"Ren kamu kirim gadis itu jauh dari negara ini," ucap Devano dengan wajah tanpa ekspresi itu saat bicara.
"Gadis yang mana tuan dan apa kesalahannya?" bertanya dengan penuh tanda tanya, karena belum paham atas ucapan tuannya.
"Gadis yang ada di sebelah mobil ini, karena dia membawa penyakit yang menular," melirik sekilas lalu merasakan kembali penyakit itu lagi.
"Penyakit menular apa tuan?" belum paham maksud perkataan tuannya ini.
"Saat aku melihat kearah dia, jantung ku bekerja dua kali lipat dari biasanya. Bahaya sekali penyakit itu, cepat kamu kirim dia jauh dari negara ini,"
Dalam hati Ren " itu bukan penyakit tuan muda tapi anda jatuh cinta namanya, selamat datang di dunia baru menurut anda tuan muda dan selamat menikmati. jika saya menuruti ucapan anda lalu saya sendiri yang akan susah saat anda tau apa arti debaran jantung itu".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Nonton.
Satu harian ini Rindu melakukan tugasnya dengan benar, hanya beberapa kali dia bertanya pada kakak baru-nya ini.
Beruntung dia memiliki partner yang baik dan sabar dalam menghadapi dia yang masih belum faham semua kerjaan.
Sekarang jam sudah menunjuk pukul empat sore dan sebentar lagi jam pulang.
Rindu yang tugasnya sudah selesai hanya menemani kakaknya bekerja sambil belajar.
Dia fokus melihat laki-laki tampan itu sedang bekerja.
"Ada yang tidak di pahami?"
Bertanya dengan mata fokus pada layar datar itu.
"Sejauh ini masih belum ada yang tidak faham kak,"
Rindu memang di suruh memanggil kakak saat mereka lagi berdua seperti ini.
Beda jika ada orang lain, maka mereka akan tetap profesional dalam bekerja.
"Nanti kita pulang bareng ya,"
Ajaknya supaya bisa pulang bareng Rindu.
Adik baru-nya yang sangat menerima baik dirinya tanpa bertanya banyak langsung setuju.
Dia memang tidak ada memiliki niat lain selain ingin menganggap Rindu sebagai adiknya.
Sebagai anak tunggal dia merasa kesepian jadi saat melihat Rindu tadi pagi dia seperti memiliki seseorang yang spesial di hatinya tapi bukan suka pada lawan jenis.
Apa lagi Rindu menyambut baik niatnya.
'Kamu gadis yang baik Rindu, terima kasih sudah mau menerima ku menjadi kakak mu tanpa paksaan, kakak berjanji akan selalu melindungi dan akan selalu ada di sisi mu'
Jam pulang sudah tiba, keduanya sudah merapikan meja kerja tapi mereka berdua belum berangkat dari kursi karena harus menunggu bos yang belum menemukan tanda-tanda akan keluar dari ruangannya.
Mereka tidak mungkin pulang duluan karena bos mereka masih berada di dalam.
"Bos biasa seperti ini ya kak?"
Ini sudah hampir setengah jam mereka duduk dan mereka harus bisa menahan diri agar tidak pulang mendahului bos.
Ini salah satu penguji kesabaran jika bekerja di dekat bos apalagi hanya berbatas dinding kita tidak bisa pulang seenaknya saat jam pulang telah tiba.
"Memang seperti inilah keseharian seorang sekretaris kadang bisa pulang cepat jika meeting sore dari luar dan jika berada dalam ruangan seperti ini kita harus menunggu bos dulu sebelum pulang,"
Menjelaskan kepada Rindu bahwa tidak selalu menunggu bos atau menunggu jam pulang mereka bekerja sesuai perintah bos.
Kadang jika meeting di luar dan jam tanggung untuk balik ke kantor maka dia akan disuruh pulang.
"Mungkin karena aku masih baru ya kak jadi aku merasa belum terbiasa,"
Mulai sekarang Rindu harus membiasakan menunggu bosnya yang tidak ada memberi kabar sama sekali kapan dia akan pulang.
Seperti menunggu yang tak pasti atau seperti janji doi yang hanya manis di depan saja.
"Mau pulang bareng tidak?"
Dia mengulangi pertanyaan yang sama karena ajakan yang tadi belum dijawab oleh Rindu.
Dia ingin mengakrabkan diri dengan adik barunya ini dan agar bisa lebih mengenal lebih dekat lagi.
