NovelToon NovelToon
Mertua Kejam

Mertua Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Patahhati
Popularitas:129.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ellennola

Kiran, seorang gadis cantik yang sederhana.
Dia tak menyangka bila pernikahannya dengan kekasih pilihannya tak berjalan baik-baik saja.
Begitu banyak lika liku yang harus dia hadapi setelah dirinya menikah dengan Dayat Saputra sang suami juga cinta pertamanya.
Ibu mertuanya yang kejam juga tak hentinya berusaha memisahkan mereka!
Akankah Kiran dapat bertahan dan mempertahankan keluarga kecilnya?
Atau akankah Kiran menyerah?
Penasaran?
Baca selengkapnya kisah mereka disini.....
.
.
Semoga kalian suka😁
Ini cerita pertama author, maaf kalo bahasa dan tanda baca masih kurang, masih proses belajar.
Mohon dukungannya yaa, jangan lupa tinggalin jejak bila kalian suka cerita ini.
Sebelumnya author berterima kasih untuk kalian yang bersedia membaca cerita ini😁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellennola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keliling Jogjakarta

Matahari menyeruak masuk melalui celah tirai yang terbuka, karna memang semalam, aku lupa menutupnya kembali, juga karna kami terlalu lelah dengan permainan kami semalam yang benar-benar menguras tenaga.

Akhirnya kubiarkan saja tirainya, toh takkan ada yang akan melihat kami bergulat semalam, karna kamar kami yang berada cukup tinggi. Apalagi memang ini adalah hotel yang paling besar daripada hotel-hotel disekelilingnya, maklum saja hotel ini termasuk dalam jajaran hotel berbintang.

Aku menggeliatkan badanku sedikit, merenggangkan otot-otot ditubuhku yang masih terasa pegal.

Mas Dayat masih terlelap dari tidur nyenyaknya semalam, kami juga sudah melewatkan waktu untuk sholat subuh bersama.

Ya sudahlah, mau bagaimana lagi.

Aku hendak beranjak membersihkan diri namun rasanya tak nyaman sekali.

Akhirnya kembali kududukkan pantatku ditepian ranjang.

Anganku kembali mengingat kejadian semalam, malam yang mungkin tak akan pernah bisa kulupakan dalam hidupku.

Aku jadi tersipu sendiri dibuatnya.

Ketika aku tengah tersenyum-senyum sendiri, rupanya mas dayat bangun dan langsung mengucapkan selamat pagi, sembari tangannya melingkari pinggangku.

Kuucapkan pula : "selamat pagi juga suamiku."

Sembari aku masih terduduk memunggunginya.

Dibalikkan badan dan wajahku kembali menghadap mas Dayat, lalu mas Dayat mencium wajahku lembut.

Lalu mas Dayat menggendongku dipunggungnya, menyuruhku agar segera mandi.

Kulingkarkan kakiku menggampit badan mas Dayat, sedang tangan kulingkarkan dileher suamiku, agar aku tak jatuh.

Sesekali aku tertawa, mas Dayat sepertinya juga tak kalah bahagia.

Benar-benar momen yang sangat indah serta langka, dan sepatutnya diabadikan, tapi apalah daya, makanya hanya bisa kuabadikan dalam ingatanku saja.

Dengan sedikit tertatih mas Dayat membawaku masuk ke kamar mandi ,menyuruhku untuk mandi bergantian dengannya.

Mungkin dia merasa berat, karna memang postur kami yang hampir sama, hanya mas Dayat sedikit lebih tinggi dari postur tubuhku.

Diturunkannya badanku dari punggungnya dengan sangat berhati-hati, mungkin takut kamar mandi licin dan membuatku tergelincir, lalu membuatku jadi terluka, padahal semalam dia memang sudah membuatku luka, aku hanya sedikit tersenyum geli melihat tingkah mas Dayat.

Setelah menutup pintu, agar air keran tak keluar kemana-mana. Aku bergegas mandi.

Sembari menungguiku keluar kamar mandi, mas Dayat kembali duduk diranjang, menyalakan remote tv.

Tak berapa lama aku pun keluar, bergantian mas Dayat masuk menuju kamar mandi.

Aku bergegas menuju lemari di pojok ruangan, mengambil pakaianku, lalu mulai merias diri.

Usai merias diri, kuambilkan pakaian untuk mas Dayat, baju dengan warna yang senada denganku agar terlihat serasi.

Karna rencananya kami akan memulai acara kunjungan wisata pertama kami ke candi prambanan, baru setelahnya menuju borobudur, lalu kami ingin menikmati sunset di pantai parangtritis dan terakhir berkeliling ke malioboro.

