Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Mimpi
Sholeh POV
Hari ini aku Terbang dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Kalimantan Timur. Untuk pulang ke kampung halaman yang sudah beberapa tahun terakhir tak ku tengok.
Pukul 5 sore aku sudah sampai di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Untuk kemudian Aku menaiki shuttle jurusan Jogja - kota Purwokerto.
Yah, aku lahir dan besar di kota tersebut. Mengenyam pendidikan dari SD sampai SMA dan kuliah hijrah ke Jogja, di Universitas U mengambil jurusan teknik mesin sebelum akhirnya aku bekerja di PT X, salah satu perusahaan besar di Indonesia yang berada di sektor pertambangan. Aku menjadi kepala teknisi di sana. Sudah hampir 6 tahun aku Hidup di Kalimantan, dan bisa di hitung dengan jari berapa kali aku pulang. Bukan tanpa sebab aku enggan pulang,
Bagiku ketika aku kembali ke sini, seperti membuka kembali luka lama. Luka lama yang tak pernah mengering, luka lama yang selalu menjadi mimpi buruk tidurku. Aku pernah menitipkan hatiku kepada wanita yang begitu aku cintai. Sampai saat ini.
Begitu banyak cerita, tentangnya. kecantikannya, kesabarannya, kerendah hatiannya bahkan kesusahan hidupnya pun tertulis jelas. Tertulis jelas di hatiku.
Selama ini, aku tak pernah melihat wajahnya, tak pernah mendengar kabar tentangnya,
Bagaimana bisa?
Bisa sekali, kenapa bisa begitu?
Sejak Lulus SMA, aku dipaksa melanjutkan kuliah di Jogja oleh ayahku. Dulu ayahku seorang kepala desa. Sampai 2 periode. Menjadi kebanggan tersendiri untuknya. Aku hidup dibawah tekanan otoriternya, dengan segala aturan keras darinya. Pun begitu dengan nasib cintaku.
Ya, aku dulu mencintai seorang gadis, sampai saat ini. Rasa itu takan pernah menguap sedikit pun. Sampai suatu ketika kakakku yang tinggal di Jogja memintaku untuk kuliah di sana dan tinggal bersamanya. Aku 3 bersaudara. 2 kakakku perempuan, sudah menikah semua.
Satu di jogja, satu lagi tinggal bersama orang tuaku. Kala itu suami kakakku yang di Jogja sakit-sakitan. Akhirnya karena suami kakakku tak punya saudara lagi, aku pun diminta untuk membantunya di sana. Bagai gayung bersambut ayahku menyetujuinya dan menyuruhku untuk kuliah di sana sekalian.
Kakakku mempunyai 3 orang anak yang masih kecil dan tak ada satupun saudara, hal itu yang menjadikanku tergerak hatinya untuk bersedia menerima permintaannya. Dan permintaan Ayah.
Hari-hari ku lalui dengan kuliah dan mengantar jemput anak-anak kakakku. Yang besar kembar kelas 1 SD, yang kecil masih KB. ya Kala itu memang sangat repot. Walaupun sudah di bantu oleh asisten rumah tangga sekali pun, apa lagi kakakku mengajar di salah satu SMA negri di sana. Terkadang aku juga mengantar suami kakakku berobat di rumah sakit yang letaknya tak jauh dari kampusku.
Aku tak pernah ada waktu untuk pulang, terlalu disibukan dengan segala aktifitas dan rutinitas ku sehari-hari. Dan mungkin itulah yang menjadi penyesalanku saat ini. Penyesalan yang teramat sangat.
Pukul 8 malam aku tiba di terminal. Menunggu keponakan yang akan menjemput ku. Kami sudah komunikasi sejak aku berniat akan pulang, dia menawarkan diri untuk menjemput ku. Keponakan terbesarku. Anak dari kakakku yang pertama. Hasan namanya.
Ternyata dia sudah menunggu kedatanganku di kursi tunggu penjemputan penumpang. Aku sedikit terkejut dengan postur tubuhnya yang tingginya melebihi aku, badannya yang kurus membuat dia seperti orang-orangan sawah
Dia menghampiriku, menyalami tanganku dan mengajakku menuju parkiran motor.
"Sudah lama nunggu, San?" aku membuka percakapan.
"Sekitar 10 menit yang lalu, Om," jawabnya.
Kami tiba di parkiran, dia menyerahkan helm kepadaku.
"Pulangnya mampir makan dulu ya, Om pingin makan tahu kupat yang di pertigaan pasar, yang ada di bawah jam," ku memberi perintah kepada Hasan.
Hasan pun menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Aku masih sibuk dengan pikiranku. Terkagum juga dengan kotaku yang semakin rapih.
Lampu berkelap kelip menghiasi jalanan kota. Jalan pun sudah bagus, sepanjang jalan terasa mulus, sudah tak ada lagi lubang di sana sini yang dulu selalu mengganggu pengguna jalan. Mungkin aspalnya baru batinku.