"Tapi aku bawa motor kak,"
Bukan ingin menolak hanya saja Rindu tidak mungkin meninggalkan motor kesayangannya di kantor. Sebenarnya dia bisa meminta tolong kepada orang papanya untuk mengambil motor tapi dia tidak mau melakukan karena Rindu merasa itu tidak perlu.
"Kakak juga bawa motor tapi kan kita bisa konvoi dan sekalian kakak antar sampai ke rumah,"
Memang benar usulannya tapi.
"Lain kali aja kakak mengantar aku ke rumah ya gimana kalau kita makan bareng aja di luar atau mau nonton tidak?"
Rindu masih belum mau membawa dia ke rumah orang tuanya walaupun hanya sekedar mengantar karena saat memasuki komplek perumahan orang tuanya saja maka kakak barunya ini sudah bisa menyimpulkan bahwa dia bukan berasal dari kalangan bawah.
Rindu hanya tidak ingin banyak orang tahu tentang status dia yang merupakan anak pemilik perusahaan nomor dua di kota ini.
Akan ada waktunya Rindu akan memperkenalkan kakaknya ini kepada keluarganya tapi bukan sekarang waktu yang tepat.
"Kita nonton dulu setelah itu makan malam bersama baru kita pulang walaupun kamu belum mengizinkan mengantar sampai rumah tapi setidaknya kamu memberikan kabar uang untuk kita saling mengenal lebih dekat lagi,"
Dia juga sadar bahwa dia hanya orang baru dalam kehidupan Rindu jadi tidak bisa terlalu memaksakan kehendak.
Tapi setidaknya dengan waktu yang diberikan Rindu sekarang itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
"Kalian sudah boleh pulang,"
Ren keluar dari ruangan Devano untuk menyuruh dua orang itu pulang duluan.
Itupun karena atas perintah Devano yang tidak ingin bertemu dengan Rindu sebab tidak baik untuk kinerja jantungnya.
Sepertinya mulai hari ini Devano akan lebih menjaga jarak dan jika bisa dia tidak ingin bertemu atau berinteraksi dengan Rindu karena jantungnya akan terus menghilang jika berdekatan dengan garis itu.
Penyakit mematikan menurut Devano.
"Baik pak,"
Setelah mendapatkan izin untuk pulang baru mereka berdua meninggalkan kursi dan berjalan menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai bawah.
Mereka beriringan mengendarai motor menuju mall terdekat yang akan mereka jadikan tempat menonton perdana.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai lalu berjalan beriringan menuju lantai atas tempat bioskop berada.
"Kamu tunggu di sini biar kakak yang membeli tiket dan cemilan,"
Rindu hanya bisa menurut dan duduk di kursi yang sudah disediakan pihak bioskop sambil melihat sekitar yang ternyata cukup ramai di sore hari menjelang malam ini.
"Ayo sebentar lagi filmnya mulai,"
Kebetulan mereka tidak perlu menunggu lebih lama lagi dan langsung memasuki bioskop dan mencari tempat duduk sesuai tiket yang mereka dapat.
Selama dua jam film diputar mereka fokus pada layar besar di depannya.
"Filmnya bagus kak apalagi toko perempuannya begitu tangguh tidak boleh ditindas seperti yang ada di sinetron layangan putus,"
Komentar Rindu saat keluar dari bioskop dan tujuan mereka sekarang adalah mencari tempat makan karena perut mereka sudah keroncong minta diisi.
"Kita makan di sini aja ya dan akan buang waktu jika harus mencari lagi,"
Pilihan mereka jatuh pada sebuah resto yang terletak satu lantai di bawah gedung bioskop tadi.
Rindu hanya menurut karena perutnya juga sudah lapar dan beruntung tadi dia sudah mengabari orang rumah bahwa dia akan pulang telat.
"Ayo kita pulang sekarang karena ini sudah malam dan tidak baik anak gadis lama berada di luar,"
Selesai makan mereka berdua bangkit dari duduk dan tujuan sekarang adalah balik ke rumah masing-masing tapi sebelum itu dia tetap ingin mengantarkan Rindu setidaknya jarak rumah Rindu sudah dekat agar dia tidak merasa cemas atau merasa menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab yang tidak mau mengantarkan anak gadis orang pulang dengan selamat setelah diajak keluar sampai malam.
\=\=\=\=\=
Bersambung 😘