Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Setelah kematian kedua orang tuanya, Alena sengaja mengajak Tiyas untuk ikut tinggal denganya ketika kehamilan Alena memasuki trimester ke-3. Alena ikut dengan suaminya di Desa Wonosari, Gunung Kidul.
3 bulan tinggal bersama tidak ada yang mencurigakan dalam pandangan Alena. Wanita cantik itu baru saja melahirkan 3 hari yang lalu. Karena suaminya sibuk, dan sang Adik pamit pulang lebih dulu hendak menyiapkan kamar keponakannya, Alena hanya di temani 1 Pelayan bernama Mbok Minah.
Bayi Alena ia beri nama ~Delan Aksanjaya~ Bayi kecil itu sudah wangi dalam bedongan setelah di mandikan oleh Mbok Minah. Pelayan tua itu sudah di anggap Alena sebagai orang tuanya sendiri.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka. Dokter cantik memakai jilbab violet, kini masuk sambil mengembangkan senyum hangat.
"Selamat pagi, Ibu... Baby Delan...." sapanya penuh semangat.
Alena menjawab sapaan tadi tak kalah hangat. "Apa sudah boleh pulang hari ini, Dok? Sudah lelah rasanya," kekehnya pelan mencairkan suasana.
"Sebentar ya, Bu... Saya periksa dulu." Dokter tadi segera menurunkan stetoskopnya pada bayi Alena, begitu juga berpindah ke badan Alena juga.
Syukurnya, Ibu dan anak itu tampak membaik. Dokter melepaskan stetoskop tadi. "Sudah sehat semuanya. Sore ini boleh pulang, Bu Lena. Jika terjadi sesuati pada Baby Delan, segera hubungi saya terkait kelncaran Asi atau hal lain," jelasnya.
Alena hanya mengangguk patuh. Dokter tadi melanjutkan, "Saya permisi, Bu!"
Setelah mendapat persetujuan Dokter, siang itu Mbok Minah membantu Majikannya merapikan beberapa peralatan mandi Delan, dan juga mengemasi pakaian Alena untuk di masukan ke dalam dua tas bersalin.
Semuanya sudah siap. Alena juga sudah berganti dress sebetis dipadukan cardigan rajut yang lebih baik. Wanita cantik berusia 25 tahun itu berjalan menyingkir untuk menghubungi suaminya--Dewandra.
Akan tetapi, sudah 5 kali panggilan, tak ada satu pun panggilannya yang terjawab. Perasaan Alean mendadak cemas.
"Mas Dewan kemana, ya? Nggak biasanya ponselnya itu nggak aktif," gumam Alena tertahan. Ia lantas kembali menghubungi nomor adiknya--Tiyas, dan menunggu panggilan itu terjawab.
Sambil menimang Dewan, Mbok Minah menatap Majikannya itu cukup gelisah dan bewajahkan cemas. Guratan keriput itu menunjukan kepedihan yang tak mampu dirinya tahan.
"Bagaimana, Non?"
Alena menoleh, tanganya masih menimang gawainya tadi. "Pada nggak aktif, Mbok. Kemana ya, Mas Dewan? Tiyas juga sama nggak aktif," adunya merasa lelah.
"Ya udah, Non... Kita naik grab saja! Di luar banyak kok. Yuk, kita keluar saja sekarang," Mbok Minah mencoba menenangkan.
Alena mengangguk. Ia ambil alih gendongan Baby Delan, sementara Mbok Minah membawa dua tas bersalin cukup sedang. Di saat menelusuri lorong, tiba-tiba gawai Alena bergetar.
Drttt!!
Alena berhenti. Tanganya merogoh gawainya, dan ternyata sang Mertua lah yang menelfon.
"Hallo, Bu... Ada apa ya?"
"Kapan pulangnya, Lena? Maaf ya, Ibu belum sempet ke sana lagi. Di rumah ada Arisan pengajian. Nanti kalau sudah selesai Ibu kesana," jelas Bu Sarah di sebrang.
Sambil berjalan pelan, Alena menghentikan ucapan sang Mertua. "Bu... Nggak usah! Nanti langsung ke rumah saja. Ini, Alena dalam perjalanan pulang kok. Delan juga anteng."
Setelah cukup bercengkrama, panggilan itu terputus dengan sendirinya. Mobil yang Alena tumpangi bersama Mbok Minah sudah mulai melaju cukup tenang.
Tiba di rumah petang. Kira-kira hampir setengah 6 sore. Setelah menyerahkan uang kepada sopir, kedatangan Alena dan Mbok Minah sudah di sambut oleh Bik Laras dan Mang Joko.
