Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Nasi si Kucing Merah Muda
"Mawar," kata Hendry pelan, "lu Awakener. Tipe penyembuh."
Kalimat itu membuat ruang makan villa hening.
Mawar menatap telapak tangannya sendiri. Tidak ada cahaya lagi di sana. Hanya jari yang sedikit gemetar dan sisa kuah soto di ujung kuku. Tapi bekas luka lama di pangkal telinga Raja benar-benar berubah. Kulit yang tadi kasar dan menghitam kini lebih bersih, seolah waktu mundur beberapa bulan.
Raja menyentuh sisi kepalanya lagi dengan kaki depan.
Lalu ia menatap mangkuk Mawar.
Bagus menghela napas panjang. "Anjing ini baru disembuhin, yang dia pikirin tetap ayam."
Raja menoleh tajam.
"Oke, oke. Wakil Komandan. Maaf."
Melati masih berdiri di samping Mawar. Api kecil menyala di antara jarinya tanpa sadar, bukan untuk menyerang, tetapi karena tubuhnya bereaksi pada rasa terkejut.
"Penyembuh itu maksudnya apa?" tanya Melati.
"Kemampuan langka." Hendry mengambil perban baru dari Ruang Dimensi dan meletakkannya di meja. "Luka Mawar menutup lebih cepat dari normal. Bekas luka Raja juga merespons. Untuk sekarang, jangan dipaksa. Kalau kepala pusing, dada sesak, atau tangan panas, berhenti."
Mawar menelan ludah. "Aku bisa menyembuhkan orang?"
"Bisa. Nanti."
"Nanti?"
"Saat lu bisa mengontrolnya. Sekarang lu baru membangunkan power. Kalau dipaksa, tubuh lu yang habis duluan."
Melati langsung memegang bahu adiknya. "Dengar itu. Jangan coba-coba jadi pahlawan."
Mawar tersenyum lemah. "Kak Mel yang barusan hampir pingsan karena lempar api terus."
Bagus menutup mulut, gagal menahan tawa.
Melati meliriknya.
"Gue batuk," kata Bagus cepat. "Batuk kiamat."
Hendry membiarkan mereka bernapas beberapa menit. Tim yang baru terbentuk butuh bukan hanya perintah, tetapi ritme. Orang yang baru diselamatkan tidak langsung menjadi prajurit. Mereka harus tahu siapa menjaga siapa, siapa makan di mana, siapa tidur dengan senjata, dan siapa tidak boleh membuka gerbang.
Menjelang siang hari ketiga, Hendry membagi tugas di ruang tengah.
Peta Cluster Pondok Indah dibentangkan di lantai. Garis merah lama dari masa persiapan kini ditambah tanda hitam baru, lokasi zombie yang sudah dibersihkan, rumah yang masih terkunci, dan gang sempit yang bisa dipakai patroli.
"Kita perlu memperluas zona aman," kata Hendry. "Utara dan barat lebih dulu. Selatan baru kita sentuh sebagian semalam. Timur sudah lebih bersih, tapi belum aman total."
Bagus menunjuk dirinya sendiri. "Gue ikut lu?"
"Tidak. Lu dengan Melati ke barat. Lu tahan depan, dia bakar dari jarak pendek. Jangan kejar terlalu jauh."
Melati mengangkat alis. "Lu percaya aku pergi sama dia?"
"Gue percaya lu tidak mau Mawar mati karena kita kekurangan ruang aman."
Melati diam.
Bagus menepuk dadanya. "Tenang, Mbak. Gue bukan tipe macam-macam. Gue cuma suka makan, napas, sama hidup."
"Kalau kau bikin masalah, aku bakar rambutmu."
"Rambut gue pendek. Rugi buat Mbak."
Hendry menunjuk Mawar. "Lu tetap di villa. Bukan karena lu tidak berguna. Justru karena lu terlalu penting. Siapkan air bersih, perban, makanan ringan, dan tempat istirahat. Kalau kami pulang bawa luka, lu lihat dulu. Jangan langsung pakai cahaya."
