NovelToon NovelToon
DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siska bbt644

Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: SUAMIKU KASAR

Jam 9 malam, bau gosong nyengat dari dapur sampai ke ruang tamu yang sepi. Cuma ada suara detik jam dinding yang berisik di telinga Siska. Siska lagi nyuci piring di wastafel, tangannya keriput dan dingin karena kelamaan kena air. Airnya dingin banget, bikin tulang Siska ngilu. Tiba-tiba pintu depan kebanting. Prang! Siska kaget sampai piring di tangannya jatuh, pecah berantakan di lantai. Jantungnya copot. Dia hafal betul, itu pasti Raka yang pulang dengan emosi dari kantornya. Setiap malam Jumat begini, Raka pasti pulang dengan kepala panas. Siska sudah hafal jadwal nerakanya selama 3 tahun ini. Hari ini hari Jumat, tanggal gajian, tapi biasanya Raka malah habis uangnya di warung.

Raka masuk dengan muka merah dan keringatan. Baju dinasnya kusut, dasinya miring kayak habis begadang. Kancing atasnya lepas, kelihatan kaos dalam yang dekil. Matanya langsung melotot ke arah dapur sambil jalan nyolot, sempoyongan karena capek. Dia teriak kenceng: "Ini bau apa, hah?! Rumah kayak neraka! Lo bakar rumah?!" Suaranya bikin kaca jendela geter. Siska yang denger itu langsung merinding. Lututnya lemas. Dia tau, malam ini bakal panjang lagi. Di tangan Raka ada map coklat yang biasa dia bawa kalau ada masalah di proyek. Map itu sekarang lecek, sama leceknya kayak perasaan Siska. Biasanya kalau map itu lecek, bonus Raka dipotong mandor karena dimarahin bos.

Jantung Siska kayak mau copot dari tempatnya. Sabun di tangannya jadi licin karena keringat dingin. Siska nelen ludah, bibirnya gemetar mau jawab tapi gak keluar suara. Dia pelan-pelan balikin badan sambil lap tangan ke celemek yang udah bau bawang. Celemek itu udah bolong di tiga tempat. Dengan suara sepelan bisikan dia jawab: "A-aku... aku ketiduran tadi, Mas Raka... Fadil..." Di kepalanya cuma ada satu kata yang muter-muter: takut. Fadil di kamar sebelah pasti kebangun kalau Raka terus teriak begini. Fadil baru aja tidur habis dikompres 3 kali. Badannya masih anget, 38,5 derajat. Termometernya minjem Bu RT.

Suaminya, Raka, nyamperin sambil nyengat bau rokok dan alkohol dari mulutnya. Bau alkoholnya nyampur sama bau asem keringat, bikin Siska mual. Jari telunjuknya nunjuk tepat ke muka Siska, hampir nyentuh hidung. "Kamu tuh gak guna!" teriaknya. "Masak aja gak becus, jadi istri kok nyusahin terus! Gaji gue habis buat bayar cicilan motor, lo di rumah malah bikin kebakaran! Mau lo rumah ini ludes? Mau kita numpang di kolong jembatan?!" Ludahnya nyiprat ke pipi Siska. Kata-kata itu nusuknya lebih sakit dari disilet. Siska mau jelasin kalau tadi Fadil rewel, badannya panas sampai 39 derajat, dia kejang 2 kali, matanya mendelik ke atas, tapi mulutnya terkunci. Matanya mulai panas. Dia ingat tadi sore Fadil sampai biru bibirnya, Siska gendong lari ke klinik 2 kilometer, untung ada Bu RT yang mau nalangin bayar dokter 50 ribu.

Piring kotor di meja tiba-tiba dilempar Raka ke tembok. Prang! Pecahannya mental ke mana-mana, nyaris kena kaki Siska yang telanjang. Satu pecahan kecil kena betis Siska, perih. Siska jerit kecil, tapi kakinya beku di lantai kayak dipaku. Napas Siska ngos-ngosan, ketahan di dada. Di luar, suara hujan sama petir makin kencang, kayak lagi ngedukung amarah suaminya yang meledak-ledak. Siska ngerasa sendirian banget di dunia ini. Di sudut ruangan, jam dinding terus berdetak, menghitung detik-detik Siska menahan sakit. Setiap detakan itu seperti palu yang memukul jantungnya. Dia ingat, dulu Raka bukan seperti ini. Dulu tangan itu yang menggenggamnya lembut waktu akad, sekarang tangan yang sama mau menyakitinya. Waktu lamaran dulu Raka janji mau jadi imam yang baik, janji mau jagain Siska sampai tua. Janji itu sekarang tinggal debu, sama dengan debu di atas lemari yang gak pernah Siska sempat bersihkan karena ngurus Fadil seharian, nyuci, ngepel, masak.

Air mata Siska akhirnya jatoh juga, netes satu-satu ke lantai yang dingin. Lantai itu belum dipel dari pagi. Tapi dia maksa suaranya tetap tenang walau gemeter: "Aku udah masak dari maghrib, Mas. Fadil tadi panas tinggi, sampai kejang dua kali, matanya kebalik, jadi aku kelupaan matiin kompor... Aku panik, Mas. Aku takut Fadil kenapa-napa. Maafin aku. Aku cuma pengen Fadil selamat." Raka langsung nyela sambil ketawa sinis. "Alasan! Anak mulu yang lo bawa-bawa! Lo pikir gue gak tau lo chatingan sama laki lain?! Jangan-jangan anak itu bukan anak gue! Makanya lo belain terus! Dasar perempuan murahan!" Tuduhan itu bikin Siska bengong. HP-nya aja disita Raka dari minggu lalu. Dia gak pegang HP udah 7 hari. Gak ada pulsa, gak ada paket data. Fitnah keji itu lebih sakit dari ditampar, lebih hina dari diludahin. Fadil darah daging Raka, matanya sama persis, hidungnya sama, bahkan tahi lalat di pipi kiri sama.