Barang-barang sudah Mang Joko ambil dan dibawa masuk ke dalam.
Alena yang cukup merasa lelah, langsung saja memberikan Baby Delan kepada Bik Laras, pengasuh Delan ke depan. Sambil berjalan masuk, Alena mengernyit. Langkahnya juga berhenti di tengah-tengah ruang tamu.
"Bik... Mas Dewan kemana, ya?"
Bik Risma cukup berpikir keras. Namun tak lama itu ia mejawab sambil masih menimang Baby Delan. "Nah, itu, Non... Sejak siang saya nggak lihat Juragan. Tadi pagi sih masih data'in hasil panen yang datang. Tapi siangnya saya nggak tahu. Tak kirain ada di rumah sakit sama Non."
"Tiyas juga kemana, Bik?" Alena memicingkan matanya.
"Setelah tadi membersihkan kamar buat Den Delan sama saya... Saya juga nggak tahu kemana lagi, Non. Apa mungkin ketiduran ya?! Coba nanti Non lihat di kamarnya," balas kembali Bik Laras.
Alena rasa, adiknya mungkin kelelahan karena sering membantunya berjaga malam; menggantikan Baby Delan kalau sedang rewel kala di Rumah Sakit waktu lalu.
"Ya sudah, Bik... Bibi bawa Delan ke kamar saja. Saya mau ke atas lihatin Tiyas dulu," Alena mengusap lengan Bik Laras sekilas, lalu melenggang naik ke atas.
*
*
Tok!
Tok!
"Tiyas... Kamu di dalem? Tidur, ya?"
Sambil mengetuk pintu, Alena memegang handle tadi, bermaksud mengayunkan tanganya, tapi rupanya pintu itu tak terkunci.
Suara deritan itu menggema. Alena masuk sambil mengedarkan mata. Tapi kamar Tiyas kini kosong.
Di tengah matanya mengedar mencari kebedaan sang adik, Alena di kejutkan dengan penampakan Lingerie Merah yang kini tergeletak di atas ranjang Adiknya.
Deg!
Tiba-tiba saja dada Alena bergemuruh. Ia berhenti di ujung ranjang, tubuhnya membungkuk sekilas, lalu tanganya menggapai Lingerie Merah tadi.
Bukan apa-apa... Tapi, bagaimana bisa pakaian laknat itu berada di dalam kamar adiknya? Sedangkan, status Tiyas masih lajang. Lagi pula, menikah dengan Dewantara hampir 2 tahun, tak pernah sekali pun Alena memakai pakaian sensual itu.
Bagi Alena, ia sangat jijik dan terkesan vulgar saat di pakai. Tapi nyatanya, pakaian haram itu malah berdiam di ranjang sang Adik, yang statusnya belum bersuami.
"Untuk apa Tiyas menyimpan pakaian ini?!" Tangan Alena bahkan sampai gemetaran.
Sekuat hati, sebagai Kakak, ia berusaha berpikir positif meskipun fakta di depanya membuatnya terpojokan. Mata Alena menghujam kearah lemari putih disisi nakas.
Dengan cepat, Alena menggeser pintu lemari gantung itu.
Greeekkk!!!
Deg!
Alena reflek mundur dengan wajah syok berat. Dadanya berdebar kencang, pemandangan di depan sukses menusuk hatinya.
Di dalam lemari itu, tidak hanya satu Lingerie yang tergantung. Bahkan ada puluhan Lingerie dengan berbagai model bentuk dan warna. Mata Alena hampir meleleh, jejeran Lingerie itu bak bara api yang terlempar pada penglihatannya.
Di tengah ke tegangan itu, pintu kamar mandi terbuka pelan.
Tiyas yang hanya memakai lilitan handuk sangat minim, terkejut setengah mati melihat Kakaknya berdiam di dalam kamarnya.
"Mbak Alena?"
Alena reflek menoleh. Wajah yang selalu ceria, tatapan teduh, senyum hangat. Petang ini berubah memanas dengan ledakan emosi dalam tatapanya.
Tiyas tersentak. Alena melemparkan Lingerie tadi tepat pada tubuh Adiknya.
"Jelaskan sama Mbak? Kenapa kamu menyimpan Lingerie sebanyak itu di dalam kamarmu, Tiyas?" suara Alena pecah.
Tiyas menelan ludah kesulitan. Ia terpaku beberapa detik, Lingerie lemparan Kakaknya luruh di bawah kakinya.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
jangan kecewakan perempuan lain,,
jika dihatimu masih ada Alena
maka buang jauh jauh yaa