Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Are you two okay, Sir?
"Apakah Anda berdua baik-baik saja, Tuan?"
Suara itu memecah keheningan. Rael tertegun, membeku di tempatnya. Rasa frustrasi yang pekat sempat mencengkeram dadanya, menghimpit napas, sebelum akhirnya ia dipaksa tersadar oleh kenyataan hantaman di hadapannya—sebuah kebenaran mutlak yang baru saja dibawa oleh Vano, perwakilan pewaris Singapura.
Secara perlahan namun tegas, Rael mendongakkan kepala. Tatapannya menajam, langsung mengunci netra Vano dengan kilatan intensitas yang mengerikan.
You must take me to the exact place where you first found that ring! Right now!
"Kau harus membawaku ke tempat persis di mana kau pertama kali menemukan cincin itu! Sekarang juga!'
Suara Rael bergetar rendah, sarat akan tuntutan dan emosi yang meledak-ledak di bawah permukaan. Mendengar desakan yang begitu menekan dan seolah tak menerima penolakan, Vano menahan napas. Insting bertahan hidupnya berteriak keras untuk patuh.
Yes, Sir! I will take you anywhere you want.
"Baik, Tuan! Saya akan mengantar Anda ke mana pun Anda mau."
Di dalam hatinya, gejolak penasaran membakar Vano. Cincin apa sebenarnya yang baru saja ia temukan?
Ia hanya membawa cincin itu semata-mata karena energi Aura yang dipancarkannya, dan tak ingin manusia biasa tiba-tiba jatuh sakit lalu meninggal tanpa mengetahui penyebabnya. Sebab secara tak langsung, siapa pun yang bukan pengguna Aura dan mengenakan cincin itu akan perlahan binasa—kekuatan penyembuhan yang mengalir darinya justru menjadi racun bagi tubuh manusia biasa yang sehat, memperpendek usia mereka secara diam-diam tanpa pernah mereka sadari.
Dan mengapa benda kecil itu mampu membuat salah satu penguasa tertinggi di hadapannya memasang ekspresi sekacau ini—sebuah ekspresi penuh luka, harapan, dan misteri yang tak akan pernah bisa dipahami oleh manusia awam. Tanpa sepatah kata lagi, Vano membungkuk, mempersilakan Rael untuk melangkah bersamanya.
Rael berjalan lambat, mengamati Vano dan para penjaga lainnya. Kesunyian mereka yang patuh memicu sesuatu di benaknya. Karena tak satu pun dari mereka berani melontarkan tanya, Rael memutuskan untuk memecah keheningan, membawa atmosfer ruangan ke tingkat yang lebih intim sekaligus mengintimidasi.
I know you didn't ask about me, because you already know my identity as the owner of the core corporation.
"Aku tahu kalian tidak bertanya tentangku, karena kalian sudah mengetahui identitasku sebagai pemilik perusahaan inti."
Langkah Rael terhenti. Ia berbalik, memaku semua orang di tempatnya.
I was testing you. Asking nothing about what you've seen and keeping it to yourselves is part of your duty as keeper of the company's core information.
"Aku sedang menguji kalian. Tidak menanyakan apa pun yang telah kalian lihat dan menyimpannya sendiri adalah bagian dari tugas kalian sebagai penjaga informasi inti perusahaan."
Rael menjeda kalimatnya. Udara di sekitar mereka mendadak terasa berat dan mencekam, seolah gravitasi merosot tajam.
The company you see is merely a front to cover our existence. We are different from ordinary humans.
"Perusahaan yang kalian lihat ini hanyalah kedok untuk menutupi keberadaan kita. Kita berbeda dari manusia biasa."
Rael berputar perlahan, mengalihkan seluruh fokusnya kepada satu sosok yang berdiri di sudut ruangan. Tatapannya terkunci pada Matteo.
Teo, you are coming with me to Singapore. We leave right now with Vano and Eren!
"Teo, kau ikut aku ke Singapura. Kita berangkat sekarang juga bersama Vano dan Eren!'
Matteo tertegun. Detak jantungnya seakan berhenti semenit. Sebelum ia sempat menyuruh Vano untuk segera bersiap, suara Rael kembali terdengar, memotong malam dengan nada yang menyayat.
You realize it too, don't you, Teo?
"Kau menyadarinya juga kan, Teo?"
