NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENOLAKAN DUA KALI.

Pagi pun tiba. Cahaya matahari perlahan menyingsing di ufuk timur. Sinar keemasan mulai merambat masuk melalui celah jendela.

Nafisa berdiri tak jauh dari lemari, memperhatikan Damar yang sedang sibuk merapikan pakaiannya di depan cermin. Suaminya itu mengenakan kemeja kerja, sementara dasinya masih menggantung di leher dengan simpul yang belum sempurna.

Melihat itu, Nafisa berinisiatif menghampiri.

“Mas, sini, aku bantu,” tawarnya lembut.

Ia mengangkat kedua tangan, berniat merapikan simpul dasi Damar. Namun, saat jemarinya hampir menyentuh dasi tersebut, tangan pria itu tiba-tiba menahan pergelangannya.

Nafisa sontak terdiam. Ia menunduk menatap tangan Damar yang menggenggam pergelangannya, lalu perlahan mengangkat wajah.

“Ada apa, Mas?” tanyanya, bingung.

“Mas bisa sendiri, Naf,” jawab Damar singkat.

Nafisa terdiam. Senyum tipis yang semula menghiasi bibirnya perlahan memudar. Ia menarik tangannya kembali, berusaha menyembunyikan rasa kecewa atas menolak suaminya yang kedua kalinya.

Nafisa menelan ludah, lalu mengangguk kecil.

“Ya sudah,” gumamnya pelan.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan menuju meja tempat tasnya tergeletak. Setelah menyampirkannya di bahu, Nafisa melangkah ke arah pintu kamar.

Tangannya sudah memegang gagang pintu. Perlahan, ia menoleh kembali ke arah Damar yang masih sibuk merapikan penampilannya.

Nafisa akhirnya mengembuskan napas panjang, kemudian membuka pintu.

“Mas, aku berangkat dulu,” ucapnya lirih.

Damar hanya menjawab singkat tanpa menoleh sedikitpun. “Iya, hati-hati.”

Nafisa mengangguk meski suaminya tak melihatnya. Ia melangkah keluar, lalu menutup pintu kamar perlahan.

Begitu pintu kamar tertutup, suasana kembali hening. Damar yang masih berdiri seketika mengembuskan napas panjang, lalu merapikan kerah kemejanya yang sedikit terlipat.

Pikirannya kembali tertuju pada kabar yang disampaikan Yulia semalam.

“Sekarang, harus mikirin bagaimana cara memberi tahu Ibu dan Ayah kalau ibu mertuaku hamil anakku,” gumamnya lirih.

Damar mengusap wajahnya kasar. Membayangkan reaksi kedua orang tuanya saja sudah membuat kepalanya pening. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa dirinya telah menghamili ibu dari istrinya sendiri?

Ia melirik pintu kamar yang baru saja dilewati Nafisa. Rahangnya mengeras.

.

Di pinggir jalan. Nafisa berjalan, sesekali menoleh berharap ada kendaraan umum  yang melintas.

Sambil melangkah, tangannya merogoh tas dan mengambil ponsel. Ia membuka daftar kontak, lalu mencari nama ibunya.

Setelah menemukannya, Nafisa segera menekan tombol panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga.

Tak butuh waktu lama hingga sambungan terangkat.

“Assalamualaikum, Bu.”

“Waalaikumsalam, Naf. Ada apa?”

 “Bu, tolong pesankan katering untuk acara syukuran nanti malam, ya. Sekalian tolong diurus semuanya. Soalnya, aku gak tahu nanti pulang jam berapa.”

“Iya, Naf. Tenang saja. Biar Ibu yang urus.”

Nafisa tersenyum kecil mendengar jawaban ibunya.

“Terima kasih, Bu.”

“Sama-sama, Nak.”

Setelah mengakhiri panggilan, Nafisa menurunkan ponsel dari telinganya. Ia memasukkannya kembali ke dalam tas, lalu mengembuskan napas panjang.

Tak lama kemudian, sebuah sepeda motor berhenti tepat di hadapannya. Pengendaranya menoleh sambil mengangkat sedikit kaca helm.

