NovelToon NovelToon
Pemuas Nafsu Istri Sang Ketua Mafia

Pemuas Nafsu Istri Sang Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Keluarga / Persaingan Mafia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Vionnaclareta

Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bimbang

Sebuah sorot mobil yang begitu terang baru saja masuk melewati pintu gerbang kediaman Wiliam, mobil itu perlahan berhenti dan mematikan mesin mobilnya di belakang sebuah mobil yang juga berubsaja sampai disana sekitar 20 menit yang lalu.

Setelah berhasil memarkirkan mobilnya itu, pemilik mobipun akhirnya keluar dan terlihat seorang gadis yang masih memakai pakaian gaun putihnya bersama dengan pria paruh baya yang masih mengenakan jam setelan jas lengkap miliknya.

Setelah menyelesaikan semuanya, mereka pun akhirnya bisa bernafas lebih lega yah meskipun salah satu dari keluarga mereka juga merupakan korban disana. Dua orang itu berjalan masuk melewati bayaknya bodyguard yang saat ini sedang menjaga ketat rumah itu, sebab mereka khawatir akan serangan berulang yang akan membahayakan keluarga mereka.

Langkah mereka terus berlanjut dan masuk kedalam sebuah kamar yang terletak tidak jauh dari ruang tengah yang berada di lantai bawah, disana mereka melihat tiga orang dokter dan juga 2 perawat yang kini sedang menangani pria yang masih belum sadarkan diri disana hingga kamar itu kini benar benar terlihat seperti kamar rumah sakit sebab banyak sekali alat alat medis yang terpajang disana.

"Bagaimana keadaan nya dokter?" Tanya Vigor yang baru saja sampai disana.

"Terdapat sobekan kecil di bagian paru-paru kirinya, tapi kita suda menangani hal itu tuan dan mungkin hal itu akan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuknya sadarkan diri, dan juga terdapat luka sobekan besar di bagian lengan kanan sampai ke punggung belakangnya hingga proses pemulihannya akan sedikit lama."

'jangan bilang mereka akan melakukan Operasi disini.' Tebak Yoona sebab melihat dari semua peralatan dan alat medis yang tersedia begitu lengkap disana.

"Hiks ya tuhan Leo, putraku kenapa dia bisa terluka seperti itu, sejak kecil ia sama sekali tidak pernah terluka sedikitpun, hiks tapi kenapa sekarang ia malah mendapatkan luka yang begitu parah Eoh." Tangis Luna yang sedari tadi tidak bisa berhenti memikirkan keadaan putranya itu.

Yoona menghela nafas berat. 'sebenarya apa tujuanmu sebenarnya, kau benar benar membuat ku bingung sekarang leo.' Batinnya ketidak melihat situasi yang saat ini terjadi karena nya, sebab kalau bukan karena Leo pasti Luan sudah membawa Yoona pergi dengannya.

"Luna tenanglah, dia akan baik baik saja, Vigor sudah memanggil kan dokter ternama di kota ini, percayalah padaku." Elamnya.

"Maaf sebelumnya, kami akan melakukan tindakan operasi, jadi mohon keluar sebentar dari ruangan ini." Pinta salah satu dokter disana.

Vigor membalikan badannya dan menatap ke arah tiga wanita yang sedang berdiri di sana. "Sudah ayo keluar, biar dokter yang menangani nya, dan Sayang bawa Yoona ke kamar untuk istirahat." Ucapnya.

"Ayo Yoona, mama akan membantu dan menemani mu di kamar." Sahut Evie pada putrinya yang masih berdiri di ambang pintu kamar itu.

Yoona mengangguk dan pergi begitu saja dari dalam kamar itu, mereka berdua masuk ke dalam kamar Yoona yang terletak di lantai atas.

"Segera mandi dan beristirahatlah Yoona, kau pasti sangat lelah sekarang, dan untuk masalah Leo, mama akan membicarakannya denganmu besok saja." Ucap Evie namun Yoona sama sekali tidak meresponnya, tatapan matanya sedari tadi terus kosong menatap ke arah lain, seakan akan ia kini sedang memikirkan dan teringat akan sesuatu yang membuatnya menulikan kedua telinganya.

