Amanda Jhonson dijual oleh tunangan dan kakak tirinya pada seorang pria tua untuk membayar hutang,hal itu membuat hidupnya hancur dalam satu malam.
Di malam yang mengerikan,Amanda ditangkap dan dipaksa untuk melayani seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.
Tapi pada malam itu,untuk menjaga kesuciannya Amanda membunuh pria tua itu.
Karena itu,Amanda divonis penjara selama lima tahun karena terbukti telah menjadi pembunuh dengan bukti-bukti yang ada.
Tapi baru saja Amanda menjalani masa tahanannya seorang pria yang tertarik padanya menemui wanita itu dan menawarkan bantuan padanya.
Pria itu juga berjanji akan membantu Amanda bebas dari jeruji besi dan membantu Amanda membalas dendam tapi dengan sebuah syarat.
Apakah Amanda akan menerimanya?
Sekuel dari Hot Mother And The Bos Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Amanda membuka matanya saat mendengar seseorang membuka pintu kamarnya,dengan cepat Amanda bangun dari tidurnya dan melihat pelayan pribadi Edward masuk kedalam kamar yang dia tempati tanpa permisi.
"Selamat pagi putri tidur, ini pakaian yang telah disiapkan oleh tuan Edward." sindir pelayan itu dan meletakkan pakaian yang dia bawa keatas ranjang.
"Siapa namamu?" Amanda mengabaikan sindiran dari pelayan itu.
"Natalie." jawab Natalie dengan ketus.
Amanda segera berjalan kearah kamar mandi dan melewati Natalie sedangkan Natalie mendesis saat melihat Amanda.
"Mantan napi tidak tahu diri!" desis Natalie.
Amanda mendengarnya dan dia diam saja, memang dia mantan napi? Lalu untuk apa dia membantah?
Amanda mandi dengan cepat karena dia sudah tidak sabar untuk pergi menemui ayahnya, dia berharap kondisi ayahnya baik-baik saja karena mengingat kondisi ayahnya kurang baik saat terakhir kali mereka bertemu.
Setelah selesai Amanda keluar dari kamar itu,dia tidak tahu kamar yang dia tempati kamar siapa karena terdapat banyak foto wanita cantik disana.
Semalam Amanda melihat-lihat isi kamar itu,disana terdapat foto seorang wanita tapi di foto wanita itu tidak terlihat foto Edward Jackson.
Apa itu foto pacar Edward yang sudah mati? Amanda jadi sedikit penasaran tapi dia tidak mungkin bertanya. Untuk apa dia perduli sedangkan saat ini dia tidak tahu untuk apa dia tinggal dirumah pria itu.
Amanda berjalan kearah dapur dan disana tampak Edward sedang menikmati kopinya dengan sebuah majalah bisnis ditangannya sedangkan Natalie tampak menyiapkan sarapan untuk majikannya.
Natalie melihat kearah Amanda dengan tatapan kebencian, entah kenapa dia tidak suka melihat wanita itu disana dan sepertinya mulai sekarang dia harus melayani wanita itu. Hal itu semakin membuat hati Natalie dipenuhi kebencian terhadap Amanda.
"Good morning." Amanda menyapa Edward dan berjalan kearah pria itu.
Saat mendengar suara Amanda, Edward meletakkan majalah yang dipegangnya diatas meja dan menatap wanita itu dengan tatapan tajamnya.
Amanda hanya tersenyum padanya dan duduk didepannya, dia sangat benci dengan tatapan itu tapi sepertinya dia harus membiasakan diri menerima tatapan dingin dari Edward setiap harinya.
Tanpa banyak bicara Natalie meletakkan segelas kopi didepan Amanda dengan kasar, Amanda hanya tersenyum pada Natalie karena dia tahu, dilihat dari sikap Natalie, wanita itu pasti tidak suka dengannya.
"Edward." Amanda memecah keheningan diantara mereka.
"Bolehkah aku pergi menjenguk ayahku sendiri?" tanyanya.
"Tidak!" jawab Edward dengan datar.
"Kenapa? Aku tidak mau merepotkanmu. Setelah aku menjenguk ayahku dan mengambil barang-barangku, aku pasti akan kembali lagi."
Edward hanya diam saja dan menyeruput kopinya kembali tanpa berkata apa-apa, hal itu membuat Amanda jadi gusar.
"Kau tidak perlu kawatir, aku pasti tidak akan kabur kemana-mana." Amanda mencoba meyakinkan Edward.
"Natalie, hari ini pergi ambil semua barang-barang Amanda dan bawa semuanya kemari." Edward memerintahkan pelayan pribadinya itu.
"Baik tuan Jackson." Natalie membungkuk tapi matanya melotot pada Amanda.
"Edward, aku bisa sendiri."
"Sebaiknya kau siapkan saja hatimu!" Edward bangkit berdiri.
"Habiskan sarapanmu dan segeralah menuju kemobil, aku tunggu disana." setelah berkata demikian Edward langsung melangkah pergi meninggalkan Amanda.
