NovelToon NovelToon
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).

Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.

Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.

Sampai mereka tau sisi lainnya.

Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:

"Apa mau main?"

Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA *BAB 3 - MISTERI CINCIN BERLIAN DAN GOSIP

SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

*BAB 3 - MISTERI CINCIN BERLIAN DAN GOSIP SEKRETARIS*

Waktu bergulir dengan sangat adil, membawa rutinitas baru yang aneh namun berjalan dengan sangat disiplin di dalam penthouse Kuningan.

Namun di luar sana, baru beberapa minggu pernikahan tertutup itu berjalan, lingkungan di sekitar Dean maupun Sinta mulai menyadari sebuah perubahan kecil di jari manis mereka masing-masing. Sebuah perhiasan mewah yang terpasang dengan tegas, memicu riak gosip yang tak terbendung di dua tempat kerja yang berbeda.

*DI KANTOR WIJAYA GROUP*

Di lantai teratas Gedung Wijaya Group yang megah, kasak-kusuk itu bermula dari kubikal divisi keuangan lalu menyebar cepat ke lantai-lantai bawah seperti api menyiram bensin.

"Serius, demi apa Pak Dean pakai cincin kawin?!" bisik Tari, staf administrasi, sambil mencondongkan badannya ke meja rekan kerjanya saat jam istirahat. Matanya melotot heboh, nyaris tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya pagi tadi. "Pria paling kaku se-Indonesia raya yang kalau ditatap cewek langsung ngeluarin aura kulkas dua pintu itu... udah nikah?!"

"Iya! Tadi pas gue anter berkas ke ruangan atas, gue lihat sendiri di jari manis tangan kirinya. Cincin platina dengan desain maskulin yang super elegan, bertahtakan potongan berlian hitam yang sangat langka," sahut Rian, staf dari divisi lain dengan nada berbisik yang menggebu-gebu. "Tapi pertanyaannya... nikah sama siapa? Gak ada resepsi, gak ada pengumuman di media, bahkan di akun sosial media perusahaan gak ada ucapan selamat dari jajaran direksi. Tiba-tiba aja Pak Bos pasang cincin mahal itu."

"Jangan-jangan... sama Mbak Anita?" Tari menebak, menjentikkan jarinya dengan heboh. "Kan sebelum Pak Dean pakai cincin, gosipnya mereka berdua ada hubungan spesial. Mbak Anita kan sekretaris pribadinya, ke mana-mana nempel Pak Dean terus. Malah dengar-dengar, Mbak Anita sendiri yang sering ngasih sinyal ke orang-orang kalau dia itu pacarnya Pak Bos!"

Faktanya, Anita memang sudah lama menaruh hati pada atasannya yang tampan namun kaku itu. Sebagai sekretaris pribadi tunggal, Anita sebenarnya murni hanya mengurus jadwal pekerjaan dan bisnis Dean.

Namun, dia tidak sengaja mengetahui status pernikahan Dean dari dokumen kerja sama strategis yang baru saja ditandatangani minggu lalu. Di dalam berkas sinergi portofolio antara Wijaya Group dan rumah sakit daerah milik keluarga Aniswari, tercantum klausul legal yang menyatakan bahwa Dean Galang Wijaya telah terikat dalam hubungan pernikahan bisnis dengan putri dari pemilik Rumah Sakit Santika tersebut.

Karena Anita belum pernah bertemu langsung dengan wanita dari keluarga Aniswari itu, dan melihat bagaimana Dean memperlakukan pernikahan ini seperti transaksi bisnis yang dingin—tanpa pesta, tanpa cuti menikah, bahkan langsung bekerja keesokan harinya—Anita menarik kesimpulan sepihak. Dia mengira sang istri hanyalah gadis perjodohan bisnis yang membosankan, kaku, dan sama sekali tidak dicintai oleh Dean.

Sifat cuek Dean yang selalu mengabaikan selentingan gosip kantor tentang hubungan mereka juga membuat Anita semakin besar kepala. Dia merasa diamnya Dean adalah bentuk lampu hijau baginya untuk tetap berakting seolah-olah dialah wanita yang paling mengerti sang CEO, sementara istri sahnya hanyalah pajangan di atas kertas dokumen.

Sore itu, setelah rapat direksi yang melelahkan selesai, Anita masuk ke ruang kerja Dean yang luas untuk merapikan tablet dan beberapa berkas di meja sang bos. Dia sengaja berdiri agak dekat, merapikan kerah bajunya yang sedikit rendah, lalu mencoba memancing obrolan dengan nada manja yang ditahan.

