Tatapannya hangat dan lembut, ku fikir dia mencintaiku, nyatanya tidak, ada wanita lain dihati suamiku, wanita yang merupakan cinta pertamanya, wanita yang dia kagumi sejak remaja yang tidak bisa dia miliki.
Entahlah aku ini dianggap apa, mungkin dijadikan sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya, atau untuk memberitahu wanita itu kalau dia juga bisa menikah dan melanjutkan hidup meskipun bukan dengan wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENEMANI TARI MEMBELI TESPECK
"Ayok aku temenin." Marni mengaitkan tangannya dilengan Tari begitu mereka keluar dari kelas saat pembelajaran telah berakhir.
Tari mengerutkan kening tidak mengerti.
"Jangan bilang kamu lupa, kan mau ke dokter kandungan cek apakah kamu hamil apa enggak." jelas Marni melihat raut kebingungan diwajah sahabatnya tersebut.
"Astaga anak ini, kok malah dia yang ngebet gini sieh." batin Tari, dia tahu sieh Marni adalah sahabat terbaiknya, sahabatnya itu selalu peduli padanya, dan kadang rasa pedulinya itu over banget, seperti ini deh contohnya.
"Kamu pulang saja deh Mar, mas Fahri pasti udah nungguin kamu, lagian aku gak mau ke dokter kandungan, aku beli tespeck sajalah." bohong Tari hanya sekedar untuk mengelabui Marni, ya kali dia ke dokter kandungan dan beli tespeck segala, gak ada ceritanyakan wanita hamil kalau gak pernah ngelakuin hal begituan, ya kecuali sayyidah Maryam yang hamil tanpa suami tanpa proses alami, wanita itukan wanita spesial, wanita pilihan.
"Ya aku temenin deh beli tespecknya kalau gitu Tari, aku tuh takutnya nanti kamu tuh kenapa-napa, wajah kamu pucet gitu, takut aku tuh kamu tiba-tiba pingsan, lagian aku juga udah meminta mas Fahri untuk tidak jemput aku demi nemenin kamu."
"Benar-benar gak bisa dikelabui ya dia." Tari frustasi sendiri, seneng sieh punya sahabat super baik dan peduli, tapi dalam keadaan kayak gini juga merepotkan juga.
"Akukan udah bilang gak apa-apa Marni, kamu suruh mas Fahri jemput lagi gieh."
"Gak mau, aku mau nemenin kamu titik."
"Ya udah deh." pasrah Tari pada akhirnya.
"Ayokk buru."
"Jangan gandeng-gandeng gini juga bisakan Mar."
"Duhh, cerewet amet deh, udah yuk jangan bawell, ntar kalau kamu jatuhkan repot bawaannya."
Tari pada akhirnya membiarkan dirinya digandeng oleh Marni meskipun dengan wajah bete.
******
Mereka berdua menaiki angkot dan berhenti disalah satu apotik besar yang tidak terlalu jauh dari kampus.
"Astagaaa, haruskah aku membeli tespeck kayak gini, aku jelas-jelas gak hamil, tapi sik Marni rempong dan sok tahu banget." Tari hanya menggerutu dalam hati, mungkin dia sering berbagi banyak cerita dengan Marni, bahkan hampir tidak ada yang disembunyikan, hanya saja masalah dia tidak pernah disentuh sama sekali oleh Budi membuatnya berfikir 1000 kali untuk bercerita, dia malu, pasti Marni akan mencecarnya habis-habisan tentang hal tersebut dan pasti akan mencaci maki Budi, dan Tari tidak ingin hal itu terjadi.
"Mbak beli tespecknya." ujar Tari dengan nada malas saat didepan karyawan apotik.
"Berapa kak."
"Satu saja mbak."
Marni menimpali, "Kok satu sieh Tar, minimalnya kamu harus beli lima dari merk yang berbeda, satu saja bisa gak akurat."
"Aihh, satu saja cukup Mar, lagian juga aku yakin gak hamil, kan buang-buang uang jadinya."
"Biar aku yang bayar deh."
"Gak perlu Mar, gak usah." tahan Tari, Tari hanya mengehela nafas, Marni ini memang benar-benar deh.
"Jadi berapa nieh kak jadinya." tanya sik karyawan apotik untuk memastikan.
"Satu saja mbak."
Marni menyerah, tidak memaksakan kehendaknya lagi saat melihat wajah bete Tari.
"Assalamualaikum."
Tari dan Marni kompak memutar leher mereka ke belakang saat mendengar suara salam yang ditujukan pada mereka.
Dan tepat dibelakang mereka, entah kapan datangnya, berdiri Asroni, tersenyum tipis kepada dua teman SDnya itu.
"Walaikummussalam." Tari dan Marni menjawab barengan.
Tari membalas senyum Asroni.