Amanda menatap kepergian Edward dengan sejuta pertanyaan dihatinya, apa maksud dari ucapan Edward? Kenapa dia harus menyiapkan hatinya?
Amanda jadi takut, takut jika ayahnya sedang berada dirumah sakit saat ini. Amanda segera menghabiskan makanannya karena dia sudah tidak sabar untuk melihat ayahnya.
Saat sudah selesai Amanda segera berlari menuju mobil dimana Edward sudah menungunya.
Selama diperjalanan lagi-lagi tidak ada yang berbicara, Amanda melihat jalanan yang mereka lalui dengan heran.
Mau pergi kemana mereka? Mereka tidak juga menuju kerumah ayahnya tidak juga menuju kerumah sakit? Tapi sepertinya mereka menuju ke?
Amanda memalingkan wajahnya melihat kearah Edward, sekarang hatinya semakin dipenuhi ketakutan karena saat ini Edward membawanya menuju kesebuah makam.
Pemakaman Fairview.
Pemakaman Fairview adalah pemakaman seluas 32 acre yang dimiliki oleh kota Colorado springs, Colorado.pemakaman ini didirikan pada tahun 1895 di sisi barat kota, tetapi sebelumnya ada pemakaman di tanah itu. Tanah tersebut disumbangkan oleh Anthony,di pemakanan itu menawarkan pemandangan Taman Dewa dan Gunung Cheyenne.
"Edward kenapa kau membawaku kesini? Kau tidak mengajakku kemari untuk melihat gunung bukan?" dia berharap apa yang dia pikirkan saat ini adalah salah.
"Bukankah aku sudah bilang, sebaiknya kau siapkan hatimu!"
Air mata Amanda mulai menetes,saat itu dia semakin yakin jika ayahnya ada disana. Amanda menghapus air matanya dengan punggung tangannya, matanya mulai melihat batu-batu nisan yang mereka lalui.
Tidak lama kemudian, mobil Edward berhenti. Edward turun dari mobilnya begitu juga Amanda.
Amanda tampak masih menangis dan rasanya dia tidak sanggup melangkahkan kakinya untuk melihat kenyataan yang ada.
Edward menggenggam tangan Amanda dan membawa wanita itu menuju kesebuah makam yang tampak masih belum lama.
Kaki Amanda langsung lemas dan jatuh berlutut diatas rumput pemakaman, dia berteriak kencang saat melihat nama ayahnya terukir dibatu nisan itu.
Amanda merangkak diatas rumput untuk mendekati batu nisan ayahnya, Amanda memeluk batu nisan ayahnya sambil menangis dan bergumam pelan.
"Dad, maafkan aku, maaf."
Amanda memeluk batu nisan ayahnya cukup lama sedangkan Edward berdiri didekatnya, Edward membiarkan Amanda menangis disana karena dia tahu hal itu tidaklah mudah untuk Amanda Jhonson.
Setelah sekian lama menangis Amanda bangkit berdiri dan mengusap air matanya dengan kasar. Amanda hendak berjalan melewati Edward tapi tangannya langsung ditangkap oleh Edward.
"Mau kemana?"
"Lepaskan Edward, aku ingin pergi kerumah ayahku."
"Apa yang bisa kau lakukan disana?"
"Aku ingin tahu penyebab kematian ayahku."
Edward berjalan mendekati Amanda dan memeluk wanita itu dengan erat, Edward menyelipkan anak rambut Amanda yang tampak berantakan dan berbisik ditelinganya.
"Setelah kau tahu penyebab kematian ayahmu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak tahu!" Amanda kembali menangis dalam pelukan Edward.
Edward mengencangkan pelukannya, membiarkan Amanda menangis didalam pelukannya.
Amanda memeluk Edward tanpa sadar, membenamkan wajahnya didada bidang Edward dan menangis dengan kencang.
Dia butuh sandaran saat ini sedangkan kehangatan tubuh Edward dapat membuat perasaannya menjadi nyaman.
Setelah beberapa menit menangis Amanda melepaskan pelukannya dan menunduk malu, dia jadi malu untuk melihat wajah Edward.
"Maaf telah membuat bajumu basah."
Amanda mengangkat tangannya untuk menyeka kemeja Edward yang basah oleh air matanya tapi pada saat itu Edward menangkap tangan Amanda.
Amanda mengangkat kepalanya, pada saat itu matanya beradu dengan tatapan dingin Edward.
Amanda menahan nafasnya dan terbelalak kaget saat Edward mengangkat dagunya dan tiba-tiba saja pria itu me**mat bibirnya.
Setelah beberapa saat Edward melepaskan bibirnya dan berbisik ditelinga Amanda.
"Hari ini kau boleh pergi kemanapun tapi ingat, kau harus kembali padaku karena kau sudah menjadi milikku."
Edward langsung melangkah pergi meninggalkan Amanda, wajah Amanda memerah dan kembali jatuh berlutut diatas rumput.
Amanda menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya, kenapa Edward menciumnya?
waktu amanda dibawa ke penjara dan disidang, bantu pun tidak