Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13 - Pesona istri sah
Meyta tertegun melihat betapa cantik dan anggunnya istri pertama seorang Wirra Pramudya. Dengan kakinya yang mulus dan jenjang, Anna dapat menghipnotis pria mana saja untuk menatapnya. Wajah mungil serta mata yang teduh membuat wanita itu sangat mempesona.
Rambutnya yang legam dan terurai pun menambah pesona wanita itu.
Jika sudah memiliki istri dengan spek bidadari seperti Anna, mengapa Wirra masih mengejar-ngejar dirinya untuk dijadikan istri?
Anna jauh lebih cantik dari dirinya. Meyta bahkan merasa sedikit rendah diri, setelah melihat kecantikan Anna. Terlebih saat mendengar suara lembut Anna yang menyapa dirinya.
“Halo Mey,” sapa Anna dengan senyuman yang tak pernah lepas. Begitupun dengan Wirra, pria itu terus tersenyum menyaksikan interaksi kedua wanita yang kelak akan mendampinginya itu. Wirra merasa sangat bahagia karena Anna menyambut Meyta dengan sangat baik.
Sementara Meyta, wanita itu masih tertegun menatap Anna. Meyta bagai tersihir oleh pesona kecantikan alami dari istri pertama Wirra Pramudya.
Wirra bahkan harus menegur wanita itu, agar Meyta tersadar dari lamunannya.
“Apa ada yang aneh dengan penampilanku?” tanya Anna lembut. Meyta pun menjawabnya dengan menggeleng kecil. “Tidak ada. Maaf kalau tatapanku membuat kamu tidak nyaman.”
Meyta akui, dirinya memang menatap Anna terlalu tajam. Ada rasa yang sulit dia jelaskan saat melihat Anna. Perasaan marah, cemburu, bahkan rendah diri.
Anna pun kembali tersenyum lembut. Wanita itu bahkan langsung menggandeng Meyta dan mengajak wanita yang akan menjadi madunya itu ke meja makan.
“Maaf ya Mey. Harusnya, hari ini aku memasak makanan kesukaan kamu. Padahal aku yang mengundangmu ke sini. Nanti, kalau kamu ke sini lagi, kamu tinggal katakan saja, kamu ingin makan apa. Aku akan membuatkannya khusus untukmu,” ujar Anna.
Meyta melongok ke atas meja makan. Di sana sudah tersaji soto daging lengkap dengan perkedel dan keripik melinjo. Bahkan Anna juga menyiapkan orange juice.
Meyta pikir, istri sah Wirra Pramudya itu menyiapkan seluruh hidangan ini untuk menyambutnya.
Ternyata tidak.
Apa semua ini juga makanan kesukaan Anna?
“Ini semua makanan kesukaan Mas Wirra. Sejak awal menikah, dalam satu bulan, Mas Wirra pasti minta dibuatkan semua masakan ini. Persis seperti ini. Lengkap dengan jus jeruknya,” ujar Anna.
Dahi Meyta berkerut mendengarnya.
Wanita itu lalu menoleh pada Wirra yang tengah menggaruk-garuk tengkuknya yang mendadak terasa gatal.
Sejak kapan Wirra jadi sangat menyukai soto dan perkedel? Terlebih jus jeruk. Wirra bahkan tidak menyukai buah jeruk.
“Mas Wirra memang sedikit aneh. Padahal dia tidak menyukai buah jeruk. Tapi, kalau makan soto, dia pasti juga minta dibuatkan jus jeruk,” jelas Anna.
Meyta kembali mengalihkan pandangannya ke arah Wirra. Semua makanan yang tersaji di meja makan ini adalah makanan yang selalu Meyta pesan jika pergi bersama Wirra. Sebegitu cintakah pria itu dengannya? Bahkan Wirra masih mengenang dirinya melalui makanan yang sering dia pesan.
Tanpa sadar, bibir Meyta tersenyum tipis. Padahal, tadi dirinya merasa rendah diri saat berhadapan dengan Anna yang sangat cantik. Tapi, saat melihat semua yang terjadi di hadapannya, Meyta kembali percaya diri. Wanita itu percaya jika dirinya mampu membuat Wirra hanya menjadi miliknya seorang.
“Kalau nanti kamu sudah menjadi istri Mas Wirra, kamu pasti akan kebagian membuatkan semua hidangan ini untuknya,” ujar Anna.
