Alya adalah mahasiswi cantik yang masih polos. ia sangat manis dan ceria. suatu hari kecelakaan saat mereka pergi berlibur telah menewaskan ibunya.
ayahnya lalu menikah sepeninggal ibunya. lima tahun setelah ayahnya menikah dengan ibunya. ayahnya meninggal karena serangan jantung. kini ia hidup dengan ibu tirinya berdua saja. namun sejam lima bulan meninggalnya ayahnya, ibunya akhirnya memiliki pacar baru. dilema muncul saat calon ayah tirinya jatuh cinta padanya. apa yang harus Alya lakukan dengan keadaan itu. sementara ayah tirinya adalah crussnya saat sekolah dulu. Di balik itu dia punya pacar bernama Anjasmara seorang penderita NPD temperamen yang terlalu mencintainya. Akankan dia bisa menghadapi kedua lelaki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM YANG CANDU
Anjasmara berdiri di depan pintu menatap Alya yang nampak bak putri cantik karena sudah berganti pakaian. Anjasmara menyiapkan sehelai baju tidur untuknya.
Anjasmara benar-benar dimabuk cinta pada Alya. Setiap helai rambut Alya tidak boleh terjamah oleh yang lain selain dirinya. Bahkan nyamuk pun tidak diperkenankannya menggigit dirinya.
"Anjasmara, kamu mau apa?"
Pertanyaan itu membuat Anjasmara jadi tersulut emosinya. Pertanyaan seseorang yang dicintainya, tapi orang yang dicintai itu ogah untuk diperlakukan romantis.
"Kamu mau apa Anjasmara?" Pertanyaan itu diulangnya kembali.
"Alya, aku mau tubuhmu!" Dengan mata nakalnya Anjasmara menatap Alya.
"Tidak bisa Anjas, kita belum menikah."
"Akan, sekali lagi kataku aku akan jadi milikku!"
"Tapi bukan berarti aku jadi milikmu, bukan berarti seenaknya kamu bisa perlakukan aku semau kamu."
"Masih melawan, hah!" Anjas mulai kasar lagi, kini ia menarik tangan Alya biar menurut padanya.
"Anjas lepas!" Alya berusaha melepaskan tangannya. "Bisa kan gak pakai kekerasan."
"Gak, kalau kamu nurut, aku gak akan kasar!"
"Tapi, ini sakit Anjasmara." Lagi-lagi Alya berusaha melepaskan cengkraman tangan Anjasmara dari tangannya."
"Diam makannya kataku!"
"Anjas, nanti mama kamu dengar pelankan suaramu." Alya mulai melunak. Dia tidak mau kalau mamanya Anjasmara sampai dengar pertengkaran mereka.
"Anjasmara, please." Dengan muka memelas Alya memohon pada Anjasmara agar dia tidak kasar lagi. Ia hanya ingin istirahat, badannya capek banget hari ini. Pulang dari perjalanan jauh dan dapat tekanan batin dan fisik dari Anjasmara bukalah persoalan sepele.
"Anjasmara, sini, duduk di sini yuk." Alya berusaha mengalihkan nafsu liar Anjasmara, yang ingin bercinta dengan Alya malam itu. Alya tahu maksud dan keinginan Anjas. Nampak jelas dari matanya. Alya tidak mau Anjasmara melakukan itu padanya. Walau bagaimanapun hal itu adalah mahkota bagi dirinya, ia tidak akan sembarangan memberikan pada sembarangan orang. Termasuk Anjasmara, kekasihnya.
"Anjasmara, yuk, ngobrol aja yuk. Kamu belum menanyaiku bagaimana perjalananku tadi."
Anjasmara mulai melunak. Bagaimana sapi yang dicocol hidungnya, ia nurut dengan perkataan Alya. Alya menuntunnya duduk di sisi tempat tidur. Sementara ia duduk di bangku yang berhadapan dengan Anjasmara.
"Anjasmara, kamu tahu perumpamaan sebuah permen yang sudah terjamah dan yang tidak. Dua permen di letakkan di tempat bersisian. Yang satu dibiarkan dengan masih terbungkus rapi. Yang satu lagi, dicoba oleh satu dan dua orang. Menurutmu, lalat akan menempel pada permen yang mana?"
"Permen yang sudah dijilati orang lain."
"Nah, begitulah perempuan Anjasmara. Aku tidak mau jadi permen yang kedua. Setelah dijilati lalu menjadi permen yang tidak ada harganya, dihinggapi lalat."
"Maksudmu, apa?"
"Anjas, kalau kamu sungguh-sungguh sayang padaku, kamu gak akan merusakku. Kamu akan menjagaku sampai aku benar jadi milikmu selamanya."
Perkataan Alya seperti sengatan listrik yang mungkin sakit tapi menyadarkan dia untuk tidak gegabah lagi.
"Anjasmara, untuk saat ini kita masuk kuliah. Kamu tidak mau kan merusak masa depan kita. Hanya untuk kesenangan sesaat, kits merusak masa depan kita. Merusak impian kita."
"Lalu, aku harus menahan nafsuku."
"Harus Anjasmara."
"Aku tidak bisa, kamu terlalu menggoda."
"Aku akan perbaiki cara berpakaianku kalau membuat kamu jadi sudah mengendalikannya."
"Tidak perlu."
"Lalu?"
"Aku akan berusaha mengendalikannya."
"Bagus kalau begitu bolehkah aku beristirahat, aku sangat capek Anjasmara, aku baru pulang dari luar kota, aku butuh istirahat."
Anjasmara paham akhirnya. Ia menurut pada Alya. Entah menurut karena kasihan pada Alya yang kelihatan lelah, entah mulai sadar dengan kalimat Alya tadi.
"Tapi bolehkah aku memelukmu sebagai ucapan selamat malam, Alya?"
Alya tersenyum mendengarnya. Anjasmara seperti anak kecil yang minta pelukan dari ibunya. Ia minta dipeluk agar bisa tidur juga.
Alya lalu memeluk Anjasmara. Pelukan rasa sayang pada kekasihnya.
karena vivi itu licik