NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:173
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Malam semakin larut dan Cindy masih belum tidur. Gadis itu sedang menata ulang video yang telah di kerjakan Mahen barusan. Sambil sesekali menyesap kopi hitam yang akhir-akhir ini jarang ia minum karena adanya Damian yang mengisi hari-hari sepinya.

Saat sedang fokus-fokus nya sebuah ketukan dari pintu samping rumahnya terdengar nyaring. “Ia siapa ya?“ tanya Cindy berteriak dari dalam.

Ia segera bangkit keluar dari studio dan mendapati ada Damian sedang berdiri melambaikan tangan ke arah Cindy dengan senyum hangatnya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan itu kembali terdengar, kali ini diikuti oleh bayangan tinggi Damian yang bergerak samar di balik kaca buram pintu samping pintu yang langsung menghubungkan koridor studio mini milik Cindy dengan halaman samping yang berbatasan langsung dengan rumah kolonial pria itu.

Cindy meletakkan cangkir kopi hitamnya yang masih mengepul tipis ke atas meja kerja. Ia buru-buru melangkah keluar dari studio, mengabaikan getaran dingin yang entah mengapa selalu menggelitik tengkuknya tiap kali Damian datang di jam-jam yang tidak biasa. Begitu selot pintu besi itu ditarik dan daun pintu terbuka, sosok Damian langsung menyapa pandangannya.

Pria itu berdiri di bawah sorotan lampu taman yang temaram, mengenakan kemeja kasual berwarna biru dongker yang kancing atasnya sengaja dibuka. Senyum hangat atau setidaknya, senyuman paling lembut yang bisa diusahakan oleh wajah pucatnya terukir di bibirnya. Ia mengangkat sebelah tangannya, melambaikan jemari panjangnya yang kaku ke arah Cindy.

“Damian? Kamu belum tidur?” tanya Cindy, matanya mengerjap heran sambil merapatkan cardigan rajut yang ia kenakan. Angin malam yang berembus dari balik punggung Damian terasa berkali-kali lipat lebih menggigit kulit dibandingkan AC di studionya. “Ini sudah hampir jam sebelas malam, tahu.”

“Saya melihat lampu studiomu masih menyala terang dari jendela kamar saya, Cindy,” jawab Damian, suaranya mengalun rendah, berbaur sempurna dengan jangkrik malam yang bersahutan di sekitar rawa. “Dan saya tahu kamu sedang meminum sesuatu yang... sebenarnya tidak terlalu baik untuk lambung manusiamu yang ringkih itu.”

Cindy refleks tertawa kecil, menyandarkan bahunya pada kusen pintu. “Kamu ini mengawasiku terus ya? Iya, aku lagi minum kopi hitam. Kepalaku agak pusing menyusun ulang beberapa timeline video yang habis diedit Mahen tadi sore. Kejar tayang buat minggu depan.”

Mendengar nama Mahen kembali disebut, senyum di wajah Damian tidak luntur, namun binar di mata birunya mendadak menajam, sehangat bara yang tertutup salju. Ia melangkah maju satu tapak, memotong jarak di antara mereka hingga aroma mint dan wangi samar kenanga liar kembali mendominasi indra penciuman Cindy.

“Pria itu sudah pergi, bukan? Selamanya?” tanya Damian, nadanya terdengar santai, namun ada penekanan dingin yang mutlak di balik pertanyaannya.

“Bukan selamanya, Damian. Cuma pindah ke Jakarta buat berobat ibunya,” ralat Cindy sambil mendongak, menatap pahatan wajah Damian yang tampak fana di bawah sinar rembulan. “Tapi ya... setidaknya dalam beberapa bulan ke depan, dia gak akan sering-main ke sini lagi.”

Damian mengulurkan tangannya yang sedingin es, menyentuh pipi Cindy yang hangat karena sisa hawa kopi. Sentuhan itu membuat Cindy sedikit tersentak, namun ia tidak menghindar. Ia justru memejamkan mata, menikmati afeksi posesif yang diberikan pria misterius ini.

“Baguslah,” bisik Damian penuh kepuasan. “Rumah ini terlalu sempit untuk dilewati oleh orang-orang yang penuh kecurigaan. Sekarang, hanya ada saya... dan Khodam kuat yang menjagamu, bukan begitu?”

Mata Cindy langsung terbelalak terbuka. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut. “K-kamu... kamu dengar apa yang aku bicarakan dengan Mahen tadi sore?”

Damian terkekeh rendah, suara tawa yang bergetar di dalam dadanya terdengar begitu int** sekaligus mengintimidasi. Ia memajukan wajahnya hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Cindy, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh bulu kuduk gadis itu berdiri tegak.

