Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi
Waktu memperlihatkan pukul sembilan malam.
Arkan terlihat gelisah. Ia tak dapat tidur. Bayangan Dayang Sari saat mandi di sungai tadi terlintas jelas di benaknya.
Anehnya, rudalnya selalu berdiri tegak, saat bayangan wajah Dayang Sari terlintas di benaknya.
Ia beranjak dari ranjang yang terbuat dari kayu ulin. Kemudian melirik dua sisir pisang kepok yang baru saja menguning.
Arkan mengjela nafasnya dengan berat. Ia akhirnya meraih dua sisir pisang tersebut, dan keluar dari rumah singgah.
Malam semakin larut, Arkan berjalan menyusuri jalanan setapak, dan berhenti tepat di depan rumah yang berada tepat di tepian Sungai Mahakam.
Ia mengjela nafasnya dengan berat. Lalu menapaki anak tangga, dan mengetuknya dengan pelan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk..." suara Dayang dari arah dalam. Dan seolah ia sudah tahu siapa yang datang berkunjung kerumahnya, meskipun pintu masih tertutup.
Arkan mendorong pintu. Saat ia berada di dalam, tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya.
Tak!
"Hah!" Arkan tersentak kaget, lalu mepangkah masuk menghampiri Dayang Sari.
Di atas meja, ada dua gelas teh. Uapnya masih ada, dan sepertinya tuan rumah sengaja menyiapkannya.
Arkan diam membeku sejenak. Matanya tak lepas dari liontin manik merah darah yang melingkar di leher sang gadis.
Semakin ia menatapnya, maka hatinya semakin terjerat.
"Bu... boleh saya lihat kalung Ibu lebih dekat?"
Dayang Sari mengerutkan keningnya. "Buat apa?"
Arkan mencari alasan. "Buat di tulis di artikel online, sebagai berita. Judulnya 'Guru dengan kalung warisan ibu'."
Dayang Sari mengerutkan keningnya. Lalu diam untuk dua detik. "Gak boleh." jawabnya dengan nada dingin.
Arkan mengjela nafasnya dengan berat. "Oh, begitu..."
"Ini hal yang sangat pribadi... Bukan untuk konsumsi publik. Maaf, jangan memaksa."
Dayang Sari langsung berdiri. Masuk ke kamarnya.
Kretek!
Pintu kamar dikunci.
Arkan: kini duduk sendiri.
Dari dalam kamar, ia mendengar suara dua orang yang sedang berbisik-bisik.
"Dia mulai curiga..." suara Dayang Sari sangat pelan.
"Jangan lepas kalungnya, Sari. Sekali lepas, kamu gak bisa balik." suara serak itu mengingatkan.
Arkan menajamkan pendengarannya, meski tak juga dapat menangkap apa yang sedang di bicarakan. "SIAPA DI DALAM KAMAR?!" gumamnya pelan.
Lalu suasana mendadak sunyi.
Karena sang pemilik rumah tak lagi menemaninya, maka ia memilih untuk pulang.
***
Waktu memperlihatkan pukul sepuluh malam. Kaki Arkan terus mepangkah, menyusuri jalanan yang sepi, dan ia melihat Pak Thamrin berjalan di depannya dengan membawa senter.
"Pak Thamrin, mau kemana?" tanya Arkan dengan rasa penasaran.
"Ke Balai Desa, kamu mau ikut?" Pria itu balik bertanya.
Karena kersa kantuk tak juga datang, akhir ya Arkan memilih untuk ikut.
"Iya, barengan..." jawab Arkan dengan cepat.
Keduanya berjalan beriringan, membelah jalanan sunyi yang cukup licin, karena kemarin malam di guyur hujan deras.
Setibanya di Balai Desa, ia melihat Pak Taslim, Damang Jaya dan tiga orang warga sedang berkumpul.
Tampaknya mereka sedang membahas tentang Kutang yang sudah meneror warga desa.
"Pak RT, Pak. Saya mau nanya soal kalung manik." tiba-tiba Arkan nimbrung ditengah perbincangan.
"Kenapa?" tanya Tak RT balik.
"Ada yang pake kalung manik merah darah di kampung ini." ucap Arkan dengan pelan.
Semua mata tertuju pada Arkan. Begitu juga dengan Damang Jaya.
Pak Lurah menatap dengan rasa penasaran. "Siapa?"
Arkan yang tadi ingin berbicara, mendadak lupa dan tidak mengingat apapun. Ia berusaha keras menggali ingatannya, tetapi tak juga hadir di memorynya.
Damang Jaya yang lagi duduk di pojok langsung terbatuk.