Raka gak peduli Siska mau jelasin. Dia malah jambak kerah daster Siska sampai kancingnya copot satu. Siska sesak, napasnya kayak dirampas. "Alasan mulu! Lo pikir gue percaya?! Lo bohong terus! Lo maling uang gue juga kan?!" Teriakan Raka bikin telinga Siska berdenging, kepala jadi pening. Bau alkohol dari mulut Raka nyampur sama bau keringatnya, bikin Siska mual mau muntah. Di luar petir nyamber, seolah langit juga marah. Siska merem, nahan takut yang udah di ubun-ubun. Kancing daster yang copot itu menggelinding ke kolong meja. Itu kancing terakhir dari daster pemberian ibunya yang udah meninggal 2 tahun lalu karena kanker. Daster satu-satunya yang masih layak pakai. Yang lain udah bolong-bolong, udah gak pantes dipakai ke warung.

Sesuatu di dalam dada Siska putus, kayak kawat yang udah karatan. Tiba-tiba dia inget muka Fadil yang lagi tidur di kamar, bibirnya kering karena demam, badannya masih panas, inget janji ibunya dulu sebelum meninggal: "Kalau disakitin, lawan, Nak. Perempuan bukan samsak. Harga diri lo lebih mahal dari beras. Ibu gak ngelahirin lo buat diinjek laki. Ibu rela mati asal lo bahagia". Untuk pertama kalinya setelah 3 tahun nikah, Siska dorong tangan Raka dari kerahnya sekuat tenaga sambil bisik gemeter tapi jelas: "Cukup, Mas. Aku capek disakitin terus. Aku bukan binatang. Fadil butuh ibunya waras. Kalau Mas mau mukul, pukul aja sekalian sampai mati. Tapi jangan bawa-bawa anak saya." Suaranya pelan, tapi buat Raka itu kayak tamparan. Mata Siska yang biasanya nunduk, sekarang menatap lurus. Ada api di situ. Api yang udah 3 tahun dia pendam, sekarang nyala.

Raka kaget, mundur dua langkah sampai punggungnya kepentok kulkas. Kulkas bunyi bruk. Matanya melotot gak percaya, campuran kaget dan marah. "Berani lo ngelawan?! Lo istri durhaka! Lo mau gue ceraikan?! Lo mau jadi janda?!" Siska ambil napas panjang, matanya basah tapi nyala menatap Raka tanpa kedip. Malam itu, dia gak tidur di kamar yang pengap. Dia tidur di ruang tamu, di lantai keras cuma beralaskan karpet tipis yang bau apek, sambil genggam HP jadul butut yang disembunyiin di dalam daster. Di HP itu ada nomor tetangga yang jadi relawan LBH. HP butut itu satu-satunya harapan Siska. Dia ingat kata Bu RT minggu lalu pas nganterin bubur buat Fadil, "Kalau butuh bantuan, telpon saya ya Nak, jangan dipendam sendiri. Saya pernah di posisi kamu 10 tahun lalu, suami saya juga kasar". Nomor itu dia hafal luar kepala: 0812-3456-7890. Malam ini, Siska tau dia tidak sendiri. Ada orang baik di luar sana yang siap membantu. Karpet tipis itu dingin, tapi lebih hangat dari kasur yang dia bagi sama Raka. Lebih aman juga. Gak ada tangan yang tiba-tiba nyekik lehernya jam 2 pagi.

Jam 03.17 dini hari. Di luar hujan udah reda, tinggal rintik-rintik pelan. Atap bocor netes ke ember, tik... tik... tik. Dari kamar, Siska denger suara Raka ngorok kenceng, kayak gak ada dosa. Kayak gak habis nyakitin istrinya. Kayak gak habis nuduh anaknya bukan anaknya. Siska baru sadar, kata "suami" itu ternyata lebih sakit dari disayat pisau tumpul. Dia usap air mata, natap langit-langit yang retak. Retakan itu mirip hatinya, mirip rumah tangganya, mirip masa depannya kalau dia diam saja. Dan dia berjanji dalam hati, di depan Fadil yang besok ulang tahun ketiga: ini yang terakhir kalinya dia biarin dirinya diinjek-injek. Besok, Siska harus berani. Besok dia akan telepon Bu RT. Demi Fadil, demi dirinya sendiri. Demi ibu di surga yang pasti nangis lihat anaknya disiksa tiap hari. Cukup sudah air matanya untuk malam ini. Cukup sudah 3 tahun dia jadi pemadam kebakaran amarah Raka. Besok dia jadi pemadam untuk hidupnya sendiri. Besok dia mulai hidup baru.

1
Erniati Filiang
apaan sih ceritanya kok lama banget
Siska bbt644: Aduh Kak Erniati maaf banget bikin nunggu lama 😭🙏
Maya janji gak ngaret lagi. Bab 4 udah maya tulis,
malam ini jam 8 Maya up langsung.
Rahasia Kamar 301 dibongkar semua di bab 4 Kak.
Jangan kabur ya Kak, makasih udah setia baca ❤️
total 1 replies
Bundanya Rayfin
harusnya jgn terlalu lancang siska
Siska bbt644: Iya Bun 😭Maya emang keceplosan karena panik.
Doain ya Bun biar Maya gak lancang lagi di bab depan.
Makasih udah sayang sama Maya ❤️ Sehat2 Bunda & Rayfin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!