NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Paket

Nolan memuaskan diri hanya bermain dengan dada Hana. Ia masih bisa berpikir untuk memegang janji yang sudah retak.

Hana hanya pasrah menerima sentuhan dari Nolan, air mata tanpa henti keluar dari sudut matanya.

Pria itu meninggalkan beberapa tanda merah di leher, bahu, dan dadanya.

Ia terdiam cukup lama setelah Nolan pergi meninggalkannya seorang diri.

Tentu saja setelah pria itu memuaskan dirinya terhadap Hana. Tak lupa pria itu juga membersihkan jejak kepuasan di dada Hana.

Perempuan yang penampilannya sudah berantakan itu hanya memandang langit-langit kamar dengan pikirannya yang kacau.

Ia meringkuk memeluk dirinya sendiri, dan perlahan memejamkan mata.

Usapan lembut di pipi membuat Hana membuka mata. Sosok Nolan dalam balutan kimono yang menampakkan dada bidangnya menyapa penglihatan Hana.

"Bangunlah, kau belum makan malam."

"Kenapa kau tak meniduriku?" Hana menyindir Nolan yang tampak tak merasa bersalah.

Perlahan Air mata kembali lolos membasahi pipi. Wajah perempuan bersurai hitam tersebut tampak kusut dengan mata sembab.

Nolan merasa bersalah telah hilang kendali.

"Maaf. Aku benar-benar brengsek."

"Ya, kau brengsek." Nafasnya tercekat. Amarahnya tak bisa ia luapkan dengan bebas.

Hana membenci dirinya yang sanggup menahan beban di dalam dirinya.

"Kau akan mendapatkan bayaran yang tinggi. Maafkan aku." Nolan mendudukkan tubuh Hana dan memperbaiki pakaian perempuan itu dengan benar.

"Makanlah, besok pagi baru kita bahas."

"Itu menjijikan." Hanya suara tangisan yang keluar dari mulut Hana. Ingin rasanya ia memaki dan menghajar pria di depannya ini. Namun, ia hanya sanggup menangis.

"Maaf. Kau boleh menghajarku." Nolan membawa Hana ke pelukannya.

"Lepas, brengsek!" Hana berontak, Nolan melepaskan pelukannya dan beranjak.

"Baik, aku pergi. Pastikan kau memakannya. Ok?"

Hana menutup wajahnya yang tertunduk.

Airmatanya tak berhenti keluar, Nolan meletakkan dengan benar makan malam yang ia bawa di atas meja, lalu ia keluar dan menutup pintu kamar Hana.

Nolan memilih turun ke bawah untuk meminum alkohol.

Malam ini pikirannya sedikit kacau karena perempuan yang ia bawa menangis akibat ulahnya.

Hatinya terasa terpengaruh terhadap kehadiran Hana.

Ia mengakui, perlakuannya pada Hana sungguh berbeda dari perempuan yang pernah ia sewa.

Ia tak pernah memperlakukan mereka dengan lembut dan baik. Nolan terkesan memperlakukan mereka layaknya budak sex. Dengan Hana, ia seolah bersama dengan seorang kekasih.

Sebelum Nolan bangun, Hana sudah selesai memasak untuk sarapan mereka.

Ia beranjak ke kamar untuk mandi terlebih dahulu.

Suara aliran air terdengar samar dari kamar Nolan.

Ia terbangun dari tidurnya, merenggangkan otot lalu menuju kamar mandi.

Hana merapikan rambutnya dengan mengepang satu dan memberi pita berwarna perak di ujung ikatan rambutnya.

Ia turun ke bawah untuk sarapan, di sana Nolan sudah duduk menunggu sembari meminum kopi buatannya.

"Hana kau me-"

"Mari kita sarapan, tuan." Nada bicara Hana berubah kembali seperti pertama mereka bertemu.

Datar dan kaku.

Nolan diam memperhatikan Hana yang khidmat menyantap sarapannya.

Perempuan itu tak lagi bersikap santai, usai sarapan Nolan memilih menonton tv di ruang keluarga.

"Apa anda ingin camilan, tuan?" Hana berdiri di sisi Nolan yang sedang menatap layar tv.

"Kubilang perhatikan panggilanmu, Hana."

"Tidak tuan. Anda majikan saya."

Nolan menatap Hana dengan kesal. Perempuan bermanik coklat itu hanya memandangnya dengan datar.

"Ada apa denganmu?"

"Kenapa kau kembali kaku?"

"Saya hanya menjalankan tugas melayani dan menemani anda, tuan."

"Hei, bersikaplah selayaknya temanku."

"Dengan begitu anda bisa seenaknya pada saya?" Ucap Hana dengan dingin.

Nolan kini mengerti akan perubahan sikap Hana.

Kejadian semalam membuat perempuan ini memasang tembok tinggi padanya.

"Hana, aku sudah meminta maaf dan memberikan bayaran yang tinggi padamu. Lebih tinggi dari orang-orang sebelummu."

"Apa anda pikir moral bisa dibeli dengan kekayaan? Apa anda kira mental saya bisa pulih hanya dengan kata maaf?"

Suaranya tercekat, matanya kembali memanas.

Hana berusaha menahan agar tak menangis di hadapan orang yang sudah kurang ajar padanya.

"Jadi, kau ingin aku bagaimana, Hana?"

"Menidurimu juga?" Nolan kesal dengan sikap Hana yang tak mau menerima permintaan maafnya.

Plak!

Tangannya bergetar hebat. Amarahnya menguasai dirinya hingga ia merasa tiba-tiba lemas.

"Anda kira semua perempuan rela ditiduri seperti binatang?!"