Mawar mengangguk pelan. "Aku mengerti."
"Raja ikut gue."
Raja sudah berdiri sebelum namanya selesai disebut.
Bagus melihat itu, lalu bergumam, "Kalau semua anggota nurut secepat dia, kerjaan Bos gampang."
Kata itu keluar begitu saja.
Bos.
Hendry menoleh sedikit.
Bagus baru sadar. Ia menggaruk kepala. "Maksud gue... Bro. Eh, Bos juga boleh, kan? Sekarang agak berasa kayak markas."
"Pakai yang membuat lu bergerak lebih cepat," kata Hendry.
"Siap, Bos."
Melati mendengus. Tapi ia tidak membantah.
Patroli dimulai setelah makan singkat.
Hendry dan Raja bergerak ke utara. Jalan cluster siang itu tidak lebih ramah daripada malam. Panas naik dari aspal. Bau mayat mulai menebal karena tubuh-tubuh yang belum sempat dibakar. Di beberapa rumah, tirai bergerak pelan, entah karena angin atau karena sesuatu di dalam masih berjalan tanpa jiwa.
Raja berjalan di depan dengan hidung rendah. Sesekali listrik tipis menari di bulunya, tanda ia menahan diri untuk tidak langsung menyerang.
"Pelan," kata Hendry.
Raja berhenti.
Di depan mereka, satu rumah dua lantai roboh sebagian. Sepertinya mobil menabrak tiang garasi lalu api kecil sempat menyambar. Dinding samping retak. Pintu depan menggantung miring. Dari dalam, terdengar suara kecil.
Meong.
Raja langsung menggeram.
Meong.
Suara itu lemah, tetapi bukan suara zombie. Hendry menurunkan parang sedikit dan masuk melewati ruang tamu yang penuh pecahan kaca.
Di bawah meja makan yang terbalik, ada seekor anak kucing.
Bulunya merah muda pucat.
Bukan merah muda cat mainan yang norak. Lebih mirip warna kerupuk udang kecil di atas nasi uduk, lembut dan aneh, terlalu bersih untuk rumah yang setengah terbakar. Tubuhnya menggigil. Matanya besar, basah, dan penuh rasa takut.
Namun begitu melihat Hendry, kucing itu berhenti gemetar.
Ia keluar dari bawah meja, melangkah di antara pecahan kaca tanpa terluka, lalu mengeong sekali.
Hendry menatapnya.
Nasi.
Di kehidupan sebelumnya, banyak orang mengira kucing ini hanya hewan lucu yang kebetulan selamat terlalu lama. Mereka baru sadar terlambat bahwa setiap kali Nasi gelisah, kematian sedang berjalan mendekat.
Raja menggeram lebih keras.
Nasi menoleh ke arah anjing hitam itu.
Lalu, tanpa rasa takut sedikit pun, ia melompat ke kaki Hendry, memanjat celana tempurnya, naik ke bahu, dan duduk di sana seolah tempat itu memang miliknya sejak lahir.
Raja terpaku.
"Jangan ribut," kata Hendry.
Raja menggonggong pendek, jelas tersinggung.
Nasi mengangkat satu kaki kecil.
Plak.
Cakar lembutnya menepuk hidung Raja.
Raja mundur satu langkah.
Hendry hampir tersenyum.
"Dia lebih kecil dari kepala lu."
Raja menatap Hendry dengan ekspresi yang, jika diterjemahkan, kurang lebih berarti: justru itu penghinaan besarnya.
Nasi mengeong lagi di bahu Hendry, lalu tiba-tiba tubuhnya kaku.
Bulu merah mudanya berdiri.
Matanya membesar ke arah gang di belakang rumah.
Mrrrraaaaoow!
Bukan meong takut. Itu suara peringatan.
Hendry langsung menurunkan tubuh. "Raja, mundur ke pintu. Sekarang."
Raja tidak membantah. Ia melompat mundur tepat saat suara kaca pecah terdengar dari gang.
