Aku hanya sesekali berpapasan dengannya, di lift, di koridor. Ya, dia tampak seperti pria biasa. Hanya sedikit aneh. Wajahnya dingin, tanpa senyum, bahkan nyaris tanpa ekspresi. Walaupun kuakui sebenarnya dia sangat tampan, dengan rambut cokelat berantakan dan mata birunya. Aku baru melihatnya beberapa hari ini. Sepertinya dia baru pindah ke gedung apartemen ini. Dan sepertinya, dia tinggal tepat di samping flatku. Kupikir dia semacam nerd atau apalah itu - Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Ada keasyikan tersendiri menggoda Kirana.
Wajahnya yang selalu kusut itu, lucu sekali.
Hayden tersenyum simpul mengingat wajah panik Kirana beberapa saat yang lalu. Sejujurnya dia sedikit ketagihan untuk mengerjainya lagi.
Jahat sekali.
Hayden merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Memandangi langit - langit kamarnya yang gelap.
Kau harus mempertimbangkannya, Hayden. Bos membutuhkanmu.
Kata - kata Alex kembali terngiang.
Bos.
Pria Albania itu, Mr. Esad Dervishi bukan lagi bosnya.
Hayden tidak ingin lagi bergabung dengan salah satu jaringan mafia paling adidaya di Amerika itu. Dia memilih untuk menjual jasanya secara lepas. Keputusannya itu bukan tanpa alasan. Kematian Josefina telah merubahnya. Dia tidak ingin lagi menjadi sorotan dalam dunia gelap yang menjadi bagian dari hidupnya itu. Dia ingin berdiri sendiri, bukan menjadi siapa - siapa, hanya pria biasa yang menjalani pekerjaan kotor tanpa terikat oleh siapa pun.
Musik. Dia butuh musik untuk mengantarnya tidur.
Hayden menyalakan wireless speakernya dan menyambungkannya dengan ponsel.
Lagu berjudul Behind Blue Eyes milik Funeralopolis, band independent yang berasal dari Brooklyn, New York, menjadi pilihannya. Genre dark heavy bluesnya sungguh membuai. Membawanya menelusuri ruang - ruang gelap dalam hatinya.
Perlahan matanya pun terpejam.
.
.
Hayden menarik lengan Kirana dan membawanya ikut berlari bersamanya. Dia melindunginya dari tembakan - tembakan di belakang sana yang tak henti - hentinya memberondong mereka. Bunyi peluru yang berbenturan dengan benda - benda di sekitar mereka sungguh memekakkan telinga.
"Hayden, aku tidak kuat berlari lagi." Nafas Kirana tersengal. Gadis itu membungkuk dan memegangi lututnya.
"Hang on, Kira, come on (bertahanlah, Kira, ayo)!"
Hayden hendak meraih tangan Kira kembali ketika tiba - tiba gadis itu jatuh terduduk.
Kirana duduk bersimpuh, kepalanya menunduk memandangi perutnya.
Dia memegang perutnya dan terkejut ketika memeriksa telapak tangannya yang basah dan merah. Darah segar merembes menembus pakaiannya.
"Hayden ...," panggilnya lirih.
"No, no .. Kiraaa!"
Kirana ambruk ke tanah.
"Kiraa, Kiraaaaaanaaa, nooooo!"
Hayden terkesiap. Dadanya berdegup kencang. Diusapnya wajah dengan kasar, lalu duduk di tepian ranjang seperti orang yang sedang kebingungan.
Damn! What the hell (sial, apa - apaan)!
Why was she in my dream (kenapa dia muncul di mimpiku)?
***
Dari dalam mobilnya, Hayden memperhatikan mobil Chrysler warna hitam yang terparkir di depan swalayan besar. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang keluar dari dalam mobil. Dia berjalan melenggang masuk ke dalam swalayan.
Hayden mengisi kamar peluru pada pistol semi otomatisnya dengan dua buah peluru. Lalu menarik penutup gesernya ke belakang dan melepaskannya.
Dia menyelipkannya dibalik mantel panjang yang sedang dikenakannya.