"Yoona."

"Yoona kau baik baik saja?" Panggilnya yang ke dua kali dan berhasil membuyarkan semua lamunannya itu.

"Ahh iya Ma..."

"Jadi sejak tadi kau tidak mendengar mama berbicara?" Tanya Evie setelah melihat respon putrinya itu sebab setelah keluar dari kamar inap tadi, Evie terus mengajaknya bicara walaupun tidak pernah mendapatkan respon darinya.

Yoona menatap kebingungan. "Umm apa mama sedang membicarakan sesuatu dengan ku?" Tanya Yoona sebab ia sama sekali tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh mamanya itu.

"Astaga,,,, sebenarnya apa yang membuat mu berpikir begitu dalam seperti itu, sudahlah mama pergi, kau cepat mandi dan ganti baju mu itu." Kesal Evie yang langsung pergi begitu saja dari hadapan Yoona, sementara Yoona hanya diam menatap kepergian mamanya itu.

Keesokan paginya, seperti biasa Yoona kini sedang melakukan rutinitas paginya, kini jam telah munjukan pukul 9 pagi namun gadis itu masih belum keluar dari dalam kamar nya, dia masih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa menghiraukan panggilan Vigor yang sedari tadi terus menggelegar di setiap sudut rumah itu karena menyuruh nya turun untuk sarapan pagi.

Setelah menyita waktu yang cukup panjang, akhirnya Gadis itupun memutuskan untuk keluar sarapan, namun ketika ia baru saja ingin bangkit dari kursi rias nya, pintu kamarnya itu sudah terbuka terlebih dulu oleh seorang wanita.

"Aku sudah selesai, mama tidak perlu repot-repot memanggil ku kemari." Ucap Yoona ketika melihat mamanya itu masuk kedalam kamar milik nya.

Evie berjalan menghampiri Yoona yang masih duduk di kursi riasnya, dan memberikan sebuah kantong hitam padanya.

"Apa ini Ma?" Tanyanya sembari membuka kantong hitam itu dan ia melihat sebuah kapsul kecil berukuran lima sentimeter yang berisi cairan ungu pekat dengan satu suntikan di dalamnya.

"Racun, semalaman mama membuatnya."

"Racun?"

Evie mengangguk. "Suntikan cairan itu pada Leo, ini kesempatan besar untukmu bisa membunuhnya Yoona, hanya satu suntikan saja kau bisa langsung mengirimnya ke alam baka, dan yang bagusnya tidak akan ada yang menyadari hal itu, mereka akan mengira Leo mati karena luka luka yang dia dapatkan." Jelasnya dengan senyum puasnya.

"Aku benar benar tidak habis pikir, dia itu sebenarnya bodoh atau gimana, ia rela berkorban untuk menyelamatkan mu tanpa berpikir apa yang akan terjadi padanya, dan secara otomatis dia mempermudah jalan kita, kau tenang saja setelah dia mati nanti, aku yang akan mengurus Luna untukmu." Lanjutnya sementara Yoona hanya diam menatap ke arah kapsul kecil itu.

"Sudah simpan barang itu dengan baik, dan ayo keluar sarapan, papamu sudah menunggumu dibawah." Ucapnya lagi lalu pergi dari dalam kamar Yoona meninggalkan putrinya itu sendirian di dalam kamarnya.

Setelah puas merenungkan diri, Yoona pun akhirnya keluar dari dalam kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk menyantap sarapan paginya. Satu persatu kaki jenjang Yoona mulai menuruni anak tangga rumah itu, hingga lama kelamaan mulai tercium aroma sup dan roti yang baru saja selesai di panggang.

"Yoona, sebenarnya apa yang membuat mu begitu lama di dalam kamar, kita sudah menunggumu sangat lama disini." Ucap Vigor ketika melihat putrinya masuk kedalam ruang makan.

"Sudah ayo duduk, suara papa hampir habis karena terus memanggil mu tadi." Lanjutnya sementara Yoona meraih kursi dan duduk di samping Vigor.