Satu zombie muncul.
Lalu tiga.
Lalu tujuh.
Empat bergerak kaku seperti Level 0 biasa.
Tiga lainnya berbeda.
Zombie Level 0 berjalan kaku, menyeruduk seperti orang mabuk. Gerombolan ini lebih rendah, bahu condong, kaki menapak lebih mantap. Mata abu-abunya tidak kosong total. Ada dorongan lapar yang lebih terarah. Kuku mereka menebal hitam. Salah satunya bahkan melompat melewati pot tanaman, bukan menabraknya.
Terlalu cepat.
Level 1 seharusnya belum muncul sekarang.
Hendry merasakan kulit tengkuknya dingin.
Timeline benar-benar bergeser.
Tiga puluh detik.
Dari peringatan Nasi sampai zombie pertama keluar, tepat sekitar tiga puluh detik.
"Bagus, barat aman?" Hendry menekan tombol radio kecil di bahunya.
Suara Bagus masuk pecah-pecah. "Ada empat zombie. Udah jatuh. Kenapa, Bos?"
"Ke utara. Sekarang. Bawa Melati. Mawar, siap perban dan air."
Suara Mawar menyusul, lebih tegang. "Dimengerti."
Zombie pertama menyerbu.
Hendry tidak mundur jauh. Ruang di rumah sempit, tetapi sempit berarti mereka tidak bisa mengepung dari semua sisi. Parang di tangan kanannya menebas leher zombie pertama. Tidak putus. Tulang Level 1 lebih keras.
Hendry mengubah sudut, kaki menendang lutut, parang kedua muncul dari Ruang Dimensi di tangan kiri.
Tebasan silang.
Kepala itu jatuh.
Kristal di dahi zombie berkilau lebih terang daripada Kristal Level 0, abu-abu dengan garis putih tipis.
Raja masuk dari samping. Thunder Tail menghantam zombie kedua, tetapi kali ini zombie itu tidak langsung patah. Ia terseret, menghantam dinding, lalu mencoba bangkit lagi.
Raja menggonggong marah.
"Leher!" perintah Hendry.
Raja melompat, menggigit tengkuk, listrik meledak pendek. Zombie itu tersentak cukup lama untuk Hendry menebas.
Di luar, langkah berat datang.
"Bos!"
Bagus menabrak zombie yang hampir masuk pintu. Tubuh Level 1 itu terdorong dua meter, tapi Bagus juga mundur setengah langkah. Wajahnya berubah.
"Yang ini lebih keras."
"Level 1. Jangan adu lama."
Melati muncul di belakang Bagus. Wajahnya masih pucat karena kurang tidur, tetapi api di tangannya stabil, kecil dan padat.
"Minggir."
Bagus menjatuhkan tubuh.
Bola api Melati melesat rendah, menghantam wajah zombie. Api menempel di kulit busuk itu lebih lama dari semalam, membakar mata dan hidungnya. Zombie berteriak tanpa suara. Hendry masuk, menutup dengan tebasan ke leher.
Satu per satu mereka mundur ke halaman, memaksa gerombolan keluar dari gang sempit.
Formasi pertama tim benar-benar diuji.
Bagus menahan yang paling depan dengan linggis dan bahu. Melati tidak membuang api besar, hanya tembakan pendek ke mata, lutut, atau tangan yang hendak mencakar. Raja menyambar kaki dan tengkuk, lalu langsung lepas. Hendry bergerak sebagai pisau terakhir, mengambil kepala saat target kehilangan keseimbangan.
Nasi tetap di bahu Hendry.
Setiap kali bulunya mengembang ke satu arah, Hendry memindahkan posisi satu detik lebih cepat.
"Bagus, kiri!"
Bagus mengangkat linggis tepat saat zombie melompat dari kap mobil.
"Melati, tahan api!"
Melati menahan bola api yang hampir dilempar, dan benar saja, zombie yang ia incar tersandung tubuh temannya. Hendry mengambilnya tanpa perlu api.
