Wajib Follow Sebelum Baca.
" 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝... 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙯𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖.
Valerie dan Matthew saling mencintai... tapi cinta mareka tidak pernah benar-benar tenang.
Hubungan mareka di uji oleh restu tak kunjung datang, tekanan keluarga, dan tekanan keluarga, dan keadaan yang perlahan menjatuhkan mareka.
Saat mareka masih berjuang untuk bertahan, seseorang datang kembali_membawa sesuatu yang lebih dari sekedar masa lalu.
La menginginkan Matthew.
Bukan hanya untuk di cintai... tapi untuk dimiliki.
Perlahan, tanpa mareka sadari, hubungan yang mareka jaga mulai retak.
Bukan karena mareka berhenti saling mencintai, tapi karena ada seseorang yang siap menghancurkan segala nya.
Kini, cinta mareka bukan tentang bertahan... tapi tentang siapa yang lebih kuat _
cinta... atau obsesi.
( Bismillah semoga rame 🙏)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALIFA RAHMA LATIFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : Ketakukan Dan Kebenaran.
" Kejujuran Terhadap perasaan sendiri dan menghadap kemungkinan hubungan yang mendalam bisa terasa menakutkan. Namun, menyadari kebenaran dalam hati adalah langkah awal untuk menghadapi apa pun yang akan datang - baik itu untuk mengambil langkah maju atau memutuskan batasan yang tepat bagi diri sendiri. "
...
Hari itu sekolah terasa lebih ramai dari biasanya.
Bukan karena ada event.
Bukan karena ada lomba.
Tapi karena satu rumor yang menyebar cepat seperti virus.
Matthew Lucian Wycliffe mulai dekat dengan Valerie Evangeline Kingsley.
Dan rumor itu.
Bikin setengah sekolah heboh.
Valerie berjalan di Koridor menuju kelas, wajahnya datar seperti biasa. Tapi telinganya menangkap bisikan-bisikan.
" Gila.. katanya Matthew sama Valerie sering berdua Di Lab 7."
" Kayaknya Matthew benaran suka Valerie. "
" Reina gimana dong? "
Valerie menahan napas.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Nara berjalan di sampingnya, menahan senyum.
" Val, " bisik Nara. " Lo kuat banget ya. digosipin gitu masih bisa jalan elegan. "
Valerie menatap Nara.
" Gue pengen lemper orang-orang itu pake buku. "
Nara tertawa kecil.
" Wajar. "
Valerie melanjutkan jalan.
Namun baru berapa langkah...
Valerie melihat sosok yang membuat langkahnya terhenti.
Reina.
Cewek itu berdiri di ujung koridor, seolah sengaja menunggu.
Dengan senyum tipis yang tidak ramah.
Valerie menatapnya datar.
Reina mendekat pelan, langkahnya tenang seperti dia tidak pernah takut pada siapapun.
Saat jarak mareka tinggal satu meter, Reina berhenti.
" Kita bisa ngomong sebentar? " tanya Reina.
Nada suaranya lembut.
Tapi mata Reina tajam.
Valerie menatap Nara sebentar.
Nara langsung menangguk kecil, lalu mundur berapa langkah.
Valerie menatap Reina.
" Ngomong apa? "
Reina tersenyum kecil.
" Lo dekat sama Matthew ya? "
Valerie menghela napas pelan.
" Gue satu tim sama dia. itu aja. "
Reina menatap Valerie lebih dari atas bawah.
" Lo tau nggak.. " ucap Reina pelan, " Matthew itu bukan tipe cowok yang gampang tertarik sama cewek. "
Valerie menatap datar.
" Terus? "
Reina melangkah sedikit lebih dekat.
" Terus... gue udah suka dia dari lama. "
Valerie diam.
Tapi wajahnya tetap dingin.
Reina menatap Valerie, menunggu reaksi.
Namun Valerie hanya berkata singkat.
" Oke. "
Reina mengernyit.
" Oke? "
Valerie meangkat alis.
" Lo mau gue jawab apa? selamat? "
Reina tersenyum miring.
" Gue cuma mau lo tau posisi lo. "
Valerie tertawa kecil, sinis.
" Posisi gue? "
Reina menatap Valerie.
" Lo cuma murid baru, Valerie. Matthew itu udah jadi pusat sekolah ini dari dulu. "
Valerie mendekat setengah langkah.
Tatapannya berubah tajam.
" Dan lo pikir gue peduli ? " tanya Valerie pelan.
Reina terdiam sesaat.
Valerie melanjutkan, suaranya datar tapi menusuk.
" Gue nggak ngejar siapa-siapa. gue nggak butuh perhatian sekolah ini. jadi... jangan bawa-bawa gue ke drama lo. "
Reina menatap Valerie dengan mata menyipit.
Namun Valerie sudah membalikkan badan.
Sebelum pergi, Valerie berkata pelan.