“Saya selalu mendengar setiap hela napasmu, Cindy. Apapun yang kamu katakan di dalam rumah ini... saya tahu. Dan saya sangat menyukai bualanmu tentang penjaga itu. Karena caramu melindungiku dari sahabatmu, membuktikan bahwa hatimu memang sudah sepenuhnya menjadi milik saya.”

Cindy tertegun sejenak menatap mata Damian yang misterius. Bukannya takut, Cindy justru merasa kehangatan yang aneh menjalar di dadanya. Logika manusianya mungkin mendesak untuk mempertanyakan bagaimana bisa Damian mendengar percakapan itu dari jarak rumah yang terpisah, namun rasa cinta dan kerinduan akan kasih sayang yang telah lama kosong mengubur semua akal sehatnya.

Ia justru tersenyum kecil, membiarkan jemari dingin Damian tetap bertengger di pipinya.

"Kamu ini... ternyata tukang nguping ya?" goda Cindy dengan suara yang agak serak, mencoba mencairkan atmosfer intens yang dibangun Damian. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk menggenggam pergelangan tangan Damian, merasakan kulit pria itu yang sekeras porselen. "Tapi kalau dipikir-pikir, ucapanmu ada benarnya. Aku berbohong ke Mahen karena aku gak mau dia terus-menerus menatapmu dengan penuh curiga. Aku cuma mau... kita tenang, tanpa ada yang mengganggu."

Damian menatap dalam-dalam ke arah manik mata rubah milik Cindy. Kilatan hitam di mata birunya perlahan mencair, digantikan oleh binar kepuasan yang teramat pekat.

"Pilihan yang sangat bijaksana, Cindy," ujar Damian rendah. Ia menggunakan ibu jarinya untuk mengelus sudut bibir Cindy dengan kelembutan yang menuntut. "Manusia seperti sahabatmu itu terlalu bising dengan kecurigaan mereka. Mereka tidak akan pernah mengerti keindahan dari apa yang kita miliki di sini."

"Tapi, Damian," Cindy menatap kemeja biru dongker yang dikenakan pria itu, beralih memainkan salah satu kancingnya dengan manja. "Kalau kamu bisa dengar semuanya, berarti kamu juga dengar dong kalau Mahen bakal pindah ke Jakarta minggu depan?"

"Ya. Saya mendengarnya," sahut Damian pendek, rahangnya yang tegas tampak sedikit mengendur, menandakan suasana hatinya yang mendadak sangat baik.

"Artinya, setelah minggu depan, rumah ini bakal sepi banget kalau siang," Cindy mendongak, menatap Damian dengan tatapan penuh damba. "Kamu... gak mau menemaniku lebih sering? Maksudku, kamu kan bisa bekerja dari rumah, atau sesekali membawa bukumu dan membacanya di ruang tengahku. Daripada kamu sendirian di rumah besar yang gelap itu."

Damian terkekeh rendah, suara tawa gaibnya yang berat bergema di lorong pintu samping yang sunyi. Ia menarik pinggang Cindy, membawa tubuh mungil gadis itu masuk lebih dalam ke pelukannya, mengabaikan angin malam yang berembus kencang di belakang mereka hingga helai-helai rambut hitamnya bergerak sedikit berantakan.

"Apakah itu sebuah undangan resmi untuk saya, mijn liefde?" tanya Damian dengan nada berbisik yang memikat, memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka yang kontras suhunya saling bersentuhan.

"Anggap saja begitu," jawab Cindy lirih, matanya mulai sayu karena terpesona oleh aroma mint dan dingin yang menguar dari napas Damian. "Aku cuma... gak mau merasa sendirian lagi."

"Kamu tidak akan pernah sendirian lagi, Cindy. Mulai malam ini, esok, dan seterusnya," janji Damian dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat dalam, seolah mengunci janji itu ke dalam takdir bumi yang mereka pijak. "Saya akan menjadi penjaga yang sesungguhnya untukmu. Yang tidak akan pernah membiarkan satu orang pun merebutmu dari sisi saya."

Sebelum Cindy sempat membalas, Damian kembali membungkam bibirnya dengan ciuman yang dalam dan dingin. Cindy melenguh pelan, mengalungkan lengannya ke leher Damian, menyerahkan seluruh sisa kewarasannya pada sang Iblis Belanda yang kini telah sepenuhnya menguasai hatinya.

Di luar, kabut tebal dari rawa-rawa perlahan mulai merayap naik, menyelimuti halaman samping dan menutup pintu yang terbuka itu dengan keheningan malam yang absolut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!