"Pak Dean," ucap Anita dengan suara yang dibuat selembut mungkin. "Ini ada beberapa undangan makan malam amal dari asosiasi pengusaha untuk bulan depan. Di dalam undangan tertulis... Pak Dean diharapkan hadir bersama pasangan. Apakah saya perlu mengonfirmasi kehadiran... istri Pak Dean? Putri dari keluarga Aniswari?"

Dean yang sedang menatap layar laptopnya bahkan tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. Jemarinya yang mengenakan cincin berlian hitam itu mengetik di atas papan ketik dengan ritme yang sangat teratur.

"Tidak perlu," jawab Dean singkat. Suaranya datar, berat, dan dingin. "Konfirmasi kehadiran saya sendiri saja."

"Kalau begitu, apakah boleh saya yang menemani Anda dan menjadi pendamping Anda nanti malam?" tanya Anita dengan nada penuh harap, mengingat sebelum bosnya menikah, dialah yang selalu mendampingi Dean di setiap acara formal perusahaan.

Dean menghentikan ketikannya. Dia mengangkat kepala, menatap Anita dengan mata hitamnya yang lurus tanpa ekspresi. Tatapan dingin yang selalu sukses membuat Anita salah tingkah sekaligus merinding di tempatnya berdiri.

"Tidak perlu," kata Dean dengan nada sekaku mesin pemotong kertas. "Ini acara makan malam amal, bukan pameran bisnis yang membutuhkan asistensi sekretaris. Kehadiran saya sendiri sudah sangat efektif. Tolong urus konfirmasinya sekarang."

Mendengar kata "tidak perlu" dan jawaban dingin itu, senyum di wajah Anita sempat membeku sesaat. Namun, begitu dia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan megah itu, sifat besar kepalanya kembali meraja.

_Pak Dean bahkan gak sudi membawa istrinya ke acara penting, dan dia menolak didampingi siapa pun demi menjaga privasi bisnis ini. Hubungan mereka pasti sangat hambar dan murni demi bisnis rumah sakit itu. Wanita keluarga Aniswari itu cuma nama di atas dokumen kerja sama, sementara aku tetap menjadi satu-satunya wanita yang paling dekat dengannya di kantor setiap hari,_ pikir Anita penuh percaya diri.

Anita tidak tahu saja, kalau di belahan Jakarta yang lain, putri keluarga Aniswari yang asli—yang berwajah anggun namun berhati "toa masjid"—sedang menjadi dirinya sendiri di rumah sakit, sangat kontras dengan sosok di rumah.

...----------------...

*DI RUMAH SAKIT SANTIKA*

Sementara itu, di Rumah Sakit Santika, suasana di poli anak terasa sangat hidup.

Di tempat kerjanya ini, Sinta benar-benar melepaskan seluruh topeng "Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut" yang melelahkan itu. Di sini, dia kembali menjadi Sinta yang asli: ceria, aktif, dan cerewetnya minta ampun.

Memakai bando berbentuk telinga kelinci berbulu putih di atas kepalanya, Sinta sedang asyik menirukan suara bebek untuk membujuk seorang balita yang menangis histeris karena takut diperiksa.

"Wek, wek, wek! Tuh, kata Donal Bebek kalau anak pinter diperiksa dadanya nanti dapat stiker dinosaurus! Hebat kan? Sini, Dokter Sinta dengerin suara naga di perut kamu dulu yaaa, nyuuut!" Sinta mengoceh nonstop dengan ekspresi wajah yang sangat heboh, membuat anak kecil itu mendadak berhenti menangis dan malah tertawa cekikikan.

Para perawat yang lewat di koridor hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah Dokter Sinta yang selalu punya energi cadangan seperti baterai tidak habis-habis.

Sinta baru saja selesai menempelkan stiker di punggung tangan si anak saat Dokter Reza, spesialis anak senior yang tampan dan ramah, bersandar di ambang pintu sambil bertepuk tangan pelan.

Dada Sinta berdesir agak perih sesaat melihat senyuman itu. Dokter Reza adalah senior yang diam-diam pernah ia taksir secara rahasia selama masa koas dulu. Namun, impian itu kini harus ia kubur dalam-dalam karena cincin berlian di jarinya adalah pengingat mutlak bahwa dia sudah mengikat janji dengan pria lain.

"Konsentrasi penuh dan komunikasi yang luar biasa, Dokter Sinta. Donal Bebeknya sangat meyakinkan," puji Dokter Reza dengan senyum hangat yang selalu sukses membuat hari-hari melelahkan di rumah sakit menjadi lebih berwarna.

Sinta langsung berdiri tegak, tertawa renyah tanpa canggung—sifat aslinya yang berisik keluar begitu saja. "Ah, Dokter Reza bisa aja! Ini taktik darurat, Dok. Kalau gak pakai suara bebek, poli kita bisa berubah jadi konser tangisan sekampung!"

