Suami Bajinganku Tersayang.
Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?
Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Terus mencari
"Bagaimana Tama, apa sudah ada kabar pencarian hari ini?"tanya Leon dari sambungan telepon.
"Belum Tuan, saya sudah menyebarkan brosur dan menempelkan poster di seluruh kota namun belum ada yang menghubungi saya," jawab Tama.
"Sia*lan, jangan hanya menunggu kabar! Kau kira dengan hanya menyebar brosur dan poster Ivanka bisa ketemu? Ini sudah hampir malam, kalau belum ketemu hingga besok pagi silahkan letakkan surat pengunduran dirimu di meja kerjaku.
Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya Ivanka harus segera ditemukan!" Bentak Leon.
"Ba.. baik Tuan! Jawab Tama dengan agak tergagap. Sudah hampir sepuluh tahun lamanya ia mengabdi kepada Leon, tak pernah di dapatinya Bosnya sepanik ini. Otaknya berfikir keras bagaimana caranya supaya cepat menemukan Ivanka. Tiba-tiba ia teringat dengan detektif Fery Tamaki, detektif swasta terkenal Seantero kota spesialis pengintai dan pencarian orang hilang. Kemampuannya luar biasa dan sudah teruji karena sudah banyak kasus yang sukses di selesaikannya.
"Hemm ... Baiklah, tak ada cara lain. Aku harus segera menemui detektif Fery," gumam Tama dengan nada optimis.
Saat itu juga ia langsung berangkat menuju kantor detektif tersebut. Kantornya beralamat di pusat kota, tak jauh dari posisinya berdiri sekarang.
Perjalanan ke kantornya hanya memakan waktu sepuluh menit. Sekarang Tama sudah tiba di depan kantor detektif Fery. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor yang lumayan besar itu. Sesampainya di dalam ia disambut oleh bagian front office.
"Selamat sore pak, perkenalkan saya Triska bagian front office kantor detektif swasta Fery Tamaki, ada yang bisa saya bantu?" Sapa wanita yang sedang bertugas di meja resepsionis.
"Iya ada, saya ingin bertemu dengan detektif Fery." Ujar Tama sambil mengeluarkan kartu namanya.
"Oh baik pak, silahkan duduk dulu. Kebetulan bapak sedang ada di ruangan kerjanya. Saya konfirmasi ke beliau dulu, mohon ditunggu sebentar ya pak." sahut Triska.
"Oke." Tama lalu duduk dan melemparkan pandangannya ke sekitar ruang tunggu kantor itu. Terdapat banyak piagam penghargaan dari kepolisian, kementrian bahkan dari presiden yang terpajang rapi di dinding.
"Hebat juga dia, mudah-mudahan dia bisa menemukan gadis itu secepatnya," batin Tama.
Setelah terkonfirmasi, Tama lalu di antar menuju ke ruangan detektif swasta itu.
"Detektif Fery, saya minta segera di temukan gadis yang ada di foto ini. Untuk biayanya berapapun tak masalah bagi saya. Saya tidak punya banyak waktu sekarang. Apa anda bisa bantu menemukannya paling lambat besok pagi?" Tama menunjukkan foto Ivanka kepada detektif Fery.
"Saya akan mencoba semaksimal mungkin. Apa ada petunjuk lain seperti nama lengkap, nomor ponsel atau media sosialnya?" Tanya detektif Fery sambil mengamati foto Ivanka yang ada ditangannya.
"Gadis ini pergi tanpa membawa ponselnya, untuk media sosialnya saya juga tidak tahu. Satu-satunya petunjuk yang saya punya adalah foto yang detektif pegang dan nama lengkapnya saja, yaitu Alexa Ivanka." Ucap Tama sambil menyodorkan foto Ivanka.
"Hmm, baiklah Pak Tama. Saya akan coba mengerahkan seluruh kemampuan dan sumber daya saya untuk menemukan keberadaan gadis ini. Saya tidak akan mengambil bayaran jika belum menemukannya sampai besok. Beri saya waktu hingga jam dua belas siang besok. Bagaimana Pak Tama?" tanya detektif Fery.
"Baiklah kalo begitu, saya dan tim juga ikut mencari keberadaan gadis ini. Saya harap besok siang anda sudah menemukan keberadaannya. Saya tunggu kabar baiknya besok dan saya pamit dulu Pak Detektif. Terima kasih." Tama bersalaman dengan detektif Fery sambil beranjak dari kursinya.
