Tolong tinggalkan Like Dan comment yah ❤😍
Danny sudah memantapkan pilihannya pada Rose, gadis yang lebih mudah darinya. Rose sudah terlanjur hidup dalam gelapnya masa lalunya, begitu berhasil mendapatkan Rose, ada saja cobaan dalam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesicca26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijodohkan?
Stevany👩
Pintu ruangan pak Benny terbuka, Danny melangkah masuk kedalam dan melihat ayahnya sedang berbaring sambil melihat ke ipad ditangannya. Nggak jauh disamping pak Benny ada Agus sekretarisnya berdiri sambil sesekali mengagguk-angguk.
"Kamu sudah datang, Dan. Duduk dulu." sapa pak Benny lalu melanjutkan pembicaraannya dengan Agus
Selesai membicarakan urusan kerja Agus langaung keluar meninggalkan Danny dan ayahnya berdua, pak Benny mengatur posisinya setengah duduk agar lebih nyaman.
"Keliatannya papa baik-baik aja." ucap Danny membuka pembicaraan
"Yah, cuma terpeleset. Dokter bilang nggak ada yang serius, besok juga sudah bisa pulang." jawab pak Benny
"Yah sudah, aku cuma datang mengecek keadaan papa. Kalo gitu aku pergi dulu, ada kerjaan yang ku tinggal tadi." ucap Danny lalu berniat untuk berdiri
"Ada yang mau papa bicarakan, tunggu sebentar."
Danny mengurungkan niatnya untuk berdiri.
"Papa berniat memperkenalkan kamu dengan putri teman papa."
Mata Danny sedikit membesar mendengar ucapan papa barusan "Apa ini soal perjodohan lagi? Apa belum cukup perjuanganku untuk perusahaan?" tanya Danny langsung ke pokok permasalahan
"Dan, ini peluang bagus. Perusahaan kita akan lebih besar, pak Cokro punya lebih banyak koneksi." bujuk pak Benny
"Aku sudah punya pilihan sendiri pa, tolong jangan jadikan aku salah satu aset papa untuk memajukan perusahaan papa. Aku membantu perusahaan papa bukan berarti kehidupan pribadiku bisa papa kontrol." tolak Danny tegas
Pak Benny terdiam mendengar ucapan Danny barusan, baru kali ini dia mendengar penolakan anaknya. Selama ini Danny melakukan semua yang memuaskan keinginannya tanpa harus disuruh, baru kali ini Danny menolak permintaannya.
"Baik, kalo itu keputusanmu." ucap pak Benny tiba-tiba. Dia nggak mau memaksa lebih lagi karna selama ini Danny nggak pernah mengecewakan dirinya, dan kepribadian Danny yang tegas membuat dirinya sebagai ayahpun jadi segan dan nggak mau memaksakan kehendak.
"Boleh aku pulang?" Danny mengulangi perkataannya tadi
Papa mengiyakan dengan tangannya tanpa berbicara lagi.
Langkah Danny terhenti begitu dia berada didepan lift, dia bersyukur papanya baik-baik saja. Yang menjadi beban pikiran baru untuk Danny adalah keinginan ayahnya, meski ayahnya nggak memaksa tapi dia tahu jelas jika ayahnya menginginkan sesuatu pasti akan ayahnya usahakan sampai terjadi. Meski sekarang ayahnya nggak memaksakan kehendaknya, namun jika terdesak ayahnya akan kembali memintanya.
Pintu lift terbuka, Danny agak kaget melihat seorang perempuan dan pria seumuran ayahnya muncul dibalik lift.
"Eh, Danny. Kebetulan kita bertemu disini." ucap pak Cokro begitu keluar dari lift
"Iya pak, saya habis mengunjungi papa." balas Danny sopan
"Oyah, perkenalkan, ini Stevany putri saya."
Danny dan Stevany saling tersenyum tanpa menjabat tangan.
"Masuk dulu kedalam.." ajak pak Cokro
"Ohh om dan Stevany saja, saya sudah ditunggu rekan bisnis saja." tolak Danny sopan
"Oh iya, kamu memang seorang bisnisman. Benar, kalo gitu saya dan Fany masuk dulu, sampai jumpa dilain waktu."
Danny mempersilahkan pak Cokro dan Stevany pergi lebih dahulu lalu dia masuk kedalam lift, didalam lift Danny kembali mengingat sosok Stevany, wajahnya cantik namun terlihat tegas dan berambisi. Besar didalam keluarga kaya dan berpendidikan membuat Stevany bisa mengontrol caranya bersikap, membuat Danny jadi ngeri sendiri jika harus dijodohkan dengan perempuan seperti Stevany. Dia berharap nggak akan bertemu dengan Stevany lagi.
