NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 Langkah Pertama di Sekolah Baru

"Setiap awal memang selalu dipenuhi rasa gugup. Namun, dari awal itulah perjalanan baru dimulai."

Malam sebelum hari pertama masuk SMP, aku hampir tidak bisa memejamkan mata. Seragam putih biru yang beberapa minggu lalu dibelikan Bapak tergantung rapi di hanger di sudut kamar. Berkali-kali aku memandanginya sambil membayangkan bagaimana suasana sekolah baruku nanti. Rasanya campur aduk antara senang, gugup, dan penasaran. Besok aku tidak lagi menjadi murid sekolah dasar. Besok aku harus kembali memulai semuanya dari awal, mengenal lingkungan baru, guru-guru baru, serta teman-teman yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Mama yang melihatku masih mondar-mandir di kamar tersenyum kecil, lalu mengingatkanku dengan suara lembut.

"Hitas, semua yang mau dipakai besok sudah disiapkan, kan? Jangan sampai besok baru panik."

Aku mengangguk sambil tersenyum.

"Iya, Ma. Tenang saja, semuanya sudah Hitas siapkan dari jauh-jauh hari."

Mama mengusap bahuku dengan lembut.

"Kalau begitu sekarang tidur. Besok jangan sampai bangun terlambat."

"Iya, Ma."

Setelah Mama keluar dari kamar, aku kembali memandangi seragam yang tergantung rapi. Sambil menghela napas pelan, aku berbicara di dalam hati, "Besok Hitas masuk ke sekolah yang berbeda lagi. Hitas harus beradaptasi lagi dengan semuanya."

Pikiran itu terus berputar di kepalaku hingga akhirnya rasa kantuk datang dan membawaku terlelap.

Pagi itu matahari bersinar begitu cerah. Cahaya yang masuk melalui celah jendela membuatku segera bangun dan bersiap. Meskipun semua perlengkapan sudah kupersiapkan sejak malam sebelumnya, entah mengapa aku tetap terlihat sibuk. Aku beberapa kali membuka tas untuk memastikan buku dan alat tulisku sudah lengkap, kemudian kembali bercermin sambil merapikan seragam yang kupakai. Mama yang melihatku berjalan ke sana kemari hanya tertawa kecil.

"Itu kan Mama sudah bilang semalam supaya semuanya disiapkan. Sekarang malah bingung sendiri."

Aku hanya tersenyum malu karena memang rasa gugup membuatku ingin memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal.

Saat itulah Kak Ucaluna memperhatikanku dari ujung kepala hingga kaki. Setelah beberapa saat, ia tersenyum lalu berkata, "Hitas, pakai hijab saja, ya.

Hampir sembilan puluh persen anak perempuan di sekolah nanti berhijab."

Aku langsung menggeleng pelan.

"Tidak usah, Kak. Begini saja sudah bagus."

Kak Ucaluna kembali membujukku dengan sabar.

"Coba pakai saja. Nanti kamu juga akan terbiasa."

Aku masih belum yakin.

"Hitas belum pernah pakai hijab ke sekolah."

Kak Ucaluna kemudian tersenyum sambil berkata dengan nada menggoda, "Kalau begitu jangan jalan sama Kakak."

Aku spontan menatapnya.

"Ya sudah... tapi Kakak yang bantu pakaikan. Hitas belum tahu cara memakainya."

Tanpa banyak bicara, Kak Ucaluna mengambil hijab yang sudah disiapkan di atas tempat tidur. Dengan penuh kesabaran ia mulai memasangkannya di kepalaku sambil merapikan setiap lipatan kain agar terlihat rapi. Aku hanya diam memandangi bayanganku di cermin. Rasanya masih sangat aneh karena selama sekolah dasar rambutku selalu diikat dengan berbagai macam model. Kini semuanya tertutup rapi oleh hijab yang membuatku beberapa kali membenarkan letaknya karena belum terbiasa. Sejujurnya pagi itu aku merasa sedikit tidak nyaman sehingga suasana hatiku juga berubah, tetapi aku mencoba menerimanya karena tidak ingin mengecewakan Kak Ucaluna.

Setelah semuanya selesai, aku dan Kak Ucaluna berpamitan kepada Mama dan Bapak yang sedang duduk di ruang tamu.

"Ma, Pak... kami berangkat dulu."

"Hati-hati di jalan," jawab mereka hampir bersamaan.