Melihat semuanya sudah lengkap, para maid pun mulai menyajikan satu persatu makanan yang mereka buat tadi sehingga meja makan kini penuh dengan makanan.

"Oh iya, aku sama sekali belum mendengar kabar tentang operasi semalam, bagaimana operasi jya berjalan dengan lancar bukan?" Tanya Evie sembari memakan sandwich nya.

"Operasinya berjalan dengan lancar, dokter bilang mungkin besok Leo sudah sadarkan diri." Jawab Vigor.

"Kakak, Leo bilang setelah acara pernikahan kalian akan pergi, apakah itu benar?" Tanya Luna.

"Itu benar, sebenarnya hari ini aku dan istriku ingin pergi ke Italia, tapi tidak apa apa, aku akan pergi setelah Leo sadarkan diri." Jawabnya.

"Tidak mengapa jika kau mau pergi kakak, biar aku dan Yoona yang akan menjaganya, aku juga menunda meetingku ke luar kota juga karena Leo."

"Tidak Luna, Leo itu sudah ku anggap sebagai putraku sendiri, aku tidak mau kepikiran disana karena pergi begitu saja tanpa tahu perkembangan kondisi nya." Timpal Vigor meyakinkan.

Luna tersenyum haru mendengar perkataan itu dari mulutnya, memang keluarga mereka pada awalnya begitu akrab, di tambah lagi Vigor merupakan sahabat terbaik Tuan Noah yang meninggal sekitar 25 tahun yang lalu.

"Terimakasih Kak, Leo benar benar beruntung mendapatkan mertua seperti mu." Lanjutnya sementara Vigor hanya tersenyum mendengarnya.

"Umm pa, apa Yoona boleh melihatnya?" Tanya Yoona tiba tiba sembari menatap papanya yang kini sedang memakan sandwich miliknya.

Vigor tertawa kecil mendengar pertanyaan dari putrinya dengan nada yang malu malu kucing, seakan akan dia tidak ingin semua orang mendengar pertanyaan nya. "Tentu saja boleh Yoona, kau adalah istrinya siapa yang akan melarangmu sayang, nanti setelah sarapan papa akan menemani mu melihatnya kalau kau tidak berani kesana sendirian." Jawab Vigor.

Yoona mengangguk, "baik pa." Jawab nya singkat dan melanjutkan memakan santapan paginya itu.

Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Yoona, Vigor dan juga Evie pergi ke kamar dimana Leo sedang dirawat secara khusus disana. Dan ketika mereka masuk seperti biasa mereka disuguhkan 2 dokter dan 2 perawat yang kini sedang menjaga dan merawat nya.

"Bagaimana Dok, apa ada perkembangan darinya?" Tanya Vigor pada salah satu dokter disana.

"Ohh selamat pagi tuan William iya tuan, setelah melakukan operasi, kondisi tuan Leo sedikit membaik, hanya entah kenapa suhu tubuhnya tiba tiba saja naik, mungkin karena ini baru pertama kali tubuhnya mendapatkan banyak obat, dan kami juga baru saja selesai mengganti infusnya dan hendak ingin mengganti perban dan pakaian nya agar tuan cepat membaik." Jelasnya.

"Baguslah kalau begitu, paling tidak kondisinya perlahan membaik, lakukan apa yang terbaik untuknya dokter."

"Tentu saja Tuan."

"Baiklah, kita keluar, kalian lanjutkan pekerjaan kalian." Lanjutnya.

"Umm dok, apa boleh kalau saya yang melakukannya, cuma mengganti perban dan pakaiannya bukan." Sahut Yoona tiba tiba yang berhasil menarik perhatian kedua orang tuanya.

"Yoona kau serius, astaga,,,,papa tahu maksudmu, kau jangan khawatir percayakan saja pada mereka." Timpal Vigor yang sempat salah paham dengan maksud Yoona sebab semua orang yang ada di dalam ruangan itu adalah perempuan.

"Bukan seperti itu pa, aku hanya ingin melakukannya, tapi kalau dokter tidak memperbolehkan nya tidak masalah."

