Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Kopi Beracun
Di antara debu dan napas yang berat, ia menerima satu hal dengan jelas. Mulai sekarang, kebenaran tidak lagi boleh ia pilih hanya yang meringankan dirinya.
Namun kebenaran berikutnya datang lebih kotor daripada debu gudang.
Sore itu, Bu Fenny datang ke Villa Teluk tanpa pemberitahuan.
Ia tidak masuk lewat ruang utama. Dengan alasan mengantar beberapa dokumen lama Sutanto Corp yang tertinggal di mobil keluarga, ia berdiri di dekat garasi, menunggu saat Rayhan keluar membawa kantong sampah dari dapur.
"Rayhan," panggilnya pelan.
Rayhan berhenti.
Wajah Bu Fenny tampak lebih kurus daripada beberapa minggu lalu. Tidak ada kalung besar, tidak ada tas mahal, hanya kemarahan yang belum padam.
"Mama tidak lama," katanya. "Mama cuma ingin bicara."
"Kalau soal perusahaan, kirim lewat pengacara."
Bu Fenny tersentak. "Kau bicara seperti itu pada Mama?"
Rayhan menunduk sedikit, tetapi tidak mundur. "Mama tidak boleh datang tanpa izin Bu Keira."
Nama itu membuat wajah Bu Fenny mengeras.
"Perempuan itu benar-benar sudah mencuci otakmu."
"Mama, pulang."
Bu Fenny mendekat, pura-pura merapikan kerah seragam rumah yang dipakai Rayhan. Gerakannya seperti ibu yang masih ingin menyentuh anaknya. Namun saat tangannya turun, dua bungkus kecil masuk ke saku celana Rayhan.
Rayhan menangkap pergelangan ibunya.
"Apa ini?"
Bu Fenny menarik tangan, matanya sedikit panik. "Vitamin. Kau tampak pucat."
Rayhan mengeluarkan satu bungkus. Tidak ada label.
Tatapannya menjadi dingin. "Mama pikir aku bodoh?"
Bu Fenny berbisik cepat, "Itu bukan untukmu. Kalau perempuan itu sakit satu malam saja, dia akan tahu rasanya tidak berdaya. Kau bisa mengambil kembali kendali."
Untuk sesaat, Rayhan hanya menatap ibunya.
Ia dulu tidak pernah melihat wajah ini dengan jelas. Wajah seorang ibu yang bisa menyebut racun sebagai pelajaran.
"Pergi," katanya.
"Rayhan..."
"Pergi sebelum aku memanggil keamanan."
Bu Fenny pergi dengan wajah terluka yang dibuat-buat. Rayhan menggenggam dua bungkus itu, berniat menyerahkannya kepada pengawal Liem sebagai bukti.
Namun dari dalam, suara Keira terdengar.
"Rayhan, kopi."
Ia memasukkan bungkus itu kembali ke saku sementara, mengambil nampan, dan membuat kopi seperti biasa. Satu cangkir untuk Keira, satu gelas air untuk dirinya sendiri. Tangannya sedikit gemetar karena 023 dan sisa kerja seharian.
Saat ia berbalik, salah satu bungkus di sakunya tersangkut ujung meja.
Benda itu jatuh.
Robek.
Serbuk putih halus masuk ke cangkir kopi Keira.
Rayhan membeku.
Semua terjadi terlalu cepat. Serbuk itu larut di permukaan kopi panas sebelum ia sempat menarik napas kedua.
"Rayhan?" suara Keira dari ruang tengah.
Rayhan menyambar cangkir itu, tetapi terlambat. Keira sudah masuk ke dapur dan melihat gerakannya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Jangan minum ini."
"Kenapa?"
Rayhan membuang kopi ke wastafel.
Tindakan itu justru membuat mata Keira berubah.
"Apa yang ada di dalamnya?"
"Obat."
"Obat siapa?"
Rayhan menatap bungkus yang robek di meja.
Jika ia berkata Bu Fenny, Keira akan percaya? Atau ia akan mendengar lagi seorang pria Sutanto menyalahkan ibunya saat tertangkap?
Satu detik keraguan itu cukup.
Keira melihatnya.
Wajahnya langsung dingin.
"Kau yang memasukkannya."
