Pengumuman! sedang masa di revisi dari bab 85
Maaf, atas ketidaknyamanannya, mungkin akan ada pengubahan jalan ceritanya, terima kasih
Bagaimana jadinya ketika seorang wanita Mafia bertukar tubuh dengan seorang gadis SMA yang merupakan kekerasan sekolah, tak hanya itu gadis itu juga merupakan putri dari cinta pertamanya? Akankah dia bisa menjalani kehidupan itu? Dan membantunya membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya? Simak kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xianyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Karena kegagalan Rio yang tak bisa membawa Dania ke hadapannya, membuat pria berdarah batak itu naik pitam, ia pun tak hentinya mengeluarkan umpatan yang keluar dari mulutnya.
Bagaimana dirinya tak naik pitam? Dia rela panas-panasan hanya demi menunggu Dania. Namun hasilnya sangat mengecewakan.
Terlebih lagi, obat perangsang yang sudah ia beli susah payah kini terbuang percuma.
Padahal ia berencana untuk menghancurkan kehidupan perempuan itu hingga berkeping-keping sama hal nya dengan harga diri yang sudah gadis itu hancurkan.
Roland pun hanya bisa melampiaskan kemarahannya pada seorang siswa kelas satu, bernama Yoga.
Pria itu memiliki tubuh yang sangat kurus serta pisiknya yang lemah, membuatnya menjadi sasaran empuk untuk meredam amarah Roland.
Kedua kakinya secara bergantian menendang perut Yoga, sehingga membuat pria kurus itu mengerang kesakitan. Kendati begitu Roland tak memperdulikannya dengan terus melanjutkan aksinya
Di belakang punggungnya, bawahannya hanya terdiam sembari melihat aksinya dalam melampiaskan amarahnya. Tak ada satupun dari mereka yang mau menghentikannya. Padahal pria kurus itu sudah mengeluarkan darah dari mulutnya.
Rio yang tak sanggup melihat kebrutalan pria itu pun berinisiatif menghentikan Roland. " Cukup, atau dia akan mati. " ungkapnya.
Aksi Roland pun terhenti sejenak, matanya mendelik tajam kearah Rio itu.
" Pergilah. " Rio berkata pada Yoga.
Tanpa membuang kesempatan, pria itu pun berlari sebisa mungkin, meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki yang tertatih-tatih.
Buk! Tubuh Rio pun tersungkur di atas lantai yang sudah berdebu itu.
Roland pun menindih tubuh Rio. Lalu memukulinya secara brutal.
" Ini semua gara-gara lo! Makanya kalau punya otak itu di pake! Padahal tugas lo itu gampang, cuman buat ngejemput doang. " ujarnya seraya menoyor kepala Rio.
Saat itu, ketika Dania berkata bahwa dia akan berteriak, membuat nyali Rio menciut. Ia tak ingin namanya semakin buruk terlebih lagi, jika ayah nya tahu dirinya kembali menerima masalah, dia tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.
Ia pun hanya bisa pasrah dan terdiam, menerima pukulan dari Roland, namun di dalam hatinya ia tak berhenti mengucapkan sumpah serapah serta makian yang tertuju pada Roland.
" Besok, pokoknya gue nggak mau tahu. Lo harus bawa itu cewek sialan gue kehadapan gue. Jika tidak? Lo pasti sudah tahu akibatnya. " Roland pun menyudahi aksinya memukuli tubuh Rio. Ia pun bangkit dari posisinya.
Salah satu bawahannya memberinya sebuah handuk kecil untuk membersihkan darah Rio yang menempel di punggung tangannya.
Pria itu pun pergi meninggalkan tempat itu yang kemudian di ikuti oleh bawahannya, meninggalkan Rio yang terbaring lemah dengan wajah babak belum.
" Sialan! B*ngs*! anj*ng! " Umpatan itu terlontar begitu saja dari mulut Rio, tentunya ia ucapkan setelah memastikan kepergian Roland beserta bawahannya. Jika bukan karena ayah Roland yang telah membantu ayahnya yang hampir gulung tikar, Pastinya ia tak akan sudi di perlakukan seperti ini.
" Ini semua karena cewek sialan itu. " Nafasnya menderu. " Akan gue buat dia menderita. "
Hatchim! Tiba-tiba hidung Ruksa terasa gatal.