"Tentu saja boleh Noona, Noona bisa mengganti perban dan pakaian tuan, hanya saja sebelum melilitkan perban yang baru Noona harus memberikan obat ini pada lukanya." Sahut salah satu dokter disana.

"Ahh iya dokter, terimakasih." Jawab Yoona dengan senyum yang ikut mengiringinya.

Vigor menempuk pundak kanan Yoona, "kalau begitu kita keluar dulu, kau obati Leo dengan baik." Pintanya lalu keluar dari dalam kamar itu begitu juga dengan dokter dan perawat hingga meninggalkan Yoona seorang bersama Leo disana.

Yoona duduk di tepi ranjang dan mulai mengganti pakaian dan perban sesuai dengan arahan yang dokter berikan tadi. "Aku benar benar belum mengerti apa maksudmu mau melakukan semua ini, sebenarnya apa tujuanmu kemari, kau adalah satu satunya pria yang sulit untuk ku tebak." Ucap Yoona sembari membuka lilitan perban pada lukanya.

"Ucapanmu sangat bertolak belakang jauh dengan tindakanmu, kau membuat ku semakin penasaran dengan tujuan aslimu memasuki duniaku Leo." Lanjutnya.

Yoona memberikan setetes demi seteses obat yang dokter berikan dan melilitkan perban baru pada nya, hingga setelah semuanya sudah selesai gadis itu mengeluarkan kantong hitam yang sedari tadi ia simpan di kantong celananya.

Dia mengeluarkan kapsul kecil beserta jarum suntik yang ada di dalam sana, tanpa berpikir panjang Yoona langsung memasukan cairan itu kedalam suntikan. "Tapi meskipun begitu, mama benar, ini adalah kesempatan besar untukku, tidak ada yang tahu bagaimana masa depan nanti, tapi menurutku kau salah satu manusia berbahaya yang sengaja masuk kedalam kehidupan ku." Ucapnya yang langsung memasukan jarum suntiknya menembus kulit lengan Leo.

Niatnya begitu kuat namun jari jemarinya begitu berat untuk mendorong cairan itu masuk kedalam tubuhnya, sebuah ingatan terus terputar ulang di dalam benaknya yang membuatnya semakin ragu dan beray dengan tindakannya, di tambah lagi dengan ucapan Luan dan beberapa perkataan Leo yag terus-menerus bersautan di dalam benaknya.

"Ahh siall, ada apa denganku sebenarnya, kenapa kau membuat ku gila seperti ini Uhh, padahal ku hanya perlu menyuntikan nya, kenapa aku tidak bisa melakukannya." Yoona kesal dengan dirinya sendiri yang sulit ia kontrol.

/Tok tok tok/

Suara ketukan pintu kamar tiba tiba terdengar di tengah kebimbangan Yoona dan membuat mau tida mau langsung mencabut suntikannya itu dan menutupi bekas suntikan itu dengan selimut.

"Yoona, apa kau sudah selesai?" Tanya seorang wanita yang baru saja berhasil membuka pintu kamar itu.

"Ahh iya Tante, aku sudah selesai." Jawabnya.

"Papamu menyuruh Tante untuk memanggilmu." Ucapnya.

"Iya Tante, Yoona akan menemuinya setelah merapikan ini semua." Jawab Yoona dn Luna mengangguk begitu saja lalu pergi dari dalam kamar itu.

Yoona menghela nafas panjang setelah melihat kepergian Luna dari dalam kamar itu, setelah merapikan semua peralatannya itu, dia pun akhirnya ikut keluar dari dalam kamar itu untuk menemui papanya.

Kini Vigor sedang duduk di sofa ruang tengah sembari membaca koran di tangannya. "Papa memanggilku?" Tanya Yoona ketika sampai disana.

Vigor menutup korannya. "Ada beberapa hal yang ingin papa katakan padamu. Papa hanya ingin kau tahu ketika papa ke Italia nanti semua pekerjaan kantor nanti akan di handel sekretaris papa dan juga Leo akan ikut memantaunya, jadi papa harap kau bisa membantu nya nanti, jika di menanyakan berkas atau informasi tentang perusahaan, suruh dia mencari di ruang kerja papa di rumah, sebab papa tidak pernah meninggalkan berkas penting di kantor." Ucapnya.

