Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEBAT YANG MAKIN PANAS
Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela perpustakaan joglo mulai memudar, menyisakan warna oranye keemasan yang hangat di atas lantai kayu. Harum aroma kertas tua dan kopi yang sudah dingin menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang seharusnya tenang. Namun, di meja panjang sudut ruangan, suasana justru terasa seperti medan perang yang penuh percikan listrik statis.
Ana duduk tegak, tangannya melipat di depan dada dengan mata yang menyipit tajam. Di depannya, laptop terbuka lebar menampilkan draf Bab Dua yang telah ia kerjakan dengan cucuran keringat dan air mata selama seminggu penuh. Di seberangnya, Adi Pratama—dosen yang kini lebih sering ia panggil "Mas" di luar jam kampus—sedang melakukan ritual favoritnya: membedah setiap kalimat Ana seolah-olah itu adalah serpihan bukti kriminal.
"Ini revisinya. Semuanya. Sudah saya perbaiki sesuai catatan Mas minggu lalu," kata Ana, suaranya mengandung nada tantangan yang tipis.
Adi menarik laptop itu ke arahnya. Ia tidak langsung menjawab. Kacamata tipisnya bertengger sempurna di pangkal hidung, memantulkan cahaya layar. Jari-jarinya bergerak santai di atas trackpad, sementara matanya bergerak cepat menyapu barisan kata.
Ana terdiam, namun tangannya tak bisa diam. Ia mengambil sebuah pulpen dan mulai memainkannya.
Klik. Klik. Klik.
Suara itu memecah kesunyian, ritme kegelisahan yang sangat ia kenal.
Beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam berlalu. Adi tiba-tiba berhenti di tengah halaman. Ia tidak mendongak, hanya mengetuk layar dengan jari telunjuknya yang ramping. "Yang ini, Ana."
Ana langsung condong ke depan, pertahanannya naik seketika. "Kenapa lagi? Kurang apa lagi?"
Adi menoleh sedikit, menatap Ana dari balik bingkai kacamatanya. "Argumen kamu di sini masih lompat. Kamu menghubungkan poin A ke poin C tanpa menjelaskan jembatan di poin B. Pembaca akan bingung."
Ana menyandarkan punggungnya dengan kasar ke sandaran kursi kayu. "Mas... aku sudah perjelas alurnya di paragraf sebelumnya. Itu sudah sangat eksplisit."
"Belum cukup jelas untuk standar penelitian Psikologi Sosial," balas Adi datar.
"Mas bahkan belum baca sampai paragraf akhir di halaman itu!" seru Ana, suaranya sedikit naik satu oktav, membuat seorang pengunjung di meja jauh menoleh sebentar.
Adi menutup laptop itu perlahan, gerakan yang sangat tenang namun entah kenapa terasa sangat mendominasi. Ia menatap Ana lurus. Tatapannya fokus, tajam, namun ada sesuatu yang tidak lagi sedingin di awal pertemuan mereka dulu. "Justru karena saya sudah baca sampai akhir, saya tahu bagian tengahnya rapuh."
Ana mendesah panjang, sebuah helaan napas yang penuh dengan rasa frustrasi yang menumpuk. "Mas selalu bilang kurang, kurang, dan kurang. Rasanya apa pun yang aku tulis nggak akan pernah bener di mata Mas."
Antara Kritik dan "Lucu"
Adi menyilangkan tangan di dadanya, memperhatikan wajah mahasiswinya yang kini memerah karena kesal. "Karena memang belum cukup kuat untuk dipertanggungjawabkan di depan penguji nanti, Ana."
"Mas tahu nggak, ini sudah aku revisi tiga kali dalam seminggu? Tiga kali!" Ana mencondongkan tubuhnya ke depan, jarak mereka kini hanya terpisah oleh meja kayu yang sempit.
Adi mengangguk santai, sama sekali tidak terganggu dengan ledakan emosi Ana. "Tahu. Saya baca semua versi yang kamu kirim lewat email."
"Terus?"
"Masih perlu diperbaiki."
Ana memijat pelipisnya, merasa kepalanya mulai berdenyut. "Ya Tuhan... kenapa bimbingan sama Mas rasanya kayak mau ikut perang dunia ketiga sih?"
Tepat saat itu, Ana menangkap sesuatu. Sudut bibir Adi berkedut. Sebuah senyum kecil, sangat tipis, muncul di wajah pria itu.
"Kok Mas malah senyum?" tanya Ana curiga, matanya memicing.
Adi memperbaiki posisi duduknya, suaranya terdengar lebih santai. "Kamu lucu kalau lagi kesel."
Ana tertegun sejenak. Jantungnya berkhianat, berdetak sedikit lebih kencang mendengar kalimat yang terlalu personal itu. "Aku lagi serius, Mas. Ini skripsi, masa depan aku."