***

Kami sudah selesai bersiap, tak lupa kupakai tas selempang kecilku, berisi dompet dan hape didalamnya, karna aku juga tak ingin melupakan momen kebersamaan kami selagi berada disini, maka nanti aku berniat akan mengabadikannya dalam beberapa foto.

Telepon suamiku berdering, rupanya panggilan dari Ibu mertuaku.

Suamiku pun langsung mengangkatnya dan menloadspeaker agar aku juga dengar apa yang Ibu mertua katakan.

"Halo Yat, kalian sekarang lagi dimana, apa masih dirumah?"

"Kok udah empat hari menikah belum kesini juga?"

"Bilangin Kiran, istrimu itu udah janji loh mau tinggal disini."

"Kalian kapan kesini?"

"Ibu tunggu-tunggu kok ngga dateng-dateng!"

"Kamar kalian juga sudah Ibu siapkan."

"Ibu repot dirumah sendirian ngga ada yang bantuin ibu beresin pekerjaan rumah loh ini."

"Katanya mau Ibu cepet akrab juga sama istrimu, mbok ya suruh kesini lebih cepet. Lebih cepet kan lebih baik jadi cepet juga adaptasinya!",

ujar Ibu mertuaku berkata tanpa henti.

Aku hanya memandang ke arah mas Dayat, sembari mencerna kata-kata Ibu, bagaimana mungkin Ibu menyuruh kami lebih tepatnya menyuruhku cepat datang dan tinggal disana hanya supaya ada yang membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah?

Repot katanya?

Bukannya beliau hanya tinggal berdua dengan Bapak saja?

Anak-anak juga semua telah dewasa dan tak seorangpun tinggal dirumah.

Juga yang ku tau Ibu mertuaku juga memperkerjakan satu asisten rumah tangga dikediamannya untuk membersihkan seluruh rumah meski tidak menginap.

Apa Ibu akan menjadikanku pembantu dirumahnya juga secara tidak langsung?

Pikiranku mulai berkecamuk.

Kutatap mas Dayat, menunggu apa jawaban yang akan dia lontarkan.

Mas Dayat kulihat salah tingkah, mungkin tak enak hati padaku mendengar sendiri Ibu nya bertanya seperti itu.

Tentu saja setelah menikah pasangan pengantin baru pasti akan langsung menjadwalkan untuk pergi berlibur serta berbulan madu bukan?

Apalagi kami menikah baru beberapa hari, rasanya tak pantas bila Ibu bertanya begitu.

Apa Ibu berpikir aku akan merebut anaknya setelah kami menikah?

Sungguh sekalipun tak pernah terlintas sedikitpun dalam benakku untuk merebut anak lelakinya.

Lagipula aku sudah berjanji, tentu tak mungkin aku ingkari, aku bukan semacam orang yang tak bisa memegang amanah.

Pertanyaan Ibu membuat moodku seketika berantakan.

"Halo Yat? kamu dengarkan kan apa yang Ibu bilang tadi? ditanya kok malah diam aja!",

seru Ibu dari seberang telvon.

"Iya bu, dayat denger kok."

"Sekarang Dayat sama Kiran lagi berbulan madu ke Jogja Bu, kami tengah berada dihotel sekarang! Hendak bersiap pergi ke Prambanan."

"Niatnya sih tiga sampai empat hari kami berlibur disini."

"Paling lusa Bu, Dayat baru pulang!"

"Lagipula Ibu sabarlah dulu, Kiran pasti ku ajak kesana kalo kami sudah selesai dengan liburan kami, Ibu tak perlu khawatir!"

"Dayat juga sudah berjanji pada Abah, kalau sepulang kami dari sini masih akan tinggal dua hari lagi disana, sampai jatah cuti Dayat habis, baru setelahnya kami pulang kerumah Ibu!"

"Ibu mau tak bawain oleh-oleh apa sepulang kami dari sini?",

tanya mas Dayat.

"Ngga, Ibu ngga perlu oleh-oleh apapun dari kalian, Ibu cuma minta kalian cepet datang kesini saja!"

"Ya sudah, selamat bersenang-senang kalian disana!"

"Kalo mau pulang kabarin Ibu, nanti Ibu masakin makanan kesukaanmu, awas loh, jangan terlalu lama ditempat istrimu."

"Ibu tunggu dirumah yah nak!"

"Hati-hatilah kalian disana!"

"Ya sudah Ibu matikan dulu, Ibu sama Bapak mau pergi kondangan ke tetangga sebelah."

"Iya Bu, kami pasti segera pulang! Ibu jaga kesehatan terus yah disana",

seru mas Dayat.

