Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Penyesalan
Malam itu, Galang tidak pulang ke Kediaman Gondokusumo.
Ia duduk sendirian di sudut bar hotel, tempat yang biasanya dipakai pebisnis untuk menutup kesepakatan atau melupakan kekalahan kecil. Di depannya, segelas whisky sudah tinggal setengah. Es di dalamnya mencair, membuat rasa minuman itu hambar.
Galang tetap meminumnya.
Ia butuh sesuatu yang membakar tenggorokan, karena dadanya terasa terlalu dingin.
`Anisa sudah mati di hari kau membuangnya.`
Kalimat Keira berputar tanpa henti.
Ia menutup mata, tetapi wajah Anisa justru muncul lebih jelas. Bukan Keira dengan setelan putih di ruang rapat. Bukan Nona Besar Hartono yang membuat seluruh ruangan menunduk. Melainkan Anisa dengan rambut diikat seadanya, berdiri di dapur pagi-pagi.
`Mas Galang, sarapan dulu?`
Ia dulu tidak menjawab.
Hanya mengambil tas kerja dan pergi.
Galang meneguk whisky lagi.
Ingatan lain datang. Anisa duduk di sofa ruang keluarga, menjahit kembali kancing jasnya yang lepas. Ia duduk terlalu tegak, seolah takut keberadaannya mengganggu. Ketika Galang melewati ruangan, Anisa mengangkat wajah.
`Jasnya sudah saya rapikan. Besok ada rapat, kan?`
Galang hanya berkata, `Taruh di kamar.`
Tidak ada terima kasih.
Tidak ada tatapan.
Ia menekan gelas sampai buku jarinya memutih.
Bagaimana mungkin ia tidak pernah melihatnya?
Tiga tahun perempuan itu ada di rumahnya, tetapi dalam ingatannya, Anisa selalu berdiri di pinggir. Bukan karena Anisa memilih berada di sana. Karena Galang sendiri yang mendorongnya ke pinggir, hari demi hari, dengan diam, dengan dingin, dengan nama Sherly yang selalu ia jadikan pusat.
Ia teringat satu sore ketika ia pulang dalam keadaan marah setelah bertengkar dengan Engkong. Di ruang kerja, foto pernikahan mereka jatuh dari rak karena tangannya menyapu meja terlalu keras. Bingkainya retak. Galang bahkan tidak berhenti untuk mengambilnya.
Malam itu, saat ia keluar mengambil air, ia melihat Anisa duduk di lantai ruang kerja. Perempuan itu diam-diam mengganti bingkai, membersihkan pecahan kaca, lalu mengusap permukaan foto dengan tisu. Ada luka kecil di jarinya, tetapi ia tetap berhati-hati agar wajah Galang di foto tidak tergores.
Galang waktu itu hanya berkata, `Kenapa belum tidur?`
Anisa menjawab, `Sebentar lagi.`
Ia tidak pernah bertanya kenapa foto itu penting bagi Anisa.
Sekarang ia tahu jawabannya.
Karena mungkin hanya foto itu yang membuat Anisa bisa percaya pernikahan mereka pernah nyata.
Ponselnya menyala.
Tidak ada pesan dari Keira.
Tentu saja tidak ada.
Ia membuka kontak lama. `Anisa`. Nama itu masih tersimpan, bahkan setelah perceraian. Galang menatapnya lama, lalu menekan panggil.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Lalu terputus.
Nomor tidak aktif.
Galang tertawa pendek. Tawa yang terdengar seperti orang patah.
Apa yang ia harapkan? Bahwa nomor lama itu masih menyambutnya? Bahwa perempuan yang sudah menjadi Keira Hartono masih menunggu telepon dari pria yang mengusirnya?
Ia menekan panggil lagi.
Masih tidak aktif.
Sekali lagi.
Tidak aktif.
Pada panggilan keempat, ia berhenti bukan karena sadar diri, tetapi karena tangannya gemetar terlalu keras. Layar ponsel memantulkan wajahnya: mata merah, rahang kaku, dan ekspresi pria yang baru menyadari pintu sudah ditutup dari sisi lain.
Ia membuka kontak lain. Kali ini nomor kantor Hartono yang ia dapat dari agenda rapat. Jarinya berhenti di tombol panggil.
Tidak.
Ia tidak punya hak mengganggu Keira malam ini.
Namun rasa putus asa membuatnya menekan juga.