" Tapi kalau lo ganggu gue lagi.. "
Valerie menoleh sedikit.
"... Gue nggak bakal diam. "
Reina terdiam.
Dan Valerie berjalan pergi.
Nara langsung mengejar.
" VAL! gila lo keren banget! " bisik Nara heboh.
Valerie mendengus.
" Gue cuma muak. "
Tapi jauh dalam hatinya...
Valerie merasa ada yang menganggu.
Karena perkataan Reina membuat Valerie sadar
satu hal :
Reina benar. Matthew bukan tipe cowok yang gampang tertarik.
Jadi kalau Matthew mulai berubah...
Itu berarti..
Matthew serius.
Dan itu membuat Valerie takut.
...
Sore hari.
Lab 7 kembali menjadi tempat mareka bertemu.
Valerie datang lebih awal.
Ia berdiri dideket jendela, menatap hujan tipis yang turun.
Pikirnya kacau.
Ucapan Matthew semalam masih teringang.
" Gue nggak pernah nyaman sama cewek mana pun.. kecuali sama lo. "
Valerie mengusap wajah pelan.
" Gila.. " gumam Valerie.
Pintu Lab terbuka.
Matthew masuk.
Saat Matthew melihat Valerie berdiri dideket jendela, ia berhenti sejenak.
Mata Matthew menatap Valerie lebih lama dari biasanya...
Valerie menoleh.
Tatapan mareka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya...
Tidak ada ejekan.
Tidak ada nyolot.
Tidak ada kata-kata menyebalkan.
Hanya hening yang terasa berat.
Matthew melangkah masuk pelan, menutup pintu.
" Lo kenapa? " tanya Matthew.
Valerie menggeleng kecil.
" Gue nggak kenapa-napa. "
Matthew mendekat.
" Lo bohong. "
Valerie menatap Matthew tajam.
" Lo juga. "
Matthew diam.
Valerie menelan ludah.
" Reina tadi ngomong sama gue, " ucap Valerie akhirnya.
Matthew mengernyit.
" Dia ngomong apa? "
Valerie menarik napas panjang.
" Dia bilang... dia suka lo dari lama. "
Matthew terdiam.
Valerie melanjutkan, suaranya pelan.
" Dan dia bilang gue cuma murid baru yang numpang lewat. "
Matthew menatap Valerie.
Sorat matanya berubah.
Lebih gelap.
Lebih serius.
Matthew berjalan mendekat.
" Dia ngomong gitu? "
Valerie menangguk kecil.
Matthew mengepalkan tangan.
Valerie menatap Matthew.
" Aneh ya... " ucap Valerie pelan. " Gue seharusnya nggak peduli. "
Matthew menatap Valerie.
" Tapi lo peduli. "
Valerie menelan ludah.
Valerie mengalihkan pandangan.
" Gue cuma kesal aja. karena dia sok ngatur. "
Matthew mendekat lagi.
" Valerie. "
Suara Matthew rendah.
Valerie menoleh.
Matthew berdiri tepat didepannya.
Terlalu dekat.
Valerie bisa merasakan napas Matthew.
Matthew menatap Valerie dalam.
" Gue nggak peduli sama Reina, " ucap Matthew pelan.
Valerie membeku.
Matthew melanjutkan.
" Gue nggak pernah peduli sama siapa pun. "
Valerie menatapnya.
Matthew menelan ludah.
Seolah kalimat berikutnya berat untuk keluar.
Tapi akhirnya Matthew berkata :
" Gue peduli sama lo. "
Hening.
Valerie tidak bergerak.
Jantungnya berdetak cepat, seperti mau pecah.
Valerie menatap Matthew.
Matanya mulai berkaca-kaca, tapi Valerie menahan.
Karena Valerie tidak mau terlihat lemah.
" Lo tau kenapa gue gangguin lo dari awal? " tanya Matthew.
Valerie menggeleng pelan.
Matthew tersenyum kecil, getir.
" Karena gue kesal. "
Valerie mengerutkan kening.
" Kesal kenapa? "
Matthew menatap Valerie.
" Karena lo datang, semua orang langsung heboh. "
Matthew menarik napas.
" Dan gue.. ngerasa kalah. "
Valerie membeku.
Matthew mengaku kalah?
Matthew melanjutkan.
" Tapi makin lama.. " suara Matthew melemah.
" ... Gue sadar gue bukan iri sama popularitas lo. "
Matthew menatap Valerie.
" Gue iri karena lo bisa senyum tulus . Lo bisa ramah. Lo bikin orang nyaman. "
Matthew tertawa kecil, tapi tidak ada lucunya.
" Sedangkan gue? Gue cuma tau cara menang. "
Valerie menatap Matthew, dadanya terasa sesak.
Matthew melangkah lebih dekat.
Dan kali ini..
Valerie tidak mundur.
Matthew menatap Valerie seolah dunia tinggal mareka berdua.
" Gue suka sama lo, Valerie. "
DENG!