NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Pulang dalam Genggaman Sang Predator

​Suara langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan koridor rumah sakit. Lucas datang dengan napas terengah-engah, menyerahkan sebotol kecil obat penenang pesanan Devan. Devan meminumnya tanpa air, mencoba meredam gemuruh di dadanya yang dipicu oleh aroma rumah sakit.

​Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas maskernya.

​"Keluarga Nona Aiswa?" tanya dokter itu.

​"Saya," jawab Devan cepat, suaranya berat dan menekan.

​"Pasien mengalami syok anafilaktik ringan akibat alergi jamur. Beruntung Bapak membawanya tepat waktu. Terlambat sedikit saja, saluran napasnya bisa tertutup total dan itu sangat fatal. Sekarang kondisinya sudah stabil, hanya butuh istirahat total untuk memulihkan tenaganya."

​Devan hanya mengangguk kaku, tapi di dalam hati, ia mengembuskan napas lega yang luar biasa. Ia segera melangkah masuk ke dalam kamar rawat, diikuti Zianna yang wajahnya masih sembab.

​Di atas brankar, Aiswa terbaring pucat. Matanya terbuka sayu, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Begitu mendengar suara pintu, ia menoleh pelan.

​"Tante Guru..."

Zianna menghambur ke tepi ranjang, menggenggam tangan Aiswa yang masih terpasang infus.

​Aiswa berusaha menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tampak sangat melelahkan.

"Tante nggak apa-apa, Zianna sayang..." ucapnya lirih.

Suaranya serak, nyaris hilang.

​Tatapan Aiswa beralih pada sosok jangkung yang berdiri di kaki ranjang. Devan Argian.

Pria itu berdiri diam dengan tangan bersedekap, namun matanya menatap Aiswa dengan intensitas yang sulit diartikan. Ada amarah, tapi ada juga kekhawatiran yang coba ia sembunyikan rapat-rapat.

​Aiswa tahu, pria inilah yang membawanya menembus kemacetan Bali demi menyelamatkan nyawanya. Sejenak, ia merasa bersalah karena selalu mengutuk pria ini dalam hati.

​"Terima kasih, Pak Devan," bisik Aiswa pelan.

"Kalau bukan karena Bapak... mungkin hal buruk sudah terjadi pada saya."

​Devan melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kepala Aiswa. Alih-alih membalas dengan kata-kata lembut, ia justru mengeluarkan suara dinginnya yang khas.

​"Kenapa tidak mengecek apa yang kamu makan jika kamu tahu punya alergi mematikan? Kamu guru, Aiswa. Saya pikir kamu punya akal sehat yang lebih baik daripada murid-murid TK-mu," semprot Devan.

​Aiswa tersentak. Benar-benar pria ini! Padahal Aiswa baru saja ingin berterima kasih dengan tulus, tapi mulut pedasnya selalu berhasil memancing emosi.

​"Saya lapar, Pak. Saya tidak sadar kalau sup itu ada jamur yang dipotong kecil," bela Aiswa dengan suara lemah.

"Maaf kalau saya... merepotkan Bapak dan Zianna."

​"Enggak kok Tante Guru, Zia nggak repot. Zia cuma takut Tante pergi ke surga kayak Mama," celetuk Zianna polos.

Kalimat itu seketika membuat suasana kamar menjadi hening dan menyesakkan.

​Aiswa mengusap rambut Zianna dengan tangan yang tidak terinfus. Ia kemudian menatap Devan lagi.

"Pak Devan... sepertinya saya tidak bisa melanjutkan seminar ini. Tubuh saya butuh waktu untuk pulih. Saya akan bicara pada pihak yayasan dan saya akan pulang ke Jakarta. Urusan biaya tiket dan lainnya, saya akan pakai uang saya sendiri."

​Mendengar kata 'pulang' dan 'uang sendiri', rahang Devan mengeras. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Aiswa hingga gadis itu bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau obat.

​"Kita akan pulang... sekarang juga," ucap Devan dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan sedikit pun.

​Aiswa menelan salivanya dengan susah payah.

"Maksud Bapak... Bapak juga pulang? Tapi Bapak dan Zianna kan sedang liburan? Saya bisa pulang sendiri pakai pesawat komersil..."

​"Tidak ada pesawat komersil. Kamu pulang dengan jet pribadi saya. Dan jangan pernah berani menyebut soal 'biaya sendiri' di depan saya kalau kamu tidak mau saya membeli seluruh maskapai penerbangan itu hanya untuk membungkam mulut kamu," potong Devan tajam.

​Aiswa membelalakkan matanya.

Gila! Ni orang emang beneran sultan yang nggak punya rem kalau ngomong! batin Aiswa jengkel sekaligus ngeri.

​"Tapi Pak..."

​"Istirahatlah. Lucas sedang mengurus proses administrasinya. Begitu cairan infus itu habis, kita berangkat," ujar Devan sambil membenarkan letak selimut Aiswa dengan gerakan yang kasar namun sebenarnya sangat hati-hati.

​Aiswa hanya bisa terdiam pasrah. Ia terlalu lemas untuk berdebat dengan pria keras kepala ini. Lagipula, siapa yang bisa menolak pulang dengan jet pribadi saat tubuh sedang remuk redam? Namun, satu hal yang mengganjal di hatinya, Devan menyebut kata 'kita'.

​Maksudnya 'kita' itu, dia beneran mau ngikutin gue sampai ke rumah? Duh, mampus kalau ketemu Mama sama papa apalagi Aditya! batin Aiswa panik, sementara Devan terus menatapnya seolah Aiswa adalah aset paling berharga yang hampir saja hilang dari genggamannya.

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!