Pria itu menghampirinya. Lalu menatapnya dengan dingin.
"Mungkin kamu salah lihat, Kan? Kamu terlalu lelah hari ini...."
Arkan menggelengkan kepalanya. Ia benar melihatnya, tetapi lupa siapa yang memakainya.ia heran mengapa mendadak jadi lupa.
"Tok, jujur. Aku benar melihatnya, hanya saja aku lupa siapa yang memakainya," sanggah Arkan
Suasana kembali hening.
Damang menyentuh pundak Arkan. "Pulanglah, Kan. Kamu terlalu banyak pikiran." ucapnya dengan lembut.
Akan tetapi, suara Damang Jaya seolah sebuah tombak yang siap menghujamnya. Ia tidak tahu mengapa ia merasakan takut saat melihat tatapan Damang Jaya yang ditujukan padanya.
Arkan langsung menciut. Meteka todak menyadari, jika Damang Jaya saat ini sedang menggunakan ilmu pem-bungkam lawan, sehingga siapa yang ditujunya tak dapat berkutik.
Arkan mengangguk pelan, dan memilih untuk pulang ke rumah, tanpa banyak berdebat.
Sebab ia mendapat wejangan saat masih di kantor pusat, sebelum berangkat ke Kalimantan, jika ia harus menjaga sikap, jika tidak ingin celaka.
Sebab ia masih mengingat bagaimana peristiwa ngayau (pemenggalan kepala dengan mandau, tanpa menyentuh oleh suku dayak), dan ia mendapat cerita itu dari artikel yang di tulis oleh wartawan senior di kantor pusatnya.
Kasus pemenggalan kepala warga suku Madura di Kalimantan terjadi secara massal saat konflik sampit pada bulan Februari dua ribu satu dan seratus orang suku Madura tewas dalam peristiwa tersebut.
Arkan tak ingin mencari masalah, dan memilih untuk diam.
****
Waktu memperlihatkan pukul dua belas malam. Hujan kembali turun.
Arkan membawa selimut dan kelambu, lalu memilih untuk berpura-pura tidur di dalamnya. Sedangkan kamera masih menyala yang diarahkan ke pintu.
Setibanya di rumah, ia kembali mengingat siapa yang menjadi pemilik dari kalung tersebut, sehingga ia memutuskan untuk mengintai.
Di tempat lain, Dayang Sari keluar dari pintu rumahnya.
Ia menggunakan kain puti, dan rambutnya di gerai begitu saja.
Sedangkan kalung manik merah darahnya tetap ia pakai.
Ia berjalan ke arah belakang rumah. Ia sedang menuju ke arah sungai.
Arkan yang melihatnya dari kejauhan, bergegas menyelinap, lalu mengikutinya dari jauh. Ia mulai mengintip.
Saat tiba di tepi sungai, Dayang Sari menghentikan langkahnya.
Dengan tangan yang gemetar, ia memegang kalungnya. Bibir komat-kamit membaca mantera.
Tiba-tiba saja, cahaya merah berpendar dan keluar dari maniknya.
Dayang berbisik pelan. "Tahan... tahan tiga malam lagi..."
Tiba-tiba saja...
WUUUSH!
Angin bertiup kencang. Kalungnya terlihat bergetar.
Dari dalam sungai, tampak bola api kecil muncul. Kemudian berputar di kepala Dayang Sari.
Dayang Sari berjalan mundur selangkah. "PERGI! AKU BELUM MAU!"
Bola api itu mendesis.
HISSS!
Lalu terbang menukik dan balik lagi ke air.
Dayang Sari merasakan lututnya lemah, dan ia jatuh terduduk diatas rerumputan. Ia menangis sesenggukkan. "Aku gak mau makan lagi..."
Arkan yang melihatnya langsung terdiam. Di dalam semak, ia masih standby dengan kamera yang masih merekam. Tangannya sangat gemetar.
"Jadi benar. Kalau ia adalah Kuyang?" suara Arkan tercekat di tenggorokannya.
Dengan tubuh gemetar, Arkan keluar dengan kondisi bingung. Ia berjalan pelan menghampiri Dayang Sari.
"BU DAYANG!" ucapnya dengan pelan.
Dayang Sari tersentak kaget. Ia langsung menutup kalungnya. "Arkan?! Ngapain di sini?!" ia mengusap bulir bening yang jatuh di sudut matanya.
Arkan berdiri membeku. Ia menatap Dayang Sari dengan rasa tak percaya. Lidahnya keluh, hanya ingin mengucapkan sepatah katapun.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