NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Ibu Kejam

Transmigrasi Ke Tubuh Ibu Kejam

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Ibu Pengganti / Time Travel / Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: aif04

Melisa, seorang gadis biasa yang sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba terjebak dalam tubuh seorang wanita jahat yang telah menelantarkan anaknya.

Saat Melisa mulai menerima keadaan dan bertransformasi menjadi ibu yang baik, dia dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan bahaya. Monster dan makhluk jahat mengancam keselamatannya dan putranya, membuatnya harus terus berjuang untuk hidup mereka. Tantangan lainnya adalah menghindari ayah kandung putranya, yang merupakan musuh bebuyutan dari tubuh asli Melisa.

Dapatkah Melisa mengungkap misteri yang mengelilinginya dan melindungi dirinya serta putranya dari bahaya?

Temukan jawabannya dalam novel ini, yang penuh dengan misteri, romansa, dan komedi!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aif04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkebun

Hari ini cuaca sangat bagus, dengan sinar matahari yang cerah dan angin yang sejuk. Melisa memutuskan untuk mencoba menanam beberapa benih yang telah ia beli kemarin. Setidaknya ia bukanlah manusia yang bertangan panas, jadi ia bisa menanam tanaman, Melisa hanya pemula yang sepertinya cukup berbakat dalam menanam.

Ia berusaha dengan sangat keras untuk mencabut beberapa rumput di halaman belakang rumahnya. Ia juga dibantu Kevin tentunya, yang berusia empat tahun dan memiliki rambut berwarna hitam dan mata merahnya. Hingga hari menjelang tengah hari, mereka bisa membersihkan lahan berkebun Melisa yang tidak besar itu.

"Terima kasih, Kevin, karena telah membantu Ibu," ujar Melisa dengan senang. Putranya itu benar-benar adalah anak yang sangat baik.

"Tapi apa Kevin tidak ingin bermain?" tanya Melisa.

"Tidak, Bu, Kevin lebih senang bersama dengan Ibu daripada bermain," ucapnya, sambil tersenyum.

"Oh, benarkah? Ibu benar-benar sangat terharu mendengarnya," ujar Melisa dengan tersenyum, sambil mengusap air mata yang mulai keluar.

"Ibu..." panggil Kevin dengan begitu cemas, takut jika sang ibu menangis lagi karena dirinya.

"Ibu hanya bercanda, hehehehe," ujar Melisa.

"Ibu..." panggilnya lagi.

"Maafkan Ibu karena telah membuat Kevin Ibu jadi sedih ya," ujar Melisa.

"Pokoknya, Ibu nggak boleh nangis lagi, Ibu harus bahagia selalu," ujar anak itu, sambil memeluk Melisa.

"Iya, Ibu tidak akan pernah menangis lagi," janjinya. Rasanya benar-benar menyenangkan saat ada seseorang yang selalu mengkhawatirkannya seperti ini.

"Baiklah, sekarang mari kita makan siang, lalu kita akan melanjutkan untuk menanam tanaman di sore hari, ya," ujar Melisa, yang mendapatkan anggukan dari Kevin. Mereka berdua kemudian memasuki rumah.

*

*

*

Sedangkan di sisi lain, di sebuah ruangan Ferdinand mengernyitkan dahinya dengan sorot mata yang terlihat terkejut. Tampak Ferdinand telah mendapatkan suatu kabar yang kembali mengejutkan dari suatu desa di wilayahnya.

"Ha, lagi-lagi monster yang membunuh masyarakat lalu memakan jantungnya," gumamnya, sambil membaca surat yang dipegangnya. Ia membaca dengan teliti, tapi sayangnya tidak ada yang tahu dari mana monster itu berasal dan bagaimana bentuknya.

"Sepertinya aku harus mencari dia, huh...dimanakah pria itu sekarang?" Ferdinand hanya bisa memejamkan matanya saat menyadari begitu sulit untuk menemukan pria itu jika bukan pria itu yang muncul dengan sendirinya. Ia merasa frustrasi dan kesal, karena tidak bisa menemukan solusi untuk masalah yang dihadapinya.

"Ferdinand!" panggil Rania memasuki ruangan itu, dengan langkah yang cepat dan wajah yang menunjukkan amarah. 'Apa lagi kali ini.'

"Oh, ayolah Rania, jangan mulai pertengkaran, aku sedang pusing sekarang," ujar Ferdinand, sambil menatap Rania dengan mata yang lelah.

"Jadi sekarang kau bahkan tidak memiliki waktu untuk berbicara denganku?" tanyanya yang terdengar begitu sinis, ia kemudian melangkah lebih dekat ke Ferdinand.

"Bukan begitu maksudku," jelas Ferdinand, sambil mengangkat tangan untuk menenangkan Rania.

"Jadi apa maksudmu jika bukan begitu?" tanya Rania.