"Raja, bawah!"
Raja merunduk. Cakaran hitam lewat di atas kepalanya, hanya menyambar udara. Ekor petirnya membalas ke lutut target.
Pertempuran itu berlangsung kurang dari lima menit.
Tapi ketika zombie terakhir jatuh, napas semua orang terdengar kasar.
Bagus duduk di kap mobil penyok. "Kalau ini baru hari ketiga, hari kesepuluh mau jadi apa?"
"Lebih buruk," kata Hendry sambil membuka dahi zombie Level 1.
Ia mengeluarkan Kristal baru itu dan mengangkatnya ke cahaya.
Garis putih di dalam abu-abu tampak seperti retakan es.
Level 1 Kristal pertama.
Nasi menunduk, mencium Kristal itu, lalu bersin kecil.
Mawar datang dari arah villa dengan tas medis ringan, napasnya terengah. "Ada yang terluka?"
"Goresan kecil," kata Melati.
"Buku jari gue protes," kata Bagus.
Raja mengangkat kaki depan, padahal tidak ada luka.
Mawar menatapnya. "Kamu cuma ingin diperhatikan."
Raja menurunkan kaki seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Untuk pertama kalinya sejak kiamat dimulai, tawa kecil terdengar di antara mayat zombie.
Hendry menatap kucing merah muda di bahunya.
"Namanya Nasi."
Bagus berkedip. "Kenapa Nasi?"
Hendry menyentuh bulu kecil itu dengan satu jari. "Karena warnanya seperti kerupuk merah muda di nasi uduk."
Melati menatapnya datar. "Itu alasan paling tidak serius yang pernah kudengar dari orang seserius lu."
Nasi mengeong bangga.
Bagus mengangguk. "Masuk akal. Raja, Nasi. Tinggal cari hewan namanya Lauk."
Raja menggonggong keras.
Nasi menepuk hidung Raja lagi.
Kali ini Bagus tertawa sampai lupa tangannya sakit.
Malamnya, di villa, peta zona aman bertambah luas. Utara diberi tanda kuning: area berbahaya, Level 1 muncul lebih cepat. Barat diberi tanda hijau sebagian: bisa dipatroli berdua. Di samping peta, tiga Kristal Level 1 diletakkan terpisah dari Kristal Level 0.
Hendry tidak langsung membagikannya.
"Mulai sekarang, tidak ada yang bergerak sendirian," katanya. "Level 1 sudah muncul. Itu berarti jadwal lama tidak bisa dipercaya penuh."
Melati menatap Nasi yang tidur melingkar di atas bantal kecil. "Dan kucing itu tahu sebelum mereka datang."
"Tiga puluh detik lebih awal," kata Hendry. "Kadang tiga puluh detik cukup untuk hidup."
Bagus mengangkat mangkuk air. "Untuk Nasi. Si kecil yang mukul Wakil Komandan tapi menyelamatkan kita."
Raja menggeram pelan.
Nasi tidur terus, seolah pujian manusia tidak penting.
Lewat tengah malam, saat semua orang mulai bergantian jaga, Nasi tiba-tiba bangun.
Tubuh kecilnya menegang.
Ia tidak menghadap utara, tempat Level 1 tadi muncul.
Ia menghadap gerbang utama Cluster Pondok Indah.
Mrrrrr.
Raja ikut berdiri, tetapi kali ini listrik di bulunya tidak langsung keluar. Ia mengendus udara, lalu menatap Hendry.
Bukan zombie.
Hendry mengambil teropong dan naik ke balkon lantai dua.
Di ujung jalan menuju gerbang, seorang perempuan berjalan sendirian di bawah langit mati. Bajunya kotor, rambutnya berantakan, dan kedua tangannya mengangkat kain putih.
Ia berhenti di depan gerbang, lalu berteriak dengan suara parau.
"Tolong! Ada orang di dalam, kan? Gue bawa informasi penting!"
Nasi terus menggeram.
Hendry menurunkan teropong sedikit.
Jessica Tan.