NovelToon NovelToon
Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Teen School/College / Romansa / Tamat
Popularitas:328.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: dtyas

Arini Septha (22 tahun) mahasiswa psikologi tingkat akhir yang sedang magang di sebuah sekolah, harus menangani siswa berkarakter khusus. Salah satu siswa tersebut adalah Cakra Kananta Yuda. Siswa yang sering mendapat konsultasi dari Guru BK karena ulah dan kenakalannya.

Bukan hanya kenakalan di sekolah, tapi Cakra juga terlibat dengan Geng Motor. Kondisi keluarga yang membuat Cakra berulah seakan tidak memikirkan masa depan. Namun, pertemuannya dengan Arini membuka pandanganya dalam menjalani hidup.

Kembali harus kecewa karena Arini pergi di saat hatinya mulai tertata dan mendapati kenyataan ada campur tangan Ayahnya dalam kepergian Arini.

Bagaimana kisah Arini dan Cakra selanjutnya? Apakah mereka akan berakhir bahagia?

Ikuti terus kisah ini ya ….

===

IG : dtyas_dtyas
FB : Dtyas Auliah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 ~ Semakin Dekat

Bruum

Cakra sengaja menderu motornya lalu berhenti tepat di belakang Arini.

“Bu Arini.”

Perempuan itu pun menoleh.

“Ibu gimana sih tadi manggil saya tapi sekarang malah pulang.”

Arini mengernyitkan dahi, seingatnya dia tidak ada janji dengan Cakra.

“Kamu ada janji dengan siswa berandalan itu?” tanya Pak Ari.

Arini menatap bergantian Ari dan Cakra.

“Ehm, iya. Saya lupa,” sahut Arini.

Dari pada aku pulang dengan Pak Ari, nanti dia kegeeran lebih baik kembali ke sekolah, batin Arini.

Saat pulang tadi, Pak Ari sudah berada di ruang BK mengajak Arini pulang bersama dan perempuan itu tidak ada alasan untuk menolaknya.

“Kembali ke sekolah, urusan kamu belum selesai,” titah Arini pada Cakra.

“Saya temani,” usul Pak Ari.

“Owh tidak usah,” tolak Arini khawatir jika pria itu akan ikut kembali ke sekolah yang sebenarnya hanya alasan. Setelah Ari pergi, Arini menghela nafas lega akhirnya bisa menghindar dari pria itu.

“Nggak jadi ke sekolah nih?” tanya Cakra.

“Nggaklah, tadi itu hanya alasan. Untung saja ada kamu,” ujar Arini sambil tersenyum.

“Ngapain juga pulang sama Pak Ari?” tanya Cakra masih berada di atas motornya.

“Dari tadi dia sudah berada di ruang BK. Saya enggak ada alasan untuk usir dia,” ujar Arini.

“Ya bilang aja mau pulang dengan Cakra,” usul Cakra.

“Kalau saya bilang seperti itu, dia akan curiga ada hubungan apa saya dengan kamu.”

“Biarkan aja curiga, kalaupun ada hubungan memangnya kenapa?”

“Kamu kalau dikasih tau ngeyel ya.” Arini memukul pelan lengan Cakra karena selalu saja menjawab apa yang diucapkannya.

“Cepat naik!”

“Hahh.”

“Naik ke motor,” titah Cakra lagi. "Saya anterin pulang atau mau ke mana gitu, Cakra selalu siap mengantar," ujar Cakra sambil menepuk dadanya. 

Ternyata Caka tidak mengantar Arini pulang malah membawa gadis itu ke taman. 

"Kenapa ke sini?" 

Arini turun dari motor Cakra sambil menatap sekeliling. 

"Belum pernah ke sini 'kan? Tempatnya bagus, cocok untuk yang sedang pacaran," ujar Cakra setelah membuka jaket dan melepaskan helmnya. 

Ternyata Cakra sudah berganti  kaos pengganti seragam sekolahnya. 