Panggilan tersambung ke resepsionis profesional.
"Hartono Group, selamat malam."
Galang menelan ludah. "Saya ingin bicara dengan Nona Keira."
"Maaf, dengan siapa?"
"Galang Gondokusumo."
Jeda singkat. Terlalu singkat untuk terasa netral.
"Mohon maaf, Pak Galang. Nona Keira tidak menerima panggilan pribadi melalui jalur kantor."
Panggilan berakhir dengan sopan.
Sopan.
Penolakan paling dingin selalu terdengar sopan.
Galang menaruh ponsel di meja. Kepalanya tertunduk.
Ia teringat malam Anisa demam. Pesan pelayan masuk berkali-kali. `Nyonya panas tinggi.` Galang membacanya di parkiran apartemen Sherly. Sherly menangis, berkata ia takut sendirian. Galang memilih naik ke apartemen.
Esoknya, Anisa tetap tersenyum pucat.
`Tidak apa-apa. Saya sudah minum obat.`
Ia dulu percaya kalimat itu karena mudah dipercaya.
Sekarang ia tahu, itu bukan baik-baik saja. Itu menyerah meminta.
Whisky ketiga datang. Galang tidak ingat memesan.
Di dasar pikirannya, suara Engkong Gondokusumo terdengar lagi.
`Apa yang sudah kau lakukan?`
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban. Jawabannya ada di semua hal yang hilang. Di foto pernikahan yang ternoda darah. Di jalan basah yang ia lewati tanpa turun. Di perempuan yang sekarang bahkan tidak mau menoleh saat ia memanggil.
Galang membuka galeri ponsel dan mencari pesan sopir malam itu. Laporan singkat tentang kecelakaan masih ada di riwayat.
`Pak, jalan depan kompleks tadi macet karena kecelakaan. Sekarang sudah lancar.`
Dulu ia membaca pesan itu sambil duduk di apartemen Sherly.
Sekarang kalimat itu seperti vonis.
Jalan depan kompleks.
Malam hujan.
Kecelakaan.
Anisa.
Jika ia turun dari mobil. Jika ia bertanya. Jika ia melihat satu detik lebih lama. Mungkin ia akan menemukan tubuh perempuan yang baru ia ceraikan sebelum darahnya terlalu banyak mengalir di aspal.
Tapi ia tidak turun.
Karena saat itu, dunia Galang masih berputar pada Sherly.
Ponselnya bergetar.
Galang mengangkatnya cepat, terlalu cepat.
Sherly.
`Sayang, kapan kita menikah? Aku merasa akhir-akhir ini kamu makin jauh. Aku cuma ingin kepastian.`
Di bawah pesan itu, Sherly mengirim stiker hati kecil.
Dulu pesan seperti itu membuat Galang merasa dibutuhkan.
Malam ini, ia hanya merasa mual.
Ia menatap kata `Sayang` di layar, lalu teringat Keira berkata, `Kamu masih mengira ini tentang Galang?`
Semua ini bukan tentang cinta.
Mungkin sejak awal, bagi Sherly, ini tentang menang.
Untuk pertama kalinya, Galang membaca pesan Sherly dan tidak merasakan kasihan. Tidak merasakan rindu. Tidak merasakan keinginan melindungi.
Yang muncul hanya rasa asing.
Dan di bawah rasa asing itu, perlahan naik sesuatu yang lebih gelap.
Muak.
Galang mematikan layar tanpa membalas.
Di luar bar, Surabaya terus bergerak. Mobil lewat, lampu menyala, orang-orang pulang ke rumah masing-masing.
Galang duduk di tempatnya sampai gelas terakhir kosong.
Ketika bartender memberi tahu bahwa bar akan tutup, Galang baru sadar jam sudah lewat tengah malam. Ia berdiri, tetapi tubuhnya oleng. Bukan karena alkohol saja. Ada lubang yang terbuka di dadanya, dan setiap ingatan malam itu jatuh ke dalamnya tanpa suara.
Ia menolak bantuan pelayan, berjalan sendiri ke lobi, lalu berhenti di depan kaca besar. Pantulan pria di sana tampak asing.
Pria itu pernah memiliki Anisa.
Pria itu juga yang membuangnya.
Namun seberapa banyak pun ia minum, satu hal tetap tidak berubah.
Anisa tidak akan kembali.
Dan Keira Hartono tidak akan pernah menjadi miliknya.