Matteo mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Rael. Di sana, ia melihat sang tuan tengah tersenyum lebar—sebuah senyuman langka yang lahir hanya karena sepotong cincin usang temuan Vano. Seketika, badai emosi menghantam dada Matteo. Air mata keharuan hampir pecah. Ia hampir tidak percaya pada indra penglihatannya sendiri; sosok agung yang ia layani dengan seluruh jiwa raga di masa lalu, kini benar-benar telah hidup kembali, berada di tempat lain di satu pijakan bumi yang sama, dan menghirup udara yang sama dengannya di dunia ini.
Dengan tubuh yang bergetar menahan gejolak hormat yang luar biasa, Matteo membungkuk dalam-dalam. Suaranya serak namun mantap, menggetarkan seisi ruangan:
Yes, Sir. I know very well. The aura flowing from that ring belongs to Lady Arbella!
"Ya, Tuan. Saya sangat tahu. Aura yang mengalir keluar dari cincin itu milik Nona Arbella!"
...****************...
Setiap hari, Arien menggantungkan hidupnya pada hiruk-pikuk pasar tradisional. Langkah kakinya dengan lincah menyusuri lorong-lorong sempit, singgah dari satu kios ke kios lainnya. Mulai dari toko kelontong, los sayur yang basah, deretan pedagang ikan dan daging segar, hingga ke pojok-pojok pertokoan yang menjual aneka barang. Demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah, Arien rela berjalan kaki berkeliling menjemput para pelanggan setianya.
Arien menjajakan berbagai macam masakan khas daerahnya yang selalu menggugah selera. Di dalam daftar menunya, berjejer kuliner rumahan seperti sayur tahu, sayur lodeh bunga rombeh (kecombrang) yang wangi, semur jengkol, telur balado, telur pindang, besengek cabai hijau, hingga perkedel kentang yang gurih.
Saat tiba di area pedagang sayur, Arien menghampiri seorang perempuan paruh baya yang sedang merapikan dagangannya. Dengan ramah, ia langsung menyapa,
Bu Haji, bade mam, manawi?
"Bu Haji, barangkali mau makan?"
Mendengar suara yang tak asing, perempuan itu mendongak lalu tersenyum lebar.
Oh, Neng Arien?! Cik aya naon wae rencang na?
"Oh, Nak Arien?! Coba ada menu makan apa saja?" jawab Bu Haji penasaran.
Arien tidak kehilangan akal untuk memikat pelanggannya. Ia langsung mengeluarkan ponsel dari saku. Sebelum berangkat berkeliling, ia memang sudah merekam video pendek yang memperlihatkan kelezatan semua menu di warung tempatnya bekerja.
Mangga Bu Haji menu-menu na, manawi kaanggo,
"Ini Bu Haji menu-menunya, barangkali minat," ujar Arien sambil menyodorkan layar ponselnya.
Tanpa pikir panjang, mata Bu Haji Sayur langsung tertuju pada satu menu primadona. Bagi masyarakat di daerah tempat tinggal Arien, buah yang satu ini memang sudah menjadi favorit. Meski aromanya tajam dan khas, rasanya yang legit selalu sukses menjadi pendamping nasi yang sempurna.
Sareng jengkol we, Neng, nganggo kurupuk!
"Sama jengkol saja, Nak, pakai kerupuk!" seru Bu Haji Sayur bersemangat.
Arien tersenyum tipis. Untuk memastikan pesanannya tidak keliru, ia kembali bertanya,
Oh muhun, Bu. Di sanguan, Bu?
"Oh iya, Bu. Pakai nasi, Bu?"
Mendengar pertanyaan itu, Bu Haji Sayur spontan menepuk dahinya sambil terkekeh.
Sumuhun atuh, Neng, di sanguan. Maenya ditambul!
"Ya iyalah pake nasi, Nak. Masa makan lauknya saja!"
Sifat Arien yang humoris dan jenaka berhasil memecah suasana pasar pagi itu dengan tawa renyah sang pedagang sayur.
Heureuy Bu Haji, ah...!
"Bercanda Bu Haji, ah...!" sahut Arien balik berseloroh.
Sembari melempar senyum pamit, Arien segera melangkah pergi. Ia bergegas kembali ke warung untuk menyiapkan pesanan Bu Haji sayur dengan pelayanan terbaiknya.
^^^Bersambung...^^^
semoga next bab ada adegan baku hantam sampai meninggal
Tapi .. ya gitulah🤣🤣