Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUASANA HANGAT PAGI HARI
Rumah Keano
Sinar matahari pagi masuk melalui jendela ruang makan. Aroma roti panggang dan kopi hangat memenuhi rumah.
Nara sudah duduk rapi di kursi makan. Seragam sekolah barunya masih terlihat kaku, rambutnya disisir rapi, tas tergantung di sandaran kursi.
Ia terlihat berusaha tenang. Tapi sesekali matanya melirik jam dinding, pukul 07.00.
Mama Ranti keluar dari dapur membawa telur dadar. "Wah, anak baru kita rajin banget ya. Belum masuk sekolah aja udah siap."
Nara tersenyum sopan. "Aku kebiasaan bangun pagi, Tante."
Mama Ranti tertawa kecil. "Panggil Mama aja, Nara."
Nara mengangguk pelan. "Iya… Mama."
Suasana terasa hangat, tangga berderit pelan.
Keano turun sambil memasang jam tangan, rambut masih sedikit berantakan, tas sudah tersampir di bahunya, ia berjalan cepat melewati ruang makan.
Mama Ranti langsung menoleh. "Keano. Sarapan dulu."
"Gak sempet, Ma."
Keano mengambil kunci motor di meja. Nada suaranya santai, seolah itu hal biasa.
Nara memperhatikannya. Sedikit berharap.
"Kita berangkat bareng?" tanyanya hati-hati.
Keano berhenti sebentar. Lalu menoleh.
"Oh… Nara duluan aja sama Mama ya. Aku mau jemput temen." Jawaban itu sederhana.
Tapi cukup membuat senyum Nara sedikit memudar.
"Oh… iya."
Ia menunduk kecil. Mencoba tetap terlihat biasa.
Mama Ranti memperhatikan perubahan ekspresi itu.
Alisnya langsung naik. "Keano."
Nada suaranya berubah, bukan marah, tapi tegas.
Keano berhenti lagi di dekat pintu.
"Iya, Ma?"
"Kamu tahu Mama sengaja pindahin Nara sekolah ke tempat kamu kan?"
Keano mengangguk pelan. "Iya."
"Terus kamu tinggalin dia hari pertama sarapan sendirian?"
Sunyi.
Keano menghela napas kecil.
"Ma, ini cuma jemput temen."
Mama Ranti menyilangkan tangan. "Temen apa?"
Keano terdiam sepersekian detik.
"...temen sekolah."
Mama Ranti menatap tajam, ia terlalu mengenal anaknya.
"Kamu berubah akhir-akhir ini mama perhatikan."
Keano sedikit tersenyum tipis. Bukan menyangkal.
Nara buru-buru angkat bicara. "Gak apa-apa kok, Ma. Aku juga masih belum masuk hari ini."
Mama Ranti menoleh lembut ke arahnya. "keano bikin kamu gak nyaman ya?"
Nara cepat menggeleng, enggak ingin jadi penyebab masalah.
Keano akhirnya berjalan mendekat ke meja makan. Ia menepuk bahu Nara pelan.
"Maaf ya. Nanti pulang kita makan bareng."
Nara mengangguk kecil. "Gapapa."
Tapi matanya tidak sepenuhnya cerah.
Mama Ranti menghela napas panjang.
"Kamu ini ya, Keano…"ia melembutkan suara.
"Mama gak larang kalau kamu memang punya prioritas, tapi jangan bikin orang lain merasa sendirian."
Kalimat itu membuat Keano diam sebentar.
Seolah kena tepat, ia menatap Nara lagi. Lalu mengambil satu roti panggang cepat dari meja.
"Oke. Aku makan dikit."
Mama Ranti tersenyum puas. "Nah gitu dong."
Keano menggigit roti sambil berjalan ke pintu.
Sebelum keluar, ia berkata santai—
"Nanti ke kamu kenalin Nara ke temen-temen kamu juga ya ."
Nara sedikit terkejut. Matanya kembali hidup.
Keano mengangguk. "Iya."
Lalu ia pun memakai helm dan keluar rumah.
Suara motor menyala.
Beberapa detik kemudian— motor itu melaju pergi.
Mama Ranti duduk di kursi. Menyeruput kopi sambil melirik Nara yang masih menatap ke arah pintu.
Mama Ranti tersenyum kecil.
"Kata bibi dia memang lagi semangat sekolah akhir-akhir ini."
Nara tersenyum tipis. "Iya… kelihatan."
Namun di dalam hatinya— muncul satu rasa yang tidak ia duga, penasaran.
Tentang teman prioritas yang membuat Keano rela tidak sarapan pagi.
Depan Rumah Senja
Motor Keano berhenti pelan di depan pagar rumah Senja, ia melepas helm, merapikan rambut sebentar, lalu menoleh ke arah pintu rumah seperti mulai sudah hafal kebiasaannya.
Tirai jendela bergerak sedikit, Keano tersenyum kecil, tidak lama— pintu terbuka.
Senja keluar sambil membawa tas sekolah. Langkahnya berhenti saat melihat Keano sudah menunggu."Kamu cepet banget."
Keano mengangkat bahu. "Takut ditinggal."
Senja mendengus kecil. "Kamu yang jemput."
Sebelum mereka sempat lanjut bicara—
pintu rumah kembali terbuka.
Nenek Senja keluar membawa termos kecil di tangan.
"Eh,ada temen kamu ternyata neng"
Keano langsung berdiri lebih tegak. Refleks sopan.
"Iya Nek, Pagi."
Nenek mendekat perlahan. Matanya mengamati Keano dari atas sampai bawah.
Bukan menilai. Lebih seperti memastikan.