"Kau ingin aku bagaimana? Semua sudah terjadi, aku menyesal, Hana. Aku tak berniat menganggumu." Nolan frustasi.

"Anda mengingkari janji, tuan."

"Ya, benar." Nolan terduduk.

"Aku tak sengaja, Hana. Aku sungguh menyesal."

Hana terdiam membisu, ia berusaha menahan bobot tubuhnya yang hampir hilang kesadaran. Kepalanya tiba-tiba pusing.

"Apa kau ingin aku bertanggung jawab dengan menikahimu?"

"Saya tidak ingin menikah dengan penjahat kelamin." Kalimat yang dilontarkan Hana begitu menohok Nolan.

Hana segera pergi ke kamarnya sebelum ia pingsan di depan pria mesum itu.

Nolan menyugar rambutnya kasar dan mengumpat.

Tangannya mengambil sweater yang berada di sofa dan pergi keluar mengendarai mobil meninggalkan villa. Dua orang pengawal mengikutinya dari belakang dengan mobil berbeda.

"Perketat penjagaan selagi aku keluar. Laporkan padaku jika ada orang yang mencurigakan mendekati villa selain orang yang ku pekerjakan."

Nolan memberi perintah pada pengawal yang tinggal berjaga di villa.

Ia menyusuri jalanan yang di penuhi oleh pegunungan.

Nolan terkekeh pelan, ia kemari ingin menenangkan diri namun lihat yang ia lakukan, malah membuatnya semakin lelah.

Hana memilih tidur untuk meredakan pusing, suasana yang tenang dan sejuk membuatnya cepat terlelap. Ia berharap nanti ketika bangun badannya kembali pulih.

Liburan yang Nolan perkirakan memakan waktu seminggu, kini ia menambah satu hari lagi.

Pertengkaran dirinya dan Hana beberapa hari yang lalu tak membuahkan hasil.

Perempuan itu hanya bersikap selayaknya pekerja bukan seorang teman.

Nolan mengalah, ia tak mau terlalu pusing dengan sikap Hana selagi ia mendapatkan pelayanan dan Hana melakukan tugasnya dengan baik.

Mereka mengunjungi beberapa tempat sebelum kembali ke villa.

Satu hari penuh mereka menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah Nolan kunjungi. Diam-diam ia memperhatikan raut wajah Hana yang bahagia dan sangat menikmati pemandangan selama perjalanan mereka.

"Anda ingin kopi dan camilan, tuan?" Hana memastikan majikannya bersantai sembari mengisi perut usai tiba di villa.

"Buatkan aku susu hangat dan kue saja."

"Baik." Hana bergegas ke dapur. Nolan mengikuti dari belakang.

"Tolong antarkan ke kamarku."

"Baik, tuan." Nolan berbalik dan naik ke lantai dua, sedang Hana segera menyiapkan.

"Nona, ada paket atas nama anda."

Seorang pengawal menghampirinya di dapur.

"Saya tak memesan paket."

"Tapi di sini tertulis nama anda, nona." Hana melihat catatan yang tertempel di kotak bertuliskan namanya.

Ia bingung, siapa kiranya yang mengirim paket kemari? Dan tidak ada yang tahu selain Salsa dan Louis.

"Baik, terima kasih."

Pengawal undur diri, begitu pun Hana yang selesai, ia segera membawa pesanan majikannya ke kamar.

Ia mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Hana memilih masuk, di sana tak ada Nolan.

Namun, suara pancuran air dari kamar mandi membuatnya mengerti. Ia menaruh susu dan camilan di meja yang tersedia. Kemudian merapikan tempat tidur Nolan yang berantakan.

Pintu kamar mandi dibuka, menampilkan Nolan yang hanya memakai handuk di pinggangnya membuat Hana memalingkan wajah, Ia menyibukkan diri menyelesaikan melipat selimut.

"Besok pagi kita berangkat ke bandara, pastikan tak ada barang-barang kita yang tertinggal." Ucap Nolan yang berpakaian. Ia seperti tak terganggu dengan kehadiran Hana.

"Baik, tuan."

Nolan berbalik menyadari Hana yang masih berdiri di sisi ranjang sembari menatapnya.

"Ada apa?" Nolan mengenakan baju kaos dan melempar handuk kepada Hana, perempuan itu sigap menangkapnya.

"Di bawah ada paket atas nama saya, pengawal yang membawakannya."

"Lalu?"

"Tidak ada yang mengetahui saya berada di sini."

Ucapan Hana membuat Nolan menatap ke arahnya.

"Kecurigaanku benar? Ada yang mengikuti kita."

Hana mengangguk.

"Kau sudah membuka paketnya?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Saya takut itu bom."

Nolan terkekeh pelan.

"Apa untungnya dia membunuhmu?"

"Ada untungnya."

"Benarkah? Itu artinya kau punya musuh."

"Tidak. Bukan musuh. Tapi seseorang yang gagal menangkap saya. Itu yang saya curigai."

"Kau buronan?"

Hana melipat bibirnya ke dalam.

"Saya permisi." Ia bergegas keluar dari kamar Nolan sebelum pria itu bertanya lebih banyak.

Hana menyingkirkan paket tersebut tanpa membukanya, ia tak mau mengambil resiko.

Paket tanpa nama pengirim, pikirannya langsung menuju satu pria yang akhir-akhir ini masuk ke kehidupannya.

Nolan keluar dari kamar dan menuju balkon yang terdapat di ujung ruang lantai dua.

Ternyata di sana Hana sedang berdiri menghadap ke arah pegunungan yang dihiasi oleh bulan purnama. Perempuan itu mengenakan baju tidur yang ia berikan tempo hari.

Nolan mencoba menahan dirinya agar tak menyerang Hana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!