Kisah Jerry, Eza dan Nilo seorang wanita 21 tahun yang sangat suka sekali berdiam diri di Rumah dan memiliki ilusi yang sangat kuat.
Bahkan Nilo bisa menceritakan bagaimana rupa suaminya itu, bagaimana mereka menikah, bagaimana mereka melewati malam pertama dengan begitu detail. Namun itu semua hanyalah khayalan Nilo.
Nilo tersesat antara kehidupan nyata dan imajinasinya.
Akankah Nilo tersadar dan bagaimana Nilo menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 13
Sejak saat itu Nilo mulai tidak suka pada J, Nilo merasa J menilai dirinya rendah, padahal yang bersamanya adalah Jerry.
Karena tidak menemukan Nilo di sana. Jerry ingin mengerahkan orang-orangnya untuk mencari Nilo, namun sesaat Jerry ingin menelpon ia berpikir bahwa bukan dia lah yang membayar orang-orang tersebut. Akhirnya Jerry beralih menelpon Gizz untuk memastikan Nilo sampai di rumah dengan selamat.
Setelah menerima telpon dari Jerry, Gizz pun bergegas mencari Nilo, dan Gizz menemukan Nilo sedang berjalan sendiri sudah mendekati rumah mereka.
“Nilo, sedang apa kamu di sana?” tanya Gizz dari dalam mobilnya berlawanan arah dengan Nilo.
Namun Nilo diam saja tidak menjawab Gizz, melihat Nilo yang diam saja, Gizz turun dan menarik Nilo masuk ke dalam mobilnya.
Gizz mulai melajukan mobilnya, hingga beberapa saat Gizz menghentikan mobilnya di tepi pantai.
Nilo yang melihat dirinya sedang berada di pantai yang di terangi cahaya bulan dan bintang seketika bangun dan keluar dari tempat duduknya.
Nilo menyerap dan menikmati suara deburan ombak di malam itu masuk ke dalam tubuhnya membuat Nilo merasa lebih tenang.
Gizz dan Nilo duduk di atas kap mobil mereka melihat ke lautan luas.
“Ada apa? tidak seperti biasanya kau keluyuran malam begini?” tanya Gizz dengan memandang ke lautan.
“Tidak mengapa, aku hanya ingin berjalan-jalan saja.” ucap Nilo yang juga memandang ke arah laut melihat ombak yang sedang berkejaran.
Tanpa sengaja Gizz menyentuh tangan Nilo yang sedang berada di sampingnya. Gizz pun langsung menggenggam tangan Nilo mulai mendekatkan wajahnya saat Nilo melihat ke arah Gizz.
Nilo diam saja tak mengerti apa yang akan Gizz lakukan hingga diam saja, wajah Gizz semakin dekat, semakin dekat, terus hingga hidung Gizz mengenai hidung Nilo, seketika Nilo yakin bahwa Gizz ingin menciumnya.
Nilo dengan cepat memalingkan wajahnya, hingga Gizz berhenti dan kembali menjauhkan wajahnya karena sadar Nilo tidak menginginkannya.
“Nilo, tidak bisa kah kau memberi ku kesempatan?” tanya Gizz yang sudah berdiri di depan Nilo.
“Sebutkan kamu ingin menjadi apa? aku adalah wanita yang sudah bersuami?” tanya Nilo menjelaskan keadaannya.
“Suami ke Dua atau penggoda, Aku tidak masalah dengan itu.” jawab Gizz serius.
“Aku punya 3 suami, kelihatannya bagus juga.” Nilo berdehem setelah mengucapkannya.
“Apa masih ada kemungkinan untuk mempunyai Harem pria tampan?” tambah Nilo.
Gizz menyentil dahi Nilo karena ucapan Nilo yang baru ia lontarkan.
Nilo akhirnya menceritakan keadaannya saat ini, bahwa ia sudah di jodohkan oleh ayah ibunya untuk membantu perusahaan ayah Nilo agar mampu terus berdiri.
“Apa ?” Gizz terkejut seketika memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Rasanya Gizz semakin jauh dari Nilo semakin tidak mungkin untuk mendapatkan wanita yang sudah lama ia sukai itu.
Sementara itu Jerry sudah kembali ke rumah Divine di lihatnya ke 2 temannya itu sudah tergeletak di ruang keluarga, namun Gara tidak terlihat di sana.
Jerry berjalan menuju kamar Divine untuk memastikan apa Gara berada di sana tidak lupa ia memotret Ben dan Eza terlebih dahulu yang bergeletak di sana, seolah orang yang sudah tidak bernyawa dengan posisi tidak teratur.