"Kenapa bawa saya, seharusnya bawa pacar kamu," sahut Arini. 

"Ibu Arini yang mau saya prospek jadi pacar." Cakra merangkul bahu Arini dan mengerlingkan kedua matanya. 

Arini mendorong tubuh Cakra agar menjauh. 

"Siapa juga yang mau jadi pacar kamu." 

"Ayolah, Bik Elah pasti setuju. Dia tau aku calon menantu yang baik." 

Arini memilih meninggalkan Cakra dari pada mendengarkan ocehan laki-laki itu. 

"Arini, hei. Aku belum selesai," teriak Cakra. 

Arini berdiri menatap danau buatan di taman tersebut dan banyak gazebo di pinggiran danau. 

"Kita duduk di sana," tunjuk Cakra pada sebuah gazebo. 

Taman tersebut tidak terlalu ramai karena masuk berbayar dan berada di salah satu tempat wisata. 

“Hahh.” Cakra menghela nafasnya sambil berbaring di gazebo yang berbentuk panggung dengan kedua kaki masih menjuntai ke lantai.

Arini duduk memandang ke depan ke arah danau. Dia ingin bertanya pada Cakra mengenai hubungan laki-laki itu dengan orangtuanya, untuk membuktikan kesimpulan atas pertemuan dengan Papi Cakra saat tadi di sekolah.

Namun, Arini bingung dan ragu untuk mulai bertanya. Khawatir jika Cakra tidak ingin membicarakan masalah keluarganya.

“Ehm, Cakra boleh aku bertanya tentang …”

“Tentang apa?” tanya Cakra menyela ucapan Arini. Bahkan sudah beranjak dari posisinya berbaring dan menggeser duduknya menjadi sangat dekat dengan Arini.

“Hubungan kamu dengan … orangtua, seperti apa?”

“Hm, biasa aja. Bik Elah pasti tahu, kenapa tidak bertanya dengannya.”

“Karena aku perlu dengar langsung dari kamu,” sahut Arini.

“Papi dan Mami sangat sibuk, mereka mungkin yang melahirkan aku tapi yang mengetahui bagaimana aku lebih tahu para asisten rumah tangga termasuk Ibumu. Aku sengaja berulah ikut geng motor, kalau perlu aku ditangkap polisi dan mereka dipanggil agar mereka memperhatikan aku. Saat mereka ada malah aku merasa aneh karena mereka sok peduli untuk hal yang menurut aku sepele.”

Arini mendengarkan penuturan Cakra yang bisa jadi berasal dari hatinya yang paling dalam.

“Apa bisnis orang tuamu di luar kota atau …”

“Ada yang di luar kota tapi kalau Mami terlibat dengan perusahaan keluarganya di Singapura. Saudaraku pun menetap di sana bersama keluarganya.”

“Kenapa kamu tidak tinggal di sana juga, paling tidak kamu tetap dekat dengan mereka.”

“Kalau aku tinggal di Singapur, mana mungkin bertemu dengan perempuan yang sudah berani mengganggu kegiatanku,” ujar Cakra yang memandang lekat wajah Arini. Bahkan saat ini wajah mereka semakin dekat dan hembusan nafas Cakra terasa hangat di pipi Arini.

“Cakra.”

“Hm.”

“Minggir, ini terlalu dekat.” Arini mendorong wajah Cakra agar menjauh.

Cakra terkekeh lalu mengasak puncak kepala perempuan itu.

“Aku mau buat adegan romantis,” ujar Cakra. “Arini,” panggil Cakra membuat perempuan itu kembali mengalihkan wajahnya menatap Cakra.

“Seharusnya kamu panggil aku Ibu, seperti yang lain.”

“Seharusnya aku panggil kamu sayang.”

Arini bergeming lagi-lagi Cakra membuatnya salah tingkah dan jantungnya berdebar-debar. Ternyata Cakra bisa membuat lawan jenis terpesona seperti yang saat ini Arini alami.

“Ngaco,” gumam Arini.

Cakra mengernyitkan dahinya.

“Ngaco gimana?”

Arini mengedikkan bahunya.

“Kamu sudah punya pacar belum sih?” tanya Cakra penasaran.

“Menurut kamu?” Arini malah balas bertanya.

“Ck, aku serius dan jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain.”

“Aku juga serius. Serius untuk tidak menjawab pertanyaan kamu," ungkap Arini.

“Ya tidak masalah, tidak perlu dijawab tapi hanya perlu balas.”

Kini giliran Arini yang heran dan mengernyitkan dahinya.

“Apanya yang dibalas?”

“Perasaan aku.”

“Gombal,” ejek Arini.

...***...

Arini turun dari motor Cakra dan melepaskan jaket yang dia kenakan milik laki-laki itu dan mengembalikannya. Sudah jam tujuh malam saat Cakra dan Arini tiba setelah menghabiskan waktu mereka di taman sejak pulang sekolah.

Wajah Cakra berbinar sedangkan Arini tersipu saat Cakra dengan sengaja malah menggenggam tangannya saat menerima jaket.

“Sudah malam, lebih baik kamu cepat pulang.”

“Tapi aku belum puas, sampai rumah juga kangen lagi,” sahut Cakra dan sukses membuat wajah Arini merona. Untungnya sudah malam jadi tidak terlalu kentara dan terlihat oleh Cakra.

“Ck, kamu ternyata pintar gombal. Sudah di rumah nggak usah keluar lagi, apalagi berurusan dengan geng motor.”

“Besok aku jemput," ujar Cakra lalu memakai kembali helmnya. "Tidak usah menolak karena aku akan memaksa," ujar Cakra lagi.

Arini memandang kepergian Cakra, lalu memegang dadanya berdebar.

"Ada apa denganku?"

"Arini."

Arini pun menoleh. "Ibu," sahut perempun itu.

"Masuklah, ini sudah malam," titah Ibu sambil membuka pagar dan membiarkan Arini lewat. "Cakra yang mengantar kamu?"

"Iya, Bu."

"Kita dan Cakra itu berbeda, Ibu yakin kamu mengerti."

1
Dozky 2 Crazy
baru baca menarik
Nurlaila Hasan
kereeeen 👍👍
Mini Amora
selalu berkesan karyamu thor...
dan menyenangkan tuk membacanya🩷
Mini Amora
hallo thor...
membaca lagi novelmu yg lain.
awalannya udah seru sihhh
lanjutannya pasti lebih seru👍👍👍
Hearty 💕
Hai suka dengan ceritanya..... baru ngeh anak ke 2 Cakra namanya sama dengan anak gadis ku
Hearty 💕
jeng jeng ...... si cantik itu putrinya Bik Elak
Heryta Herman
terima kasih thor krna ceritanya happy ending...🙏
Heryta Herman
duuuh manisnya ucapanmu cakra...bikin meleleh hati arimi...😅
Heryta Herman
salut untuk arini..dewasa sekali jln pikiranmu,...tdk semua manusia bisa bersikap sprtimu...ikhlas,sabar dan menerima takdirmu tanpa menyalahkan orang lain...👍
Heryta Herman
bagus arini...👍
jangan mau lagi di intimidasi sama orang kaya sombong yg hanya pentingkan status..
jangan mau di tindas lagi dgn bagas..kamu sdh buktikan bahwa hidup kamu bisa stara dgn mereka..
semangat arini...💪
Dev..
ceritanya seru dan gk bertele-tele thor.. terimakasih 💗
Payung Rejo
baguuuusss, thank you
D!Y4H 🌟N4Y
berkali kali baca nggak bosan
bagus ceritanya /Smile/
Doffeer Zaliaan
Luar biasa
Reni Setia
makasih author untuk ceritanya
Sri Widjiastuti
ktm di makam deh... kaya nya
Nana Niez
keren, no ribet
destiana
Luar biasa
D!Y4H 🌟N4Y
bagus ceritanya
Linda Antikasari
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!