Akhirnya tibalah kami di pedagang tahu kupat. Makanan favoritku. Tahu putih yang digoreng kering, diberi irisan daun kol. kecambah dan diberi sambal kacang dengan taburan bawang goreng dan remasan kerupuk, kemudian disiram dengan air gula.. akkhh mbayangkan saja air liurku hampir menetes.
Hasan turun lebih dahulu. kemudian aku menyusul dibelakang. Agak lama aku berdiri di samping motor karena ponselku berbunyi. ketika kulihat ternyata Dinda yang menelponku. Ku matikan ponselku dan kemasukan kedalam saku celana.
Saat ku berjalan sambil mengedarkan pandangan, tanpa sengaja mataku tertuju pada seorang wanita. Dia sedang sibuk dengan seorang anak kecil yang gemuk dengan pipi gembulnya memanyunkan wajahnya yang sedang tertidur pulas. Mungkin dia merasa kesulitan dengan posisinya sekarang.
Ku amati dari jauh, ku beranikan mendekat. Tanpa berkedip aku mendekatinya.
Wanita yang sampai sekarang mengisi relung hatiku. Yang sanggup menggetarkan jiwaku.
Terus terang jantungku terasa ingin lepas dari tempatnya, ya.. Sekarang dia tampil berbeda. Menggunakan jilbab menutupi rambut indahnya yang dulu selalu aku mainkan. Dia melihat ke arahku. Pandangan kami bertemu.
aahh rasanya aku ingin berlari. Memeluk dia dengan erat. Rena.. Renaku..
" Rena? "
Akhirnya langkahku sampai di hadapannya
"Emm.. Mas.. Mas Soleh? "
Dengan ragu-ragu Rena menyebut namaku
Aku seperti melayang di atas awan, dia masih mengingat namaku.
"Waah Alhamdulillah, puji syukur kau masih mengingatku Ren, Apa kabar? " tanyaku antusias
"Eh.. I.. iya mas Soleh, Alhamdulillah Rena baik." Rena yang masih bingung menjawab pertanyaan ku dengan tergugu.
"Sedang apa disini? sama siapa? ini?? "
Dengan tanpa sadar aku meluncurkan macam pertanyaan. Tidak dapat menahan rasa penasaranku
"Sedang me.. "
Belum selesai menjawab seorang lelaki datang dan mengajaknya untuk pulang.
"Udah, yuk pulang" lelaki itu membawa Rena ku pergi. Tanpa berbasa-basi, dan Rena yang merasa tidak enak kepada ku hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya tanda pamit.
"Hati-hati Ren," ucapku lemas.
Kulihat Rena yang dibawa entah siapa, jangan bilang kalau dia suaminya..
Memikirkannya pun aku terasa sakit.
Hingga datanglah Hasan mengajakku untuk duduk ke dalam tenda tahu kupat.
Ternyata aku terlalu lama sehingga dia datang menyusulku kembali.
"Om kenal Bu Rena? "
aku yang sedang menyuapkan tahu kupat di suapan pertama langsung tersedak.
"Loh kok gitu,minum ,Om minum!" Hasan khawatir denganku yang tiba-tiba tersedak.
Setelah minum dan memang menjadikan tenggorokanku terasa lega, aku mengajukan pertanyaan balik ke Hasan.
"Kok kamu tau Rena San.? "
" Ya elah, Om, siapa yang gak kenal Bu Rena. Orang satu kampung pun kenal mereka semua. Dia guru KB Mentari, guru adikku," jelasnya.
"Oh jadi sekarang dia jadi guru toh? " Aku mengulang penjelasannya
"iya, Cantik ya Om.. Temennya?
Ora mung ayu, tapi lewih sekang ayu.. udu batirku tapi kae pacarku
" Tadi dia sama siapa? berarti kamu lihat om ngobrol dong sama dia? " aku mengacuhkan pertanyaanya
"Ya suami dan anaknya lah, Om, masa iya Bapak dan adiknya!"
Seperti tersambar petir, aku langsung tersedak. Lebih hebat dari yang pertama. Hasan heboh. Rasa perih melanda hidungku. Salah masuk makanan ke jalur pernafasan membuat aku mrebes mili
Bukan, Perih di hidungku tak seberapa dengan perih di hatiku, air mata itu bukan air mata untuk tersedak ku. Tapi kenyataan bahwa separuh jiwaku telah bersama orang lain dan sudah memiliki buah hati dari percintaan mereka!!!!!
Kalo boleh aku berteriak sekencangnya
Ya Tuhan!!!!!!!
"Pulang aja yuk San, Om udah kenyang," aku beranjak dan membayar apa yang telah aku makan.
Hasan sedikit kaget dengan perubahaku yang tiba-tiba. Tapi dia tak berani menegurku.
Kamii akhirnya pulang. Di perjalanan otaku seperti beku. Entahlah aku hanya masih syok tentang apa yang sudah aku lihat dan aku dengar. Rasa-rasanya seperti ribuan duri menancap di hatiku. Semua terasa mimpi. Mimpi buruk yang nyata dan begitu sakit.
Sakiit
Sangat sakit
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...