Diraihnya kaca mata hitam yang ada di atas dashboard kemudian memakainya.
Dia menyapu pandangan ke sekeliling swalayan. Sepi. Hayden membuka pintu mobil. Berjalan dengan tenang menuju mobil Chrysler yang berjarak beberapa meter dari mobilnya.
Hayden mengetuk kaca mobil pelan.
"Mr. Adams?" tanya Hayden dengan ramah begitu sesosok pria dengan pakaian rapi menurunkan kaca mobil.
"Yes?"
"Hi, I'm Hayden."
Hayden menodongkan pistolnya. Hanya beberapa detik saja pria itu tampak terkejut. Namu tanpa sempat pria yang dipanggil dengan nama Mr. Adams itu melakukan apapun untuk membela diri, Hayden telah menarik pelatuknya dan dua peluru telah bersarang di dadanya.
Pria itu tersandar pada sandaran kursi. Kepalanya terkulai. Dia meregang nyawa.
Hayden tersenyum miring. Menyimpan pistolnya kembali di balik mantelnya, lalu melangkah dengan santai menuju mobilnya seakan - akan tidak terjadi apa - apa.
***
Kirana berdiri mematung begitu keluar dari tangga stasiun bawah tanah. Menatap ke seberang. Di mana beberapa pria berkulit hitam dan hispanik tengah bergerombol di sana.
Oh, I hate this (aku benci ini).
Dia mulai menyalahkan Bosnya, Keemo, yang membuatnya bekerja lembur, sehingga dia harus pulang larut malam. Lalu Sandra yang entah ada urusan apa sehingga dia tidak bisa memberinya tumpangan.
Kirana menghela nafas dalam - dalam. Beberapa waktu lalu dia beruntung ada Hayden yang menolongnya. Tapi sekarang bagaimana?
"Need a ride (butuh tumpangan)?"
Suara berat itu datang dari sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapannya.
Hayden. Dadanya berdegup kencang. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Entahlah, untuk menetralisir suasana hatinya, mungkin.
"Atau kau ingin berhadapan dengan mereka?" tanya Hayden seraya menunjuk ke seberang. "Silahkan saja."
"Wait (tunggu)!" seru Kirana begitu melihat Hayden yang sudah bersiap - siap untuk melajukan mobilnya kembali.
Tanpa pikir panjang Kirana masuk ke dalam mobil. Duduk manis di sebelah Hayden tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kau benar - benar takut padaku, ya?" Hayden menoleh sekilas pada Kirana.
"Tidak," protesnya. Walaupun hatinya was - was. Matanya tak henti - hentinya mengawasi pinggang Hayden.
"Don't worry, I don't kill women (jangan khawatir, aku tidak membunuh wanita)."
Kirana terperanjat. Rupanya Hayden menangkap basah dirinya memperhatikan apa yang ada di balik mantel tebal itu.
"Membunuh?" tanya Kirana dengan hati - hati.
"Uh - huh."
"Membunuh?" ulang Kirana tak percaya.
"Yeah, Kirana .. membunuh. Mem - bu - nuh!"
Bagaimana dia bisa sesantai itu mengucapkan kata - kata mengerikan itu.
"Membunuh dalam arti menghilangkan nyawa orang lain?" Kirana masih saja berusaha memastikan.
"Yeah."
"Geez. What are you (astaga, makhluk apa kau)?"
"The Reaper!"
Kirana bergidik.
Hayden tertawa senang dalam hati. Lihatlah wajah kusutmu yang lucu itu.
***
***
The Reaper adalah ....
Ini dia, saudara - saudara.
Malaikat Maut.
hayden kasian kau, gmn reaksimu saat tau bosmu yg menghabisi pacarmu
dan hati"lah x ini sakira akan jd target berikut'a
bhs asing lgsg diartikan, drpd hrs nunggu di akhir part👍
saran aja... sebaik'a lgsg bhs indonesia
ribet klo hrs baca di akhir
pembaca pasti paham koq ini kejadian di LN👍
udh tau gk bisa byk minum alkohol, ngeyel