NovelToon NovelToon
Sang Pembantai Dewa

Sang Pembantai Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sarmadi

BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.

👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12 kekuatan yefan yang mendominasi

Yefan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di bawah tatapan matanya, hanya terhampar lautan tulang-belulang dari berbagai bentuk dan ukuran, bertumpuk tak beraturan hingga memenuhi seluruh permukaan tanah. Bukit-bukit terjal menjulang di kejauhan, seolah membentuk dinding raksasa yang tak memiliki ujung.

Suasana di tempat itu begitu sunyi dan mencekam. Tak ada suara burung, tak ada suara binatang, bahkan hembusan angin pun terdengar seperti bisikan dari dunia kematian.

Yefan mengerutkan kening. Kebingungan mendalam memenuhi pikirannya.

Jelas, ia sama sekali tidak tahu di mana posisinya saat ini.

Tatapannya kemudian beralih pada gulungan peta kulit domba yang dahulu diberikan oleh Kepala Desa sebagai petunjuk arah menuju Teratai Hitam Tujuh Daun.

Namun, begitu jemarinya meremas permukaan peta tersebut, ekspresi Yefan seketika berubah.

Peta itu terasa sangat rapuh.

Yefan mengangkatnya lebih dekat. Permukaan kulit domba yang dahulu masih cukup utuh kini telah berubah menjadi kusam dan penuh retakan. Beberapa bagian bahkan tampak lapuk, seolah-olah telah terkubur selama puluhan ribu tahun dan terkikis oleh perjalanan waktu.

Yefan mengernyit semakin dalam.

Bukankah baru kemarin jasadku dihancurkan oleh Tupai Berekor Tiga? Mungkinkah konsentrasi energi yin di tempat ini yang membuatnya terkorosi dan lapuk begitu cepat?

Pikiran itu muncul seketika.

Namun, setelah mempertimbangkannya sesaat, Yefan memilih untuk tidak memusingkannya lebih jauh. Ada terlalu banyak hal yang belum ia pahami mengenai tempat ini.

Dengan penuh kehati-hatian, ia membuka gulungan tersebut agar tidak hancur menjadi debu. Dari sisa-sisa garis petunjuk yang telah samar dan nyaris tak terbaca, ia akhirnya menemukan lokasi yang dikenalnya.

Mata Yefan menyipit.

Wilayah yang ditandai dengan cap tengkorak itu...

Jurang Keputusasaan!

yefan terkejut.

Ia tahu betul reputasi mengerikan tempat ini. Jurang Keputusasaan bukanlah wilayah yang bisa dimasuki sembarang orang. Tempat ini merupakan zona terlarang yang bahkan ditakuti dan dihindari oleh para Kultivator Alam Roh.

Bahkan para pakar yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi pun tidak akan dengan mudah menginjakkan kaki ke tempat seperti ini.

Namun, situasi Yefan sekarang berbeda.

Tubuh barunya sengaja ia buat dengan menggunakan aura yin, sementara jantung misterius di dalam tubuhnya justru merupakan musuh alami aura yin tersebut.

Aura yin, yang bagi orang lain merupakan racun mematikan justru berubah menjadi kabut biasa bagi nya.

Ancaman Jurang Keputusasaan sama sekali tidak memberikan dampak berarti terhadap tubuh Yefan.

Ia kembali mengalihkan perhatian pada rute yang tergambar di peta.

"Jarak dari Jurang Keputusasaan menuju Desa Fulmun rupanya mencapai seribu kilometer," gumamnya lirih.

Baru saja kalimat itu selesai diucapkan—

Setitik angin lembut berembus menerpa tubuh Yefan.

Sret...

Gulungan peta lapuk di tangannya langsung bergetar.

Dalam sekejap, benda yang telah bertahan entah berapa lama itu hancur berkeping-keping, berubah menjadi butiran debu yang beterbangan mengikuti arah angin.

Yefan hanya terdiam memandanginya.

Namun, anehnya, ia tidak merasa terlalu terganggu akan semua itu.

Perhatian Yefan justru beralih pada sesuatu yang jauh lebih menarik.

Ia teringat pada cerita lama di desanya.

Kemampuan melayang dan terbang bebas di angkasa merupakan hak istimewa yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah mencapai Ranah Transenden.

Kini...

Aku telah mencapai tingkat itu.

Bisakah aku melayang di udara seperti para pakar Transenden lainnya?

Antusiasme kecil perlahan muncul di dalam dadanya.

Bagi seorang pemuda yang terlahir tanpa dantian, mencapai Ranah Transenden bukan sekadar sebuah peningkatan kekuatan.

Itu adalah keajaiban.

Sesuatu yang dahulu bahkan tak berani ia impikan.

Perlahan-lahan, Yefan mengalirkan Qi ungu kehitaman ke seluruh penjuru tubuhnya. Aliran energi itu bergerak melalui setiap bagian tubuhnya, menciptakan sensasi kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Kemudian menghentakkan kakinya ke tanah.

WUSSSSS!

Tubuh Yefan melesat lurus ke atas seperti anak panah yang dilepaskan dari busur.

Dalam sekejap mata, ia telah menembus ketinggian lima ratus meter!

Angin kencang menerpa wajahnya.

Jubah hitamnya berkibar liar di belakang tubuhnya.

Yefan tidak jatuh.

Ia benar-benar melayang!

Dari ketinggian tersebut, pandangannya menjadi jauh lebih luas. Ia akhirnya dapat melihat betapa mahaluasnya Jurang Keputusasaan.

Tempat yang sebelumnya ia kira sudah mencakup keseluruhan wilayah jurang ternyata bahkan belum mencapai sepertiga dari luas sebenarnya.

Yefan meluncur bebas ke berbagai arah.

Gerakannya pada awalnya masih sedikit kaku. Sesekali tubuhnya miring terlalu jauh atau kecepatannya berubah secara tiba-tiba.

Namun, ia segera menguasainya.

Semakin lama, semakin bebas ia bergerak.

Kebahagiaan luar biasa perlahan memenuhi dadanya.

Inilah impian terbesar yang selama ini ia idam-idamkan!

"Ibu, lihat Yan'er! Yan'er sudah menjadi seorang Kultivator!"

Suara Yefan menggema di udara.

"Saat Yan'er pulang nanti, Yan'er berjanji akan mengajak Ibu terbang melintasi awan!"

Yefan tertawa lepas.

Untuk sesaat, sosok pemuda yang baru saja melewati gerbang kematian itu kembali terlihat seperti anak desa biasa yang tengah membanggakan pencapaian kepada ibunya.

Ia bahkan dapat membayangkan wajah sang ibu yang penuh kebanggaan ketika melihat putranya benar-benar mampu terbang di langit.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Di salah satu puncak tebing terjal, sepasang mata merah menyala perlahan terbuka.

Sesosok makhluk aneh tengah berdiri diam di sana.

Seluruh tubuhnya diselimuti aura yin yang pekat. Sepasang sayap lebar terbentang perlahan, sementara cakar-cakar hitamnya mencengkeram permukaan batu.

Makhluk itu telah mengunci Yefan sebagai mangsa.

WUSSSS!

Sayapnya mengepak kuat.

Tubuhnya melesat ke udara.

Namun, sebelum makhluk itu berhasil mendekat, indra spiritual Yefan yang telah berada di Ranah Transenden langsung menangkap keberadaannya.

Ia menghentikan gerakannya.

Tatapannya beralih ke arah monster tersebut.

"Hmph. Hanya seekor makhluk yin tingkat Pemurnian Qi tahap puncak, tetapi berani menjadikanku mangsa?"

Sudut bibir Yefan terangkat tipis.

"Cukup bernyali."

Dari fluktuasi aura lawannya, Yefan dapat dengan mudah mengukur tingkat kekuatannya.

Makhluk yin sendiri merupakan makhluk yang terbentuk dari pemadatan jutaan gumpalan dendam, kesedihan, dan niat membunuh. Energi negatif yang terakumulasi dalam jumlah luar biasa akhirnya memadat hingga melahirkan kesadaran liar yang menyerupai binatang buas.

"KAAAAAKKKK!"

Pekikan melengking memecah kesunyian Jurang Keputusasaan.

Burung monster itu melesat membelah udara dengan kecepatan tinggi, mengarahkan cakar-cakar hitam tajam yang diliputi aura yin pekat langsung menuju Yefan.

Yefan tidak langsung menyerang.

Sebaliknya, ia mengamati lawannya dengan tatapan penuh pertimbangan.

Apakah entitas tak berbentuk yang menyatu dengan jantungku ini bisa dikerahkan untuk bertarung, selain digunakan untuk memadatkan jiwa yang telah hancur dan membentuk fisik?

Pikiran itu muncul di benaknya.

Sebuah gagasan kemudian terlintas.

Mari kita uji.

BOOM!

Jantung Yefan bergetar pelan.

Seketika, gelombang energi tak berbentuk mengalir keluar dari dalam jantungnya, bergerak mengikuti kehendaknya hingga berkumpul menuju telapak tangan.

Yefan mengangkat tangannya.

"Pergi."

Suaranya datar.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada ledakan energi yang terlihat.

Tidak ada gelombang kekuatan yang dapat ditangkap mata.

Yefan hanya mengibaskan tangannya ke udara kosong.

Namun, pada saat yang sama, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah.

Sunyi.

Mencekam.

Entitas tak berbentuk itu memang benar-benar sesuai dengan namanya.

Ia tidak dapat dilihat.

Tidak dapat diselidiki.

Bahkan tidak dapat dirasakan oleh indra spiritual sekalipun.

Hanya Yefan, sebagai pemiliknya, yang mampu merasakan keberadaan entitas tersebut.

Burung monster itu terus melaju.

Jarak di antara keduanya semakin dekat.

Lima puluh meter.

Tiga puluh meter.

Sepuluh meter!

Saat makhluk yin tersebut memasuki jarak serang—

BOOOOOOMMMMM!

Tubuhnya mendadak meledak di udara!

Tidak ada kesempatan untuk menghindar.

Tidak ada kesempatan untuk bertahan.

Bahkan monster itu sendiri tidak sempat menyadari benda apa yang telah melumat tubuhnya.

Daging dan tulangnya berubah menjadi serpihan.

Namun, kengerian sebenarnya baru saja dimulai.

Saat serpihan bangkai tersebut hendak jatuh ke tanah, gelombang entitas tak berbentuk langsung menyapu seluruh sisa keberadaannya.

Dalam sekejap...

Lenyap.

Tidak tersisa sedikit pun.

Bahkan jejak keberadaannya dari alam semesta seolah telah dihapus secara paksa.

Garis reinkarnasinya pun terputus secara permanen.

Mata Yefan membelalak.

Melalui indra spiritualnya, ia menyaksikan seluruh proses pemusnahan mutlak tersebut secara mendetail.

Sebelumnya, Yefan hanya mengetahui bahwa entitas tak berbentuk ini mampu merakit raga fisik berdasarkan pengalaman kebangkitan jiwanya.

Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa entitas tersebut memiliki otoritas mengerikan untuk menghapus keberadaan suatu objek dari muka bumi tanpa memberikan kesempatan untuk bereinkarnasi.

"Ini..."

Yefan menatap telapak tangannya.

Keterkejutan memenuhi wajahnya.

Ia kemudian mengalihkan pandangan menuju sebuah tebing batu hitam setinggi tiga puluh meter yang diselimuti aura yin, berjarak sekitar seratus kaki darinya.

"Pergi."

Suaranya kembali terdengar.

Hening.

Satu tarikan napas.

Dua tarikan napas.

BOOOOOOMMMMM!

Tebing batu raksasa yang semula berdiri kokoh langsung meledak hancur!

Pecahan batu beterbangan ke segala arah.

Namun, sebelum menyentuh tanah, serpihan-serpihan tersebut kembali disapu entitas tak berbentuk.

Satu demi satu...

Lenyap dari realitas.

Seolah-olah tebing itu tidak pernah ada.

Mata Yefan semakin berbinar.

"Pergi!"

BOOMMM!

Sebuah bukit batu hitam hancur.

"Pergi!"

BOOMMM!

Bukit lainnya kembali lenyap.

Yefan terus menguji kekuatannya pada bukit-bukit batu hitam dengan ukuran yang semakin besar.

Satu demi satu.

Semuanya musnah tanpa meninggalkan jejak.

Namun, Yefan tidak berhenti.

Hingga akhirnya, tatapannya tertuju pada sebuah gunung batu hitam raksasa.

Gunung itu menjulang setinggi lima ratus kaki, dengan bentangan mencapai tiga kilometer.

Yefan menatapnya beberapa saat.

Jika kekuatan ini benar-benar tidak memiliki batas...

Ia mengangkat tangannya.

"Pergi!"

BOOOOMMM!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh Jurang Keputusasaan!

Gunung raksasa tersebut berguncang hebat.

Retakan menjalar ke seluruh permukaannya seperti sarang laba-laba.

Bahkan tanah di bawah kaki Yefan ikut bergetar.

Namun—

Gunung itu tidak hancur.

Entitas tak berbentuk Yefan hanya berhasil menghapus sebagian lapisan permukaannya.

"Uhuk!"

Darah hitam panas menyembur dari tenggorokan Yefan.

Tubuhnya sedikit terhuyung.

Ia segera mengusap sudut bibirnya.

Wajah Yefan tidak menunjukkan kesakitan.

Sebaliknya, sorot matanya justru semakin tajam.

Ia mengalami serangan balik karena memaksakan penghapusan terhadap objek yang telah melampaui ambang batas kekuatannya saat ini.

"Ternyata... batas kekuatan entitas tak berbentuk ini hanya setara puncak Ranah Transenden."

Yefan perlahan menyimpulkan hasil pengujiannya.

Gunung tersebut telah terinfusi aura yin yang setara dengan kekuatan Transenden tahap puncak. Karena itu, entitas tak berbentuk miliknya hanya mampu menghapus bagian permukaannya.

Namun, kesimpulan tersebut tidak membuat Yefan kecewa.

Justru sebaliknya.

Kegembiraan memenuhi hatinya.

Ia menyadari bahwa potensi entitas tak berbentuk ini akan terus berkembang seiring meningkatnya tingkat kultivasinya sendiri..

Dan kemampuan dari jantung ini...

Benar-benar berada di luar batasan teknik beladiri yang memiliki batas.

Jika begini...

Bukankah aku memiliki kemampuan bertahan hidup yang hampir mustahil dihancurkan, meski Kultivator Alam Roh itu sendiri yang membunuh ku?

Yefan kembali mengingat masa lalunya.

Diri nya dahulu tidak memiliki kultivasi sedikit pun.

Namun, ketika tubuhnya dihancurkan dan dicabik-cabik oleh Tupai Berekor Tiga di Ranah Pemurnian Qi, jiwanya tetap mampu di pertahankan oleh jantung nya .

Bahkan mampu di bangkitkan kembali.

"HAHAHAHA!"

Tawa Yefan menggelegar kesegala arah.

Ia sama sekali tidak memedulikan darah hitam yang mengotori jubah hitamnya.

Untuk pertama kalinya sejak dilahirkan tanpa dantian, Yefan merasa bahwa jalan menuju puncak benar-benar terbuka di hadapannya.

Beberapa jam kemudian, setelah memulihkan luka dalam menggunakan energi kehidupan yang berasal dari jantungnya, Yefan berdiri kembali dalam kondisi yang telah membaik.

Ia menatap arah kejauhan.

"Saatnya pulang."

Tatapan Yefan melembut.

"Ibu pasti sudah lama menungguku."

WUSSSSS!

Tubuh Yefan melesat terbang menuju perbatasan luar Jurang Keputusasaan.

Kecepatannya jauh melampaui dirinya di masa lalu.

Sepanjang perjalanan, nalurinya sesekali menangkap keberadaan entitas-entitas purba yang tersembunyi jauh di dalam kegelapan.

Mereka mengawasinya.

Namun, tidak ada niat permusuhan yang terpancar.

Yefan pun memilih untuk mengabaikannya.

"Sungguh tempat yang benar-benar aneh," gumamnya.

Sementara itu, di wilayah pedalaman hutan...

"Kembalikan milikku! Kembalikan!"

Jeritan seorang pemuda terdengar penuh kemarahan.

Wajahnya merah padam ketika menyaksikan harta karunnya dirampas oleh seorang pemuda tampan berjubah kebangsawanan.

"Tuan Muda Nanli, selamat! Dengan Ganoderma Lucidum ini, Anda pasti akan segera menerobos ke Ranah Transenden tahap menengah!" puji seorang pengawal dengan wajah penuh kegembiraan.

"Hahaha!"

Tuan Muda Nanli tertawa jumawa.

Ia memandangi Ganoderma Lucidum di tangannya dengan sorot mata penuh kepuasan.

"Meski Anda adalah Tuan Muda nomor satu dari Keluarga Nanli di Kota Kekaisaran, bukan berarti Anda bisa bertindak sewenang-wenang kepada kami! Kembalikan harta itu!"

Pemuda bernama Culian kembali berteriak.

Dadanya naik turun menahan amarah.

Tuan Muda Nanli perlahan memicingkan mata.

Tatapan dinginnya menusuk langsung ke arah Culian.

"Sadarilah posisimu, Culian!"

Suaranya dipenuhi penghinaan.

"Kamu hanya Tuan Muda dari Keluarga Cu—keluarga kecil tak berarti!"

Nanli melangkah maju sambil menuding wajah Culian.

"Sudah merupakan kebaikan besar aku tidak membunuhmu dan hanya mengambil barang ini."

Senyum mengejek muncul di wajahnya.

"Di dunia kultivasi, kekuatan tinjulah yang menentukan siapa pemegang hak atas harta karun!"

Culian menggertakkan gigi rapat-rapat.

Hatinya mendidih.

Namun, ia hanya bisa mengepalkan tangan dan menahan amarah setelah menyadari perbedaan latar belakang di antara mereka.

"Sialan..." bisiknya pasrah.

Di sudut lain, dua sosok tengah mengamati kejadian itu dari kejauhan.

"Paman Ketiga, apa yang harus kita lakukan?" tanya sang gadis muda.

Tatapannya tertuju pada Ganoderma Lucidum tersebut. Jelas, ia juga menginginkan buah itu.

"Kita sebaiknya kembali dan memberitahukan hal ini kepada pamanmu yang lain," jawab pria paruh baya di sampingnya.

Mereka tak lain adalah pasangan paman dan keponakan yang dahulu menyaksikan keputusasaan Yefan.

Namun, ada sesuatu yang aneh.

Penampilan fisik sang gadis telah berubah drastis.

Hanya dalam waktu sehari, tubuhnya seolah mengalami pertumbuhan luar biasa, membuatnya kini tampak seperti seorang wanita muda yang dewasa dan anggun..

Tepat ketika ketegangan antarkelompok semakin memuncak—

BOOOOOOMMMMM!

Sebuah dentuman teredam yang sangat dahsyat meledak dari kejauhan!

Tanah yang mereka pijak berguncang keras.

Debu-debu beterbangan.

WUUUSSSSS!

Hempasan angin kencang menerjang wilayah tersebut, bercampur dengan konsentrasi aura yin. yang begitu pekat hingga hawa di sekitarnya seketika terasa membeku.

"Apa yang terjadi?!"

Pengawal Nanli berubah pucat.

"Ini... ini adalah aura yin murni dari Jurang Keputusasaan!"

Tuan Muda Nanli menyipitkan mata.

Ia menatap ke arah pusat guncangan dengan ekspresi horor.

Apa yang sebenarnya terjadi di dalam jurang terlarang itu?

Paman Ketiga dan keponakannya pun seketika memasang posisi siaga penuh.

Mereka bersiap melarikan diri kapan saja jika situasi berubah menjadi tidak terkendali.

BOOOOOOMMMMM!

Ledakan kedua mengguncang langit dan bumi.

Di batas pandangan mata sejauh ratusan mil, kabut yin pekat yang menyelimuti Jurang Keputusasaan mendadak terbelah menjadi dua bagian secara paksa!

Kabut hitam bergulung liar ke segala arah.

Raungan dan jeritan histeris ribuan monster menggema dari dalam jurang.

Mereka berhamburan melarikan diri, seolah-olah baru saja merasakan keberadaan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada diri mereka sendiri.

Semua orang terpaku.

Kemudian...

Dari celah kabut yin yang terbelah dahsyat itu, sesosok pria tampan berjubah hitam melangkah keluar dengan tenang.

Tidak ada sedikit pun kepanikan di wajahnya.

Rambut hitamnya bergerak perlahan tertiup angin.

Aura misterius yang mengerikan mengelilingi tubuhnya.

Sorot matanya yang tajam dan dingin menyapu seluruh wilayah.

Hingga akhirnya...

Tatapannya berhenti tepat pada benda yang berada di genggaman Tuan Muda Nanli.

Buah Ganoderma Lucidum.

Mata Yefan menyipit.

Pria itu tak lain adalah Yefan.

bersambung.

1
Ed Troivan
plagiat kau
Rozer Cros: diam Diam diam, 🥹
total 3 replies
Fajar Fathur rizky
bikin yefan jadi alkemis tingkat tinggi yang mana kaisar tianming sendiri harus berlutut dan memberi hormat bikin nanti yefan bantai klan yujin dan hancurkan kaisar itu beserta keluarganya kaisar itu
Fajar Fathur rizky
cepat bikin yefan bantai jendral
Rozer Cros
mksh kk ketitik nya.
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏
intsomi: itu buzzer,jangan di liat komenannya,abaikan saja
total 5 replies
Ed Troivan
Author plagiat, ngga bakal ditamatin
Ed Troivan
Pasti ini karya plagiatmu lagi author tolol, kau bisa-bisanya menerjemahkannya lalu kau ubah nama tokoh-tokohnya makanya nggak kau lanjut novel Sang Penakluk... 👍
Rozer Cros: terima kasih kk udah dukung karya ini meski tidak sebaik yang lain. semoga sehat selalu kk
total 1 replies
Ed Troivan
kok rantaul
Ed Troivan: nggak bertanggung jawab lu Thor
total 4 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Fajar Fathur rizky
nanti bikin yefan bantai keluarga yunjin dengan cara paling kejam dan sadis
Fajar Fathur rizky
cepat bantai yanfeng bikin ranah kultivasi yefan langsung naik ke ranah yang lebih tinggi dari ranah yanfeng
Farhan Sadewa
gereget BNR lihat tingkah laku Yulin zou ini 🤭
Ed Troivan: Author tolol
total 1 replies
Farhan Sadewa
membuat penassran
Farhan Sadewa
penuh misteri👍
Ed Troivan: penuh misteri🤣 author gak jelas. palingan ilang lagi nanti karena nggak bisa plagitin lagi
total 1 replies
Farhan Sadewa
penasarn
Farhan Sadewa
jadi penasaran🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!