*****
Sementara itu di Rumah Adrian.
Seharian ini Ivanka hanya mengurung diri di dalam kamar. Sedari pagi belum ada sedikitpun makanan yang masuk kedalam perutnya, padahal sinar surya perlahan mulai tenggelam. Lamunannya terpecah saat ada ketukan di balik pintu.
Tok tok tok..
"Cinta, tolong bukakan pintunya." Terdengar suara Adrian dari balik pintu.
Ivanka kemudian membuka pintu kamarnya. Adrian tersenyum saat melihat sosoknya yang berantakan. Kepalanya tertunduk kebawah dan rambut panjangnya terlihat acak-acakan menutup seluruh wajahnya. Hampir saja Adrian mengira dia kuntilanak yang berniat mengganggunya.
"Hahahaha.. Kamu lucu banget sih Cinta, mirip kuntilanak lho kalo berdiri kaya gitu," ucap Adrian.
Adrian tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Ivanka. "Kuy ikut aku, kamu belum makan dari pagi?" lanjutnya.
Ivanka hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Adrian.
"Cepetan ganti bajunya, aku gak mau kamu sakit gara-gara gak makan seharian. Aku tunggu di mobil ya!" Kata Adrian.
"Tapi yan," sahut Ivanka.
"Gak ada tapi-tapian, pokoknya aku tunggu di bawah ya. Aku gak akan maksa kamu ngomong, aku cuma mau ajak makanan favorit kamu. Itu aja." Ucap Adrian sambil meninggalkan Vanka yang masih dalam posisi mematung di depan pintu.
Dengan berat hati ia memaksa tubuh lemahnya untuk bergerak. Kemana gerangan Adrian akan membawanya.
Mobil Adrian menuju ke tempat yang sudah lama tidak mereka kunjungi. Tempat itu adalah sebuah restoran steak premium. Ivanka sangat menyukai makan steak disana. Selain daging steaknya enak, harganya juga tidak terlalu mahal. Namun untuk ukuran seorang Adrian sekarang, ia bahkan mampu membelikan restoran itu untuk Ivanka.
Restoran itu menyimpan banyak kenangan untuk mereka berdua. Kenangan yang paling membekas di hati Adrian yaitu saat ia mengutarakan perasaannya pada Ivanka, restoran steak itu menjadi saksi dua insan itu sepakat menjalin kisah asmara.
Walaupun sudah tidak bersama lagi, hingga sampai sekarang pun Adrian masih menyimpan rasa sayang ke Ivanka. Baginya Ivanka tak tergantikan di hatinya. Ia akan selalu menjadi permaisuri dalam hidup Adrian.
Mata Ivanka terlihat berbinar menyantap hidangan di depannya. Walau tidak mengucapkan sepatah katapun, Adrian tahu jika Ivanka sangat menikmati makanan favoritnya itu. Steak daging bagian dada yang dimasak setengah matang dengan campuran saus anggur diatasnya. Ivanka dengan lahap menyantap hingga habis. Adrian tersenyum melihat tingkah polah Ivanka yang polos itu.
Saat sedang asik menyantap hidangan, dari kejauhan terlihat seseorang yang sibuk mengamati mereka. Gerak geriknya mencurigakan, sesekali ia mengambil potret Ivanka dan Adrian yang sedang makan. Ternyata itu Detektif Fery! Sepertinya keberadaan Ivanka sudah di ketahui oleh Detektif handal itu. Luar biasa memang pergerakannya. Ia mencari tahu keberadaan Ivanka dengan memanfaatkan CCTV yang ada di setiap sisi kota.
Sepertinya pencarian Ivanka sudah berakhir. Tugas Detektif Fery sekarang hanya membuntuti Ivanka dan Adrian sampai pulang ke rumah nanti. Setelah itu Detektif akan melaporkan ke tama keberhasilannya menemukan posisi keberadaan Ivanka sekarang. Good Job Detektif!
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jangan lupa buat like, komen dan vote setelah membaca.
Bagi kamu yang belum favorit tekan tombol ❤️ dulu supaya bisa mendapat info terbaru ... makasih selamat malam minggu.
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
g ada dewasa2 nya....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Aku kemari ngapain😭