"Bagus. Pertahankan performa kamu, ya. Jangan lupa istirahat dan makan siang," kata Dokter Reza lembut sambil menepuk pundak Sinta sekilas sebelum melangkah pergi untuk memeriksa pasien lain.

Sinta menatap punggung Dokter Reza dengan helaan napas kecil. _Ah... andai saja suamiku punya fitur senyum seramah Dokter Reza, walau cuma lima persen aja. Tapi ya sudahlah, nasib dapatnya robot rakitan._

Sinta kemudian melangkah masuk ke ruang istirahat dokter untuk meneguk segelas air putih hangat. Begitu dia duduk, dia langsung dikepung oleh Maya, dokter umum yang bertugas di poli yang sama, beserta dua teman sejawatnya. Maya langsung menarik tangan kanan Sinta tanpa permisi dan mengangkat jarinya tinggi-tinggi. Matanya berkilat menatap batu permata di sana.

"Sinta! Ayo mengaku! Ini cincin apa? Kamu beneran udah nikah beberapa minggu lalu?! Gila, berliannya gede banget, Ta! Ini asli kan?!" seru Maya heboh.

Sinta langsung cengengesan, kembali ke mode cerewetnya. "Ya asli lah, May! Gila aja kalau imitasi, jariku bisa gatal-gatal alergi seng! Iya, aku udah nikah beberapa minggu lalu."

"Hah?! Kok mendadak banget? Kok gak ada pesta? Gak ngundang kita-kita lagi!" protes dokter lainnya dengan bibir cemberut. "Terus... suami kamu siapa? Kerjanya apa? Kok bisa beliin berlian se-asli dan semahal ini tapi misterius banget? Dia gak pernah sekalipun kelihatan jemput kamu di depan lobi RS."

Sinta memutar bola matanya pelan, mengelus lingkar cincin berliannya dengan gaya santai. "Suamiku... orang biasa kok. Cuma pekerja kantoran biasa. Kemarin nikahnya memang tertutup cuma buat keluarga inti aja karena kami sama-sama sibuk setengah mati."

_Orang biasa Hongkong! Suamiku itu konglomerat yang kalau batuk aja bisa bikin bursa saham bergetar!_ jerit Sinta dalam hati, gemas sendiri dengan kebohongannya yang bertumpuk.

"Yah... orang biasa toh," Maya mendesah, nadanya mendadak berubah agak nyinyir dan meremehkan setelah mendengar kata 'pekerja kantoran'. "Paling suamimu maksain diri nyicil cincin ini biar kelihatan mentereng di depan keluarga dokter. Tapi Ta, masa iya pengantin baru dicuekin begini? Kamu pulang pergi naik taksi online terus, bahkan sering pulang larut malam sendiri. Suami kamu kok kayak gak peduli gitu ya? Jangan-jangan... kamu gak disayang ya sama suami kamu? Cuma dikasih modal cincin biar kamu gak banyak nuntut di rumah? Padahal di sini banyak yang naksir kamu, bahkan tadinya kami kira kamu bakal cinlok sama Dokter Reza."

Sinta langsung tertawa keras—tawa khasnya yang blak-blakan untuk menutupi rasa dongkolnya. "Aduh, May! Pikiranmu kejauhan kayak angkot nyasar! Dia sangat bertanggung jawab, kok. Finansial lancar jaya. Hanya memang... tipenya kaku kayak triplek proyek."

_Kaku banget malah! Jangankan urusan hati, diajak ngobrol soal cuaca pagi aja dia jawabnya pakai pasal protokol standar! Bisa darah tinggi aku lama-lama menghadapi ke-efisien-an hidupnya itu!_ Sinta membatin gemas, menahan tawa sekaligus dongkol yang bercampur jadi satu di dalam kepalanya.

Faktanya, di balik status "istri terabaikan" yang digosipkan orang-orang rumah sakit, Dean justru adalah pria yang sangat menghormati komitmen pernikahan mereka. Hubungan mereka memang terasa dingin dan kaku layaknya orang asing di luar, namun di dalam penthouse, mereka adalah dua orang asing yang sangat disiplin menjalani peran masing-masing dengan adil.

1
falea sezi
🤣🤣malu yeee q kirim hadiah biar up makin banyak🤣
falea sezi: lah kenapa libur thor🤭
total 2 replies
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha
🤭🤭🤭
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
🤣🤣 lempeng amat pakk dean🤭
falea sezi
nyimak bagus q kirim hadiah nih
Lea
Lanjut 🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
mamah fitri
wkwkwkw... asli ngakak dengan karakter pak Dean.. lucu banget sih ya🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭 jangan lupa like ya kak oh ya boleh kasih ulasan hehehe ... tar aku update sehari 1 bab dulu.. soalnya masih nulis yang Toxic and control juga...hehehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!