"Tidak."
"Lalu kenapa kau ragu menjawab?"
Rayhan melangkah mendekat. "Keira, dengarkan dulu."
"Bu Keira."
Ia berhenti.
Keira mengambil bungkus yang tersisa dari saku Rayhan sebelum ia sempat menahan. Ada dua. Satu robek, satu masih utuh. Ia mencium sedikit, lalu wajahnya berubah.
"Obat perangsang dan penenang?"
Rayhan menutup mata sebentar.
Keira tertawa tanpa suara. "Kau benar-benar hebat. Dulu Anya memakaimu lewat obat. Sekarang kau ingin memakai cara yang sama kepadaku?"
"Aku tidak memasukkannya."
"Tapi ada di sakumu."
"Mama yang..."
Keira menamparnya.
Tidak terlalu keras dibanding semua yang pernah terjadi, tetapi cukup membuat wajah Rayhan menoleh.
"Jangan gunakan ibumu untuk menyelamatkan diri."
Rayhan kembali menghadapnya. "Aku tidak sedang menyelamatkan diri."
"Bagus."
Keira membuka laci obat darurat di dapur. Di dalamnya ada beberapa paket bubuk yang ia simpan sejak mulai mengawasi Villa Teluk. Obat uji reaksi, penawar, dan dua paket pahit yang dulu dipakai untuk menguji staf berbahaya di lingkungan Liem. Tidak mematikan dalam dosis kecil, tetapi cukup membuat tubuh menderita hebat jika diminum sekaligus.
Ia melempar dua paket ke meja.
"Pilih."
Rayhan menatapnya.
"Apa?"
"Kalau kau tidak bersalah, buktikan. Minum salah satu."
"Keira."
"Bu Keira."
Rayhan melihat dua paket itu. Tubuhnya sudah lemah karena 023. Jika ia minum satu, efeknya mungkin berat. Jika dua, bisa berbahaya.
Keira menatapnya dengan mata yang terlalu tenang.
"Kenapa diam? Takut?"
Rayhan mengambil paket pertama.
Ia merobeknya dan menuangkan isinya ke gelas air.
Keira tidak bergerak.
Rayhan meminumnya sampai habis.
Rasa pahit langsung menghantam lidah, turun ke perut seperti api dingin. Ia menahan mual.
"Satu lagi," kata Keira, suaranya nyaris tanpa emosi.
Pelayan Liem di pintu dapur pucat. "Nona..."
Keira tidak menoleh. "Keluar."
Rayhan mengambil paket kedua.
Kali ini tangan Keira bergerak sedikit, hampir seperti ingin menghentikan.
Hampir.
Rayhan melihat gerakan itu.
Lalu ia meminum paket kedua sebelum Keira sempat mengubah pikiran.
Gelas kosong menyentuh meja.
Untuk beberapa detik, tidak terjadi apa-apa.
Lalu tubuh Rayhan menegang.
Keringat dingin muncul di dahinya. Perutnya seperti dipelintir. Lututnya melemah, tetapi ia tetap berdiri dengan tangan mencengkeram tepi meja.
"Puas?" tanyanya pelan.
Keira memandang wajahnya yang cepat memucat.
Rasa marahnya belum padam. Namun di bawahnya, sesuatu mulai bergetar. Takut. Bukan untuk dirinya. Untuk pria bodoh di depannya yang selalu memilih cara paling menyakitkan untuk membuktikan sesuatu.
"Masukkan dia ke ruang gelap," kata Keira kepada pengawal, memaksa suaranya tetap dingin. "Kunci."
Rayhan tidak melawan.
Ruang gelap di Villa Teluk dulu dipakai sebagai gudang wine bawah tanah. Dindingnya tebal, udara dingin, dan lampunya bisa dimatikan dari luar. Rayhan dibawa ke sana dengan langkah yang mulai goyah.
Keira berdiri di luar pintu.
"Kecuali kau mati," katanya, setiap kata seperti batu, "aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Pintu ditutup.
Kunci diputar.
Di dalam, Rayhan jatuh ke lantai dingin.
Obat itu bekerja lebih kejam karena tubuhnya sudah dilemahkan 023. Perutnya kram, napasnya pendek, dan suhu dingin ruangan membuat tangannya gemetar. Ia memaksa diri tidak bersuara.