Sekolah yang akan kutuju memang cukup jauh dari rumah, tetapi masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hari itu aku berangkat bersama Kak Ucaluna dan sahabatnya yang bernama Nadia. Kami berjalan menyusuri jalan berkapur yang masih terlihat rusak di beberapa bagian. Di sisi kanan dan kiri jalan tumbuh pepohonan yang membuat udara pagi terasa begitu sejuk, sementara rumah-rumah penduduk masih berdiri berjauhan. Semakin dekat menuju sekolah, semakin banyak pula anak-anak berseragam putih biru yang berjalan ke arah yang sama. Pemandangan itu membuatku sadar bahwa sebentar lagi aku benar-benar akan menjadi bagian dari mereka.

Tidak lama kemudian gerbang sekolah mulai terlihat dari kejauhan. Halaman sekolah sudah dipenuhi oleh siswa-siswa baru yang datang dari berbagai sekolah dasar. Ke mana pun aku memandang, yang terlihat hanyalah seragam putih biru memenuhi hampir seluruh halaman. Untuk sesaat aku hanya berdiri sambil memperhatikan suasana di sekitarku.

"Ternyata murid di sini banyak sekali," batinku.

Saat masih sibuk melihat-lihat suasana sekolah, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang hingga membuatku terkejut.

"Bah... Hitas! Baru datang, ya?"

Aku langsung memegang dada sambil menoleh ke belakang.

"Aduh, Vita. Kamu bikin aku kaget."

Vita tertawa melihat wajahku yang masih terkejut.

"Tadi aku lihat dari jauh itu memang kamu."

Kami pun mengobrol sambil tersenyum. Tanpa sadar kami sama-sama memperhatikan penampilan masing-masing. Dulu, saat masih SD, rambut kami selalu diikat dengan berbagai macam gaya, tetapi kini rambut itu sudah tertutup rapi oleh hijab sehingga kami terlihat sangat berbeda. Kami pun tertawa bersama karena merasa belum terbiasa melihat perubahan itu.

Belum lama kami berbincang, suara bel sekolah terdengar nyaring memenuhi seluruh halaman. Semua siswa baru segera diarahkan menuju lapangan oleh para guru yang telah menunggu di depan.

Seorang ibu guru berdiri sambil memegang mikrofon.

"Selamat pagi, anak-anak."

"Selamat pagi, Bu," jawab kami serempak.

"Selamat datang di sekolah ini. Hari ini Ibu akan membagikan kelas masing-masing sebagai persiapan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah yang akan dilaksanakan besok."

Suasana lapangan mendadak menjadi sangat tenang ketika ibu guru mulai membuka daftar nama siswa. Satu per satu nama dipanggil hingga akhirnya terdengar suara yang membuatku refleks mengangkat kepala.

"Hitas Nursyah."

Aku segera mengangkat tangan.

"Hadir, Bu."

Ibu guru kembali melihat daftar yang dipegangnya.

"Ruang Empat."

Vita yang berdiri di sampingku langsung tersenyum.

"Hitas, kita beda kelas."

Aku hanya mengangguk pelan. Entah mengapa, saat mendengar namaku dipanggil dan mengetahui kelas yang akan kutempati, aku benar-benar merasakan bahwa masa sekolah dasarku telah berakhir. Kini aku telah menjadi seorang siswi SMP.

Setelah seluruh nama selesai dibacakan, ibu guru kembali memberikan beberapa arahan. Beliau menjelaskan bahwa keesokan harinya kami akan mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan sekolah yang akan dipandu oleh kakak-kakak OSIS agar kami lebih mudah mengenal setiap sudut sekolah dan mulai beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai siswa SMP.

Tidak lama kemudian acara selesai. Kak Ucaluna dan Nadia menghampiriku sambil tersenyum.

"Sudah tahu kelasnya?" tanya Kak Ucaluna.

"Sudah. Hitas masuk Ruang Empat."

"Bagus. Besok semangat ikut kegiatan pengenalannya, ya."

Aku mengangguk pelan. Dalam perjalanan pulang, aku memang belum mendapatkan teman baru selain Vita yang sudah kukenal sejak SD. Namun, aku percaya bahwa setiap pertemuan membutuhkan waktu. Aku belum tahu siapa yang akan duduk sebangku denganku, siapa yang kelak menjadi sahabatku, dan siapa yang akan mengisi hari-hariku selama tiga tahun ke depan. Yang kutahu saat itu hanyalah satu hal, bahwa langkah kecil yang kuawali hari itu sedang membawaku menuju babak baru dalam hidupku yang penuh dengan cerita-cerita yang belum pernah kubayangkan sebelumnya.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!