"Aku sudah bilang padamu Rania bahwa aku benar-benar sibuk sekarang. Jadi lebih baik kita berbicara nanti malam saja ya," bujuk Ferdinand, ia harus menenangkan wanita ini sebelum semakin memburuk.

"Aku tidak mau, aku mau sekarang!" Bentak Rani yang menggema di dalam ruangan. Wanita itu tampaknya tidak ingin memberikan waktu lain bagi Ferdinand.

"Oke, oke baiklah sekarang katakan apa yang ingin kau katakan," Ferdinand memutuskan untuk mengalah.

"Aku sudah membuat undangan untuk pernikahan kita dan aku juga telah menyebarkannya. Itu akan berlangsung bulan depan," jelas gadis itu membuat Ferdinand benar-benar terkejut. Saat ini bukan saat yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.

"Kau melakukannya bahkan tanpa persetujuanku! Aku sudah bilang bahwa kita belum bisa melakukan acara pernikahan karena keadaan masyarakat yang tidak baik saat ini. Kenapa kau berbuat semaumu ha!" marah pria itu. Bahkan ia menaikkan nada bicaranya.

"Ya, sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggu ha!" balas Rania, sambil menatap Ferdinand dengan sorot mata yang begitu tajam.

"Batalkan semua undangan itu! Jika tidak..." ujar Ferdinand, dengan nada yang keras dan tegas. Ia menatap Rania dengan mata yang serius, tidak ada raut main-main di dalamnya.

"Jika tidak apa?" tantang Rania. Dengan membalas tatapan tajam dari pria tersebut..

"Jika tidak aku akan benar-benar memutuskan hubungan ini sekarang juga," Ferdinand benar-benar tidak bercanda kali ini.

"Kau! Menyebalkan!" marahnya lalu meninggalkan ruangan dengan menghentakkan kakinya.

"Kau bahkan lebih menyebalkan dari pada aku," gumam Ferdinand lalu menghela nafas kasar.

"Oh, ayolah, dimana pria itu saat ini," lanjut Ferdinand, sambil melihat begitu banyak berkas yang menumpuk di atas mejanya. Ia merasa lelah dan kesal, karena tidak bisa menemukan solusi untuk masalah yang dihadapinya justru harus ditambah dengan masalah lainnya.

Sedangkan pria yang sedang dicari saat ini tengah berada di bawah pohon menikmati angin yang menerpa tubuhnya dengan sangat lembut. Ia duduk di atas rumput yang hijau, dengan pohon yang rindang di atasnya. Hingga di rasa cukup lama akhirnya pria itu membuka matanya. Menampilkan pupil merah seperti rubi.

"Huh...apa lagi kali ini," gumamnya lalu menghilang begitu saja, dengan wajah yang datar dan mata yang berkilauan. Ia menghilang bersama angin, dengan tidak ada jejak yang tersisa.

1
yumin kwan
keren ceritanya.... walau ada bagian yg mengandung byk bawang merah.... tp tetap happy ending.
Githa Anggraeni
nyesek loh Andrea🥺🥺🥺
Nana Maulana
gak jls
Vindy swecut
kereen ❤️❤️
Nana Maulana
kenapa ceritanya ke monster sih kacau
Nana Maulana
lemah
Diana Bellusi
deg degan thir👍
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗂𝗇𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗌𝗌𝖺 𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉 𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝗄𝖾 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗉𝖺?
Memyr 67
𝗁𝗂𝗄𝗌 𝗁𝗂𝗄𝗌, 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗆𝖾𝗇𝖺𝖻𝗎𝗋 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗇𝗀, 𝗆𝖺𝗍𝖺𝗄𝗎 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗂𝗋 𝗍𝖾𝗍𝗎𝗌 𝗂𝗇𝗂. 𝗁𝗂𝗄𝗌
Dede Bleher
best Story.
walaupun ikutan nangiis.
love you Thor
Dede Bleher
thor sudah bikin aku😭😭😭😭😭
Memyr 67
𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗅𝖺𝗇𝖺?
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗇𝗀
Dede Bleher
salaah alamat neng 🤣🤣🤣.
tk ada kantong ajaib
Dede Bleher
hajaar ampe babak belur dulu neng!
Memyr 67
𝗄𝖾𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖼𝗂𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖽𝗋𝖾𝖺 𝗄𝖾 𝖺𝗅𝖾𝗑𝖺 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗉𝖾𝗍𝖺𝗄𝖺
Memyr 67
𝖽𝗎𝖺 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗌𝖺𝗐𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗀𝗈. 𝗆𝗈𝗇𝗌𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖻𝖾𝗋𝗎𝖻𝖺𝗁 𝗐𝗎𝗃𝗎𝖽 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗄𝗒𝖺𝗍 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺
Mega Haerunita
kerenn.
berasa bgt semua jdi satu senyum" ketawa nangis.
kagome
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!