Jerry pun menaiki anak tangga menuju kamar Gara dan Divine sesampainya di depan pintu kamar Divine, Jerry menempelkan telinganya untuk memastikan Gara berada di dalam sana.
Terdengar suara “Uhh ach" secara berkala dan samar, membuat Jerry menempelkan telinganya lagi, seketika sangat terdengar jelas, Divine mengerang dengan cukup keras, dan suara Gara mengucap kata "sayang".
“Kenapa rasanya aku pernah mendengar suara seperti ini?” Gumam Jerry pelan merasa ia pernah berada di moment yang bersuara seperti yang ia dengar di dalam kamar Gara dan Divine.
Tanpa lama seketika wajah Jerry memerah, terlintas begitu jelas Nilo dan dirinya dalam ingatannya.
Jerry berjalan pelan kembali menghampiri Ben dan Eza lalu merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di dekat 2 temannya itu.
Di sisi lain.
“Apa kau benar-benar akan membangun Harem pria?” tanya Gizz.
“Itu tidak mungkin.” Nilo menjelaskan lagi.
Banyak hal yang buruk yang akan terjadi, salah satunya mungkin Nilo di tolak oleh pria yang di jodohkan dengannya setelah mengetahui keadaan Nilo dan berakibat perusahaan ayah Nilo tidak tertolong atau bercerai dengan J, ini adalah yang tidak inginkan oleh Nilo.
Jerry pun pasti tidak menginginkan Nilo menikah dengan orang lain, karena Jerry telah jatuh hati pada Nilo terlebih Nilo si agresif telah merenggut semua miliknya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Gizz.
Di kamar Gara dan Divine.
“Aku mencintai mu, tapi maaf aku tidak bisa tidur bersama mu malam ini.” ucap Gara yang baru saja mengenakan piyamanya.
“Ya sayang, tidak mengapa.” jawab Divine dengan tersenyum yang masih berada di bawah selimut.
“Tapi aku masih ingin bersama mu.” Gara kembali masuk ke dalam selimut memeluk dan menciumi tubuh Divine yang dekat di sekitar wajah Gara.
“Ya sudah tidur saja di sini, kau bisa kembali sebelum mereka terbangun.” ujar Nilo.
“Tidak, Jerry akan kembali, aku tidak ingin Eza meminta sesuatu yang tidak bisa ku bayangkan.” Gara mencium kening Divine dan bangkit untuk kembali keluar.
Gara pun keluar dari kamarnya, Jerry mendengar kedatangan Gara, ia langsung membalikkan tubuhnya ke belakang sofa.
Setelah Gara merebahkan tubuhnya di sofa yang lain, barulah Jerry keluar dari balik sofa dengan menaikturunkan alisnya ke pada Gara.
“Jerry ! ” ucap Gara terkejut.
“Aku sakit perut, aku ke kamar mandi sebentar.” tambah Gara menjelaskan.
“Oh yaa, apa buang air besar perlu desahan.” ucap Jerry yang sudah duduk di sofa.
“Siapa yang mendesah?” seketika Ben bangun karena mendengar ucapan Jerry perihal desahan.
Gara langsung mencatuk kepala Ben hingga Ben kembali tertidur di lantai.
“Kau menguping, apa kau tidak ikut bergairah?” ucap Gara dengan gaya sombong membanggakan dirinya.
“Apa kamu tidak melihat ini.” Jerry membuka tangannya yang sedari tadi ia tutupi dengan tangannya, sesuatu yang tampak begitu jelas sedang menegang di dalam sana.
“Pffft,” Gara menahan tawanya menertawakan Jerry.
“Ini ada 2 orang yang sedang lupa diri, kamu bisa memanfaatkannya.” tambah Gara yang masih menahan tawanya.
“Aku masih normal.” seraya mengelus-ngelus kepunyaannya agar kembali tenang dan tidur dengan nyaman.
“Pria muda seperti mu, apa sudah pernah melakukan itu?” tanya Gara, mengingat dirinya sudah berusia 29tahun baru melakukannya pertama kali itupun dengan istrinya.
“Ahh tidak,” ujar Jerry, namun raut wajahnya terlihat tidak mengatakan sesuai jawabannya, Jerry terus mengelus kepunyaannya yang baru saja ingin santai Gara malah menanyakan sesuatu yang membuat otaknya tidak bisa diam.
kangen banget aku Ama Nilo
penasaran aku gak ilang² lho Thor Ama novelmu ini
setiap up adaaaa aja misterinya😁
Jan lama² ya Thor up nya aku setia nunggu lho😚
kelakuan Evan... jadi suka akunya sama doi🤭
Jerry kemana Thor? kangen juga ama cerita si Deddy satu ini😁