Di luar, Keira berdiri terlalu lama.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Dua puluh.
Tidak ada suara dari dalam.
Justru itulah yang membuatnya takut.
Keira membuka pintu.
Rayhan terbaring miring di lantai, bibirnya pucat, keringat dingin membasahi leher. Matanya setengah terbuka, tetapi fokusnya hilang.
"Rayhan."
Tidak ada jawaban.
Keira berlutut, menyentuh wajahnya. Terlalu dingin.
"Rayhan!"
Pelayan dan pengawal berlari turun setelah mendengar suaranya. Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Keira benar-benar kehilangan warna.
"Siapkan mobil. Sekarang!"
Rayhan dibawa ke rumah sakit dalam keadaan nyaris tidak sadar.
Di pintu IGD, dokter mendorong brankar masuk cepat. Keira mengikuti sampai batas pintu, tetapi perawat menahannya.
"Nona, tunggu di luar."
Pintu ICU tertutup di depannya.
Lampu merah menyala.
Seorang dokter keluar sepuluh menit kemudian dengan wajah serius. "Apa pasien mengonsumsi obat pelemah otot atau senyawa lain sebelumnya?"
Keira seperti ditarik kembali ke ruang rapat Sutanto.
023.
"Ada," jawabnya. "Beberapa hari lalu. Satu dosis."
Dokter menarik napas tajam. "Itu menjelaskan tekanan darahnya. Dua paket obat pahit yang diminum pasien memicu reaksi lambung dan saraf, tetapi kondisi tubuhnya sudah lemah lebih dulu. Kami harus stabilkan jantung dan suhu tubuhnya."
"Dia akan hidup?"
Dokter tidak langsung menjawab.
Keterlambatan setengah detik itu lebih menakutkan daripada teriakan.
"Kami sedang berusaha."
Dokter kembali masuk.
Keira berdiri di koridor, merasa lantai rumah sakit bergerak di bawah kakinya.
Kevin datang dua puluh menit kemudian, masih memakai kemeja kerja. Ia melihat Keira berdiri di depan ICU dengan wajah kosong dan langsung memahami bahwa sesuatu yang buruk terjadi.
"Kei."
Keira tidak menoleh. "Aku menyuruhnya minum."
Kevin berhenti.
"Dua paket," lanjut Keira. "Dia minum dua-duanya."
"Kenapa?"
Keira menutup mata. Gambar Rayhan yang membuang kopi, bungkus robek di meja, jeda saat ia hendak menyebut Bu Fenny, semuanya kembali terlalu jelas.
"Aku pikir dia mencoba meracuniku."
Kevin tidak langsung bicara. Ia marah kepada Rayhan terlalu lama untuk mudah membelanya. Namun melihat wajah Keira, ia tahu adiknya tidak sedang mencari pembenaran.
"Apa ada bukti?"
Keira membuka telapak tangannya. Di sana ada bungkus obat yang tersisa, sudah kusut karena terlalu lama ia genggam.
"Bu Fenny datang sore tadi," katanya pelan. "Pengawal melihatnya di garasi. Aku belum tanya."
Kevin mengambil ponsel. "Aku akan ambil rekaman CCTV."
"Ko Kevin."
Ia berhenti.
Suara Keira nyaris tidak terdengar. "Kalau ternyata bukan dia..."
Kevin menatap adiknya.
Keira tidak menyelesaikan kalimat itu.
Kalau ternyata bukan Rayhan, berarti Keira hampir membunuh orang yang sedang mencoba menyelamatkannya.
Ponsel Kevin bergetar.
Rekaman garasi masuk.
Di layar kecil, tangan Bu Fenny terlihat jelas menyentuh saku Rayhan. Namun sebelum Keira bisa melihat lebih jelas, pintu ICU terbuka lagi dan perawat memanggil namanya.
Jantung Keira jatuh.
Keira berdiri dengan tangan masih berbau obat pahit dan kopi yang terbuang.
Di kepalanya, kalimatnya sendiri kembali bergema.
Kecuali kau mati, aku tidak akan pernah memaafkanmu.
Untuk pertama kalinya, ia takut kalimat itu benar-benar menjadi doa yang salah.