Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cem-cemanku
Begitu sampai, Keira menarik napas dalam sebelum mengetuk pelan pintu ruang CEO.
Tok… tok… tok...
Suara bariton Ethan yang dalam menyambut dari dalam. “Masuk.”
Keira mendorong pintu dengan satu tangan, wajahnya setengah cemberut sambil masih menggenggam sendok plastik dari kantin. “Bapak manggil saya?”
Ethan duduk di balik meja kerja besar berlapis kayu hitam, kemejanya digulung sampai siku, menampilkan otot lengan yang tegas.
Di atas meja dekat sofa, sudah terhidang dua porsi makanan hotel—nasi steak, salad, dan jus jeruk dingin.
Ethan melirik Keira sekilas, lalu berkata datar tapi nadanya menggoda. “Duduk.”
Keira mengerjap bingung. “Lho, saya disuruh nemenin Bapak makan, bukan disuruh makan bareng.”
Ethan menatapnya tajam, tapi dengan sorot mata yang hangat entah kenapa—membuat jantung Keira berdetak tak karuan. “Kamu sekretarisku. Kalau aku makan, kamu juga harus makan. Aku nggak suka makan sendirian.”
Keira melongo. “Heh? Aneh banget sih peraturannya…”
“Peraturanku, bukan peraturan kantor.” sahut Ethan santai.
Keira mendengus, tapi akhirnya duduk di kursi seberang. Ia masih sempat komat-kamit sendiri. “Yaelah, CEO macem apa maksa orang makan.”
Ethan menyodorkan piring steak ke arahnya. “Kamu suka medium rare?”
“Saya suka yang matang, Pak. Soalnya saya nggak doyan daging masih berdarah.” jawab Keira blak-blakan.
Ethan tersenyum tipis. “Tapi kamu tetap makan hati yang berdarah waktu disakiti orang, kan?”
Keira refleks menatap Ethan, kaget sekaligus… terpukul?
Ia berdehem pelan. “Bapak ngomong apaan sih? Bapak nyindir ya?”
Ethan hanya menatapnya lama, matanya redup tapi dalam. “Aku cuma bilang… kadang kita terlihat kuat, tapi sebenarnya sedang menahan banyak hal.”
Keira gugup. Ia menunduk, menusuk steak dengan garpu asal.
“Aduh… Bapak nih ya, gaya bicaranya kayak pujangga. Tapi ngomongnya bikin deg-degan.” ucap Keira ceplas-ceplos untuk nutupin rasa canggung.
Mata Ethan menelusuri Keira pelan. “Deg-degan itu bagus. Berarti kamu sadar aku di sini.”
Keira lansung pura-pura marah. “Bapak ini kenapa sih? Dari tadi ngomongnya aneh mulu. Mau bikin saya salah tingkah?”
Ethan bersandar di sofa yang didudukinya, senyumnya kecil tapi menohok. “Sudah berhasil, sepertinya.”
Keira langsung tersedak jus jeruknya. “Hhkk! Astaga, Bapak! Ngomong apa sih!”
Ethan buru-buru berdiri, lalu mengambil tisu di meja. Tapi bukannya memberikan tisu itu ke Keira, ia malah mengusap sendiri sudut bibir Keira yang kena jus.
Gerakan itu lembut, nyaris intim.
Keira terpaku. Wajahnya langsung memanas. “P… Pak Ethan, saya bisa sendiri kok.”
“Aku tahu. Tapi aku suka melakukannya sendiri.” sahut Ethan santai.
Tatapan Ethan turun sesaat ke bibir Keira yang merah, lalu kembali ke matanya.
Udara di ruangan seolah menipis.
Keira buru-buru berdiri dan mundur satu langkah. “Udah, saya balik kerja. Kalau Bapak butuh apa-apa, tinggal panggil aja.”
Tapi Ethan dengan cepat menarik pergelangan tangannya, hingga Keira terkejut.
"Aakkhh!" pekik Keira saat menabrak dada bidang Ethan.
Ethan menyeringai tipis. Satu tangannya menahan pinggang ramping Keira. Sementara tangan yang lain membelai wajah cantik Keira, hingga gadis itu menahan napas dengan jantung berdebar kencang. “Aku memang butuh sesuatu. Yaitu... KAMU.” bisiknya mengecup pipi Keira.
Keira tiba-tiba ngeblank. Matanya berkedip-kedip lucu.
Ethan tersenyum tipis melihatnya, hingga Keira tersadar.
"Ih... Bapak kok cium-cium saya?!" Keira buru-buru mendorong dada bidang Ethan, lalu mengusap pipinya yang merona.
Ethan terkekeh pelan, hingga Keira terpesona.
Keira berdehem pelan, mencoba biasa saja, padahal aslinya sudah ambyar. “Bapak tuh ya... ngomongnya kayak di drama. Saya ini sekretaris, bukan cem-ceman!”
Ethan hanya tersenyum tipis, lalu duduk di kursi kebesarannya, matanya masih mengikuti setiap gerakan Keira. “Belum.” ucapnya pelan.
Keira berhenti di depan pintu, menatapnya setengah curiga. “Belum apaan?”