"Iya nak", jawab Ibu sembari memutus sambungan teleponnya.

Mas Dayat melirik kearahku, lalu meminta maaf atas ucapan Ibu nya tadi. Sembari memelukku dari belakang, mungkin mas Dayat menyadari kalo aku seperti tengah berpikir keras, juga sedikit kesal.

Katanya Ibu mungkin tadi hanya asal bicara saja.

Mas Dayat mengecup puncak kepalaku dengan sayang. Mencoba mengalihkan perhatianku agar tak berpikir yang bukan-bukan, menghilangkan segala pikiran negatif tentang Ibu nya.

Suara panggilan telepon terdengar berdenging lagi, kali ini rupanya telepon dari pihak hotel yang terletak diatas meja rias berukuran sedang, dengan cermin besar diatasnya.

Sang resepsionis mengabarkan kalo mobil hotel plus supir yang kami pesan untuk mengajak kami berkeliling kota Jogja sudah menunggu dibawah.

Kamipun menyuruh agar sang sopir menunggu sebentar.

Ku cek kembali riasanku, masih bagus.

Akhirnya kami bergegas turun menuju lobi.

Setelah keluar dari pintu lift, kulihat dikejauhan sang supir masih setia menunggu kami. Mobilnya diparkir persis didepan pintu masuk dengan pintu mobil yang terbuka.

Kami sedikit mempercepat langkah kami, tak enak pada pak supir, takut menunggu terlalu lama. Meskipun memang tugasnya menunggui penumpang.

Kami langsung masuk ke dalam mobil.

Mobil kami perlahan keluar meninggalkan hotel setelah ku utarakan tujuan awal wisata kami.

***

Saat ini kami telah sampai diloket pembelian tiket masuk menuju candi Prambanan.

Disitu tertera perorang lima puluh ribu rupiah.

Aku pun mengeluarkan kocek seratus lima puluh ribu rupiah, sekalian untuk pak supir turut serta masuk bersama kami.

Setelah mendapatkan tiket masuknya, kami mulai memasuki kawasan candi, didalam rupanya penuh dengan para pengunjung, beberapa juga kulihat ada wisatawan mancanegara tengah sibuk memotret tiap bagian candi Prambanan.

Candi yang dibangun sejak jaman raja mataram kuno oleh Rakai Pikatan pada abad delapan ratus lima puluh masehi ini masih terlihat begitu kokoh hingga saat ini.

Entah bagaimana orang dahulu dapat membangunnya sampai setinggi ini.

Sungguh membuatku takjub melihatnya, karna baru sekali ini aku melihatnya secara langsung, sedari dulu aku hanya melihat dari media cetak maupun televisi saja.

Yang aku tau juga candi Prambanan merupakan kompleks candi hindu terbesar yang berada di indonesia.

Terletak diperbatasan antara Jogjakarta dan Jawa Tengah.

Aku senang akhirnya bisa melihat betapa megah dan tingginya candi Prambanan ini dari dekat.

Mas Dayat sepertinya tak kalah takjubnya, katanya ini kali pertamanya pula dia melihat prambanan secara langsung.

Kami beberapa kali sengaja berfoto dibeberapa bagian candi, tentu dengan pak supir sebagai fotografernya.

Tak terasa kami sudah cukup lama berada dikawasan candi Prambanan.

Perut kami mulai terasa lapar, apalagi memang sedari pagi kami belum sempat sarapan apapun.

Kami pun mengajak sang supir untuk kembali menuju lokasi kedua, yaitu candi Borobudur.

Dan aku juga berpesan bila sepanjang jalan melihat warung padang maka berhenti dulu saja, sekalian ku ajak makan bersama kami.

Pak supir mengangguk patuh.

Kami mulai meninggalkan kawasan candi prambanan.

***

Disetengah perjalanan pak supir kembali memarkirkan mobilnya tepat dihadapan resto masakan padang.

Kami turun dan berjalan masuk kedalam.

Sang pelayan langsung mengambil buku menu dan berjalan mengikuti kami.

Setelah duduk, sang pelayan bertanya menu apa yang hendak kami pesan.

Mas Dayat meminta nasi cincang, aku pilih rendang, sedang pak supir memilih lele goreng saja.

Untuk minumnya sendiri mas Dayat yang memilihkan, tiga gelas es jeruk.

Kami duduk satu meja.

Tadinya pak supir yang merasa tak enak memilih untuk duduk sendiri saja dimeja yang lain.

Namun kami memaksa untuk duduk bersama kami saja.

Akhirnya pak supir hanya pasrah saja, dan duduk bersama kami sambil mengucapkan terima kasih.