"Iya Pa," jawab Yoona singkat.

Setelah menyelesaikan urusannya itu di rumah, Yoona pun memutuskan untuk pergi sebentar dari rumah tanpa adanya sepengatahuan dari Orang tuanya. Mobil Yoona melaju begitu cepat meninggalkan kediaman rumahnya menuju ke suatu tempat.

Sementara disisi lain, di sebuah kamar dengan pencahayaan yang begitu remang remang dan hanya ada beberapa pancaran sinar yang meneranginya, disana terlihat seorang pria yang masih terbaring lemah di atas ranjang, suara ricuh keyboard laptop terus terdengar di setiap sudut ruangan.

Kedua kelopak mata Luan perlahan terbuka dan melihat atap dinding berwarna abu abu perpaduan putih, "arghh..." Rintihnya ketika merasakan pusing di dalam kepalanya di tambah lagi pandangan nya yang masih buram dan kabur.

"Kau sudah bangun, ku kira kau tidak akan bangun lagi." Ucap Seorang pria yang sedari tadi duduk di sebuah sofa bersama laptop kesayangannya.

"Kau,,,,"

"Kenapa kau begitu terkejut melihat ku, padahal ini bukan yang pertama kalinya kau bertemu denganku." Ucapnya lagi.

"Dasar bodoh, bisa bisanya kau bertindak konyol dan menggemparkan semua orang seperti itu, apa kau tidak pernah berpikir resiko apa yang akan terjadi hmm." Lanjutnya.

"Cihh kenapa kau begitu marah, padahal kurang satu langkah lagi aku bisa menyelesaikan semuanya, kenapa kau harus menghalangi nya."

"Apa kau ingin nyawamu ku ambil lagi, dengar semua tindakanmu itu benar benar akan menimbulkan banyak masalah, dan bodohnya lagi kau langsung cari masalah dengan keluarga Alexander, apa kau sudah lelah hidup eoh,,,"

"Untuk saat ini jangan lakukan apapun mengerti, sebelum ada arahan yang pasti, kalau kau ingin mendekati Yoona silakan, tapi jangan sampai kau melukainya mengerti." Lanjutnya yang membuat pria itu sontak mendengus kesal mendengar nya.

"Sebentar lagi aku akan kedatangan tamu, yang mungkin akan menanyakan dirimu, jadi bersiap siaplah." Ucap Laurent kembali dan beberapa saat kemudian terdengar suara bel pintu rumah, hingga membuat salah satu bodyguarnya itu masuk dan memberitahukan mengenai tamu yang baru saja tiba.

Laurent menghela nafas panjang sembari merenung sejenak dan berpikir apa yang akan ia katakan nanti. "Ijinkan dia masuk, dan suruh koki dapur untuk menyambut dan melayaninya." Ucapnya.

"Baik Tuan." Jawab singkat bodyguard itu kau keluar dari dalam kamar itu.

"Dia sudah datang?" Tanya Luan.

Laurent mengangguk, "kau diam saja disini mengerti?" Ujarnya lalu ikut pergi dari dalam kamarnya itu meninggalkan Luan sendirian.

Sementara disisi lain, para pelayan mulai menyajikan beberapa makanan dan minuman pada Yoona yang kini tengah duduk di sana. Berbagai macam makanan tersaji, seperti buah, kue kering dan Snack ringan.

"Yoona kau kemari." Panggil Laurent ketika baru saja masuk dari arah lain.

"Kau baik baik saja?" Tanyanya lagi ketika sampai.

Yoona mengangguk. "Seperti yang kau sekarang aku sangat baik baik saja." Jawabnya sementara Laurent duduk di sampingnya.

"Syukurlah, maafkan aku sedikit terlambat kemarin, aku benar benar tidak tahu dia kembali, tapi yang terpenting sekarang kau sama sekali tidak terluka sedikitpun aku lega." Ucapnya yang membuat Yoona terdiàm dan teringat akan waktu itu.