Ethan menatapnya santai, tapi suaranya dalam dan menohok. “Belum jadi cem-cemanku.”
Keira melongo beberapa detik, lalu buru-buru keluar sambil menutup pintu dengan wajah merah padam.
“Astaga… nih orang CEO apa playboy sih… jantungku bisa jebol lama-lama!” bisik Keira panik sambil jalan menjauh dari ruangan tersebut.
Dari balik pintu, Ethan tersenyum samar. “Masih sama seperti dulu… selalu membuatku kehilangan kendali.” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
...----------------...
Keira keluar dari ruang CEO dengan langkah cepat, pipinya masih merah padam.
Ia menunduk sambil berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdetak tak karuan.
Tangannya gemetar halus—antara kesal, malu, dan… entah kenapa senang.
Begitu sampai di meja kerjanya, dua sosok langsung menyerbu seperti singa kelaparan gosip.
“Woii, Keiraaa! Lo dari ruang CEO, kan? Ngapain aja lo di dalem?!” seru Livia cepat.
Nolan menimpali dengan gaya banci, lebay. “Astaga sayang, jangan bilang lo dipromosiin jadi calon istri bos! Gue bisa teriak ‘ya ampun!’ nih kalo beneran!”
Keira menatap mereka dengan wajah datar. “Nggak ada apa-apa. Cuma makan siang doang.”
Livia langsung mendelik. “Makan siang doang? Sama Pak Ethan? Di ruangannya? Berdua?!”
“Honey, kalo cuma makan siang, kenapa muka lo merah kayak abis disunburn sama sinar cinta?” tanya Nolan.
Keira pun panik, langsung menutupi pipinya. “Apaan sih kalian! Biasa aja kali! Makan, ngobrol dikit, udah!”
“Ngobrol dikit? Ngobrol kayak gimana? Ngobrol yang ‘eh nasi kamu tumpah di hati aku’ gitu?”
Nolan ikut menirukan gaya romantis lebay. “Atau yang kayak ‘sayang, daging steak-nya nggak seenak kamu’~ gitu?”
Keira memukul lengan Nolan pelan tapi kesal. “Mulut lo bisa dijahit nggak, Nol?! Serem banget sumpah!”
Nolan langsung merajuk dramatis sambil kipas-kipas diri pakai map. “Ih, nyolot banget sih, padahal gue cuma bantu lo nyadarin realita, beb! CEO-nya cakep, lo juga cakep. Gimana kalo cinta bersemi di ruang kerja~ uwuu~”
Livia ikut ngakak. “Fix, nih orang udah halu tingkat dew—eh tapi jujur ya, kalau Pak Ethan sampe naksir lo, Keira, gue nggak kaget.”
Keira mengangkat alis. “Hah? Emang kenapa?”
“Ya lo tuh beda, Kei. Cewek lain kalo ketemu Pak Ethan aja udah kayak kucing liat ikan, langsung nurut. Lo malah galak. Bisa-bisa itu yang bikin dia penasaran.”
Nolan langsung nyeletuk cepat. “Iya! Bos-bos itu sukanya yang susah ditaklukin. Dan lo tuh... paket lengkap! Galak, bar-bar, tapi aduh... manis pas panik. Gue aja kadang pengen jadi Pak Ethan.”
Keira memandang Nolan datar. “Lo aja, Nol, yang pengen jadi semua orang.”
Nolan langsung menaruh tangan di dada dramatis. “Iya sayang, soalnya gue bukan siapa-siapa kecuali bidadari tanpa sayap!”
Livia langsung ngakak keras. “Bidadari apaan, lo lebih kayak setan tanpa alas kaki!”
Keira akhirnya ikut tertawa, suasana mencair.
Namun dalam tawa itu, pikirannya diam-diam kembali ke ruang CEO tadi.
Bayangan wajah Ethan yang menatapnya intens, sentuhan lembut di sudut bibirnya… semuanya muncul lagi.
“Gila… tatapan tuh orang bisa bikin orang sadar dosa. Ini orang CEO apa penyihir sih?” batin Keira frustasi.
Nolan yang memperhatikan Keira melamun langsung menepuk pundaknya. “Weh, weh! Kok bengong, Kei? Lagi replay adegan romantis di dalem ruangan tadi ya?”
Keira tersentak. “Heh! Enggak! Lo jangan ngawur!”
Livia menyeringai. “Ngaku aja deh. Lo pasti salting.
Keira langsung menunduk sambil pura-pura sibuk di depan komputer. “Udah deh, kerja aja gih! Gue nggak mau bahas yang aneh-aneh.”
Tapi Livia dan Nolan saling pandang dan tersenyum kompak—tatapan “kami tahu sesuatu”.
Nolan berbisik ke Livia. “Tuh liat, Liv. Tanda-tanda cewek jatuh cinta. Galak di mulut, tapi deg-degan di hati.”
Livia mengangguk. “Iya. Dan kayaknya, cerita cinta kantor ini baru aja dimulai.”
Mereka berdua tertawa pelan sambil melirik Keira yang berusaha menenangkan diri tapi senyum-senyum kecil sendiri tanpa sadar.
...----------------...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