Jelas sekali raut tak enak hati dimata beliau.

Setelah sedikit berbincang tentang berapa lama lagi kami akan sampai di candi Borobudur, makanan yang kami pesan pun datang.

Kami semua makan dengan lahap.

Kutawarkan pada pak sopir untuk menambah makannya lagi, takut beliau masih lapar, namun beliau hanya menggeleng sambil menepuk-nepuk perutnya ya memang buncit.

Selesai makan, kami masih duduk sebentar, agar makanan kami bisa tercerna dengan baik.

Setelah agak lama, kami bergegas menuju kasir dan membayar makanan kami.

Lalu masuk kembali ke dalam mobil dan lanjut ke candi Borobudur.

Yang ku tau mengenai sejarah candi Borobudur, candi tersebut dibangun pada abad tujuh ratus lima puluh masehi, lebih tua dari candi Prambanan.

Dan kabarnya telah mengalami empat kali perombakan.

Dibangun pada masa dinasti Syailendra.

Berlokasi di magelang, jawa tengah.

Dan menurut para ilmuwan arkeolog sendiri, candi Borobudur diprediksi membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun sampai benar-benar rampung dibangun.

Struktur bangunannya sendiri berupa stupa dan candi.

Apabila tadi Prambanan sebagai candi terbesar bagi umat Hindu, lain halnya dengan candi Borobudur yang dinobatkan sebagai candi bagi para penganut Budha.

Selain itu candi Borobudur juga dinobatkan sebagai monumen terbesar bagi umat Budha, dan jadi harta karun terbesar diseluruh dunia.

Bahkan masuk dalam situs keajaiban dunia.

Puas mengingat sejarahnya, akhirnya kami sampai juga ditempat parkir lokawisata Borobudur.

Kami langkahkan kaki menuju lokasi pembelian tiket masuk.

Harganya sama seperti tiket masuk Prambanan, lima puluh ribu rupiah per orang.

Setelah membayar kami pun masuk kedalam.

Disini juga tak kalah ramenya dengan Prambanan ,bahkan lebih ramai lagi.

Sekali lagi aku dibuatnya terkagum, bagaimana manusia jaman dulu bisa membuat candi sebesar ini?

Akal manusia memang terkadang bisa begitu luar biasa.

Jaman dulu saja mereka bisa berpikir membuat candi sebesar dan seapik ini.

Walau beberapa memang sudah terlihat rusak dan tak utuh lagi.

Tapi ya pasti manusia jaman sekarang bisa maklum, apalagi candi tersebut memang dibangun sudah ratusan tahun yang lalu.

Dari era-nya saja sudah jauh berbeda.

Hanya saja pasti dijaman ini, banyak yang masih penasaran.

Para arkeolog saja tak tau pastinya kapan candi Borobudur dibangun.

Alat seperti apa yang mereka pakai, tentu jaman dahulu belum secanggih jaman sekarang bukan?

Ah, untuk apa juga aku ambil pusing, aku hanya perlu menikmati liburanku saja bersama orang yang kucinta.

Kami pun mulai berkeliling, memilih tempat untuk berswafoto.

Setelah puas, kami meminta pak supir mengantar kami ke tujuan selanjutnya, yaitu menuju pantai Parangtritis sembari melihat sunset disana.

Kami masih begitu bersemangat, sama sekali tak merasa lelah.

Padahal sudah bermain seharian kesana kemari.

Sudah terbakar terik matahari yang begitu menyengat, suami dan pak sopir juga begitu terlihat begitu kepanasan padahal ac didalam mobil sedari tadi menyala, tetap saja mereka berkeringat, tapi entahlah, lain halnya denganku ,yang kurasakan hanya perasaan bahagia saja.

Aku juga benar-benar melupakan omongan Ibu mertuaku sewaktu menelepon tadi.

Beberapa jam kemudian, kami tiba dipantai parangtritis, tepat pukul lima sore.

Kami langsung turun dari mobil.

Langsung berjalan menuju pantai, tiket masuk ke dalam hanya sepuluh ribu rupiah per orangnya.

Berhubung sudah sore cuaca sudah mulai dingin.

Kurasakan angin semilir sesekali menerpa wajahku.

Menggoyangkan hijab yang kupakai.

Kulepaskan alas kaki yang kami pakai, agar tak kemasukan pasir.

Lalu mulai berjalan menyusuri pantai.

Disana juga tersedia banyak warung makan.

Kami mampir disalah satunya, lalu memesan kelapa muda, murni.

Rasanya sungguh nikmat sekali.

Apalagi pantai terlihat bersih dan terawat, pemandangan disekitar juga sungguh bagus, benaran berhasil memanjakan mata kami.