Yoona sedikit memalingkan pandangannya dari Laurent yang sedari tadi terus menatapnya. "Semua itu tidak penting Laurent, aku kemari ingin menanyakan sesuatu, sekarang dimana Luan, kemana kau membawanya?" Tanyanya.

"Kenapa kau menanyakannya?"

"Aku ingin bertemu dengannya, ada sesuatu hal yang harus ku pastikan, kemana kau membawanya pergi."

"Aku sedang mengamankannya agar dia tidak bertindak hal yang sama seperti kemarin, tapi jika kau ingin bertemu dengannya, aku bisa membawamu padanya."

"Bawa aku padanya." Pintanya dan Laurent menganggukinya begitu saja.

Kini Laurent membawa Yoona ke lorong rumah yang terletak paling belakang dan terpencil, dimana disana hanya ada satu kamar rahasia terpencil yang tidak akan bisa di temukan oleh orang lain selain dirinya, dia mulai membuka pintu kamar itu dan terlihat seorang pria yang kini tengah duduk sembari menatap kosong ke arah dinding kamar.

"Yoona." Panggilnya ketika menyadari kedatangan mereka berdua.

"Laurent, bisa kau tinggalkan kita berdua sebentar." Pintanya.

Laurent mengangguk, "panggil aku jika kau butuh sesuatu." Ucapnya lalu pergi dari hadapan mereka berdua.

"Aku tidak menyangka kau tiba tiba ingin menemui ku disaat seperti ini."

"Kau pikir aku kemari ingin menjenguk dan menanyakan kabarmu, aku kemari ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Aku penasaran bagaimana kau bisa lepas dari mautmu eoh?" Tanyanya tiba tiba, sebab selama ini tidak ada yang pernah selamat dari bantaiannya.

"Kenapa, apa kau sedih melihatku hidup lagi?"

"Aku kecewa karena gagal membunuhmu." Timpal Yoona.

"Aku bisa selamat sebab penjaga gerbang yang berhasil menyelamatkan ku tepat waktu. Dia langsung mengirimku ke rumah sakit, sudah kau puas."

"Pria penjaga gerbang?" Yoona teringat akan seseorang pria yang memang bekerja disana dan sempat membukakan pintu gerbang untuknya waktu itu.

"Ngomong ngomong bagaimana kabar suamimu itu, apa dia masih sekarat?" Tanyanya.

"Kenapa bertanya, Apa itu penting bagi mu?"

"Aku hanya heran, Laurent bilang kalian menikah karena perjodohan, tapi hebatnya dia begitu mencintaimu dan aku tidak menyangka dia bisa sehebat itu."

"Cih, cinta katamu? Filosofi Apa itu?"

"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mengenal Laurent, tapi meskipun begitu aku tidak bisa membuat keributan disini, dan ku peringatkan sekali lagi jangan pernah kau menyentuh keluarga ku seperti kemarin, jika kau ada masalah, hadapi aku langsung, karena aku benci harus melibatkan semua orang dalam urusan ini." Tegasnya.

Luan tersenyum smirik ketika mendengar pernyataan itu. "Ku pikir kau tidak mengatakan hal itu padaku saja Yoona, di sekitarmu ada orang yang lebih lebih kejam dariku dan mengincar keluarga mu, yang perlu kau waspadai adalah suamimu, dia terlihat bukan tipikal orang yang bisa diremehkan." Jawabnya.

Setelah puas berbincang topik pada mantan tunangan nya itu, Yoona pun langsung keluar dari dalam kamar itu. Yoona berjalan menyusuri lorong rumah itu dengan memori dan opini yang terus saling bersautan di dalam benaknya.

"Kau sudah ingin pulang Yoona?" Tanya Laurent ketika melihat Yoona masuk ke ruang tengah.

Yoona mengangguk. "Kenapa, kau baik baik saja, apa kau ada masalah, atau mungkin Luan bertindak yang tidak tidak padamu tadi

1
kirom hasran
Seru banget!
Libny Aylin Rodríguez
Aku butuh lebih banyak kisah seru darimu, cepat update ya thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!