Mendengar bahwa putrinya baru saja bersin, Ruslan yang sedang berkutat di dapur langsung berlari ke ruang tengah menghampiri putrinya yang tengah asik menonton sebuah acara televisi dengan sebuah toples berisi makanan.
Ruksa tengah menikmati sebuah acara itu, seketika mematung ketika Ruslan memasukkan termometer kedalam mulutnya dan menanyakan keadaannya, yang bahkan kalau di lihat dengan mata telanjang pun pasti tahu bahwa dirinya baik-baik saja.
Bahkan berkat ramuan spesial yang di racik oleh Ruslan membuat tubuhnya cepat pulih dari biasanya.
Alasan dari sikap Ruslan yang berlebihan itu, semuanya berasal dari kecelakaan yang di alami putrinya yang sudah terjadi tiga kali, membuat pria itu merasa tak berguna dan berusaha memperbaikinya.
Namun karena sikapnya yang berlebihan itu membuat Ruksa menjadi risih. " Gu- Aku baik-baik saja, hanya terkena debu saja. " ungkap Ruksa. Dengan buru-buru ia beranjak bangkit dari posisi duduknya. " A-aku mau belajar. "
" Kamu yakin? Apa perlu ayah membawa mu ke rumah sakit? Ayah takut jika terjadi apa-apa pada mu. "
" Sangat yakin, jadi tak perlu pergi ke rumah sakit " ujar Ruksa. " Kalau begitu a-aku pergi belajar. " Ia pun langsung berlari menuju kamar, meninggalkan acara yang sedang tayang.
Esok paginya.
Sejak kakinya melangkah keluar dari rumah, entak kenapa? Ruksa merasa bahwa ada seseorang yang terus mengawasinya dari kejauhan.
Akan tetapi, Ruksa yang sudah biasa di intai, hanya bersikap seperti biasanya.
Saat tengah menikmati acara makan siangnya, tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampirinya dan mengatakan sesuatu yang sulit di terima oleh telinganya, pasalnya tak ada satu pun siswa di sana yang mau duduk bersamanya.
Ruksa pun mendongakkan kepalanya, kedua matanya mengerjap beberapa kali. Kepalanya menoleh ke arah kanan dan kiri.
" Aku bicara sama kamu. "
" Aku? " timpal Ruksa seraya menunjuk kearahnya.
Bocah lelaki itu mengangguk, " Boleh kan, aku makan bareng sama kamu? "
" Silahkan saja, lagi pula ini tempat umum. " timpal Ruksa seadanya.
Pria itu tersenyum, menarik kursi di depan Ruksa lalu terduduk di sana, pria itu memakan makanannya dengan sangat lahap.
Namun, berkat keberadaan bocah lelaki di depannya membuat semua mata yang berasa di kantin itu langsung tertuju pada meja yang di tempati oleh Ruksa dan bocah lelaki itu.
Clik! Tiba-tiba sebuah motif masuk kedalam ponsel milik Ruksa, wanita itu merogoh ponselnya dan memeriksa notif tersebut.
Dan ternyata itu dari Dania yang mengabari tentang saham itu. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, membaca teks yang berisikan bahwa gadis itu sudah membuat kemajuan.
Untuk perkembangan rapat saham itu, Dania sudah berhasil meyakinkan beberapa orang yang sangat berpengaruh saat pemilihan pemegang saham nantinya, bahkan gadis itu mampu meluluhkan seorang pria tua yang bahkan Ruksa sendiri sulit untuk mengambil hatinya.
Melihat Ruksa yang sibuk dengan ponselnya membuat pria di seberangnya menjadi sangat penasaran. " Pacar? "
Ruksa pun mendongkak. " hmm. Apa Lo bilang barusan? "
" Apa kamu sedang bertukar pesan dengan pacar mu? " Tanya kembali pria itu.
Ini bocah kenapa tiba-tiba bertanya? batin Ruksa.
Dengan senyuman yang di paksakan Ruksa pun mengiyakan pertanyaan dari bocah lelaki itu.
" Orang mana? " tanyanya kembali
Kepo banget sih sama urusan orang lain.
" Orang dekat sini. "
" Sekolahnya di sini? "
So akrab banget sih ini bocah.
" Bukan. "
Kepala bocah lelaki itu mangut-mangut. " Oh iya kita belum kenalan sejak tadi, kenalin gue Mikael. Orang-orang biasanya manggil gue El. Salam kenal. "
Dengan terpaksa Ruksa pun meraih uluran tangan bocah lelaki itu. " Dania, salam kenal. "