“Atas nama Mbak Nafisa?” tanyanya.

Nafisa segera mengangguk. “Iya, Pak. Saya.”

“Tujuannya ke perusahaan, sesuai pesanan, ya, Mbak?”

“Iya, Pak.”

Pengemudi itu mengangguk, lalu memberikan helm kepadanya. Nafisa menerimanya dan segera mengenakannya sebelum naik ke jok belakang.

“Sudah siap, Mbak?”

“Sudah, Pak.”

Motor itu pun perlahan melaju meninggalkan tempat tersebut, membawanya menuju perusahaan tempat ia bekerja.

Sepanjang perjalanan, angin pagi menyapu wajah Nafisa. Jalanan belum terlalu ramai, sementara matahari yang sudah terbit masih menampilkan semburat jingga di ufuk timur.

. . .

Tak sampai dua puluh menit perjalanan menuju perusahaan. Motor yang ditumpangi Nafisa akhirnya memasuki pelataran perusahaan.

Nafisa turun dari motor, lalu melepas helm yang dikenakannya. Ia merogoh tas dan mengambil sejumlah uang untuk membayar ongkos perjalanan.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya sambil menyerahkan uang tersebut.

“Sama-sama, Mbak.”

Setelah mengembalikan helm, Nafisa merapikan jilbab yang sedikit berantakan. Ia kemudian melangkah menuju gedung perusahaan.

Namun, ketika hampir tiba di pintu lobi, langkahnya mendadak terhenti.

Seorang pria berdiri tepat di hadapannya, membelakangi pintu masuk. Nafisa mengernyit heran dengan tingkah pria itu.

Akan tetapi, saat pria tersebut berbalik sembari menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan, Nafisa langsung mengenali sosoknya.

Sekujur tubuhnya seketika merinding.

“Mau apa lagi, Pak?”

“Sudah minum susu belum? Biar tinggi.”

Nafisa terdiam sesaat, tak habis pikir dengan pertanyaan atasannya itu.

“Bapak gak jelas,” gumamnya.

Ia hendak melangkah melewati Dewangga, tetapi pria itu kembali bergeser, menghalangi jalannya.

Nafisa mendongak dengan wajah kesal. “Apa lagi, sih, Pak? Lihat, ini masih pukul setengah tujuh.”

Ia mengangkat pergelangan tangan, memperlihatkan jam yang melingkar di sana.

“Saya cuma mau mengingatkan. Pukul delapan nanti, keputusan klien akan diberikan.” Dewangga memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Kalau kamu menang, saya akan memberikan dua hari bersama tim kamu. Kamu juga bisa makan di restoran dan menikmati fasilitas hotel VIP.”

Mata Nafisa langsung terbelalak. Rasa kesalnya seketika tergantikan oleh keterkejutan.

“Yang benar, Pak?” tanyanya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

Dewangga mengangguk mantap.

“Berarti aku bisa bawa suamiku, dong?” Nafisa mulai tersenyum lebar. “Sekalian bulan madu, terus buat anak.”

“Tidak!”

Senyum Nafisa langsung memudar. Ia mengerutkan kening, menatap atasannya dengan bingung.

“Kenapa, Pak?”

“Ini keputusan saya. Kalau sampai kamu nekat membawa suami, saya cabut bonus itu.”

Bahu Nafisa langsung merosot. Bayangan menikmati fasilitas hotel bersama Damar yang tadi sempat memenuhi pikirannya seketika buyar.

“Baiklah, berarti pukul delapan,” gumamnya lesu.

Sehari sebelum pindahan, Nafisa memang sudah mempresentasikan desain gaun yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, hingga saat ini, ia belum menerima kabar mengenai keputusan klien.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Nafisa melangkah melewati atasannya.

Melihat Nafisa berjalan pergi melewatinya, Dewangga tak mampu menahan kekehannya.

Namun, saat hendak menyusul Nafisa masuk ke gedung, sudut matanya menangkap sosok Kalendra yang berdiri tak jauh darinya.

Senyum Dewangga seketika lenyap.