Beberapa kusir kuda menawarkan andongnya pada kami.

Dengan nada sedikit merengek aku meminta mas Dayat agar mau naik kereta kuda selagi kita masih berada disitu apalagi tinggal besok saja liburan kami berakhir.

"Mas, naik kuda yuk, biar kita juga ngga cape jalan."

"Iya sayang, terserah sayang aja, mas ngikut."

Kami pun memanggil salah satu kusir, sang kusir pun menarik kereta kudanya menuju kearah kami.

Kutanya berapa ongkosnya.

Katanya per orang lima puluh ribu rupiah, menyusuri sepanjang tepi pantai dari pojok tebing karang, sampai pojok tempat swafoto yang memang sengaja disediakan oleh pihak pengelola.

Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Tak lupa pula kuajak pak supir untuk ikut serta naik kereta kuda, namun beliau menolak, katanya menunggu saja diwarung menghabiskan es kelapa mudanya.

Mungkin juga karna tak enak kami bayari sedari tadi.

Kami pun langsung naik keatas kereta kuda, kuda yang kami tumpangi terlihat gagah sekali, berwarna coklat bersih dengan tubuh gemuk, pastilah sang kuda sehat sekali.

Pastilah jua sang pemilik benar-benar merawatnya dengan baik.

Kereta kami mulai berjalan menyusuri tepi pantai, tepat sekali dengan datangnya sunset.

Sesekali terdengar tuk tak tuk tak suara sepatu kuda.

Angin kembali berembus sepoi-sepoi.

Mas dayat perlahan menggenggam jemari tanganku dengan lembut, lalu menciumnya, membuat suasana begitu romantis.

Sunset yang kami lihat juga begitu cantik.

Sedang sang kusir terlihat begitu fokus mengarahkan kudanya.

Jadi tak begitu ngeh apa yang kami lakukan.

Sang kusir juga hanya diam saja, sama sekali tak mengajak kami basa-basi apapun.

Setelah selesai berkeliling, dan berswafoto, sang kusir pun kembali mengantar kami ke lokasi awal tempat supir kami menunggu.

Hari juga mulai beranjak malam, tak terasa sudah pukul tujuh malam.

Kami pun bergegas kembali ke hotel.

Sudah tak sabar ingin bebersih diri, badan juga sudah terasa gatal dan lengket.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya kami sampai pula dihotel, sang supir membukakan pintu mobil, kami keluar seraya mengucapkan terima kasih, dan berpesan agar besok malam mengantar kami kembali menuju Malioboro, tempat terakhir yang ingin kami kunjungi sekalian membeli oleh-oleh untuk Umi.

Pak supir mengangguk mengiyakan.

Tak lupa kuberikan tip pada pak supir, untuk membuatnya senang.

Kami pun berjalan cepat menuju lift yang akan membawa kami ke kamar.

Begitu sampai depan pintu setelah berjalan melewati lorong, kuputar anak kunci.

Terdengar suara klek. Lalu kamipun masuk ke kamar. Dan langsung menuju kamar mandi.

Badan kami sudah terasa segar lagi setelah mandi, kamipun langsung merebahkan diri ke ranjang.

Rasa kantuk perlahan mulai menyerang, akhirnya kami pun sama-sama tertidur.

1
M.Raiyan Ariyanto
Thor kok ga lanjut lg
Muliyatni Mul
aku keluar Ndak ada kejelasanya
Acheuom Rahmawatie
kapan up lg nya ini miskaah
Muliyatni Mul
udah tamat ya
Acheuom Rahmawatie
kapan lanjutnya ini
Muliyatni Mul
kenapa pakumnya lama kali
Nana hapsari
tuling... tuling... ada notif up.
#ngayalngarep
FIna Ratna
Apa udh TAMAT y ini??
Nurul"gembulers"
lanjut thor......kemana ya kok gk pernah up, sakit atau ada keperluan lain ya thoorr
Wong Puspita Sari
belum ada kelanjutannya lagi nii padahal lagi seru
lama ga up thor
Agastya Utomo
kok gk up up thor
Acheuom Rahmawatie
ini kpan up lg nyaa
Sukma Zakhas
2 bulanan blum ada lnjutannya
vauzia zia
ko ga ada kelanjutannya thor
Faizatul Hasna
kok ndk dlanjut
ini cerita.a bagus bgt tpi ndk d lanjutin sayanggg
Sukma Zakhas
ada sbulanan ini ditugguu lnjutannya
Acheuom Rahmawatie
kapan up lg nya ini.. aku menunggu
Sukma Zakhas
mana gaes
Sukma Zakhas
mana lnjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!