"Saya juga serius," jawab Adi, kini matanya menatap Ana dengan cara yang berbeda. "Ana, kalau saya terlalu lembut sama kamu, kamu tidak akan berkembang. Kamu punya ide-ide yang cemerlang, orisinal, dan berani. Tapi kamu sering buru-buru menyimpulkan karena ingin cepat selesai."
Pujian itu—meski dibungkus dengan kritik—terasa seperti oase bagi Ana. Sangat langka mendengar Adi memuji kapasitas intelektual seseorang. Ana menunduk, melihat drafnya lagi. Ia tahu Adi benar. Ia memang sering tidak sabar.
"Mas ini kalau di kelas juga begini ya?" tanya Ana pelan, suaranya kini melunak.
"Begitu gimana?"
"Membuat orang merasa harus terus-menerus membuktikan diri. Membuat orang merasa... tertantang?"
Adi tidak langsung menjawab. Ia menatap Ana cukup lama, seolah sedang menimbang-nimbang sejauh mana ia harus membuka diri. Keheningan di antara mereka kali ini terasa berbeda—tidak ada ketegangan, hanya ada rasa ingin tahu yang dalam.
"Tidak semua orang saya perlakukan seperti itu," kata Adi akhirnya.
Ana langsung mengangkat wajahnya. "Kenapa aku?"
"Karena kamu bisa melaluinya. Dan karena saya tahu kamu tidak akan menyerah hanya karena dikritik," jawab Adi tanpa ragu sedikit pun.
Suasana tiba-tiba terasa terlalu hening. Ana bisa mendengar suara detak jam dinding di perpustakaan itu. Jarak di antara mereka di meja itu terasa menyusut. Ana merasa perlu memecah suasana sebelum jantungnya benar-benar meledak.
"Mas tahu nggak..."
"Apa?"
"Aku dulu benci banget sama Mas. Serius. Waktu pertama kali liat Mas 'ngebantai' Mbak Ratih di sidang, aku mikir: Duh, jangan sampe deh dapet dosen pembimbing atau penguji kayak gini."
Adi tertawa kecil, tawa yang tulus dan membuat wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda. "Dulu?"
Ana memutar bola matanya, mencoba menyembunyikan senyum yang mulai muncul. "Iya, dulu."
Adi mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke meja. "Sekarang?"
Ana terdiam sesaat. Ia menatap mata tajam di balik kacamata itu, menyadari bahwa rasa benci yang dulu ia pupuk kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit, sesuatu yang melibatkan kekaguman, kenyamanan, dan mungkin... rasa suka.
"Sekarang... masih!" jawab Ana cepat, sedikit berbohong untuk menjaga gengsinya.
Adi tertawa pelan, bahunya berguncang. "Tuh kan, Mas tertawa! Mas emang seneng banget ya liat aku menderita?"
"Saya hanya menikmati dinamika ini," aku Adi jujur. Ia memang tidak menyangkal bahwa ia menyukai setiap detik perdebatan mereka. Ia menyukai cara Ana mengerutkan kening, cara gadis itu tidak pernah mau kalah, dan cara matanya bersinar saat ia berhasil mempertahankan argumennya.
"Ya sudah," kata Adi kemudian, sambil memutar kembali laptop itu ke arah Ana. "Kita perbaiki lagi bagian ini sedikit saja. Setelah itu, kamu boleh pulang dan istirahat."
Ana menatap layar laptopnya, lalu mendesah panjang. "Mas... kalau skripsiku selesai nanti..."
Adi menunggu, menopang dagunya dengan tangan, menatap Ana dengan ekspresi penuh minat.
"Aku nggak mau ketemu Mas lagi deh kayaknya," lanjut Ana dengan wajah setengah kesal.
Adi tertawa. "Boleh."
"Tapi masalahnya, kita masih satu kampus. Pasti bakal ketemu lagi," keluh Ana sambil menutup laptopnya pelan. Ia menatap Adi lagi, menyadari bahwa meski pria ini sangat menyebalkan, ia tidak bisa membayangkan proses skripsinya dibimbing oleh orang lain.
"Mas benar-benar nyebelin," gumam Ana.
Adi menjawab ringan, "Saya tahu." Ia lalu menambahkan dengan nada santai namun sarat makna, "Tapi anehnya, kamu tetap datang bimbingan tiap minggu tanpa absen, kan?"
Ana langsung mendengus, merapikan tasnya dengan gerakan gusar. "Itu karena skripsi, Mas! Aku pengen lulus!"
Adi mengangguk, namun senyum tipis di wajahnya tidak hilang. "Yah... tentu."
Ana berdiri, bersiap untuk pergi. Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa alasannya datang tiap minggu bukan lagi sekadar soal tanda tangan di lembar pengesahan. Ada magnet yang lebih kuat dari sekadar gelar sarjana di meja bimbingan itu.
Sambil melangkah keluar perpustakaan, Ana bergumam pada dirinya sendiri, "Bener-bener dosen killer... tapi kenapa malah bikin kangen, sih?"
*
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