 “Apa? Mau ketawa juga?”

“T-tidak, Pak.”

Dewangga mendengus. Lalu berjalan pergi meninggalkan asistennya.

. . .

Jam terus berputar. Tanpa terasa jam menunjukkan pukul delapan pagi. Perusahaan yang tadinya sepi dan sunyi kini perlahan mulai ramai.

Di dalam ruang rapat. Nafisa duduk sema tim desain lain.

“Sepertinya tim B yang bakal menang lagi.”

Nafisa melirik sumber suara tersebut. Beberapa anggota tim B tampak berbincang dengan penuh percaya diri.

Tak lama kemudian, suara pintu yang terbuka memecah percakapan di dalam ruangan. Bunyi langkah sepatu pantofel terdengar mendekat, membuatnya dan para karyawan lain segera menghentikan obrolan mereka.

Dewangga memasuki ruang rapat dengan Kalendra mengikuti di belakangnya. Pria itu berjalan menuju tempatnya, lalu netra pria itu dengan sempat-sempatnya melirik ke arahnya sekilas sebelum akhirnya menatap ke arah lain.

“Baik, langsung saja. Saya tidak akan berlama-lama,” ujar Dewangga setelah meletakkan berkas di atas meja.

Ruangan mendadak hening.

Nafisa menautkan jemarinya di atas pangkuan. Ia berusaha menahan kegugupan.

“Klien menyukai gaun yang sederhana, tanpa terlalu banyak hiasan, dan tetap terlihat simpel.” Dewangga berhenti sejenak, membiarkan semua orang menunggu. “Selamat untuk tim A. Desain kalian terpilih untuk di pakai di acara pernikahan klien kuta..”

Kedua mata Nafisa langsung terbelalak.

“Serius?” celetuknya spontan.

Begitu menyadari dirinya bersuara cukup keras, ia buru-buru menutup mulut. Namun, senyum yang merekah di wajahnya tak bisa lagi disembunyikan.

“Tim kita menang!” serunya sambil menoleh kepada rekan-rekannya.

Tanpa berpikir panjang, Nafisa bangkit dan memeluk Variz yang duduk di sebelahnya.

“Variz, kita menang!” katanya penuh semangat.

Variz tertawa kecil dan membalas pelukannya. “Iya, kita menang, Naf!”

Namun, suara dehaman dari ujung meja segera menyadarkan Nafisa bahwa mereka masih berada dalam rapat.

Ia buru-buru melepaskan pelukannya dan kembali duduk.

“Seperti yang sudah saya umumkan di grup, tim Nafisa akan mendapatkan bonus hari ini,” lanjutnya.

Belum sempat Nafisa menanggapi, salah seorang anggota tim B mengangkat tangan.

“Pak Dewangga, ini tidak adil. Nafisa kan kepala desain. Wajar kalau timnya menang karena memang punya kemampuan yang sangat baik.”

Nafisa menoleh ke arah karyawan tersebut. Senyumnya sedikit memudar, tetapi ia memilih diam dan menunggu jawaban atasannya.

“Saya menilai berdasarkan hasil yang disukai klien, bukan berdasarkan siapa yang paling pantas menang menurut kalian.”

Karyawan itu terdiam.

“Namun, bagi tim yang belum beruntung, bukan berarti kalian tak mendapatkan apa-apa.” Dewangga membuka berkas di hadapannya. “Saya tetap memberikan bonus berupa makan siang di restoran untuk tim B.”

Suasana yang semula tegang langsung berubah.

“Wah, serius, Pak?”

“Terima kasih, Pak!”

Anggota tim B bersorak gembira.

Nafisa ikut tersenyum melihatnya. Ia merasa keputusan itu cukup adil.

Namun, ketika hendak kembali memperhatikan Dewangga, pandangannya justru bertemu dengan tatapan pria itu.

Nafisa terdiam sesaat.

Dewangga masih menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, membuatnya buru-buru memalingkan wajah dan pura-pura sibuk merapikan berkas di atas meja.

1
Mundri Astuti
iya ih Nafisah masih percaya beud sama emaknya ..
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!