"Astaga As." heboh Marni saat melihat sepupunya itu, "Abi kambuh lagi ya." tanya Marni khawatir, pasalnya abinya Asroni mengidap suatu penyakit yang membuatnya harus rutin mengkonsumsi obat-obatan dan check up ke rumah sakit.
"Gak Mar, abi alhamdulillah sehat-sehat saja akhir-akhir ini, ini aku diminta mbak Shanti untuk membelikannya tespeck." Shanti adalah nama kakak perempuannya Asroni.
"Oh ya, mbak Shanti hamil lagi tah." tentunya Marni antusias mendengar berita tersebut, dan meskipun masih tinggal disatu kampung, tapi jarang sekali mereka bertemu.
"Sepertinya begitu, karna akhir-akhir ini mbak Shanti selalu mual-mual dipagi hari, katanya juga dia sudah telat satu minggu." Asroni menjelaskan.
"Semoga saja mbak Shanti hamil lagi, biar keturunan kita tambah rame ya As dimuka bumi ini."
"Amin."
"Oh ya As, Tari juga hamil lho, ini aku lagi nemenin dia beli tespeck." lapor Marni.
Tari mengklarifikasi, "Aku belum tentu hamil Marni." lisannya, "Dan sudah pasti aku gak hamil sieh, kan gak pernah ngelakuin." tambahnya dalam hati.
Asroni menoleh ke arah Tari, dia tersenyum lebar pada Tari tanpa mengindahkan klarifikasi Tari, "Wahhh, semoga kamu beneran hamil ya Tari, selamat ya."
"Kan aku belum tentu hamil As, kok dikasih selamat."
"Kenapa tidak diaminkan saja Tari." balas Asroni.
"Amin." ujar Tari dengan suara pelan, dalam hati berharap supaya hubungannya dengan Budi lekas membaik.
"Oh ya kamu tuh kapan balik ke Mesirnya As."
"Satu minggu lagi Mar."
"Mas Fahri sebenarnya ingin ngajak aku honeymoon ke negeri Fir'aun itu, tapi sayangnya aku gak bisa karna masih belum libur."
"Serius, ntar kalau kamu beneran ke Mesir, jangan lupa mampir ya ke tempat tinggal aku."
"Pasti donk."
"Kamu juga ya Tari, kapan-kapan datang ke Mesir, indah banget lho Mesir, selain itu juga kamu pasti sudah tahu Mesir kaya akan sejarah islam, rugi kalau gak pernah datang kesana."
"Waduhh, kalau itu gak bisa janji ya As, jauh banget soalnya, berat di ongkos, he he he."
"Aihhh, suami kamukan PNS Tari, bisalah suatu saat jalan-jalan ke Mesir." timpal Marni.
"Ya ampun, kamu fikir gaji PNS sebanyak itu Mar, gak cukup kalau untuk jalan-jalan keluar negeri."
"Ehh iya juga sieh, mas Anton juga PNS, sering ngeluh karna istrinya selalu merasa kurang dengan gajinya." Anton adalah kakaknya Marni.
"As, cewek-cewek sanakan cakep-cakep tuh, kamu pasti udah punya pacarkan disana, pasti asyik tuh punya pacar cewek arab, bisa memperbaiki hidung." timpal Marni ceplas-ceplos merubah topik pembicaraan.
"Astagfirullah, aku kesana untuk menuntut ilmu Mar, bukan cari pacar, lagiankan gak boleh pacaran jugakan."
"Ohh iya, astagfirullah, apa sieh yang aku ucapkan."
"Makanya Mar, jangan main asal ceplos aja." ujar Tari.
"He he iya maaf."
"Oh ya As, kamu kesini naik motor atau mobil."
"Pakai mobilnya mbak Shinta."
"Aku dan Tari boleh nebengkan."
"Tentu saja boleh." jawab Asroni tulus, lagian jugakan mereka satu kampung.
Namun Tari tidak setuju dengan ide Marni, oleh karna itu dia buru-buru menolak karna tidak mau merepotkan Asroni, "Ehh, aku gak usah deh, aku naik angkot saja."
"Gak apa-apa Tari, gak usah sungkan gitu, pulangnya sama aku saja, lagian kita bertiga inikan, gak akan ada fitnah, iyakan Mar."
"Iya Tari, biar Asroni nieh yang nganterin kita, lagian kamu tuhkan lagi hamilkan, gak baik naik angkot mulu, apalagi bapak-bapak banyak yang suka ngerokok."
"Astaga Marni, berapakali sieh aku bilang kalau aku tuh belum tentu hamil lho."
"Intinya berjaga-jaga sajalah Tari."
Tari hanya menggeleng, punya sahabat super baik memang sangat menguntungkan tapi ada kesalnya juga.
*******
hati& pikiran mu ke orang Lain...
giliran sudah menikah dengan Fitri
hati mu ke Tari...
penyesalan selalu datang belakangan an
lanjut Thor ceritanya di tunggu updatenya