Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi Yang Bangkit : Selesai
Peter bangkit perlahan dari hempasan itu, tubuhnya terlentang di luar ruangan seperti boneka yang baru dilempar keluar jendela. Ia menggeram pendek, rasa panas menjalar di rahang.
“Sialan dia ini…” gumamnya, masih sulit menerima kenyataan bahwa bocah yang tadi ia remehkan bisa mengirimnya keluar seperti peluru. Pandangannya naik, dan di sanalah Rio, berjalan mendekat, langkahnya stabil, napasnya berat tapi matanya tajam.
Ketika Peter memperhatikan lebih dalam, rasa waspadanya melonjak. Ada sesuatu pada cara Rio bergerak, seperti tubuhnya memetakan gaya bertarung Peter dari sisa-sisa pukulan barusan. “Adaptasinya gila… bisa berbahaya jika ku biarkan."
Peter mengepal tangannya, memaksa tubuhnya berdiri tegak lagi. Untuk pertama kalinya, ia perlu menghabisi lawan di hadapannya,
Rio berhenti tepat di depan retakan tembok yang ia buat tadi. Hembusan napasnya bercampur debu, tapi langkahnya tetap mantap. Keduanya seakan tahu sama-sama tak bisa menunda lagi. Ketegangan itu seperti tali busur yang ditarik sampai batasnya.
Tanpa aba-aba, mereka berdua menerjang. Jejak kaki menghantam tanah hampir bersamaan, dan tangan kanan masing-masing terangkat dalam gerakan yang identik. Dua Hook kanan menghantam di waktu yang sangat sama, begitu presisi hingga terdengar seperti satu pukulan besar menggema di udara.
Tinju mereka mendarat di wajah masing-masing. Kepala Rio terdorong ke samping, sementara wajah Peter terpelintir oleh impact. Benturan itu membuat keduanya terpental mundur, tumit menggeser tanah, seolah tubuh mereka menikmati kerasnya duel ini. Tidak ada yang jatuh, tapi keseimbangan mereka nyaris rontok.
Masing-masing mengatur napas, bahu naik turun. Tubuh mereka sudah dipaksa mencapai batas. Rasa logam memenuhi mulut, lengan terasa berat, dan dunia berputar sedikit setiap kali mereka berkedip.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan tanda menyerah. Kedua petarung itu berdiri, sama-sama babak belur, sama-sama keras kepala, sama-sama sadar satu hal.
Rio menahan napasnya yang mulai patah-patah. “Ini sulit sekali…” pikirnya. Peter benar-benar menjadi lawan terberat yang pernah ia hadapi. Tubuhnya memang terus berkembang tiap kali bertarung, tapi sekarang ia bisa merasakan batas itu menabrak dirinya balik.
Kakinya gemetar, punggungnya membungkuk, dan napasnya seperti bara kecil yang hampir padam. Di depan sana, Peter sama saja. Tubuh raksasa itu tak lagi kokoh; ia terhuyung seperti kapal tanpa kemudi.
Peter mengusap wajahnya, namun tangannya sendiri tak stabil. “Apa ini…? Penglihatanku buram…” gumamnya. Rio melihat celah itu dan maju, tapi Peter juga melihat gerakan itu dan ikut menerjang.
Dua tubuh yang sudah habis-habisan kembali beradu, bukan dengan teknik rapi, tapi dengan sisa naluri bertahan hidup. Mereka menghajar satu sama lain dengan pukulan yang tidak lagi punya arah jelas, hanya mengikuti sisa tenaga yang tersisa.
Di detik terakhir, Peter memaksa lengannya mengangkat Hook kanan. “Ini tenaga terakhirku…!!!” teriaknya, sebuah raungan putus asa agar tubuhnya patuh.
Rio merasakan arti serangan itu bahkan sebelum mendarat. Tangan kanan Rio sudah mati rasa, jadi ia memutar tubuh, memaksa tumit kanannya mengayun ke sasaran. “Ini tendangan terakhirku…!”