“Aku tidak mahir dalam memasak. Bahkan tidak terlalu suka memasak,” jawab Meyta.
Anna sedikit terperangah mendengar ucapan Meyta. Rasanya dia tidak percaya jika ada seorang wanita yang tidak suka memasak. Berbeda sekali dengan dirinya yang sangat menyukai jika berada di dapur untuk membuat makanan.
“Yasudah ... Kita mulai makan saja ya. Aku sudah lapar,” ucap Wirra yang kini duduk di sebelah Anna.
“Kamu cobain Mey. Soto buatan Anna sangat enak. Kamu pasti suka,” ucapnya lagi.
“Tentu saja aku akan suka. Ini semua makanan kesukaanku,” ujar Meyta sembari melirik tajam pada Wirra dan Anna. Dirinya kini tengah terbakar api cemburu. Melihat Anna melayani Wirra dengan mengambilkan makanan untuk pria itu, entah mengapa membuat Meyta merasa kesal.
“Kamu juga menyukai soto?” tanya Anna.
“Iya. Semua makanan yang kamu sajikan hari ini, adalah makanan kesukaanku. Soto, perkedel, keripik emping,, bahkan orang juice ini juga Semuanya kesukaanku,” tegas Meyta sekali lagi.
Anna kembali terperangah. Calon madunya itu ternyata memiliki selera yang sama dengan sang suami. Namun, hal itu juga membuat Anna menjadi tenang. Karena sang suami nantinya pasti akan menyukai apa-apa saja yang disajikan oleh Meyta, ketika mereka sudah menikah.
“Wah ... Ini suatu kebetulan yang baik. Kalian ternyata mempunyai selera yang sama,” ujar Anna.
Kali ini, Meyta yang terperangah. Dia pikir, Anna akan menyemburui dirinya saat dia mengatakan kalau dia memiliki selera makanan yang sama dengan Wirra. Tapi, ternyata perkiraan Meyta salah. Tak tampak kecemburuan sedikitpun di wajah Anna. Wanita itu malah terlihat bahagia.
Kini, Meyta, Wirra dan Anna pun menyantap makanan itu dalam keheningan. Masakan Anna yang lezat bahkan mampu menghipnotis Meyta untuk terus menyantap makanan yang tersaji.
Dan pembicaraan mengenai poligami pun terjadi kala mereka sudah berkumpul di ruang keluarga, setelah santap makan siang.
Anna dengan gamblang menjelaskan pada Meyta, bahwa dialah yang menginginkan Wirra untuk menikah lagi, demi kebahagiaan pria itu.
“Apa kamu tidak merasa keberatan berbagi suami dengan wanita lain?” tanya Meyta penasaran. Anna pun menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
“Munafik,” gumam Meyta.
Walau Meyta mengatakannya dengan suara rendah, tapi Wirra dan Anna masih dapat mendengar dengan jelas umpatan yang terlontar dari bibir Meyta. Wirra pun meminta maaf pada istrinya itu.
“Dia memang keras kepala,” bisik Wirra pada Anna. Kembali Anna melengkungkan bibirnya. Dia sama sekali tak merasa terganggu dengan umpatan Meyta padanya.
“Mungkin banyak orang mengatakan aku munafik. Menginginkan suami untuk berpoligami. Tapi, aku tidak peduli apa pendapat orang lain padaku. Aku hanya ingin melihat Mas Wirra bahagia. Dan aku yakin, dengan menikahi kamu, Mas Wirra akan bahagia,” ucap Anna. Wanita itu benar-benar mengatakannya dengan penuh kelembutan.
“Aku tidak sempurna sebagai wanita, Mey. Aku tidak bisa memberikan keturunan pada Mas Wirra. Tapi, aku yakin, kamu pasti bisa memberikan Mas Wirra seorang penerus.”
“Penerus? Maksud kamu, anak?”
Sembari tersenyum lembut Anna mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sementara Meyta, wajah wanita itu seketika berubah menjadi merah. Dia marah. Ternyata pria itu berbohong. Wirra tak benar-benar mencintai dirinya. Wirra hanya menginginkan seorang anak dari rahimnya.
Pantas saja pria itu masih mencari pendamping lain sementara istrinya sendiri layaknya seorang bidadari.
“Aku bukan mesin pencetak anak!”
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus