai Asahan, kau harus mau jadi ikan tongkol semalam saja."

Kala memandangku lama. Ada kilat kemarahan yang tertahan di matanya, namun perlahan pupil vertikalnya melebar kembali, melunak saat melihat kesungguhan di mataku yang mulai berkaca-kaca karena kelelahan. Hembusan napas dinginnya menerpa wajahku, membuat ujung rambutku agak membeku.

"Hanya sampai kolong jembatan rawa," ujarnya akhirnya, suaranya pelan namun penuh penekanan yang mutlak. "Jika rencana gila dari kurir kuyu sepertimu ini gagal di pos jaga, aku akan menghancurkan truk itu beserta isinya."

"Kesepakatan tercapai," jawabku sambil tersenyum lega, meski dadaku masih berdegup kencang seperti mesin motor bebek yang kehabisan oli.

Aku melirik jam dinding plastik bergambar lumba-lumba yang detaknya terdengar lambat di sudut kamar. Jarum panjang menunjukkan pukul sebelas malam. Tiga jam lagi sebelum operasi boks truk ikan ini dimulai. Aku berjalan ke sudut ruangan, mengambil ransel oranye kesayanganku, lalu memeriksa tali pengikatnya.

Di luar, suara deru mobil patroli Baron terdengar melintas pelan di jalan utama depan gang, menyapu dinding-dinding rumah petak dengan sorot lampu putihnya yang dingin. Aku mematikan lampu teplok, membiarkan kamar nomor empat tenggelam dalam kegelapan total yang mencekam. Di tengah kesunyian itu, hanya ada suara napas kami yang memburu dan detak konstan di pergelangan tanganku yang semakin menyatu dengan ritme jantung Kala. Malam pelarian ini akan menjadi taruhan terbesar hidupku, dan tidak ada jalan untuk mundur lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!