Dua serangan terakhir itu saling menelan korban. Hook Peter menghantam wajah Rio, membuat kepala bocah itu terlempar ke samping. Namun di waktu yang sama, tumit Rio mendarat tepat di leher Peter, menghentikan laju tubuh besar itu seperti memukul saklar utama. Peter terjatuh lebih dulu, keras, dan tak bangun lagi.
Rio masih berdiri, meski tubuhnya membungkuk seperti dahan rapuh setelah badai. Nafasnya berat, tapi matanya tetap terbuka. Dari kejauhan, Peter menggerakkan bibirnya sebelum kesadarannya hilang. “Tak kusangka… ada hari di mana aku dikalahkan oleh junior-ku…” Suaranya memudar seiring tubuhnya menyerah pada luka-luka itu.
Kesadaran Rio bertahan keras, seakan ada tangan tak terlihat yang menahannya agar tidak jatuh. “Aku menang… kan? Harus menemui Rani…” Ia memaksa kakinya bergerak. Darah menetes mengikuti langkahnya, membentuk jejak tak rapi di lantai. Ketika ia keluar ke jalan, orang-orang yang melihatnya hanya bisa menatap dengan campuran ngeri dan tidak percaya. Seorang bocah penuh luka, berjalan seakan dikejar waktu.
Ia terus berjalan, menahan rasa sakit yang menyalak di seluruh tubuhnya, hingga akhirnya sosok taman itu muncul di depan mata. Tempat yang sama, tapi dengan beban tubuh yang jauh lebih berat.
Di taman, Rio akhirnya tiba. Tubuhnya sudah tidak mampu berdiri tegak, langkahnya miring seperti angin kecil saja bisa meruntuhkannya."uhh,ini sakit sekali.." katanya lemah.
Dari jauh, ia melihat Rani tersenyum bersama Riko dan Eliza. Tatapan itu mereda, lembut, seolah seluruh luka di tubuhnya tidak berarti. “Baguslah… dia terlihat senang…” bisiknya pelan, lebih seperti napas yang terseret keluar daripada kata-kata.
Riko yang sedang berjaga menoleh, dan matanya langsung membelalak. “Rio!!?” Jeritannya memecah suasana.
Rani ikut menoleh dan detik berikutnya gadis kecil itu berlari secepat mungkin, menghambur ke arah kakaknya. Ia memeluk Rio yang perlahan duduk karena tidak kuat.
“Kakak… kau sudah kembali…” Tangisnya pecah lagi dengan lega, bukan putus asa.
Rio mengangkat tubuhnya sedikit, memaksa berdiri untuk bisa jongkok di depan adiknya. Tangannya yang penuh luka mengelus kepala Rani dengan lembut, bertolak belakang dengan kondisi tubuhnya yang seperti habis digilas dunia.
“Aku kembali…” katanya sambil tersenyum dengan mata tertutup, seolah menenangkan bukan hanya Rani, tapi dirinya sendiri.
Ia bangkit dengan napas berat, lalu menatap Riko.
“Ehehe… sudah kubilang ini akan sedikit lama…” katanya, mencoba melempar candaan meski darah masih mengering di bajunya.
Riko hanya bisa menggeleng kecil, antara kagum dan tidak percaya bagaimana bocah ini masih sempat bercanda di kondisi begitu hancur.
Namun tubuh Rio akhirnya menyerah. Kakinya goyah, lalu seluruh badannya jatuh ke depan. Tidak ada teriakan, hanya suara tubuh yang hampir ambruk ke tanah. Riko bergerak menangkap sahabatnya sebelum Rio menyentuh tanah.
“Tidak… kau cepat,” gumam Rio dengan suara yang hampir hilang. Riko menahan tubuhnya dan tersenyum lemah.
Rani memeluk tangan kakaknya sambil menangis lagi, kali ini bukan karena takut, tapi karena Rio benar-benar kembali.
Eliza berdiri beberapa langkah di belakang, menutup mulutnya, terkejut melihat kondisi sebenarnya dari bocah yang selama ini tampak biasa di kelas.
Di antara nafas yang tersengal dan tubuh yang penuh luka, Rio tetap tersenyum. Ada rasa puas dalam tatapannya. Ia sudah menepati janjinya: kembali pada adik yang menunggunya. Dan untuk Rio, itu sudah cukup.