Pak Sam sudah menunggu didepan mobil saat Danny keluar dari lift yang mengarah langsung ke basement parkiran, langkah kakinya kali ini terasa nggak nyaman. Pandangan Danny terasa nggak fokus, melihat itu pak Sam cepat-cepat mendatangi Danny dan memegang lengan Danny.
"Anda baik-baik saja?" tanya pak Sam khawatir
"Iya, saya lupa hari ini saya belum makan. Kita pergi makan dulu sebelum pulang mandi, saya mau pergi melihat keadaan Rose dulu sebelum tidur."
"Baik."
Mobil Danny meninggalkan parkiran basement, dia nggak mau memikirkan pembicaraan apa yang dilakukan ayahnya dan pak Cokro diatas. Danny tetap pada keputusannya, hatinya sudah mantap pada Rose.
Sementara itu dirumah sakit Daniar datang menjenguk Rose sahabatnya, mengetahui keadaan Rose, Daniar sengaja menyuruh pacarnya menunggu diluar. Dia masuk saat Rose sedang makan disuapi mama, senyum hangat Rose menyambut kedatangan Daniar. Dia berusaha tegar dihadapan sahabatnya, Rose hanya nggak bisa mengontrol emosinya jika melihat lawan jenis selain ayah dan Billy.
"Roseee..." Seru Daniar lalu berlari mendekati Rose, dipeluknya sahabatnya itu
"Lo kenapa baru datang? gue kira lo udah lupa sama gue." tanya Rose sambil menepuk punggung sahabatnya
Daniar melepas pelukannya sambil terus melihat Rose dengan wajah sedih "Sorry, gue baru balik dari Cina. Abis ngunjungin mamii, saat dengar kabar lo gue langsung terbang ke Jakarta."
"Duduk deh, jangan berdiri aja."
Mata Daniar tetap menatap Rose penuh dengan rasa prihatin, dia duduk disebelah Rose sambil memegang tangan Rose.
"Nggak usah liatin gue kayak gitu ahh, kayak apa aja lo."
"Gue sediihhh, kita berdua itu udah kayak sodara, lebih malahan. Oh iya gue bawa ole-ole buat lo sama tante Ayu." ucapnya lalu mengeluarkan bingkisan kecil dari tas yang dia bawah dan memberikan pada Rose dan mamanya
Nggak segan lagi Rose langsung membuka bingkisan itu "Makasihhh.." ucapnya lalu terdiam melihat isi bingkisan itu
Senyum mengembang dari bibir Daniar "Suka nggak? tante suka nggak??" tanyanya bersemangat
"Ni, ini pasti mahal kan??" tanya Rose
"Nggak kok, ini produk yang akan diluncurkan perusahaan papa. Dan aku nyomot dua, buat lo sama tante Ayu."
"Makasih yah, Ni, tante jadi ngerepotin nih.." ucap mama sambil membuka bingkisannya setelah melihat milik Rose
"Sama-sama tante, nggak perlu sungkan kalo sama aku. Kita kan udah kayak keluarga." Daniar menyengir
"Duh, Ni, gue bener-bener nggak habis pikir deh apa yang bakal dipikirin orangtua lo kalo mereka tau."
"Mereka tau kok, malah mereka yang ngasih ini. Mereka malah ngancam kalo lo nggak terima, kita berdua nggak boleh temenan lagi. Soalnya selama ini kita berteman lo nggak pernah mau nerima pemberian mereka, jadi kali ini mereka maksa." jawab Daniar polos
"Yaudaahhh, makasih yahh. Ini kalung pertama gue yang ori, biasanya kan cuma beli yang dua puluh rebuan." Rose terkekeh geli
"Sama-sama... Trus apa jata dokter? lo udah baikan? kapan pulang?"
"Udah baikan sihh, tinggal nunggu dokter. Kalo mereka bilang pulang, yah gue pulang. Nggak enak tidur disini, gue kangen kasud keras gue."
Daniar terkekeh geli mendengar jawaban Rose barusan "Emang lo yah, kasue empuk kayak gini masih kalah sama kasur keras lo. Gue aja waktu kita tidur ditenda pas mendaki rasanya menderita banget, sakit semua rasanya badan gue."
"Bedah lahh, lo kan masyarakat kelas atas, gue kelas bawaaahhh.."
"Ahh sembarangan lo, lo nya aja tuh yang perhitungan. Padahal kan harga kasur empuk ada aja yang cuma sejutaan.."
"Satu juta itu bisa buat makan dan transport sebulan, Ni." potong Rose
Daniar hanya geleng-geleng dengan kelakuan sahabatnya, jiwa rakyat jelata Rose memang benar-benar menempel lekat. Tapi dalam hatinya dia senang, Rose masih bisa tersenyum dan diajak bercanda. Dia tau Rose selalu berusaha tegar, meski sebenarnya dalam hatinya hancur.
Sekalian kasih rekomen novel yang rapi juga, judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib pakek tanda kurung ya nyarinya
mampir juga di ceritaku yh thor
"love with enemy