"Kamu yang tiap pagi bikin cucu nenek semangat terus berangkat ke sekolah?"
Keano sedikit salah tingkah. "Iya… Nek, maaf ya, kalau Nenek gak keberatan saya mau bikin cucu Nenek ini selalu terus semangat tidak pagi"
Nenek tersenyum lembut. "Justru Nenek senang."
Senja langsung menoleh. "Nenek..kamu juga apa sih"
Nenek pura-pura tidak dengar. Ia menyerahkan termos kecil itu ke Keano.
"Ini bekal teh hangat. Buat di jalan."
Keano kaget. "Oh— gak usah repot, Nek."
"Ambil aja" kata Nenek pelan. "Anak muda suka lupa sarapan."
Keano menerima termos itu dengan dua tangan. Sopan sekali.
"Makasih banyak, Nek."
Nenek mengangguk puas.
Lalu sedikit mendekat dan berkata pelan—
"Nama kamu siapa nak, sepertinya Senja belum cerita ke Nenek."
Senja terlihat salah tingkah, Keano yang melihat pun tersenyum kecil.
"Iya Nek, gak apa-apa, mungkin Senja belum sempat cerita, Saya keano, saya izin jemput Senja tiap pagi ya Nek."
Nenek pun mengangguk dan tersenyum hangat.
"Tolong jagain Senja ya."
Kalimatnya sederhana. Tapi hangat… dan dalam.
Keano tidak langsung menjawab ia mengangguk serius.
"Iya, Nek."
Senja terdiam. Pipinya langsung terasa hangat.
Nenek tersenyum melihat reaksi mereka berdua.
"Ya sudah, berangkat sana. Nanti telat."
Senja cepat memakai helm. "Aku berangkat ya Nek Nek!"
"Hati-hati di jalan!"
Keano menaiki motor. Sebelum menyalakan mesin, ia menoleh lagi.
"Nek, nanti sore saya balikin Senja nya ."
Nenek tertawa kecil. "Memangnya cucu Nenek paket kiriman?"
Keano ikut tertawa. "Iya… paket paling penting."
Senja langsung menepuk bahunya. "Ih!"
Motor menyala.
Saat mereka pergi, Nenek berdiri di depan pagar, memperhatikan sampai motor itu menghilang di ujung jalan.
Ia tersenyum pelan pada dirinya sendiri.
"Anak itu… matanya tulus."
Di atas motor—
Senja diam beberapa detik.
"Kamu cepet akrab sama Nenek ya."
Keano tersenyum kecil. "Soalnya Nenek lo baik."
Hening sebentar.
Lalu Keano menambahkan pelan—
"Dan… gue pengen orang rumah lo percaya sama gue."
Senja tidak menjawab, tapi tangannya perlahan memegang jaket Keano lebih erat.
Pagi itu terasa sedikit berbeda.
Lebih dekat. Lebih hangat, seperti sesuatu yang perlahan tumbuh… tanpa perlu diucapkan.
Motor Keano melaju pelan meninggalkan gang rumah Senja.
Udara pagi masih dingin, sinar matahari baru naik setengah, membuat jalanan terlihat hangat keemasan.
Beberapa pedagang sarapan mulai membuka lapak. Anak-anak sekolah berjalan berkelompok di trotoar. Suasana pagi yang hidup… tapi tenang.
Senja duduk di belakang seperti biasa.
Tangannya masih memegang ujung jaket, Keano melirik spion sebentar.
"Lo gak mau pegangan?"
Senja sedikit kaget. "Hah?"
"Ntar jatuh."
"Aku gak jatuh kok."
Keano sengaja melewati polisi tidur sedikit lebih pelan.
Motor naik turun ringan.
Refleks— tangan Senja langsung memeluk pinggangnya Keano tersenyum kecil, tidak berkata apa-apa lagi.
Beberapa detik mereka hanya menikmati angin pagi.
Suara motor. Angin. Dan keheningan yang terasa nyaman, tak lama mereka pun sampai di sekolah keano memarkirkan motornya, Senja turun lebih dulu.
"Aku duluan ya?"
Keano melirik dan berkata.
"Eh tunggu, kita bareng aja, gue anterin lo ke kelas ya?"
Senja langsung menggeleng cepat.
"Gak usah aku bareng Arelina aja,tuh orangnya"
tak lama Arelina pun turun dari mobil dan langsung menghampiri Senja.
"Haii Senja, selamat pagi" sapa Arelina ceria seperti biasanya.
Senja tersenyum ke arahnya.
"Hai rel, Kamu udah sampai juga."
Areli mengangguk.
" Udah dari tadi kali, nungguin lo lama nyampenya."
Senja hanya terkekeh kecil.
" Hai Keano, Waah udah jadi grab pribadi aja nih lo." ledek Arelina
Keano tersenyum kecil.
" Gak senang jadi grab pribadinya Senja"jawabnya santai
Arelina langsung tersenyum meledek
" Oke..tapi Senja masuknya bareng gue ya, lo cukup sampai di sini saja, walaupun gue izinin lo dekat sama Senja ,tapi dia tetap besti sejati gue, kita itu sahabat senadi"
Keano terkekeh.
"Tenang aja child, gue gak akan menembus wilayah yang udah lo bangun kok, lagian dari pada gue ladenin suara lo yang kayak toa masjid itu mending gue ngalah."
Arelina langsung melotot kesal, Senja menarik tangan Arelina.
" Kita duluan ya, makasih udah anterin." pamit senja pada Keano
Keano tersenyum tipis
" Oke..bye Senja,"
Mereka pun Akhirnya pun masuk ke kelas masing-masing..